Anak Kembar Empat

Anak Kembar Empat
.........


__ADS_3

"Mukanya bakal hancur sampai tidak enak dipandang."



Setelah mendengar Adrian berkata demikian, BObby merasa sangat puas.



"Dasar wanita berhati buruk! Ini namanya hukuman dari berbuat kejahatan! Ingat, kalau kamu berani menggangguku lagi, aku bakal membuatmu masuk neraka!"



Usai berkata, keduanya melepaskan Marry. Marry terbatuk-batuk.



"Pelayan, pelayan- Pelayan-"



Mendengar teriakan Marry, pelayan segera berlari kemari. Namun, pintu kamar mandi terkunci dan para pelayan tidak bisa membukanya.



Marry mau tidak mau harus merangkak keluar dari bak mandi, menahan rasa gatal dan perih, mengenakan piyama sebelum membuka pintu.



Pada saat ini, BObby dan Adrian sudah memanjat jendela dan melarikan diri.



Marry teringat suara dua bocah yang baru saja berbicara. Dia yakin mereka pasti kedua Bocah itu.



Apa yang terjadi malam ini, dari suara yang memarahinya sampai kejadian di kamar mandi, semua itu pasti berhubungan dengan bocah-bocah itu!



Tunggu saja, dia bakal menguliti dan menghancurkan mereka!



Dokter di Kediaman Ducal segera bergegas kemari untuk memberi Marry infus. Dokter mengingatkan Marry untuk tetap beristirahat di tempat tidur, tidak boleh asal makan, tidak boleh terkena angin. Obat bubuk digunakan dalam jumlah banyak, sehingga efeknya sangat mendominasi. Jika perawatan tidak dilakukan dengan benar, kulit akan susah pulih ke semula, terutama kulit wajah.



“Apa yang akan terjadi dengan wajahku?” Tanya Marry dengan khawatir, seolah sedang mengkhawatirkan nyawanya.



Jika wajahnya hancur, masa depannya akan sangat terpengaruh.



Jaraknya dan Lee Min Ho ataupun Dival yang memiliki wajah tampan nan sempurna pun akan semakin jauh hingga tak tergapai.



Dokter melihat wajahnya yang merah dan bengkak, memberitahunya dengan hati-hati bahwa wajahnya mungkin juga tidak akan pulih seperti semula, akan ada bekas.



Sebenarnya kenyataan lebih parah dari yang disampaikan. Ada risiko wajahnya akan hancur. Tapi dokter tidak memberitahunya karena mempertimbangkan suasana hatinya dan tidak mau memberinya pukulan dahsyat.



Marry berbaring di tempat tidur. Matanya yang penuh ketakutan tiba-tiba muncul secercah cahaya yang tajam. Dia memerintahkan seseorang untuk mendatangkan Nyonya Ducal.



Nyonya Ducal merasa iba setelah melihat kondisinya.



Dia selalu menganggap keponakan ini sebagai putri kandungnya sendiri.



"Marry, apa yang terjadi?"



Marry mengulurkan tangan dan meraih tangan Nyonya Ducal, menangis sambil mengadu, "Bibi, kamu harus membalaskan dendamku. Cindy dan para bocah sialan itu yang mencelakaiku! Mereka terlalu kejam!"



"..."



Begitu Nyonya Ducal berpikir bahwa Marry melawan Cindy dan para bocah itu atas perintahnya, dia semakin iba.



"Marry, jangan khawatir, tante akan membuat mereka membayar harganya!"



Usai berkata, dia berjalan keluar dari kediaman Marry dengan marah.



Cindy memandang keempat bocah kecil kembali dengan tampang bahagia. Dia menduga bahwa rencana mereka pasti berjalan dengan lancar, mereka berhasil menghajar wanita jahat itu.

__ADS_1



Ketika dia hendak memuji mereka, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.



"Siapa?"



Siapa yang akan datang larut malam seperti ini.



Cindy membuka pintu. Terlihat Bimo berdiri di luar pintu dengan tampang panik.



Sebelumnya Bimo menerima perintah dari Rendy untuk diam-diam melindungi keempat bocah yang mau mengusik Marry.



Setelah mengetahui rencana keempat bocah itu pada malam ini, dia terus bersembunyi di kegelapan untuk mengawasi mereka. Dia baru bubar beberapa saat setelah keempat bocah itu bubar, jadi dia mengetahui beberapa informasi.



"Bimo, ada apa?"



"Nyonya, segera bawa keempat bocah itu untuk bersembunyi. Nyonya Ducal mau membalaskan dendam keponakannya, dia mau mendatangi kalian!"



Nyonya Ducal.



Cindy terkejut. Tidak disangka wanita itu akan tahu begitu cepat. Itu pasti karena rencana keempat bocah tidak cukup teliti, sehingga aksi mereka terungkap.



Sekarang masalah bakal sangat merepotkan.



Selain Peter, Nyonya Ducal berstatus paling tinggi di sini. Jika Nyonya Ducal bersikeras mau membalaskan dendam Marry, maka dia dan keempat anaknya bakal celaka!



