
Shelly melirik, “Paman Zenitsu sangat baik terhadap kami, bagaimana mungkin memiliki ibu yang begitu menakutkan?”
“Iya, paman Zenitsu tidak mungkin memiliki ibu yang begitu jahat, kamu pasti palsu.”
Perkataan yang keluar dari mulut Shella secara sembarangan, menusuk ke hati Nyonya Ducal.
Penyesalan terbesarnya seumur hidup ini, adalah tidak memiliki anak kandung, bukan ibu kandung Zenitsu.
Ia menggenggam erat jemari tangannya, menahan rasa sakit yang keluar dari hatinya, memberikan perintah, “Kemari, tangkap beberapa anak ini dan buang keluar Kediaman Ducal!”
Keempat anak itu saling bertatapan, ini mau membuang mereka keluar?
Tidak bisa dong! Mommy sebentar lagi akan pulang, nanti tidak menemukan mereka!
Melihat beberapa orang berbadan besar yang datang kearah mereka dengan cepat, Bobby dengan buru-buru beteriak, “Cepat lari!”
Keempat anak itu dengan sekuat tenaga berlari kearah luar halaman, para pelayan mengejar mereka dibelakang.
Melihat langsung mengejar, Adrian mengusulkan, “Bobby, mari kita berdua mencari cara untuk membingungkan mereka, Shella Shelly, kalian lari kearah bebatuan sana, disana ada banyak goa dan kalian bisa bersembunyi.”
“Baik.”
Shella menarik tangan gendut Adiknya, sekuat tenaga berlari melarikan diri.
Bobby dan adrian memperlambat langkahnya, tanpa berjanjian sama-sama melihat kearah samping, kearah batu kecil berwarna-warni yang menjadi hiasan.
“Kamu tebak, diantara kita siapa yang bisa melemparkan batu dengan tepat?”
Adrian dengan tertantang menatapnya, “Bertanding?”
“Baik!”
Selesai berkata, mereka berdua berlari kesebelah tumpukan batu, sendiri-sendiri mencari tempat untuk bersembunyi.
“Kedua bocah itu ada dibelakang tumpukan batu, cepat, cepat tangkap……”
Belum selesai perkataannya, mata dan tangan Bobby yang cepat, melemparkan sebuah batu keluar, secara kebetulan jatuh tepat dimatanya.
Ia tiba-tiba berteriak kesakitan dan menutupi matanya, “Anak sial, berani sekali menyerang, tangkap……”
Setelah Adrian membidik dengan tepat, secara sengaja memilih batu yang sedikit besar dan melemparkan kearah mata yang satunya lagi.
“Ah——” kembali terdengar suara teriak kesakitan, ia menutupi kedua matanya, kesakitan hingga ke giginya.
“Anak sialan, tunggu hingga kalian tertangkap, aku akan memukul kalian mati-matian!”
Bobby menjulurkan jari jempol kearah Adrian , “Kamu melemparkan dengan lebih kejam daripadaku!”
Adrian tersenyum keren, “Tentu saja, batu yang aku gunakan lebih besar darimu, membidik lebih tepat daripada mu, tanganku juga jauh lebih lurus daripadamu.”
Bobby tidak terima, “Lanjutkan!”
“Baik!”
Sedang besiap untuk bergerak, tiba-tiba beberapa pelayan yang tangguh dengan segera mengelilingi mereka.
Bobby tiba-tiba mengusulkan, “Kali ini kita bandingkan kecepatan, beberapa orang disana serahkan kepadamu, disini serahkan kepadaku.”
“Baik!”
Seketika, batu-batu berterbangan keluar, kecepatannya juga cepat dan tepat, para pelayan yang tidak sempat untuk melindungi diri, satu-persatu tertembak.
“Hati-hati, kedua bocah ini khusus membidik mata.”
__ADS_1
Peringatan ini, dengan segera membuat para pelayan melindungi mata mereka.
Mata tidak mudah di serang, hanya bisa menyerang kepala.
Melihat beberapa pelayan ini menutupi kepala mereka dan satu-persatu menghindar, mereka berdua saling bertatap, secara bersamaan sambil berlari sambil melemparkan batu menyerang.
“Bobby, kamu cukup cepat.”
“Kamu membidik lebih tepat dari padaku, aku ada dua yang meleset.”
“Sepulang nanti kita masih harus berlatih lebih banyak lagi.”
“Iya, jika mereka berhasil mengejar aku akan menahan mereka, aku bisa taekwondo, kamu pergi mencari Shella dan Shelly.”
“Tidak, kita adalah saudara, harus maju dan mundur bersama!”
“……”
Bobb tertawa hihihi, tidak terpikirkan ternyata kakaknya ini cukup mementingkan persahabatan.
“Aiya, tidak ada batu lagi, kita cepat lari!”
Kedua bocah itu melangkahkan kakinya secepat kilat dan berlari sekuat tenaga.
Para pelayan menurunkan tangan mereka dari wajah dan bertatapan satu sama lain.
