Anak Kembar Empat

Anak Kembar Empat
~~~~


__ADS_3

Anton menatapnya, sudah seperti ini, ini juga bisa dianggap sebagai sebuah harapan.


“Kakak iparku adalah Dokter Jenius Bermoth, kamu harus percaya keterampilan medis dia.”


Setelah Anton selesai ngomong, Agus juga perlahan-lahan membuka kedua matanya.


“Ayah, gimana sekarang, masih merasa tidak enak?”


“Tadi emosimu naik turun, jadi kamu baru tidak bisa tahan, dan pingsan, ke depannya harus lebih hati-hati lagi.”


Setelah mendengar omongan Cindy, raut wajah Agus pun berubah lagi, naik turun apaan, jelas-jelas karena marah!


Jelas-jelas karena Bella.


Aguss menatap ke kerumunan orang, dan mencari keberadaan Bella.


Melihat Bella sedang bermain-main dengan Anton, Agus pun menahan amarah yang ada di dalam hatinya, dan dia juga hanya bisa menghela nafas dengan kuat.


Bella adalah anak kesayangan keluarga Indrajaya, kekuatan keluarga Indrajaya pun jauh lebih kuat dari keluarga Sabyan, apalagi Bella sekarang adalah calon menantu keluarga Adiguna, Agus mana berani singgung keluarga Adiguna .


Jadi, meskipun merasa marah, Aguss juga harus bersabar.


Melihat Agus dalam keadaan yang baik, orang-orang yang ada di sana pun mulai memuji keterampilan medis Cindy.


“Teknik akupuntur Nona Cindy sungguh hebat.”


“Iya! Ini juga baru berapa lama saja, orangnya langsung bangun?”


“Tangan ajaib yang luar biasa!”


“……”


Melihat semua orang memusatkan perhatian mereka ke Cindy, Bibi kedua berdiri di samping dengan sambil mengerucutkan bibirnya, dan tidak mengatakan apa pun.


Rendy menatapnya dengan dingin, “Bibi kedua, selamatkan nyawa seseorang, apakah keterampilan ini cukup luar biasa?”


Bibi kedua tersenyum dengan tampak canggung, dia sama sekali tidak menyangka Cindy punya keterampilan ini.


“…Ya.”


“Harusnya lebih luar biasa dari main piano?” Rendy sengaja menanyakannya.


Bibi kedua menatap Rendy tersenyum dengan paksa, mana mungkin dia akan mengatakan luar biasa.


Agnes menatap Bibi kedua, “Tentu saja sangat luar biasa, main piano dan berdansa juga tidak terlalu spesial, orang yang punya keterampilan medis seperti ini pun tidak banyak lagi di dunia ini.”


“Iya, jika bukan karena ini, kami semua pun tidak tahu kamu adalah Dokter Jenius Bermoth! Nona Cindy sungguh rendah hati.”


“Aku rasa juga hanya orang hebat seperti Nona Cindy yang punya keterampilan medis baru cocok dengan Rendy”


“……”


Wajah Nissa pun menjadi suram, dia merasa saat ini dirinya harus pergi.


Kemudian Nissa pun mengatakan kondisi Agus masih lemas, jadi mereka mau pulang dulu.


Bibi kedua pun mengantar mereka sampai di luar.


Cindy menatap Rendy, dan menanyakan Bibi keduanya punya hubungan apa dengan Nissa?


Rendy mengangguk, dan dia pun memperkenalkan Bibi keduanya ke Cindy.


“Nama Bibi kedua adalah Vani, adik sepupu Agus, Bibi sepupu Nissa, istri kedua Paman keduaku. Setelah Paman keduaku cerai dengan istrinya, Paman keduaku menikah dengan dia, dia dengan Paman keduaku punya satu anak perempuan, sekarang sudah berumur 12 tahun.”


Sekarang Cindy baru menyadari kenapa Bibi kedua perlakukan dirinya dengan seperti itu, ternyata adalah saudara Keluarga Sabyan.


Tetua Adiguna yang dari tadi diam pun melihat semua ini, dia merasa sangat senang dengan keterampilan yang dimiliki oleh Cindy.


Saat makan siang, Tetua Sumitro masih sengaja suruh Cindy dengan Rendy duduk semeja dengannya.


