
“Rendy,Shella bisa gambar wajahmu, tapi enggak bisa gambar dirimu! Dia bukan kamu, bukan kamu….…”
Melihat pintu kamar tertutup rapat, ada kesedihan melintas di mata Roni.
Tanpa sadar mengepalkan tangannya.
Shella terkejut, dia tidak pernah melihat Ibunya semarah ini.
Shella hanya ingin menunjukkan riasan nya, tidak menyangka malah membuat mami marah.
Shella diam-diam menggaruk kepalanya, dan air matanya menetes.
Ketiga anak lainnya juga terkejut.
Shellay bertanya dengan penasaran, “Bukankah mami sangat merindukan daddy? Kenapa begitu melihat daddy marah besar?”
Bobbyi:“……”
Adrian:“……”
Mereka juga tidak mengerti.
Tapi mami baru saja mengatakan, daddy mereka hanya ada satu, mungkin maksudnya daddy tidak tergantikan, tidak ingin Roni memiliki wajah yang sama dengan daddy.
Melihat ke empat anak yang kebingungan, Roni menyentuh kepala mereka, mengetik sebaris kalimat: “Mami kalian tidak suka aku menjadi seperti ini, hapus riasannya.”
Setelah membacanya,Shella mengusap air matanya, membawa Roni ke kamar, membersihkan riasannya dengan make up remover.
Melihat wajah Shella yang sedih, Roni meremas wajah kecilnya, dan tersenyum padanya.
Meski wajah Roni menakutkan setelah dihapus riasannya, senyum ini membuat Shella merasa hangat.
Setelah Cindy tenang, dia sadar dirinya tadi di luar kendali, tidak seharusnya memarahi anak-anak, makanya segera pergi ke kamar Anaknya, meminta maaf padanya.
“Maaf Shella, mami enggak sengaja, enggak seharusnya mami marahi kamu.”
Shella tampak sedih, menggelengkan kepalanya dengan kuat.
“Mami, ini salahku, daddy hanya ada satu, aku enggak akan rias orang lain jadi daddy lagi.”
Velina memeluk Anaknya, menyalahkan dirinya.
Untuk sesaat Cindy tidak bisa menerimanya, Rendy baru meninggal, tiba-tiba muncul seseorang yang memiliki wajah yang sama dengannya di rumah, hatinya sangat sakit.
Tapi rasa sakit ini, tidak dia biarkan anak-anak tahu.
Cindy mengulurkan tangan, menyeka air mata shella dengan lembut.
Belum sempat diusap, sudah mendengar Bobby berlari masuk, “Mami, kakek dan nenek datang, nenek bilang ingin melihat daddy.”
“Melihat daddy?”
Cindy bergumam, segera bangkit dan pergi ke ruang tamu.
Agnes baru saja bertanya, “Apakah Rendy sudah kembali?”, dua tamu tidak diundang datang.
“Mami, paman dan Bella juga datang.”
Begitu keduanya masuk, Anton bertanya, “Kakak ipar, siapa pria yang jadi trending topik?”
Cindy berdeham, “Panggil Roni keluar.”
Bobby mengangguk, berlari memanggil Roni, saat Roni datang, Agnes segera berdiri.
__ADS_1
“Di-dia?”
Melihat sosoknya yang seram dan jelek.
“Sosok yang jadi trending topik itu dia, bukan Rendy.”
Hendy mendesah kecewa, dia bergumam mana mungkin orang yang sudah meninggal hidup lagi.
Kekecewaan melintas di mata Agnes, yang terduduk di sofa.
“Putraku, putraku……”
“Ma, jangan begini, jangan nangis lagi, matamu ini enggak boleh nangis lagi.”
“Bibi, jangan sedih, anak-anak masih ada.”Bella mengingatkannya dari samping.
Agnes segera menyeka air matanya, melihat keempat anak.
“Daddy kalian dinas, dia pasti pulang, nenek pikir sudah pulang, makanya datang.”
“Kalau begitu, kenapa nenek nangis?”
“Mata nenek sakit, beberapa hari yang lalu baru periksa ke dokter, untung enggak ada masalah.”
