Anak Kembar Empat

Anak Kembar Empat
~~~


__ADS_3

“Jangan bergerak!”



Suara magnetis dan napas panas membawa godaan mematikan, menyembur ke kulit halus putihnya.



Cindy meronta, tapi apa daya dirinya dipeluk semakin erat.



Rendy mengulurkan jari rampingnya, dengan lembut membantunya melepas pakaian.



Pipinya yang cantik memerah dan jantungnya berdebar kencang.



Dalam kegugupan, dia menelanjanginya.



Keduanya telanjang dan saling berhadapan.



Rendy menatap matanya, selain sayang, hanya ada manja.



Membungkuk, menggendongnya, dengan lembut memasukkannya ke dalam bath tub.



Tetesan air menggelinding lembut dari kulit putihnya.



“Suhunya ok?”



“Hm.”



Cindy mengangguk lembut, memejamkan mata, menikmati diperlakukan seperti harta langka.



Cahaya lembut dan kabut air bercampur, seperti mimpi dan fantasi, menggambarkan kehangatan membara.



……



Keesokan hari.



Sinar matahari lembut menyinari tempat tidur besar yang putih dan lembut.



Bulu mata Cindy, setipis sayap jangkrik sedikit bergetar, perlahan membuka matanya yang ngantuk, bergerak pelan, seluruh tubuhnya sakit, seperti ditabrak mobil.



Dia merintih “Aduh”, melihat tempat di sebelahnya sudah kosong.



Di luar kamar tidur, terdengar suara bertengkar Shella dan Shelly.



Kedua anak ini sedang berebut mainan.



Setelah itu, terdengar suara magnetik Rendy.



“Kalian berdua pelan sedikit, jangan ganggu mami tidur.”



Shelly cemberut tidak senang, “Mami tidak bangun, kami tidak boleh bicara.”



“Iya, kenapa mami masih belum bangun? Bukankah hari ini mau bawa kami pergi main?”



“Diam, balik ke kamar masing-masing, kalau bangunkan mami kalian, tidak usah pergi kemana pun.”



“……”



“……”



Daddy keterlaluan!



Atas perintah Rendy, anak-anak kembali ke kamar dengan mulut cemberut dan kepala tertunduk.



Senyum manis muncul di wajah Cindy yang berbaring di tempat tidur. Dulu, dia tidak pernah berharap bisa bangun secara alami.



Terakhir kali, karena ada Rendy, makanya bisa tidur nyenyak.



Rendy sangat baik padanya!

__ADS_1



Cindy bangun, mandi, ganti pakaian dan keluar dari kamar tidur. Aroma susu yang harum menyembur ke wajahnya.



Tidak perlu pikir juga tahu, pasti Rendy yang buat sarapan.



Dia pergi ke dapur ingin membantunya, tapi dihentikan oleh Rendy.



“Pergi sana lihat anak-anak, begitu bangun langsung ngintip kamar tidur, khawatirkan keselamatanmu, takut aku makan kamu.”



“Aa?”



“Melihat kamu tidur di tempat tidur, mereka baru tenang.”



Anak-anak ini juga sangat baik padanya!



Cindy masuk ke kamar Bobby dan Adrian , keduanya langsung lompat turun dari tempat tidur begitu melihatnya.



“Mami, kamu baik-baik saja, kan?”



“Baik-baik saja.”



Shella dan Shelly yang mendengar suara ini, segera datang, melihatnya dari atas ke bawah dengan gugup.



“Mami, kalau daddy siksa kamu, kami bantu kamu balas dendam.”



“Ya, kami lindungi kamu.”



“……”



Reaksi anak-anak ini, seolah semalam dia pergi ke sarang serigala.



Dia tersenyum canggung, “Mami baik-baik saja, ayo sarapan.”



Mereka berjalan ke ruang makan, duduk di kursi masing-masing, mencicipi sarapan cinta yang dibuat daddy.




Cindy berpikir sejenak, “Beli baju dulu.”



Besok siang ada acara makan malam bersama dengan keluarga besar Adiguna , harus berpakaian lebih rapi.