“Sial, kamu ternyata dipukul menjadi seperti panda oleh dua orang anak kecil? Benar-benar memalukan!”
“Kamu adalah gagak yang jatuh di tubuh babi, tidak melihat diri sendiri hitam! Lihat matamu yang membengkak, ckck, lebih parah dari pada mata panda.”
“Aduh, mataku panas sakit sekali, tidak mungkin tidak bisa melihat lagi kan?”
“Sudah, cepat kejar, nyonya masih menunggu kita membawa mereka kembali!”
“Setelah menangkap mereka kamu tanyakan saja.”
“……”
Bobby dan adrian yang berlari menuju ke halaman tidak melihat Shella dan shelly, mereka pun mulai khawatir.
“Mereka itu tersesat atau tertangkap?”
“Ada Shella, seharusnya tidak mungkin tersesat.”
“Kalau ada Shelly, tidak pasti.”
“Telepon tanyakan. Shella memakai smartwatch.”
“Baik.”
Setelah menelepon, Bobby dan adrian mencari mereka berdasarkan alamat dan petunjuk yang diberikan oleh Shella
Mereka berdua melihat ruangan yang sangat besar, dengan penasaran bertanya, “Disini kenapa tidak ada satu orang pun?”
“Karena mereka melihat disini tidak orang, mangkanya mereka masuk.”
“Kalau begitu kita juga bersembunyi dahulu disini. Kita tunggu penyihir tua pergi baru kita kembali lagi.”
Pecakapan beberapa anak ini terdengar hingga kebelakang layar, kedalam telinga Peter yang sedang menatap lukisan dengan dalam.
Ia sangat penasaran, beberapa anak ini dari mana datangnya?
Dan juga, penyihir tua yang ada didalam ucapan mereka itu siapa?
__ADS_1
Ia diam-diam melihat mereka.
4 anak itu putih sebersih batu giok, cantik tampan dan juga manis, wajah kecil mereka melampaui langit, orang tua mereka pasti juga memiliki wajah yang sangat tampan.
Pandangan matanya terjatuh kepada Shella dan Shelly, dahinya pun mengerut, kedua anak ini kenapa sangat mirip dengan wanita yang dibawa pulang oleh Zenitsu itu?
Alis mata wanita itu sangat mirip Agata, kedua anak itu pun juga.
Ia mendongakkan kepalanya kembali melihat lukisan itu, semakin dilihat semakin mirip.
“Aku tidak mengijinkan siapapun untuk mendekati tempat ini, hari ini datang 2 bocah yang sangat mirip denganmu, ini juga adalah takdir.”
Ia berbicara, diwajahnya muncul sebuah senyuman yang ringan, didalam senyumnya itu terdapat rasa sedih dan pahit.
Bobby menahan nafasnya dan berkata, “Aku sepertinya mendengar ada orang yang berbicara.”
“SIapa?”
“Aku kenapa tidak mendengar apapun.”
Beberapa anak yang lain juga mendengarkan dengan jelas lagi tetapi tidak ada suara, melainkan ada suara langkah kaki.
Peter muncul dari belakang layar.
Saat melihatnya, beberapa anak itu sangat tekejut.
“Siapa, siapa kamu?”
“Aku? Aku tuan rumah disini.”
“Tuan rumah?”
Bobby dengan waspada melihat kearah 3 anak yang lain, “Hati-hati, disini adalah tempatnya, pasti karena dia sangat jahat, karenanya tidak ada orang yang berani masuk, kita juga harus berhati-hati.”
Mendengar perkataannya, wajah Peter menunjukkan senyuman.
“Siapa kalian, dari mana kalian datang?”
Adrian melihatnya dan secara ajaib menjawab, “Kita adalah tamu disini, datang dari tempat yang seharusnya.”
“……”
Jawabannya juga cukup berhati-hati.
“Siapa nama kalian?”
Roh cerdas bobby, menunjuk beberapa dari mereka dan memperkenalkan, “Namanya si sulung, namaku anak kedua, namanya anak ketiga dan dia si bungsu.”
Shelly mengerucutkan mulutnya, ia merasa si bungsu tidak enak didengar, tersenyum pahit, salah satu jari tangannya menunjuk wajahnya yang gendut, “Aku bukan si bungsu, namaku peri kecil.”
“Namamu si panda wajah besar!”
“……”
Shelly melirik kearah Shella, sepertinya ia sudah tidak takut tinjunya , ia harus naik tingkatan lagi baru bisa.
Peter melihat beberapa anak ini, alih-alih merasa mereka cerewet, ia malah menyukai mereka.
Ia menganalisa perasaannya yang seperti ini, mungkin kemunculan mereka di tempat ini, tepat ditempat kesukaannya.
Atau mungkin juga, kedua alis mata gadis kecil ini sangat mirip dengan Agata.
Singkatnya, entah kenapa ia merasa sangat dekat dengan anak-anak ini.
__ADS_1
Ia dengan penasaran bertanya, “Penyihir tua yang tadi kalian katakan itu, siapa?”