“……”
Mereka merasa ada yang tidak beres, tapi tidak tahu apa yang aneh.
Shelly berjalan ke hadapan Agnes menyeka air matanya dengan tangan kecilnya.
“Mata nenek sakit, ingat minum obat.”
“Iya, nenek dengarkan Kamu”
Bella menemani anak-anak main sebentar, sedangkan Anton berdiri di samping Roni, menatapnya.
“Apa yang terjadi dengan wajahmu?”
Roni mengeluarkan hp, mengetik “Kebakaran”.
“Kamu enggak bisa bicara?”
Roni:”Asap kebakaran merusak tenggorokanku.”
Anton terkejut.
Awalnya berpikir tempramen orang ini sangat mirip dengan abangnya, bahkan bertanya-tanya apakah jiwa abangnya sudah reinkarnasi atau ada orang sengaja mengaturnya, ingin mengujinya.
Tapi, dia tidak bisa bicara, bagaimana mengujinya?
“Bagaimana ceritanya kamu bisa jadi pengawal di sini?”
Roni:”Permintaan tuan kecil, tuan muda dan nona membantu pengepungan.”
Begitu?
Anton berpikir sejenak, lalu bertanya, “Lalu kenapa kamu bisa muncul di hadapan tuan muda?”
Roni:”Kebetulan waktu beli baju ketemu di mall.”
Kebetulan?
Anton merasa sangat kebetulan.
__ADS_1
Entah karena kehendak Tuhan membiarkan Roni muncul, atau seseorang yang sengaja melakukannya.
Singkatnya, harus lebih waspada dengan si Roni.
Anton diam-diam mengamati sebentar, menyadari Roni sangat baik pada anak-anak, sabar dan berhati-hati bermain dengan anak-anak.
Tapi saat Anton pergi, dia dengan tegas memberi tahu bobby dan Adrian harus berhati-hati pada Roni, atau dia kirim dua pengawal lagi untuk melindungi mereka?
Adrian dengan tegas menolak, “Tidak perlu, Roni orang baik!”
“Oh iya, paman enggak pernah dengar wajah jelek berhati baik?”
Anton berpikir sejenak, menggelengkan kepala, “Enggak pernah, hanya pernah dengar hati baik tampang cantik!”
Adrian:“……”Terdiam.
Adrian meliriknya dengan arogan, “Daddy pernah bilang, jangan nilai orang dari tampang.”
“Iya, jangan tertawakan orang lain.” Shelly juga berdebat dengannya dengan pinggang kecilnya yang gemuk disilangkan.
Anton tersedak, menyentuh hidungnya, dan melirik Roni, “Semoga aku yang terlalu khawatir, kalau terjadi sesuatu segera telepon aku.”
“Iya tahu paman, hati-hati di jalan.”
“Hm, jangan tahan aku makan malam, kita makan di rumah saja.”
“……”Adrian meliriknya, tahan kamu makan malam? Mimpi saja!
Melihat Bella dan Pamannya pergi, Kedua anak segera menarik Roni ke ruang mainan.
“Roni, kamu bisa susun Lego?”
“Roni,temani aku latihan Taekwondo.”
Roni belum sempat memilih siapa, sudah melihat Cindy berjalan masuk.
“Mami, makan malam aku ingin makan hot pot.”
“Mami, aku juga.”
Cindy melirik Roni, “Iya, aku tanya paman beberapa pertanyaan.”
Roni menatapnya dengan tenang dan mengangguk.
“Keluargamu ada siapa saja?”
Roni mengeluarkan hp, mengetik:”Tidak ada, semuanya terkubur dalam api.”
Hanya dia satu-satunya yang tersisa?
“Lalu kamu tinggal di mana? Bisa kasih tahu alamat lengkapnya?”
……
Roni mengetik alamatnya, dan Cindy diam-diam mengingatnya.
“Mohon maklum ya, ke depannya kamu akan sering temani anak-anak, aku perlu tahu informasimu.”
Roni mengangguk.
“Ok, kalau begitu aku masak makan malam dulu.”
Setelah keluar dari ruang mainan, Cindy memberi tahu Anton untuk menyelidikinya.
__ADS_1