
"Bisa. Apa yang mau kamu makan? Aku akan minta Mami membuatnya untukmu."
Shella memoncongkan mulut. Hanya Shelly yang rakus, dia tidak suka makan.
"Aku tidak mau makan, tidak cantik kalau aku makan terus dan jadi babi gendut seperti Shelly, aku mau ..."
Dia memberi tatapan putih ke arah Shell lalu mulai berpikir.
Begitu dibilang babi gendut dan tidak cantik, wajah Shelly langsung penuh kemarahan. Dia berbalik dan kembali ke kamar tidur. Tak lama kemudian, dia keluar dengan membawa palu besi, lalu berjalan ke depan Shelly dengan marah.
"Kalau kamu bilang aku babi gendut dan tidak cantik lagi, aku, aku akan memukulmu dengan palu!"
Shella terbengong: "..."
Sial, tinju Shelly sudah berubah menjadi palu, palu besi imut~~
Apakah ini sengaja disiapkan Shelly untuk melawannya?
Jika benar-benar terpukul palu itu, konsekuensinya bakal sangat buruk. Alhasil, kepanikan muncul di wajah Shella.
Gadis kecil, kamu berani!
"Aku, aku masih punya model yang harus dirias, aku pergi untuk rias mereka dulu." Usai berkata, Shella langsung pergi.
Melihatnya kabur, Shelly tersenyum bangga.
Dia sudah menduga bahwa Shella yang suka mencemooh itu pasti takut dipukuli!
Setelah dia punya palu besi imut ini, Shella pasti tidak akan berani menertawakannya lagi!
BObby dan Adrian menatap Shelly, mengingatkannya agar jangan pernah menggunakan benda itu untuk memukul orang, itu bisa menyakiti orang! Jika tidak hati-hati, bisa saja menyebabkan masalah besar.
Shelly sekilas melirik mereka, lalu melihat ke kamar tidur Shella. Dia menyeringai, kemudian terlihat dia merobek pegangan besi imut di tangannya, lalu memasukkannya ke mulut.
"Ini--"
Ternyata palu itu terbuat dari roti.
Bisa-bisanya palu buatan dari roti itu terlihat begitu nyata, sungguh menakjubkan!
"Shelly, dari mana kamu mendapatkan ini?"
Shelly memandang mereka dengan misterius, lalu merendahkan suara, "Daddy yang kasih! Kalian berdua tidak boleh kasih tahu Shella ya. Daddy kasih aku beberapa potong."
Daddy?
Uh ... Daddy sepertinya sedikit pilih kasih.
Tapi bagus juga supaya Shella tidak menggertak Shelly sesuka hatinya.
Cindy menyiapkan semeja makanan mewah dan lezat. Keempat anak duduk di sekeliling meja dan mulai menyantap makanan.
"Masakan mami memang paling enak. Menurutku makanan di Kediaman Ducal hambar."
"Kalau kalian suka, Mami akan masak untuk kalian setiap hari."
Para bocah mengangguk-angguk.
Shelly menghela nafas, "Tante Bella sudah pulang untuk membantu paman. Kalau tidak, dia pasti juga akan suka masakan Mami."
__ADS_1
Cindy diam-diam memoncongkan bibir. Apa Bella benar-benar pulang untuk membantu Anton?
Paling, dia pulang untuk memantaunya!
Dia takut Derick akan selingkuh.
Tetapi bagus juga kalau dia pulang. Dengan begitu, Anton dapat membantu Grup Adoguna.
Setelah selesai makan, empat bocah kecil mulai beraksi sesuai rencana.
Mereka membawa alat-alat yang sudah disiapkan, berjongkok dan menunggu dengan tenang di luar halaman tempat Marry tinggal.
Shelly melihat mikrofon Bluetooth di tangan Bobby, bertanya dengan cemas, "BObby, menurutmu apakah wanita jahat itu akan mengenali suaraku?"
"Tidak, kita sudah menggunakan pengubah suara. Bahkan Mami dan Daddy pun tidak akan tahu jika itu kamu."
Shelly menjulurkan lidah. Hatinya agak tenang setelah mendapat jawaban dari BObby.
Jika wanita jahat itu mengenali suaranya dan mengetahui dia memarahinya seperti itu, wanita jahat itu pasti akan menghabisinya.
"Kita cukup tunggu untuk menyaksikan pertunjukkan bagus!"
Kenken mengenakan pakaian hitam, menyelinap masuk ke halaman dengan gerakan fleksibel. Dia mencari beberapa tempat tersembunyi, lalu menyimpan satu demi satu mikrofon Bluetooth di dalamnya. Setelah semuanya beres, dia langsung menyelinap keluar dari halaman.
Dia kembali ke sisi tiga bocah lainnya, lalu memberi isyarat kepada mereka bahwa semuanya sudah beres.
Shella dan Shelly melihat saklar mikrofon Bluetooth di tangan, tersenyum.