“Rendy, kamu harus lindungi Nona Cindy dengan baik, tidak boleh biarkan dia hidup susah lagi.”


“Aku tahu, Kakek.”


Setelah Rendy selesai ngomong, empat anak kecil pun berjalan menuju ke arah mereka.


“Mereka berempat adalah anak Rendy ya, sungguh imut.”



“Mereka semua terlihat sangat putih, cantik, dan imut.”


__ADS_1


“Lihat, yang gemuk itu, imut sekali, pengen gigit dia.”



Anton mengangkat kepalanya, dan menatap Iva yang sedang melihat Shelly, “Siang bolong seperti ini, kamu mau makan anak kecil?”



Iva adalah anak Paman ketiga Anton, dia lebih kecil satu tahun dari Anton.



Iva sangat menyukai anak perempuan, meskipun masih belum menikah, tetapi dia pun berencana mau punya seorang anak perempuan.



Iva menatap Anton, “Makan apaan, kamu tak usah asal ngomong! Maksudku itu, dia terlihat berisi dan imut, jika dicubit, pasti sangat seru, coba kamu bilang, apakah akan seperti marshmallow?”



“Kamu tidak boleh cubit dia, nanti dia akan gigit kamu!”



“Gigit?”



“Iya, tidak hanya gigit kamu, dia masih punya pemukul untuk pukul kamu!”



Eee…



Anak kecil ini sungguh bertemperamen.



Iva sangat menyukainya!




Amton berpikir sejenak, “Kalau aku bantu kamu gendong dia ke sini, kamu juga harus bantu aku.”



Iva langsung menyetujuinya, “Ok.”



“Deal, nanti aku akan pergi gendong dia ke sini.”



Sesudah itu, Iva pun menatap mereka berempat terus.



Mereka berempat berjalan ke samping Tetua Adiguna , dan memanggilnya dengan serentak, “Kakek buyut.”



Setelah Tetua Adiguna melihat mereka berempat, dia pun menjadi sangat senang, dan sangat menyukai mereka.



“Ok, ok! Makan dulu.”



Empat enak kecil ini berbalik, dan menyapa senior-senior Keluarga Adiguna .



“Beberapa anak ini sangat pandai.”



“Iya, bener-bener adalah anak Rendy!”

__ADS_1



“Aku rasa mereka juga sudah lapar, cepat atur mereka pergi duduk dan makan.”



Setelah melihat tempat duduk mereka yang sudah diatur, mereka berempat pun tidak mau pergi ke sana.



Bobby melihat ke sekeliling, dan tiba-tiba mengatakan, “Aku mau duduk dengan Paman.”



“Aku juga mau duduk dengan Paman.” Shelly juga berkata seperti itu.



Agar membuat dua anak kecil ini menjadi senang, Agnes langsung suruh pelayan untuk mengaturnya.



Pelayan memindahkan tempat duduk mereka ke samping Anton.



Melihat empat anak kecil berjalan menghampirinya, Anton pun merasa sangat senang.



Setelah mereka berempat duduk di sana, Anton melambaikan tangannya ke Shelly, dia pun langsung lari ke depannya.



Shelly memanggilnya dengan manis, “Paman——“



“Baik sekali! Shelly, dia adalah Bibi keempat, dia sangat suka kamu, kamu duduk dengan dia, ok?”



Shelly mengedipkan matanya, Bibi keempatnya sedang menunjukkan senyuman ke dia, tampaknya adalah sosok yang baik.



“Bibi keempat.”



Shelly menyapanya, ini pun membuat Iva merasa sangat senang, dan langsung memeluknya.



Iva mencubit pipi imut Shelly, dan membelai perut kecilnya, dia merasa anak ini sangat imut.



“Siapa nama kamu?”



“Shelly.”



“Imut kali. Nanti kamu mau makan apa, kasih tahu Bibi aja, ok?”



Shelly mengangguk dengan senang.



Iva masih sengaja suruh Shelly duduk di sebelahnya.



Melihat beberapa anak kecil ini, Vani yang semeja dengan mereka pun menunjukkan ekspresi yang tampak tidak suka.



Vani merasa beberapa anak kecil ini sangat menyebalkan!

__ADS_1


__ADS_2