Anak Kembar Empat

Anak Kembar Empat
.........


__ADS_3

"Menikah dengannya? Mana mungkin!" aku sama sekali tidak setuju.



"Bibi, kurasa sepupu memperlakukannya berbeda dengan nona-nona yang menyukainya pada masa lalu. Aku takut, aku benar-benar takut."



"Jangan takut, ada bibi, posisi Peter pada masa depan akan jadi milik Zenitsu, dan posisi Nyonya Ducal akan menjadi milikmu, tidak ada yang bisa merebutnya."



Marry ragu-ragu, melihat ke kiri dan ke kanan, kemudian merendahkan nada suaranya dan bertanya, "Bibi, aku dengar bahwa paman masih punya seorang putri, akankah dia—"



"Itu hanya rumor."



"Kalau paman benar-benar punya seorang putri, seandainya ada orang ketemu dan bawa dia kembali... bagaimanapun, dia adalah anak kandung paman, bukankah aku dan Zenitsu tidak bisa mendapatkan apa-apa?"



"Jangan khawatir. Jika pamanmu memang ada seorang putri, Zenitsu akan menyelesaikannya tanpa kita melakukannya! Bagaimanapun, posisi Peter adalah hal yang senantiasa dia pikirkan, mana mungkin dia rela berikan kepada orang lain"



Marry berpikir dengan cermat dan merasa masuk akal. Zenitsu memang merupakan orang yang sangat peduli dengan status dan kedudukan.



"Kuharap aku yang berpikir terlalu banyak."



Nyonya Ducal memegang tangan Marry dan memberitahunya dengan sepenuh hati.



"Marry, aku selalu anggap kamu seperti anak sendiri, Zenitsu bukan anak kandungku, aku masih harus hati-hati ketika berbicara dengannya. Jadi, kamu juga harus berusaha sendiri untuk hanya mendapatkan hatinya. Kelak, kamu baru bisa duduki posisi Nyonya Ducal dengan stabil, paham?"



"Bibi, aku sudah paham, kedepannya aku akan memperlakukan kamu dengan baik".



"Oke. Bibi percaya padamu."



"Bibi, aku tidak temani kamu lagi. Aku mau antar sup ginseng ke sepupu dulu."



"Kamu harus tahu bagaimana lihat ekspresi orang. Jika kamu merasa Nona Cindy itu merusak pemandangan, usir saja."



“Baik.” Marry tersenyum simpul, sebuah tatapan yang garang melintas di matanya.



Siapapun yang mengancam masa depannya harus diusir jauh-jauh, dia akan menghapuskan semua rintangan dan penghambat ini.



Tiba pada malam hari.



Lampu-lampu di Kediaman Ducal terang benderang, menyinari malam yang gelap seperti siang hari.



Cindy berjalan-jalan di taman lantai bawah di bawah cahaya yang terang, dia malah menantikan dapat bertemu dengan Marry.



Jika bertemu dengannya, Cindy bisa bertanya padanya tetang belajar akupunktur dengan siapa.



Jawaban itu merupakan sebuah petunjuk.



Ketika sedang jalan-jalan, Cindy tiba-tiba mendengar suara langkah kaki di belakang.



Dia menoleh, tetapi dia belum sempat melihat siapa yang sedang mengikutinya, dia sudah dipukuli dengan kuat, matanya langsung menjadi gelap, kemudian pingsan.



Selanjutnya, dia digendong di pundak oleh seseorang dan dibawa pergi dengan cepat.



Semua kejadian tadi dapat dilihat secara keseluruhan oleh orang yang berdiri di dataran tinggi.



Ada keraguan yang mendalam di antara alisnya, malam-malam menculik orang untuk apa?



Tidak menyangka kejahatan seperti itu akan terjadi di kediaman Ducal.


__ADS_1


"Ayo kemari!"



...



Cindy dibawa ke halaman kecil tempat tinggal Marry.



"Nona, sudah selesai."



"Lempar ke dalam kamar gelap dan siram air dingin untuk bangunkan dia! Jangan lupa tutup mulutnya agar dia tidak teriak."



"Baik."



Setelah menuangkan satu baskom yang berisi air dingin, sekujur tubuh Cindymenjadi basah, seolah-olah berada di gudang es.



Setelah membuka mata, dia langsung melihat baskom berisi air dingin mengalir dari atas.



"Woo-woo-"



Dia ingin teriak, kemudian menyadari bahwa mulutnya tersumbat dan tangan beserta kakinya telah diikat.



Air membasahi badannya, dia tampak kasihan seperti anjing yang basah kuyup.



Dia mengatakan mampus di dalam hati!



Di dalam situasi saat ini, dia seperti ikan di atas talenan yang akan dipotong!



Apakah Roni beserta beberapa pengawalnya akan menyadari bahwa dia telah hilang, apakah mereka akan datang untuk menyelamatkannya?



"Nona, dia sudah bangun."




