
Cindy tidak mengerti apa yang mau diungkapkan oleh pembantu itu, dia menggerakkan matanya mendapatkan ide, tanpa bertele-tele dia bertanya di mana tempat tinggal Nona Letisha itu dengan memberikan iming-iming kepada mereka.
Jika Nona Letisha itu benar-benar bisa ketrampilan akupuntur, kalau begitu siapa yang mengajarinya?
Apakah mungkin orang yang pernah belajar akupuntur bersama ibunya?
Jika iya, maka dengan memiliki petunjuk ini, apa mungkin dia bisa menemukan ayah kandungnya.
Begitu berpikir seperti ini, Cindy memutuskan mencari kesempatan untuk membuat pertemuan secara kebetulan dengan wanita itu, mencoba akrab dengannya. Dengan begini, akan lebih mudah menyelidikinya.
Saat makan malam, Zenitsu menyuruh orang memanggil Cindy untuk makan malam bersama.
Cindy tiba di ruang makan dengan agak gugup. Dia menghela napas lega saat hanya melihat Zenitsu seorang diri di sana.
“Duduklah.”
“Terima kasih.”
Tersaji makan malam yang menggoda di atas meja yang membuat orang sampai meneteskan air liur.
Keluarga Ducal memang benar-benar keluarga terhormat bak bangsawan. Bahkan alat makan saja sangat indah.
“Cindy , makanlah yang banyak hidangan yang kamu sukai, tidak perlu sungkan.”
“Terima kasih.”
Perut Cindy sudah keruyukan. Dia malas berbasa-basi dan bersikap sopan padanya. Begitu melihat teripang di atas piring, dia langsung mengambil yang paling besar.
Baru saja menaruhnya di mangkuk dan belum sempat memakannya, dia mendengar suara langkah kaki ‘tap tap tap’ yang mendekat.
Saat melihat ke pintu masuk, dengan cepat ada seorang wanita berpakaian anggun dan mewah berjalan masuk ke dalam.
“Kak, kapan kamu pulangnya. Tidak ada satu orang pun yang memberitahuku.”
Hanya terlihat bibirnya yang bergerak, dan menghela napas dengan cantiknya.
Ada rasa tidak senang di nada bicaranya yang agak manja ini. Selesai bicara, dia mengalihkan pandangannya dari Zenitsu ke Cindy.
Mata mereka berdua bertemu, hati Cindy langsung tertegun. Dia dapat melihat kemarahan di mata wanita yang sedang melihatnya itu.
Baru saja bertemu, aku tidak menyinggungnya sama sekali!
Dia memandangi wanita itu dari atas ke bawah dengan cermat, tubuhnya tinggi dan proporsional, lumayan cantik dengan riasan yang indah. Begitu melihatnya sekilas, langsung tahu kalau latar belakangnya pasti bagus. Gaya berdirinya saja telah menunjukkan dia seorang yang arogan dan memandang rendah orang lain.
Jadi, ini adalah wanita yang angkuh.
“Baru kembali hari ini. Ada apa kamu mencariku?” kata Zenitsu dengan tenang.
Wanita itu melangkah dan berjalan ke sisi Zenitsu, lalu menundukkan pandangannya melihat ke arah Cindy.
“Siapa dia?”
Zenitsu menaruh sumpit emas di tangannya, “Aku perkenalkan padamu, dia ini adalah Cindy. Dia temanku. Sedangkan ini adik sepupuku, Marry Letisha.”
Adik sepupu?
__ADS_1
Apakah dia orang yang dibicarakan oleh pembantu itu, orang yang bisa akupuntur itu?
Jika benar-benar dia, ini adalah bantuan dari Tuhan. Dia sudah bertemu dengannya duluan tanpa perlu mengatur pertemuan secara kebetulan.
Apakah mengambil kesempatan kali ini untuk menjalin hubungan baik dengannya, berusaha akrab dengannya? Membuka jalan untuk menyelidiki latar belakang dan masa lalunya?
“Teman? Kak, sejak kapan kamu kenal dengan teman yang tidak selevel? Coba lihat dia yang tersenyum sendiri itu, dia pasti sedang merencanakan sesuatu. Kamu harus hati-hati.”
Cindy tersadar dari lamunannya karena ucapan Marry ini. Dia sama sekali tidak menyangka kalau wanita ini bisa bicara dengan setajam ini.
Namun setelah menganalisisnya lebih cermat. Zenitsu berasal dari keluarga terhormat, maka identitas wanita ini pasti juga hampir sama dengannya.
Benar apa yang dikatakannya mengenai senyum sendiri dan merencanakan sesuatu. Tapi dia salah mengenai menyuruh Zenitsu berhati-hati. Karena rencana yang dibuat Cindy adalah untuk mendekatinya demi mendapatkan petunjuk.
“Benar apa yang dikatakan oleh Nona Letisha, keberuntungan besar untuk orang sepertiku bisa mengenal Tuan muda.”
“Cindy, aku tidak mengizinkanmu merendahkan dirimu sendiri.”
“Kak, dia mengatakan yang sebenarnya. Baguslah kalau tahu diri.”
Zenitsu meliriknya, dia tampak acuh tak acuh dan hanya beridri menatap Zenitsu di sana dengan wajah dingin.
Cindy tidak peduli sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Marry. Saat teringat dengan tujuannya sendiri, dia merasa dirinya harus bisa beradaptasi dengan situasi apapun. Dia memikirkan cara terbaik untuk bisa menjalin hubungan baik dengannya.