Pada saat ini, Marry sedang duduk di kamar dengan gembira sambil menunggu kabar baik.
Sekarang sudah hampir sampai pada waktu yang dijanjikan.
Alangkah baiknya jika Cindy juga bisa dibawa kemari.
Dia mau menghajarnya untuk melampiaskan emosi!
Ketika memikirkan hal ini, dia tersenyum. Dia hendak minum teh, tapi tiba-tiba terdengar seseorang berteriak di luar pintu, "Marry—"
Marry terkejut. Dia curiga bahwa dia salah dengar, karena itu terdengar seperti suara wanita paruh baya. Di Kediaman Ducal ini, tidak ada wanita lain yang berani memanggil namanya secara langsung selain bibinya, Nyonya Ducal.
Dia tidak menghiraukannya, lanjut minum teh.
"Marry—Marry—" Terdengar teriakan lagi, suaranya lebih keras.
Dia memandang pelayan yang sedang membersihkan meja teh, bertanya, "Apa kamu dengar suara?"
Pelayan itu memandangnya, "Sepertinya seseorang memanggil Nona di luar."
Jadi, dia tidak salah dengar?
Dia bangkit dan berjalan ke halaman.
"Marry-"
"Siapa? Siapa yang memanggilku?"
Keempat bocah melihat kondisi di dalam halaman melalui celah di dinding. Begitu melihat Marry keluar, mereka langsung menekan tombol di tangan mereka.
__ADS_1
"Marry berhati jahat—"
"Marry barhati hitam—"
"Marry berhati busuk—"
"Marry berhati babi--"
Marry melihat ke kiri dan ke kanan, tidak menemukan apa-apa. Dia meraung dengan marah, "Siapa? Keluar!"
Shelly tersenyum. Dia menekan tombol saklar sehingga terdengar suara lagi——
"Hati busuk Marry dikeluarkan, dipotong-potong, ditusuk dengan tusuk sate, ditaburi sedikit lada, dipanggang jadi sate hati hitam~~"
Marry sangat marah, dia meraung lagi, "Sate nenekmu, brengsek! Keluar!"
"..."
Para pelayan saling memandang. Tidak terlihat siapa-siapa di halaman, dari mana suara itu berasal?
Marry berwajah muram. Dia memerintahkan pelayan untuk memeriksa di sekitar halaman, tetapi masih tidak ditemukan apa pun.
"Dasar tak berguna! Pasti ada orang yang bersembunyi di halaman, cari lagi! Bagaimanapun caranya, temukan orangnya!"
Saat semua pelayan sibuk mencari orang dan kondisi menjadi kacau,Bobby Dan Shelly menyelinap ke kamar mandi Marry.
Shella Dan Shelly agak khawatir. Mereka tidak tahu apakah rencana kedua mereka akan berjalan dengan lancar atau tidak.
Para pelayan melakukan pencarian dengan cermat, tetapi mereka masih tidak menemukan apa pun.
Marry sangat marah. Dia memutuskan untuk merekrut pengawal yang lebih pintar besok, pengawal-pengawal ini terlalu bodoh.
Beberapa saat kemudian, tidak terdengar suara lagi. Dia pun kembali ke kamar.
Setelah duduk sebentar, dia mengulurkan tangannya untuk memijat pelipis. Dia merasa kepalanya sangat pusing, aliran darah di dalam tubuhnya seolah berantakan.
Karena sakit kepala, dia berencana mandi dan istirahat secepatnya.
Dia bangkit dan pergi ke kamar mandi. Dua bocah yang bersembunyi di balik bak mandi segera bersembunyi lebih dalam lagi setelah melihatnya masuk.
Setelah Marry menanggalkan semua pakaiannya, air di bak mandi kebetulan sudah penuh. Dia melangkah ke bak mandi, memejamkan mata dan menikmati kelembutan air, terlihat rileks sepenuhnya,.
Bobby menyeringai. Dia mengeluarkan sekantong bedak putih dari saku rahasianya, diam-diam menumpahkannya ke dalam bak mandi.
Marry yang sedang bersantai di dalam bak mandi tiba-tiba merasa gatal di sekujur tubuhnya.
Ketika dia membuka mata, kulit di sekujur tubuhnya memerah. Itu terlihat seperti ruam merah, banyak dan padat.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Pupil matanya tiba-tiba melebar. Dia segera menyadari bahwa mungkin ada masalah dengan airnya.
Tapi bagaimana mungkin air yang disiapkannya sendiri bermasalah?
Tepat ketika dia bingung, dua bocah kecil memanjat ke rak di belakangnya, lalu menekan kepalanya ke dalam bak mandi.
Seketika wajahnya terasa panas. Reaksi pertama Marry adalah berpikir apakah mukanya akan hancur?
__ADS_1
Seluruh wajahnya ditekan ke dalam air. Dia tersedak sampai tidak bisa berteriak. Alhasil dia hanya bisa meronta dan berjuang keras.