
Salah satu pelayan itu sangat setuju dengan perkataannya dan wajahnya menunjukkan senyuman yang angkuh.
"Kami diam-diam masuk ke dalam, lalu cari kesempatan untuk buat si gendut itu pingsan, lalu masukkin dia ke dalam karung dan membawanya pergi. Tunggu ketika anak-anak itu keluar untuk mencarinya, kami akan ..."
"Masukkin mereka semua ke dalam karung dan bawa pergi?"
"Benar, benar."
Pelayan yang menjawabnya dan seketika merasa ada yang tidak beres. Senyuman di wajahnya membeku. Sepertinya yang melanjutkan kalimatnya adalah anak kecil?
Mereka berdua segera menoleh dan melihat Bobby yang sedang memegang lengannya dan menatap mereka dengan ekspresi yang aneh.
"Sialan! Bikin kaget aku saja."
"Karena bocah ini sudah dengar semuanya, lebih baik tangkap dia dulu!"
"Biar aku saja."
Ketika selesai berbicara, dia mengulurkan tangannya untuk menangkapnya. Namun Bobby dengan sigap berbalik dan menghindarinya dengan mudah.
"Oh, ternyata bocah ini tidak gampang ditangkap."
Pelayan itu mulai melipat lengan bajunya dan bersiap-siap untuk menangkapnya lagi.
Bobby mendengus dan menatap mereka berdua, "Coba saja tangkap tuan muda!"
"Heh! Bocah panggil dirinya sendiri tuan muda. Akan kubiarkan kamu manggil aku kakek seratus kali setelah aku menangkapmu."
Orang itu menatap Bobby dengan marah dan mengulurkan kedua tangannya untuk menangkapnya dan memasukkannya ke dalam karung.
Awalnya Bobby ingin menghadapinya dengan menggunakan taekwondo, namun setelah dipikir-pikir itu terlalu mudah bagi mereka. Dia telah disiram dengan air dingin. Bahkan Mami juga didorong ke kolam. Dia harus membalas perbuatan mereka.
Dia berusaha keras berlari ke arah kolam dan dua pelayan mengejarnya di belakang.
Adrian yang sedang bersembunyi di balik pilar juga mengikutinya dengan cepat.
Bimo yang sedang berjalan melihat tuan kecil sedang dikejar oleh orang, penasaran dengan apa yang terjadi, dia juga mengikutinya.
Bobby berlari ke arah kolam dengan napas terengah-engah dan menemukan tempat persembunyian lalu bersembunyi di sana.
Ketika dua pelayan berhasil mengejarnya sampai sini, mereka tidak menemukannya dan melihat sekelilinya dengan aneh.
"Mana bocah itu?"
"Aku tidak melihatnya. Tidak kusangka bocah itu lari dengan cepat, dan langsung hilang dalam sekejap."
Baru saja selesai berbicara, mereka melihat Adrian yang sedang mengejar mereka di belakang.
"Sana! Disana!"
Karena wajah Adrian dan Bobby itu sangat mirip, dua pelayan itu tidak dapat membedakannya dan mengira dia adalah Bobby, dan segera pergi menangkapnya.
Baru saja berjalan dua langkah, di belakang mereka ada dua batu yang terbang ke arah mereka dan membentuk lengkungan yang sempurna, lalu menghantam punggung mereka dengan keras.
"Aduh!"
"Siapa sih! Gak punya mata ya!"
Keduanya segera berhenti. Mereka memegang punggung mereka dan menoleh. Dan di saat ini, Bobby sudah bersembunyi dengan baik.
"Siapa yang lempar batu?!"
__ADS_1
Keduanya saling bertatapan dengan ekspresi terkejut.
"Tidak tahu loh."
"Punggung aku pasti lebam. Sakit banget, sumpah!"
"Apanya lebam. Punggung aku pasti sudah bengkak. Tapi aneh sekali, batu itu terbang darimana ya?"
Dua orang itu bergumam dan berbalik badan, namun mereka menyadari bahwa Adrian sudah tidak ada di sana lagi.
"Bocah itu kabur!"
"Cepat kejar!"
Ketika Bobby mau melempar batu ke arah mereka lagi, dia melihat Bimo yang sedang berjalan kemari.
Bobby terkejut. Mengapa tiba-tiba muncul penyelamat di kala seperti ini?
Bimo memandang dua orang ini dari atas ke bawah, dan iba-tiba saja sebuah senyuman yang cerah terhias di wajahnya.