"Identitas diri sendiri saja tidak tahu, tapi berani berkeliaran di rumah ini. Siang hari ganggu sepupuku untuk temani kamu, malam mau pergi cari dia lagi ya? Dasar wanita \*\*\*\*\*\* yang tidak tahu diri!"



Ketika melihat penampilan Marry yang arogan, Cindy merasa sangat menyesal.



Semalam, ketika Rendy hendak merusak wajah Marry yang menyebalkan ini, dia seharusnya tidak berteriak.



Tuhan, apakah sekarang menyesal masih sempat?



Apakah waktu bisa putar kembali?



Tepat ketika Cindy sedang berdoa secara diam-diam, Marry tiba-tiba maju selangkah, menjambak rambutnya yang basah dan menatapnya dengan mata membelalak, "Katakan, cara apa yang kamu gunakan untuk goda sepupuku?"



Goda?



Dia adalah seorang wanita yang sudah menikah, jika bukan karena ingin mengetahui identitas dirinya, dia berharap bisa menjauhi diri dari Zenitsu, mana mungkin akan menggodanya.



Tanpa diduga, Marry benar-benar menganggap Dirinya sebagai saingan cinta!



Ketika melihat ekspresi Marry yang marah, Cindy memiliki firasat yang kuat bahwa jika tidak ada orang datang menyelamatkannya, maka dia akan mati dengan tragis.



"Oh ya, aku lupa, mulutmu tersumbat, kamu tidak bisa bicara. Hmm ... kamu pakai tulis saja! Hei, ambil pena dan kertas kasih dia untuk tulis!"



Setelah mengatakan demikian, dia menjentikkan tangannya yang sedang memegang rambutnya.



"Bang", Kepala Cindy menambrak dinding, Cindy merasa kesakitan.

__ADS_1



Tak lama kemudian, pena dan kertas itu diletakkan di depan Cindy.



"Tulislah!"



Tangan terikat bisa tulis apa!



Cindy menatap Marry dengan marah. Pada saat ini, dia merasa tidak sabar untuk menggaruk wajahnya.



"Nona Letisha, kedua tangannya terikat, mungkin--"



Pelayan itu maju untuk mengingatkannya, Marry terdiam, "Lepaskan dulu, sini ada begitu banyak orang, dia tidak bisa kabur juga."



Setelah pergelangan tangannya dilepas, Cindy menggerakkan otot dan tulangnya sambil melihat enam pengawal dan dua pelayan yang berada di sekitar Marry, diam-diam mengatakan sangat sulit untuk kabur!



Bagaimana?



Bagaimana cara pergi dari tempat yang bahaya ini?



Pada kondisi yang kacau, Marry berteriak padanya, "Cepat tulis! Jangan buang waktu lagi!"



Cindy meliriknya, mengambil pena dan menulis sebuah kalimat dengan serius: Aku tidak goda dia!



"Puih!"



Kata-kata ini membuat hati Marry menjadi marah.



"Kamu tidak goda dia, mengapa dia bersedia menggelilingi kamu? Apakah kamu sedang menipu dirimu sendiri, atau sepupuku yang murahan? Kurasa kamu itu kurang ajar!"



Cindy menggelengkan kepala dengan kuat karena tidak dapat berbicara, hal ini berarti dia benar-benar tidak menggoda Zenitsu. Dia sama sekali tidak mengatakan bahwa Zenitsu itu murahan juga.



"Masih mau ngelak ya?"



Marry mengedipkan mata pada pelayan yang berada di sampingnya, setelah menghadapkan satu baskom yang berisi air dingin, dia langsung menuangkan ke badan Cindy dari kepala hingga ke bawah.



Sialan!



Sebelum datang ke sini, Cindy tidak pernah berpikir akan bertemu wanita gila.



Ya Tuhan, apakah pria jahat yang meninggalkan ibu belum ketemu dan nyawa diriku justru terancam oleh orang gila ini?



Roni,, apakah kalian menyadari bahwa aku telah hilang?



Cepat datang selamatkan aku!



"Kamu lebih baik turuti, kalau tidak--"



Marry maju, berjongkok dan berbisik di telinganya, "Kamu mungkin tidak tahu bahwa sebelumnya semua wanita yang banyak tingkah di depan sepupuku itu mengalami musibah yang tidak terduga. Ada yang patah tangan dan kaki, ada yang buta, ada yang langsung ke surga dan kembali ke kampung halamannya, musibah seperti apa yang kamu inginkan?"



Sialan, wanita ini cukup kejam!



Pikiran Cindy tiba-tiba muncul adegan-adegan musibah yang menimpa padanya, pendarahan dan sengara, tanpa sadar detak jantungnya berdebar semakin cepat.



Dia tidak ingin terjadi musibah apa pun, dia ingin kembali untuk melihat keempat anaknya dalam keadaan selamat.



Orang bijaksana tidak akan dirugikan, hal yang paling penting pada saat ini adalah bisa hidup.

__ADS_1



Cindy melihat pena dan kertas yang berada di depannya, dia mengeluarkan suara "oh oh oh".


__ADS_2