
"..."
Cindy hanya tersenyum.
Dia merasakan keganasan Rendy dan itu membuatnya takut.
Bella meninggalkannya dan memberi tahu Anton tentang opini Cindy terhadap Rendy.
Anton menghela nafas, sepertinya ada kesalahpahaman.
Setelah memikirkannya, Anton memutuskan untuk memberi tahu Rendy tentang ini dengan bahasa yang halus, dan bertanya apakah dia ingin menjelaskan kepada Cindy lalu memberitahuinya bahwa ada kemungkinan Gerard masih hidup.
Rendy terdiam, sepertinya masalah ini benar-benar bisa mengguncang hubungan antara Cindy dan dirinya.
Kenapa Cindy tidak percaya padanya?
"Jangan kasih tahu dia, sampai masalah ini sudah diselidiki dengan jelas."
Lagi pula, sekarang belum ada bukti yang membuktikan Gerard masih hidup.
Jika memang Cindy meragukan perasaan Rendy, bahkan jika Rendy memberitahunya tentang hal itu, dia mungkin akan tetap mencurigainya, dan mengatakan bahwa itu hanyalah kebohongan yang dibuat olehnya.
"Kak, apa kamu benar-benar gak takut kakak ipar akan semakin salah paham?"
"Waktu akan membuktikan segalanya."
"..."
Kata-kata Rendy memang sangat masuk akal, dan berhasil membuat Anton terdiam.
Tapi, sebelum semuanya terbukti, kehidupan Rendy dan Cindy mungkin akan sedikit sulit.
Di malam hari, Rendy pulang ke rumah.
Keempat anaknya tidak ada dirumah dan ruangan itu sangat sunyi.
Rendy melihat Cindy yang sedang duduk di sofa sambil melihat hp, dan bertanya, "Kemana anak-anak?"
"Ibumu kangen sama mereka jadi menjemput mereka pergi."
Nada dan ekpresi wajah Cindy sangat dingin.
Dia hanya fokus pada hpnya.
Evan terdiam, " Aku mau masak, kamu mau makan apa?"
"Tidak lapar."
Cindy bahkan tidak meliriknya.
Rendy berjalan ke arahnya, "Kamu boleh marah, tapi jangan merusak tubuhmu sendiri."
Cindy yang sedang melihat hpnya seketika terhenti, dalam hati mencibir dengan dingin, Rendy bahkan masih khawatir,ia akan merusak tubuhnya sendiri?
Tapi mengapa dia tidak memikirkan bagaimana perasaannya, sebelum dia melakukan hal itu?
Rendy bahkan masih bisa berkata seperti itu?
"Itu bukan urusan mu.” Kata cindy yang sedikit kesal.
Wajah Rendy menjadi gelap, apa Cindy benar-benar ingin terus dingin seperti ini?
"Aku mau makan diluar, kamu mau ikut?"
"Tidak."
__ADS_1
Rendy terdiam, dan langsung pergi.
Cindy berdiri, dia melihat kepergiannya dari jendela kaca, dan diam-diam menghela nafas, Dia benar-benar pria yang kejam.
Cindy kembali ke kamarnya dengan marah lalu mengunci pintu kamar.
Setelah setengah jam.
Pintu kamar berbunyi, "Siapa?"
"Aku."
Suara rendah dan berat, itu adalah Rendy, Cindy kembali diam.
Rendybsepertinya sudah mengetahui hal ini akan terjadi, jadi dia tidak mengetuk lagi, dia langsung menekan kode untuk membuka pintu dan masuk.
Dia berjalan ke tempat tidur, mengulurkan lengannya yang ramping untuk menggendongnya bangun dari tempat tidur.
"Rendy, apa yang kamu lakukan?"
"Pergi makan."
"Aku tidak mau makan!"
"Jika kamu tidak makan, maka aku akan melemparmu ke kolam yang ada di belakang untuk memberi makan ikan!"
"..."
Cindy mengerutkan kening, ekspresi wajahnya yang tegas, sepertinya tidak sedang bercanda.
Apa dia serius?
"Kamu, kamu berani?" Cindy bertanya dengan berani.
"..."
Apakah Rendy benar-benar akan melemparnya ke dalam kolam?
Cindy tiba-tiba menjadi sedikit gugup, pria ini memiliki sisi sadis, kalau dia benar-benar melakukan itu ...
Jika Dirinya tetap keras kepala seperti ini, dia mungkin akan mati tenggelam, dan tidak akan melihat keempat anaknya lagi.
Tidak perduli dia serius atau tidak, Cindy memilih untuk tidak melawannya lagi.
Cindy tidak melawan lagi, tapi dia tetap cemberut dan tidak mau bicara.