“Nona Letisha, kamu pasti juga belum makankan. Mari duduk dan makan bersama.”
Marry melirik Cindy, lalu melihat ke arah Zenitsu.
Zenitsu hanya diam tak bicara, apa maksudnya ini tidak ingin aku berada di sini?
Dia kesal, jadi dengan sengaja duduk di samping Zenitsu, dan memerintahkan pembantu untuk menambah mangkuk dan sumpit.
“Kak, lihatlah kamu tambah kurus, makanlah lebih banyak.”
Zenitsu hanya diam, dan tak memedulikannya. Dia menyumpitkan sirip hiu dan menaruhnya di mangkuk Cindy, “Cindy, makanlah yang banyak.”
Cindy mengangkat kepalanya dan melihat Marry yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
Hatinya berkedut hebat.
Entah kenapa dia merasa tatapan Marry saat melihatnya seperti melihat musuhnya, apakah dia benar-benar menganggapku sebagai musuh yang kuat?
Ekspresi cemburu di wajahnya itu jelas menunjukkan kalau dia suka kepada Zenitsu. Tapi bukannya dia dan Zenitsu adalah saudara sepupu? Apa mereka bisa bersama?
Setelah Cindy memikirkan ini sejenak, dia menebak mungkin Nona Letisha bukanlah adik sepupu kandung Zenitsu. Mungkin Nona Letisha diadopsi atau mungkin karena alasan lain. Intinya mereka tidak punya hubungan darah, jadi mereka dapat bersama.”
Dia berniat untuk menjalin hubungan dekat dengan Marry, jadi dia berinisiatif unuk menyumpitkan sirip hiu dan meletakkannya ke mangkuk Marry, “Nona Letisha, makanlah lebih banyak.”
“Aku tidak butuh kamu mengambilkan hidangan untukku, tangan kotor!”
***
Cindy sangat tidak menduga akan ditolak.
Sirip hiu yang dia berikan diambil lagi dari piring dan dilemparkan ke meja makan begitu saja oleh Marry.
__ADS_1
Baiklah, dia yang salah.
Beberapa orang memang sangat sulit untuk bisa didekati.
Jika bukan karena ingin tahu asal usulnya, dia juga tidak mungkin mau menyumpitkan makanan untuknya.
Cindy tidak memedulikannya lagi, hanya makan dengan serius.
Setelah kenyang, dia menaruh mangkuknya ke samping, “Aku sudah kenyah, aku kembali dulu ke kamar.”
“Aku akan mengantarkanmu.” Kata Zenitsu sambil berdiri.
“Tidak perlu! Makanlah saja.” Cindy melangkah dan berjalan keluar.
“Kak, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu.”
Zenitsu melirik Marry dengan tidak senang, lalu duduk kembali, “Ada apa?”
Setelah Cindy keluar dari ruang makan, barulah Marry bicara, “Kak, apa hubunganmu dengan Nona Cindy? Jangan lupa, akulah tunanganmu.”
“Tunangan? Iyakah?”
Zenitsu seolah mendengar lelucon besar yang menggelikan. Dia menatapnya dengan raut wajah yang dingin.
“Kak, jangan lupa. Tanpa ada bibiku, tidak mungkin ada kamu yang hari ini! kamu harus menikahiku!”
“Kebaikan bibimu kepadaku memang sangat besar sebesar gunung. Tapi aku tidak punya perasaan apapun padamu. Aku tidak akan mengorbankan pernikahanku sendiri hanya untuk membalas hutang budi.”
“Kamu tetap harus menikahiku walaupun tidak punya perasaan apapun! kamu harus menikahiku!”
“...”
Marry mulai emosi. Zenitsu meliriknya, lalu berdiri dan berjalan keluar dari ruang makan.
Melihat punggung yang kesepian itu perlahan menjauh, melintas hawa dingin di mata Marry.
“Cindy, mau merebut priaku sampai datang ke rumah, lihat saja, bagaimana aku akan melawanmu!”
Begitu ucapan ini terlontar, dia pergi meninggalkan ruang makan dengan marah.
Cindy kembali ke tempat tinggalnya, dia terus memeras otak memikirkan bagaimana caranya mendapatkan petunjuk dari Nona Letisha.
Jika Marry dan Zenitsu bukan saudara sepupu, dan tidak punya hubungan darah apapun. Kalau begitu apa mungkin Marry dan aku adalah saudara tiri dari ayah yang sama dan ibu yang berbeda?
Jika ketrampilan akupuntur Marry diajari oleh ayahnya sendiri.
Maka ada kemungkinan ini.
Dia memberitahukan apa yang dipikirkannya ini kepada Roni.
Roni mengerutkan kening, “Apakah kamu tahu mereka bukan sepupu kandung?”
“Kalau mereka saudara atau kerabat kandung, mereka tentu saja tidak boleh menikah. Jika benar-benar sepupu kandung, bagaimana mungkin Marry melihatku seperti mau memakanku. Jelas sekali kalau dia suka Zenitsu, dan menganggapku sebagai saingan cintanya.”
Setelah mengatakan ini, tiba-tiba merasa ada yang tidak beres.
__ADS_1
Dia mengangkat kepalanya menatap Roni, Roni menatapnya dirinya dari atas, ekspresinya sangat dingin sekali.