
Alangkah baiknya jika dia mau langsung mengatakannya. Ngapain lagi sok jual mahal sekarang.
"Ini sikapmu yang mau tahu?" Rendy menatapnya dan bertanya balik..
Eh, masih saja ngatain sikapnya tidak bagus.
Benar-benar tidak menghargai usaha dia.
Jadi sikap yang baik itu contohnya gimana?
Cindy terus berpikir. Lalu dia mengulurkan tangannya untuk memegang lengan Rendy dan merayunya, "Presdir , kamu adalah orang yang baik. Kamu adalah orang terbaik di dunia."
Keempat anak itu menoleh ke belakang dan melihat rayuan Ibunya. Mereka semua mengagumi Ibunya karena dia dapat menahan dan mengendalikan dirinya demi mendapatkan sesuatu.
Rendy tidak menyangka Cindy bisa mengatakan hal-hal seperti ini dan mengerutkan alisnya, "Oh ya?"
"Iya! Mana mungkin orang sebaik kamu tega membuat orang penasaran. Ayo buruan beritahu aku donk!"
"Aku bukan orang baik, dan kamu juga tidak jujur." Rendy sama sekali tidak menyukai sikapnya yang seperti ini.
Cindy mengerutkan alisnya. Jadi dia harus mengatakan apa biar dia senang? Kan gak mungkin juga terus-menerus bilang dia adalah orang yang paling jahat di dunia.
"Bisma, kamu bawa anak-anak pergi jalan-jalan dulu. Aku ingin ngobrol sebentar dengan Cindy."
Bimo langsung melaksanakan perintah dari Rendy.
Keempat anak itu mempercepat langkah mereka dan terus berjalan ke depan. Setelah berjalan sesaat, Bobby sangat penasaran, "Menurut kalian, Daddy Mami ngobrol tentang apa ya?"
"Tidak tahu. Mami muji Daddy sampai segitunya. Padahal muka aku sudah merah, tapi muka Mami sampai sekali gak merah." Shella mengulurkan tangannya dan menyentuh wajahnya sendiri.
Shelly yang berjalan di belakangnya bertanya, "Muka kamu kenapa merah?"
"Aku orangnya tahu malu soalnya. Jadi tidak sanggup melihat Mami omong kosong seperti itu."
Bobby: "Tidak apa-apa kalau Mami tidak tahu malu. Yang penting Daddy suka."
"Iya. Jika mereka baik-baik saja, jadinya kami gak perlu khawatir juga. Jantung kecil aku sudah ikutan menderita selama ini. Aku harus rawat dengan baik setelah kembali ke rumah."
Shella memutar matanya kepada Shelly. Kamu benar-benar akan menjadi bola kalau merawatnya lagi.
Tapi sekarang dia tidak berani menertawakannya karena takut akan kekuatan
Bimo yang sedang mengikuti mereka dari belakang, menatap keempat anak ini dengan tatapan ganjil.
Dia menghela napas: Anak-anak presdir benar-benar sangat dewasa dan bisa diandalkan. Mereka seperti orang dewasa yang mungil!
Namun, dia juga ingin tahu apa yang sedang Presdir bicarakan dengan Nyonya?
...
Cindy menatap Rendy dan dengan tulus bertanya, "Apa yang harus aku katakan supaya kamu senang?"
Bibir tipis Rendy sedikit melengkung dan senyumnya yang menawan terpancar di wajahnya.
Cindy menatapnya. Dia tiba-tiba didorong ke dinding koridor ketika sedang menebak apa yang akan Rendy lakukan kali ini.
"Rendy! Apaan sih?"
Rendy meletakkan salah satu lengannya di dinding dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu bertanya di telinga Cindy.
"Menurutmu, apa aku harus menguncimu setelah tiba di rumah?" Suara itu terdengar dingin dan seksi.
__ADS_1
Cindy mengedipkan matanya yang besar sebanyak dua kali dan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Rendy.
Ngapain harus menguncinya!
"Atas dasar apa kamu mengunciku?"
Rendy meletakkan salah satu tangannya di pinggang Cindy dan meremasnya.
"Karena kamu tidak patuh!"
Tidak patuh? Alasan apaan ini?
Ini namanya namanya pemaksaan.
"Omong kosong! Padahal aku sangat patuh kayak seekor kucing."
Cindy membalasnya dengan sungguh-sungguh.
Tatapan Cindy terhadapnya seketika berubah.
Mengapa dia begitu berani mengucapkan kata-kata seperti ini?
Cindy memalingkan wajahnya karena merasa tidak nyaman dilihatin terus, "Barusan kamu bilang aku akan segera tahu latar belakangku. Kamu tahu sesuatu?"
"Aku telah temukan seseorang yang penting untukmu. Semuanya akan jadi jelas setelah kamu bertemu dengannya."
Orang yang penting.
Orang yang memiliki hubungan dengan masalah ini.
Cindy berpikir sejenak dan tiba-tiba saja matanya berbinar. Jangan-jangan orang itu?
Rendy mengangguk.
“Kamu suka dengan kejutan ini?”
Tentu saja aku suka!
