
Roni menyipitkan kedua mata, membalikkan kepala dan melihat ke arah Cindy, berkata dengan nada suara rendah: “Apabila begitu, seharusnya Sindu tahu masalah ini?”
“Hm. Tetapi keberadaan Sindu tidak menetap, sangat sulit menemukan dia.”
“Beritahu informasi Sindu kepadaku, aku minta orang lain untuk cari.”
“... … boleh juga.”
Cindy menceritakan kondisi Sindu kepada Roni, Roni langsung mengeluarkan ponsel dan menelpon seseorang.
Setelah mengakhiri panggilan, Cindy mengingatkan Roni: “Kembali ke kamar dulu, jika kamu kelamaan disini, akan buat orang lain curiga.”
“Baiklah, jika ada masalah langsung telpon aku.”
“Hm.”
Pintu kamar terbuka dan tertutup kembali.
Setelah Roni pergi, Cindy mengamati dekorasi kamar yang indah dan mewah, bahkan warna lemari sepatu yang di sudut kamar saja, senada dengan dekorasi di dalam kamar.
Jari tangan putih dan ramping mengelus sofa putih susu bergaya eropa, perlahan-lahan duduk di atas sofa, dan memeluk bantal dengan nyaman.
Cindy berpikir, setelah dia punya uang, dia akan membangun sebuah kastil yang seperti ini, tidak perlu terlalu besar, cukup untuk dirinya dan anak-anak saja.
Pada hari pertama datang ke sini, Cindy sudah rindu dengan anak-anak.
Cindy tidak bisa menahan diri untuk membuka ponsel, dan video call dengan anak-anak.
Karena jet lag, sehingga di sana sudah pagi, anak-anak sedang sarapan.
Mendengar bahwa Mami video call mereka, anak-anak bergegas berkumpul di depan layar ponsel.
“Mami——”
“Mami!”
“Mami, aku kangen sama kamu.”
“Mami, aku, aku sedang makan.”
Cindy meratapi anak-anak, bertanya apa yang mereka makan?
Shella hendak menjawab, tetapi diberhentikan oleh Kenken.
“Mami, pertanyaan ini harus dijawab oleh Shelly.”
Tiba-tiba Shella tertawa: “Ngomong-ngomong, Mami, hari ini ibu guru minta kami hafal puisi, Shelly hafal dengan sangat baik, coba anda dengar.”
Shelly melototi Kakaknya, mengerucutkan bibirnya dan tidak berkata.
Cindy mengira bahwa Shelly tidak bisa hafal, sehingga membujuknya: “Tidak apa-apa Shelly, suruh Kakak ajarin kamu. Mami percaya, Kamu pasti bisa.”
“Aku bisa! Tidak perlu diajarin!” Shelly menjawab dengan marah.
“Kamu bisa hafal, coba Mami dengar.”
Kakak jahat, mulai menertawakan Shelly lagi.
Shelly melototi Shella, kemudian mulai menghafal: “Benih bunga teratai mulai bertunas, masak tulang iga dengan kacang buncis. Menanya kapan tuan pulang kembali, terong kecap dan ayam ungkep bumbu kuning.”
Ketiga anak-anak saling menatap, tidak bisa menahan diri untuk tertawa.
__ADS_1
“Mami, apakah kamu sudah dengar? Begitulah cara Shelly hafal.”
“Ibu guru telah kritik dia.”
“... …” Shelly menundukan kepada dan tidak bersuara.
Cindy mengelus-elus wajah imut Shelly melalui layar ponsel: “setelah Mami pulang, Mami ajarin kamu.”
Shelly menganggukan kepala.
“Shelly, kamu ingin makan ayam ungkep bumbu kuning, nanti siang nenek minta koki masak untukmu.”
“Nenek, Shelly sedang hafal puisi.”
“Puisi? Bukan menu makanan? Aku kira kamu sedang hafal menu makanan.”
Shelly memutarkan bola mata, Ia juga bisa menghafal menu makanan.
“Nenek, hari ini aku hafal puisi, besok baru hafal menu makanan.”
“Bagus, Shelly hebat sekali.”
Mendengar percakapan Agnes dengan Anaknya, Cindy tersenyum simpul.
“Kalian berempat cepat makan, Mami masih ada urusan.”
“Bye Mami.”
“Bye Mami.”
“Mami cepat pulang.”
“Nanti Mami pulang aku hafal puisi, dan menu makanan.”
Setelah mengakhiri panggilan, sudut mulut Cindy sedikit terangkat ke atas.
Anak-anak ini benar-benar mewarisi kelebihan dirinya dan Rendy.
Anak-anak ini adalah kebaikannya sendiri. Saat pulang nanti, harus baik-baik menemani mereka.
Tapi ayah kandungnya dengan teganya tidak ingin dia bersama ibunya.
“Ibu, waktu itu bagaimana bisa kamu kenal dengan pria kejam seperti itu, dan mengandungku? Jangan bilang kalau dia itu pelayan keluarga Ducal yang statusnya terendah?”
