Anak Kembar Empat

Anak Kembar Empat
............


__ADS_3

Zenitsu mengerutkan kening dan menjawab, "Dia adalah pembantuku.”


“Pembantumu?”


Peter yang memiliki wawasan yang tajam dan baik dalam segala hal, jelas tidak mempercayainya.


Sikap wanita ini tadi mana ada yang sama seperti dengan sikap pembantu yang harusnya hati-hati dan cermat?


Selain itu, jika dia benar-benar pembantu Zenitsu, dia tidak akan mungkin tidak mengenalinya, bahkan sampai berani bilang kalau dia ini pencuri.


Peter tahu kalau Zenitsu berbohong, tapi dia tak mengungkapkan kebenaran ini. Dia hanya menatap Cindy lagi, lalu berbalik dan pergi.


Melihatnya yang perlahan pergi menjauh, Cindy pun lega.


Zenitsu berjalan ke sampingnya dan bertanya apa yang sedang dia lakukan dengan berpakaian seperti itu.


“Aku ingin lebih mengenal lingkungan di sini. Aku merasa dengan berpakaian seperti pembantu, aku tidak akan sampai mengganggu orang lain, karena itulah aku berpakaian seperti pembantu.”


Benarkah seperti ini?


Mata licik Cindy yang bergerak-gerak itu memberitahunya kalau apa yang dia katakan itu bukan yang sebenarnya.


Dia tidak bertanya lagi dan menyuruhnya untuk kembali istirahat.


Cindy kembali ke tempat tinggalnya. Dia langsung mengirim pesan kepada Roni dan bertanya apakah dia kembali ke kamarnya dengan mulus.


Roni: Aku sudah pulang! Aku melihatmu masuk ke kamarmu! Cepat tidurlah!


Cindy: Aku tidak bisa tidur. Aku tadi tidak mengenali Peter tuan besar dari rumah ini dan malah dengan berani mengatakan kalau dia itu pencuri. Apa akan menimbulkan masalah nantinya?


Roni: Tentu saja. Dia melakukan sesuatu yang berbeda dari yang lain, batinnya.


Ada aku, tidak perlu takut.


Velina: Kamu jangan sampai menyakiti Marry dulu. Aku telah mendapatkan rambutnya, pertama mari kita pastikan dulu apakah dia itu saudara tiriku atau bukan.


Roni: Kamu terlalu banyak berpikir, pasti bukan.


Cindy: Bagaimana kamu tahu?


Roni: Mari kita tunggu dan lihat saja!


Cindy tidak menjawabnya lagi, berbaring diam sambil melamun di ranjang menatap langit-langit.


Tiba-tiba dalam pikirannya, kembali muncul sosok Peter yang tidak marah yang malah menunjukkan jabatan tingginya, sosok yang begitu mengesankan.


“Ibu, kalau saja yang bersama denganmu waktu itu adalah Peter maka itu sangat mudah sekali ditemukan. Jika dia, begitu masuk ke rumah ini, aku bisa langsung menemukannya. Tapi kamu sama sekali tak mengatakan apa-apa padaku, menemukan ayah kandungku jadi benar-benar sulit sekali. Tapi kamu tenang saja. Aku tidak akan menyerah, besok aku akan terus menyelidiki ini!”


Selesai bergumam sendiri, dia menggenggam ponselnya dan melihat-lihat foto anak-anak dulu.


Adrian yang tampan dan keren, Bobby yang pandai dan cerdik, Shella yang arogan dan dingin, Shelly yang menggemaskan dan imut.


Sudut bibirnya agak naik, dia terus memandangi foto itu sampai akhirnya tertidur.


Peter duduk di ruang kerjanya. Matanya yang sedalam lautan menatap bulan yang bergerak keluar dari awan, ekspresi suram dan sedih muncul di antara kedua alisnya.


“Wanita ceroboh yang kebetulan aku lihat malam ini, bagian tengah di antara kedua alisnya mirip sekali denganmu.”


Dia berdialog sendiri dengan bulan. Setelah tenang kembali, dia membenamkan dirinya dalam pekerjaannya.


Keesokan harinya.


Cindy mondar-mandir di kamar dengan cemas.

__ADS_1


Dia menyerahkan rambut Marry kepada Roni, memintanya menggunakan rambut itu untuk melakukan tes DNA. Roni telah pergi sepanjang pagi, dan seharusnya sudah kembali.


Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu.


Tanpa ragu-ragu, dia berjalan dengan cepat untuk membuka pintu kamar.


Saat melihat wajah Zenitsu, senyum ringan penuh penantian di wajahnya langsung runtuh.


“Kamu?”


“Kalau bukan aku, lalu siapa?”


“Aku, aku kira pembantu.”


“Tanpa ada perintah darimu, pembantu tidak akan berani mengganggumu. Ini adalah aturan di rumah keluarga Ducal.”


Zenitsu bicara sambil melangkah masuk ke kamar. Duduk tanpa sungkannya di sofa kulit.


“Cindy, apa yang ingin kamu lakukan hari ini, aku akan menemanimu.”


“Apa tidak ada urusan yang akan kamu lakukan? Apa Peter tidak membutuhkanmu untuk menangani urusan-urusan yang ada?”


“Menangani urusan-urusan itu tidak lebih penting dari pada kamu.”


“Jangan bilang begitu.”


“Aku punya waktu satu jam menemanimu. Satu jam kemudian, aku akan kembali sibuk bekerja.”


Satu jam...


Tidak mungkin membiarkannya duduk di kamar dan tak melakukan apa-apa kan. Jika dia melihat ada orang itu ke sini, takutnya dia akan cemburu lagi.