Jika Cindy bertemu gurunya, maka misteri ayah kandungnya akan bisa terkuak.
Dia juga bisa tahu siapa lelaki tidak bertanggung jawab dan meninggalkan ibunya waktu itu!
Dan tiba saatnya, dia pasti akan memperlihatkan padanya!
“Dimana kamu menemukan guruku?”
Rendy tersenyum penuh misteri, meskipun harus ke surga dan neraka sekalipun maka dia pasti akan mencarikan orang yang ingin Cindy temui.
Cindy merasa senyumnya sangat mempesona, dia pun hampir dibuat terpana.
“Rendy, kamu bersikap sangat baik padaku, aku mau membalas budimu.”
Dia mengulurkan tangannya melingkari leher Rendy, dan memejamkan mata dengan malu-malu, serta memonyongkan bibirnya yang seksi.
“Balas budinya hanya begini saja?”
Rendy terlihat tidak puas.
“Kalau begini masih belum dianggap balas budi, lantas aku harus bagaimana? Kamu masih mau apalagi?”
Rendy mengulurkan tangannya dan mengelus pipinya yang putih, “Tentu saja masih kurang! Balas budi yang aku mau adalah ------“
__ADS_1
Tangan yang satunya lagi sudah tidak sabar dan mengelus tubuh Cindy dengan penuh gairah.
Cindy melirik ke kiri dan ke kanan, lalu menatap dia sambil menggertakkan gigi, “Kita ini masih berada di kediaman Ducal, melarikan diri disituasi seperti ini lebih penting!”
Melihat cindy yang gugup, Rendy pun mengelus pipinya dengan punggung tangannya, “Ok, kalau sudah keluar dari kediaman Ducal maka ada hitungan bunga ya!”
Bunga.
Hitung sajalah.
Hihihi, kedua tangannya menangkup di pipi, dia tersenyum malu.
“Siapa yang berani bermesraan disini dan tidak tahu malu, apakah tidak takut ketahuan?”
Tidak jauh dari mereka tiba-tiba terdengar suara panggilan yang membuat Cindy terkejut. Setelah diperhatikan ternyata adalah seorang pengawal.
Dia mengerucutkan bibinya, ini kan bukan bermesraan dan tidak tahu malu?
Ini adalah hubungan yang biasa antara ibu dan ayah!
Namun berdiri dibawah lampu yang bergoyang-goyang, memang bisa menipu mata dan kelihatannya kurang sopan.
Dia melirik sekilas pengawal yang tadi berteriak, mukanya memerah lalu dia mundur selangkah dan bergegas pergi.
Melihat Cindy yang panik dan bergegas pergi, Rendy tersenyum simpul dan mengikutinya pergi.
Mereka berjalan beriringan kembali ke kamar, dan barang-barang mereka sudah dibereskan oleh keempat anaknya, jadi hanya tinggal menunggu mereka pulang.
BObby bertanya dengan penasaran, “Mami, Papi, kita sudah bisa pulang?”
Wajah Shelly terlihat mengantuk : “Mami, aku ingin tidur, mataku sudah berat sekali, ditahan pakai tangan juga tidak ada gunanya.” Selesai bicara dia langsung meringkuk di sofa, dia sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya.
Cindy memandang ketiga anak lainnya, “Apa kalian juga sudah mengantuk? Tidur sebentar dulu baru kita pergi. “
“Mami, kita pergi saja deh, kalau nanti nenek lampir itu datang mencari gara-gara, maka kita tidak akan bisa pergi.”
“Lalu,shelly bagaimana?”
“Istriku, aku yang akan menggendong Shelly dan membawanya pergi dari sini, setelah keluar dari tempat ini aku akan mencari sebuah hotel supaya anak-anak bisa beristirahat.”
Dipikir-pikir lagi, benar juga. Kalau mereka tinggal disana maka mereka tidak bisa tidur dengan tenang.
Ketika mereka pergi meninggalkan tempat itu, para pengawal kediaman Ducal membantu mereka membuka jalan sehingga tidak ada orang yang menghalangi mereka.
Setelah keluar dari kediaman Ducal, Bisma merasa lega.
“Presdir Adiguna, Nyonya, kalian bilang kalau jika besok Nyonya Ducal tidak bisa menemukan orang untuk membuat perhitungan, apakah dia tidak akan marah besar?”
Sorot mata CIndy langsung meredup, masalah dengan keluarga Ducal besok harusnya ada jalan lain.
“Ayo jalan!”
Rendy memberi perintah, dan mereka berjalan ke hotel terdekat untuk menginap, sehingga anak-anak bisa istirahat sebentar.
Setelah memesan kamar, Rendy meminta dua buah kamar tidur.
Yang satu untuk Bimo, yang satu lagi untuk mereka berenam.
Cindy memandangi keempat anaknya yang berbaring di ranjang, kemudian melihat Rendy yang tidur di lantai yang keras, hatinya merasa tidak tega.
“Kenapa tidak pesan satu kamar lagi? Kamu ini kan CEO Grup , kenapa malah perhitungan dengan harga sebuah kamar?”
__ADS_1