Rendy dengan hati-hati menurunkannya di kursi makan, dan mengambil piring dan meletakkannya di depannya, lalu mengambilkan makanan-makanan kesukaan Cindy seperti daging sapi, udang, dan sayuran, semua lauk diletakkan dipiring dengan rapi.
Setelah selesai,Rendy duduk di seberangnya, menatapnya, dan memerintahkan, "Makan!"
Cindy melirik Rendy, lalu mengambil sumpit bambu dan mulai memakan nasinya.
"Makan daging sapinya!"
"..."
Rendy yang tadi berwajah dingin sekarang tampak menjadi sangat galak.
Cindy tidak berani membantah, dan hanya bisa menurutinya memakan daging sapi itu.
Rendy sangat puas setelah melihatnya menuruti perintahnya, dia mengupas udang dan memasukkannya ke dalam mangkuknya dan berkata, "Makan!"
Cindy meliriknya dan memasukan udang itu satu per satu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Saat makan, Cindy baru menyadari bahwa Rendy sangat menakutkan, mengapa dia dulu tidak menyadarinya?
Apa karena sedang dimabuk cinta?
Setelah menghabiskan daging sapi dan udang, Cindy lanjut memakan dua suap sayur , setelah itu dia langsung berdiri, dan berkata dengan suara rendah, "Aku sudah kenyang!" Dan langsung kembali kamar.
Rendy melihat kearah meja makan, bibirnya tersenyum tipis, Dia berkata dia tidak lapar, tapi dia bahkan menghabiskan sepiring daging sapi dan setengah piring udang.
Cindy masih sengaja menumpahkan saus udang ke meja makan, seperti sengaja menyuruh Rendy untuk membersihkan.
Wanita ini tetap saja berkarakter walau sedang marah.
Setelah Rendy membersihkan meja makan, dia berjalan menuju kamar utama.
Begitu dia membuka pintu, Hp tiba-tiba berbunyi, dan itu panggilan dari Anton.
Anton memberikan informasi bahwa sekitar satu jam yang lalu, seseorang yang tampak persis seperti Gerard muncul di bar hoky dan diam-diam bertemu dengan dua orang.
"Kak, disini ada CCTV, apa kamu mau datang kesini untuk mengeceknya? Walaupun orang tadi memakai kaca mata hitam, tapi dilihat dari sisi mana pun orang tadi sangat mirip Gerard."
Evan tercengang, " bar Hoky? Oke, aku akan segera kesana."
Setelah mematikan telepon, Rendy melihat Cindy yang sedang berbaring di tempat tidur. Rendy tahu bahwa dia belum tidur, jadi berencana untuk memberitahunya, tapi Rendy kembali berpikir.
Saat ini, Cindy sama sekali tidak memperdulikannya, jadi Rendy mengurungkan niatnya, dari pada nanti salah ngomong dan membuatNya marah lagi.
Sudahlah.
Dia langsung menutup pintu kamar, lalu turun ke lantai bawah.
Cindy yang sedang berbaring di tempat tidur mendengar suara pintu tertutup berspekulasi, siapa yang mengajak Rendy pergi ke bar Hoky selarut ini?
Dan dia bahkan langsung bergegas pergi, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Apa dia digoda?
Satu hal yang pasti, itu pasti bukan karena acara bisnis, karena orang seperti Rendy tidak akan pernah memilih klub malam sebagai tempat untuk membicarakan bisnis.
Semakin memikirkan ini, dia merasa ada sesuatu yang aneh, otaknya terus memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi.
Orang yang mengajaknya pasti adalah seorang wanita, atau mungkin itu tipe wanita dengan riasan tebal, sedikit liar dan centil.
Atau mungkin juga itu adalah wanita yang memiliki kecantikan natural dan berkelas, tipe-tipe yang menolak dengan malu-malu manja.
Atau mungkin--
Pokoknya pikiran Cindy sekarang dipenuhi dengan suasana bar dan Ia tidak pernah menyangka yang mengajaknya ke bar adalah seorang pria.
"Malam-malam gini ke bar, pasti tidak akan melakukan hal yang baik."
Setelah Cindy selesai bergumam, dia semakin resah ketika memikirkan itu.
Pada saat ini, Hpnya tiba-tiba berdering, dan itu adalah panggilan telepon dari Bella.
" Ada apa Bella?"
Bella marah dan berteriak menangis, "Kakak ipar, Anton pergi ke bar lagi, tolong suruh Presdir Sumitro bilangin dia."
Pergi ke bar?
——Bukan hanya Anton yang pergi ke bar , tapi Rendy juga pergi.
"Mereka pergi ke bar mana?" tanya Cindy
__ADS_1
" Bar Hoky, bar yang paling banyak wanita cantik, bar yang paling sering terjadi perselingkuhan!"