“Kamu temani aku untuk berkeliling tempat ini saja. Aku ingin lebih mengenal lingkungan ini.”


Mereka berdua pun berjalan keluar dari kamar, melewati koridor penuh lukisan, lalu tiba-tiba dihentikan oleh seseorang.


"Kakak sepupu."


Marry memanggilnya, tatapannya beralih dari Zenitsu ke Cindy. Marry tiba-tiba memancarkan cahaya yang tajam seperti racun.


Zenitsu menatap orang yang berada di sebelah Marry dan menyapanya dengan hormat, "Ibu!"


Cindy melihat dengan cermat. Meskipun wanita yang berada di depannya sedikit lebih tua, tetapi dia telah perawatan dengan baik, kulit yang putih dan postur tubuh yang mempesona, cara berpakaiannya terlihat anggun dan mewah.


"Cindy, ini Nyonya Ducal."


Setelah Zenitsu mengatakan demikian, Cindy segera menundukkan kepala dan menyapa dengan hormat, "Nyonya."


Nyonya Ducal menatap Cindy dengan cermat, dia yakin pada pandangan pertamanya bahwa dia tidak menyukai Cindy.


Seorang wanita sembarangan tinggal di rumah orang pasti karena tertarik pada kekuatan, status, kemuliaan dan kekayaan keluarga Ducal.


"Jangan bawa siapa pun ke rumah. Ini Kediaman Ducal, bukan sembarangan orang bisa masuk."


Sembarangan orang itu berarti sedang mengatakan dirinya ya?


Kata-kata ini benar-benar tidak enak di dengar.


Cindy menatap Nyonya Ducal, wajahnya terlihat sangat serius, tetapi ekspresi Marry yang berada di belakangnya terlihat sangat bangga.


"Ibu, Cindy adalah temanku. Aku tidak suka kamu berbicara seperti ini."


"Zenitsu, kamu membantahku demi seorang wanita?"

__ADS_1


“Aku tidak berani! Hanya saja, sikap ibu seperti ini bukanlah sikap yang ramah terhadap seorang tamu.”


"..."


Ketika melihat bahwa Zenitsu bersikeras untuk melindunginya , Nyonya Ducal melototi Cindy kemudian dia langsung pergi untuk menghindari konflik dengan Zenitsu.


Cindy merasa seolah-olah ada awan gelap yang menyelimuti hatinya ketika melihat punggung mereka.


Tadi malam dia baru saja menuduh Peter adalah pencuri, hari ini dia bertemu dengan Nyonya Ducal yang begitu membencinya. Sepertinya dia benar-benar tidak cocok dengan orang-orang keluarga Ducal.


Lebih baik mencari tahu tentang identitas dirinya secepat mungkin, kemudian pergi dari sini.


"Jangan masukkan kata-kata ibuku ke dalam hati ."


"Tidak apa-apa."


Cindy menggelengkan kepala dengan pelan, dia tiba-tiba merasa kondisi begini juga bagus.


Berdasarkan sikap Nyonya Ducal terhadapnya bisa mengetahui bahwa Nyonya Ducal pasti tidak akan setuju jika dia berpacaran dengan Zenitsu.


Semalam dia menuduh Peter, hal itu sudah termasuk menyinggung kedua orang ini.


Tanpa diduga, Cindy telah berhasil membuat mereka membencinya sebelum melakukan sesuatu secara sengaja.


Keduanya terus berjalan ke depan, Cindy ragu-ragu dan berkata, "Zenitsu, aku ada satu hal yang tidak ngerti."


"Apa?"


"Kulihat Marry suka padamu, bukankah dia adalah sepupumu? Kalian adalah kerabat dekat, apakah boleh pacaran?"


Wajah Zenitsu menjadi suram, berbalik untuk menatapnya, "Benar kata kamu, aku tidak akan pacaran dengan dia, aku suka kamu."


"Tidak, kamu salah paham. Maksudku, dia tahu bahwa dia adalah sepupumu tapi dia masih ingin pacaran dengan kamu, apakah kalian tidak memiliki hubungan darah?".


Dapat dilihat bahwa penampilan Marry terlihat sedikit mirip dengan Nyonya Ducal, keponakan yang mirip dengan bibi. Seharusnya mereka adalah bibi dan keponakan yang sebenarnya.


Zenitsu terdiam dan tidak menjawabnya.


Cindy meliriknya dan melihat penampilannya terlihat aneh, Cindy juga tidak bertanya lagi.


Setelah melewati sebuah jalan lain, Zenitsu hendak pergi dengan alasan ada urusan yang harus diselesaikan.


Cindy juga berbalik dan berjalan kembali, tetapi dia merasa heran karena Zenitsu tetap diam dengan pertanyaan tadi.


Ketika berjalan kembali ke kamar, Cindy melihat Roni telah kembali.


Cindy segera pergi menanyakan hasil identifikasinya.


"Tidak ada hubungan darah."


"Tidak ada?"


"Iya!"


Bagaimana cara mengetahui siapa yang mengajari akupunktur kepada Marry?


Pelayan saja mengatakan tidak tahu, Zenitsu juga tidak akan memberitahunya dengan mudah, sepertinya harus memikirkan solusi yang baik.


Dia merenungkannya dengan serius.


Marry menemani Nyonya Ducal kembali ke kamar, ekspresinya tampak khawatir dan murung.


Nyonya Ducal duduk di kursi berlengan khusus, kemudian mengambil susu segar yang baru saja dibawakan oleh pelayan dan meliriknya, "Kenapa?"

__ADS_1


"Bibi, hubungan sepupu dengan wanita tadi tampak tidak biasa. Menurutmu,sepupu akan menikahinya?"


__ADS_2