"Mami, Marry yang menggertak kita dulu. Kita cuman balas dendam, tidak perlu takut!"



Cindy menghela nafas pada Shella yang mengucapkan kata-kata itu dengan tegas.




Dia pernah bertemu dengan Nyonya Ducal beberapa kali dan tahu bahwa dia adalah orang yang lebih mementingkan perasaan daripada pikiran logis. Terlebih lagi, Nyonya Ducal memang selalu membenci mereka. Kali ini dia tidak akan melepaskan mereka dengan mudah.



"Mami, kami yang melakukannya. Ini gak ada hubungannya denganmu. Nanti Mami hanya perlu serahkan kami..."



"Diam!"



Mana ada ibu yang menyerahkan anak mereka? Dia tidak akan pernah melakukannya.



Keempat anak ini adalah hidupnya. Dia harus melindungi mereka.



"Biarkan Mami berpikir dulu. Mami akan menemukan cara."



Saat dia berusaha memikirkan solusi, Shelly tiba-tiba teringat, "Kami bisa sembunyi ke halaman kakek itu kan."



Ketiga anak itu dan Cindy memutarkan kepala dan memandang Shelly secara bersamaan.



Benar juga, kakek itu mengatakan bahwa tidak ada yang berani masuk ke sana selain dia.



Bukankah mereka semua akan aman-aman saja jika Nyonya Ducal juga tidak berani masuk ke sana?



Tidak disangka ada waktu dimana Shelly begitu cerdas.



"Mami, sekarang kami hanya bisa ke sana saja. Hanya tempat itu saja yang paling aman di Kediaman Ducal."

__ADS_1



"Iya, Mami. Jangan ragu lagi. Ayo pergi."



Cindy mengangguk. Meskipun Bimo tidak tahu dimana tempat yang mereka sebutkan, namun sekarang dia hanya bisa membawa mereka ke tempat itu sesegera mungkin.



"Mami, nenek sihir itu sudah bawa orang ke kediaman kami."



Shella menunjuk ke arah koridor yang mengarah ke kediaman yang tidak berada jauh dari mereka. Di bawah cahaya, mereka bisa melihat Nyonya Ducal yang sedang marah, membawa sekumpulan pelayan dan pengawal menuju sana dengan cepat.



Dilihat dari situasi ini, Nyonya Ducal pastilah sangat marah. Apabila dia berhasil menangkap mereka, dia pasti akan menghukum mereka dan membantu Marry untuk melampiaskan amarahnya.



CIndy menghela napas. Untung saja mereka menggunakan jalan kecil di taman bunga ini. Kalau tidak, mereka pasti sudah tertangkap basah.



"Ayo buruan. Kalau nenek sihir itu tahu tidak ada orang di dalam sana, dia pasti akan keluar untuk cari kita."



Setelah Kenken selesai berbicara, Bimo teringat pada beberapa pengawal yang dikirim oleh Rendy



"Kalian pergi dulu. Aku akan balik sebentar. Mereka pasti akan pergi cari Presdir dan yang lain, jika tidak menemukan kalian."



"Oke!"



Setelah Bimo pergi, Cindy dengan panik membawa keempat anaknya menuju ke halaman dimana mereka bisa bersembunyi.



Ketika Nyonya Ducal sampai ke halaman kecil tempat mereka tinggal, dia tidak menemukan siapapun di sana.



"Mana mereka? Cepat cari! Mereka pasti sedang bersembunyi."



"Baik."



Para pelayan dengan cemas menggeledah seluruh kamar, namun mereka tidak menemukan satu orang pun.



Dengan wajah cemberut, Nyonya Ducal bergegas menuju ke kediaman pengawal yang dibawa oleh Velina.



Ketika tiba di sana, dia juga tidak menemukan siapapun.



Sialan!



Padahal Kediaman Ducal adalah rumahnya. Dia tidak percaya bahwa akan begitu sulit untuk menemukan mereka di rumahnya sendiri.



Dia ingin menyuruh orang untuk menggeledah Kediaman Ducal secara besar-besaran, namun dia takut membuat Peter tidak senang.



Bagaimanapun juga, Peter sudah memerintah untuk melindungi keempat anak itu.



Oleh karena itu, dia pergi ke ruang kerja Peter terlebih dahulu untuk menjelaskan semuanya.



"...Bocah-bocah itu telah menyakiti Marry, dan mereka harus membayar semuanya. Pasti Cindy yang minta mereka untuk melakukannya. Kalau tidak, bagaimana mungkin keempat anak itu bisa memikirkan cara kejam seperti ini. Kamu harus lakukan sesuatu untuk Marry jika luka di wajahnya meninggalkan bekas."



Melihat istrinya marah dan sakit hati, Peter tenggelam ke dalam pemikirannya.



Berdasarkan beberapa interaksinya dengan Cindy, dia tidak percaya bahwa Cindy akan meminta anak-anaknya untuk melakukan hal-hal seperti ini.



Dia juga tidak percaya bahwa anak-anak yang begitu pintar dan polos itu akan melakukan hal ini terhadap Marry.


__ADS_1


"Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Pasti ada alasan mengapa mereka lakukan ini."


__ADS_2