Dia tiba-tiba mengerutkan kening, dan saat memikirkannya lagi, dia merasa itu tidaklah mungkin. Mana mungkin seorang pelayan berstatus terendah pergi ke kota Wiguna!
Dia berusaha menebak lagi, seharusnya seseorang yang bertanggung jawab atas diplomasi.
Di sisi lain.
Zenitsu keluar dari ruang kerja Peter dengan raut wajah yang muram.
Kesehatan tubuh Peter semakin hari semakin tidak baik. Tapi tetap saja tidak juga menyerahkan posisi Peter kepadanya. Dia tahu persis apa yang sedang direncanakannya.
Saat sudah meminta orang menyelidiki semua ini dan tahu segalanya, dia akan bersama dengan Cindy, lalu posisi jabatan Peter akan jadi miliknya!
Ada rencana yang mellintas di antara alisnya, dia berdiri dan berjalan menuju tempat tinggal Cindy.
Cindy yang sedang memejamkan matanya untuk memulihkan energi dan pikirannya langsung berdiri dan membuka pintu ruangan saat mendengar ketukan pintu.
“Zenitsu? Bukannya kamu pergi untuk bertemu Peter ya?”
__ADS_1
“Sudah bertemu. Kesehatan tubuh ayahku tidak baik. Setelah beberapa waktu lagi, baru menemuimu lagi.”
Zenitsu melihat raut wajah Peter yang tampak tidak baik, dia pun tidak membahas mengenai Peter.
Dia merasa lebih baik membahasnya saat hubungannya dengan Cindy sudah stabil.
Saat waktu itu tiba, tidak masalah jikapun Peter tahu latar belakang dan masa lalu Cindy.
Lagipula, apapun milik Cindy juga adalah miliknya.
“Tidak terburu-buru, tidak terburu-buru.”
Cindy berpura-pura tersenyum dan membatin bagus sekali kalau Peter tidak bertemu denganku. Tujuannya datang ke sini adalah untuk mencari ayah kandungnya. Dia tidak peduli dengan urusan lainnya.
“Oh ya Zenitsu, kamu bilang saat ibuku belajar akupuntur, itu ada hubungannya dengan ayah kandungku. Memangnya ada hubungan apa?”
“Cindy, kamu baru saja sampai, istirahatlah dulu semalam. Setelah kamu istirahat dan energimu kembali. Aku akan memberitahumu lagi dan silakan kamu selidiki lagi.”
“Aku tidak capek, ayolah beritahu aku.”
Zenitsu sengaja tersenyum dengan misterius, “Tidak ada gunanya juga memberitahumu. Orang yang pernah belajar akupuntur itu, sekarang tidak berada di villa ini. Saat dia kembali, aku akan memberitahumu.”
Lagi-lagi coba menipunya.
Dia tadi bilang, orang yang pernah belajar akupuntur.
Apakah pernah belajar akupuntur bersama ibunya?
Apa jangan-jangan juga murid dari guru Sindu?
Jika benar-benar seperti ini, ketrampilan akupuntur orang itu pasti hebat.
Hahaha, tanpa disengaja telah mendapatkan sebuah petunjuk penting lagi.
“Sudahlah, istirahatlah sana. Aku mau menangani beberapa urusan, mari nanti makan malam bersama.”
Begitu Zenitsu keluar, Cindy langsung punya ide bagus, dia memanggil empat pembantu untuk masuk ke dalam dan mengobrol dengan mereka.
Dia ingin berusaha cari tahu apakah bisa mendapaatkan sebuah informasi dari mulut mereka.
Dia orang yang sangat terus terang, setelah berbasa-basi sebentar dengan keempat pembantu itu, dia pun bertanya, “Apa kalian tahu kalau di villa, siapa yang paling hebat ketrampilan akupunturnya?”
Keempat pembantu itu saling memandang, lalu menggelengkan kepala.
“Tidak tahu?”
Bagaimana mungkin?
Murid hebat dari guru yang terkenal, jika dia benar-benar murid guru Sindu, maka ketrampilan akupunturnya tidak mungkin tidak terkenal. Setidaknya, pasti pernah menunjukkan bakatnya dengan menolong beberapa orang.
Seorang pembantu memandangnya seolah teringat sesuatu, “Nona, aku pernah dengar kalau Nona Letisha bisa akupuntur. Jika anda membutuhkannya, anda bisa meminta tuan muda untuk mengundangnya ke sini.”
“Nona Letisha? Apakah dia juga tinggal di villa ini?”
“Em, Nona Letisha sudah lima tahun tinggal di sini. Konon katanya...”
Saat bicara sampai sini, pembantu itu tiba-tiba diam.
Cindy mengerutkan kening, lalu menanyainya, “Konon katanya apa?”
“Tidak, tidak ada apa-apa.”
__ADS_1
“Nona, anda jangan terlalu banyak berpikir. Tuan muda memperlakukan anda dengan baik. Dia tidak pernah memperlakukan Nona Letisha sebaik itu.”