Rendy membawa dia dan anak-anak ke mall mahal.



Melihat dekorasi megah mall, mulut Shella dan Shelly menganga lebar.



“Ada baju anak kecil? Aku juga mau beli.”



“Ada! Tunggu setelah mami kalian selesai beli, baru kalian beli.”



Ee, daddy baik sekali sama mami, selalu utamakan mami di urutan pertama.



Mata Shelly berbinar, melihat pakaian cantik dan bertanya dengan cemas.



“Pakaian di sini pasti sangat mahal, aku tidak mau beli di sini, aku mau beli di tempat yang lebih murah.”



“……”



Anak ini, bisa pikirkan orang lain juga.



Rendy membungkuk, menggendongnya, “Tidak mahal, selama Shelly suka, beli saja.”



“Iya Shelly, pilih saja beberapa lagi. Mall ini punya paman, tidak perlu uang.”



Ucap bobby.



Shelly berseru kaget, “Wow, paman kaya sekali.”

__ADS_1



Adrian mencibir, menatapnya dengan santai, “Di keluarga Adiguna , paman paling miskin, yang paling kaya itu daddy kita.”



“……”



Shelly tidak mengerti, tapi kedengarannya daddy sangat kaya.



Dia melihat sekitar, menjulurkan tiga jarinya yang gemuk, “Kalau begitu nanti aku mau beli tiga pakaian cantik.”



Shella meliriknya, yang hanya memilih tiga baju.



Begitu masuk ke area wanita.



Melihat sekelompok orang berkumpul, menggumamkan sesuatu.



Anak-anak mencondongkan tubuh kepo ingin tahu, Rendy dan ibunya mengikuti dari belakang.



Setelah itu, terdengar diskusi——



“Aduh, orang sejelek itu datang beli pakaian di sini, memangnya pantas pakai baju mahal? Biasanya ngaca tidak sih?”



“Aku lihat dua kalimat ini cocok untuknya. tidak ngaca——tidak seperti manusia,—— tidak tahu dirinya jelek.”



“Kulihat dia cocok menjadi istri pengemis.”



“Aiyo, jelek sekali!”



“……”



Shella dan shelly hati-hati menatap wanita yang diejek——



Tubuhnya gendut, pendek, matanya kecil, mulutnya besar, kulitnya hitam, bahkan ada tanda lahir seukuran kuku di wajahnya.



Memang tidak cantik.



Melihat pakaiannya yang sangat biasa, pasti ada alasan penting, hingga dia datang ke tempat mewah beli pakaian.



Dalam ejekan semua orang, dia minder menggosok jarinya, matanya berlinangan air mata, tundukkan kepala tidak berani melihat orang.



Seperti penjahat.



“Mereka mengejeknya, kenapa dia tidak pergi?”



“Iya, untuk apa masih berdiri di sana.”



Shella dan Shelly bertanya-tanya, tiba-tiba Evan menjawab, “Kenapa dia harus pergi?”



Shella melirik Rendy, “Tidak pergi, tunggu diejek?”



“Iya, semuanya sedang ejek dia, dia pasti sangat sedih.”



“Dia jelek apakah itu salahnya? Orang jelek tidak berhak pilih pakaian yang disukai?”



Mendengar ini, keduanya terdiam.



Rendy memberitahu mereka dengan serius, “Penampilan setiap orang itu takdir, tidak ada yang bisa milih, dia tidak salah. Mereka yang ejek dia, menilai orang dari penampilan, injak-injak martabat orang, merekalah yang paling tidak pantas ada di sini!”



Shella berpikir, ucapan daddy sangat masuk akal.



Shelly juga ingat apa yang dikatakan guru, tidak boleh ejek teman lain.



“Daddy, kami sudah ngerti, kami tidak akan ejek orang lain.”



“Daddy yakin kalian anak baik.”


__ADS_1


Shella berjalan ke hadapan wanita yang diejek, menarik tangannya, menatapnya dengan tulus, “Kakak jangan sedih, aku bisa rias wajahmu.”


__ADS_2