"Kalian berdua, ikut aku sebentar."
Dua orang itu tidak tahu dia itu siapa dan dengan curiga bertanya, "Kemana?"
"Pergi ambil hadiah uang."
"Hadiah uang? Hadiah uang apaan?"
"Kalian sudah lakuin tugas kalian dengan baik. Tentu saja pengurus rumah ingin beri kalian uang. Kalian gak mau?"
Meskipun keduanya terkejut, namun mereka serakah akan uang. Mungkinkah Pak Nico, si orang tua itu, salah mengingat orang? Bukankah itu berarti mereka akan mendapatkan uang dengan cuma-cuma?
Melihat mereka bertiga pergi, Bobby menatap ke arah kolam dan menghela napas.
Dasar Bimo, Dia benar-benar merusak rencananya.
Padahal dia berencana untuk membiarkan dua orang itu mandi di kolam.
Kedua orang itu terus mengikuti Bimo di belakang dan semakin merasa ada yang tidak beres.
"Kamu mau bawa kami kemana?"
"Iya, Pak Nico tidak ada di sini."
Bimo berpikir sebentar dan terus membodohi mereka dengan mengatakan bahwa hadiah uang ini dikasih lebih sehingga tidak dapat dilihat oleh orang lain. Oleh karena itu, Pak Nico sedang menunggu mereka di tempat persembunyian dan dia juga ingin memberi tahu mereka beberapa hal penting.
Dua orang itu tetap mengikutinya dan berpikir bahwa mereka telah berjalan begitu sia-sia jika mereka kembali. Palingan cuma tidak dapat uang saja.
Tapi kalau ternyata mereka bisa mendapatkan banyak uang?
Bisma membawa mereka ke depan pintu kamar di ujung koridor dan memberi tahu mereka Pak Nico sedang menunggu mereka di dalam.
Dua orang itu mendorong pintu masuk dan melihat tidak ada apa pun di dalam kamar. Bahkan bayangan orang saja tidak kelihatan.
Mereka menoleh dengan tatapan aneh dan melihat Bimo dan Adrian sedang berdiri di belakang mereka.
"Bocah kecil! Kenapa kalian bisa bersama?"
"Siapa yang bilang kamu bisa memanggilnya bocah!?"
Bimo dengan cepat meninju wajah orang ini. Tinjunya pas mengenai hidungnya dan darah segar seketika mengalir keluar.
__ADS_1
Orang ini berteriak dua kali dan segera menutupi hidungnya. "Tolong!"
"Tutup mulutmu! Kalau tidak, akan kubunuh kamu!"
Bimo mengancamnya. Dia sedang memegang sebuah pisau belati dan menggoyangkannya di hadapan dua orang itu.
Salah satu pelayan menatapnya dengan gemetaran, "Kamu, kamu, kamu siapa?"
"Dia adalah kakekmu!" ADrian menjawab dengan dingin sambil memegang lengannya.
Dua pelayan itu saling bertatapan. Mereka tidak menyangka akan tertipu seperti ini hanya karena keserakahan mereka.
Mereka benar-benar ingin menampar diri sendiri.
"Buat apa kamu bawa kami ke sini?" Bimo tidak ingin menghabiskan banyak waktu dengan mereka dan langsung bicara ke intinya.
"Siapa yang menyuruh kalian ganggu anak-anak yang tampan, cantik, pintar, lucu dan ibu mereka? Jawab dengan jujur. Kalau tidak, akan kupotong hidungmu, lalu kucungkil matamu, lalu..."
Kedua orang ini menjadi ketakutan melihat pisau belati yang bergoyang di hadapan mereka. Dig dag dug. Jantung mereka berdebar semakin cepat.
"Cepat bilang!" Adrian berteriak dengan raut wajahnya yang dingin.
Dua orang ini menjadi dilema. Apakah mereka akan mati setelah mengatakannya?
Orang yang memberi mereka tugas ini sudah berulang kali mengingatkan mereka untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang hal ini.
Apabila mereka berani membocorkannya, mereka tidak akan bisa hidup lagi.
Melihat mereka ragu, Bimo mengambil dua langkah ke depan dan meletakkan pisau belati itu di leher salah satu dari mereka.
"Pisau ini sangat tajam loh. Mau coba?"
"Ti..ti..tidak."
Pisau belati itu bersinar. Lihat saja sudah tahu bahwa pisau itu sangat tajam. Dia pun merasa pusing hanya dengan melihatnya saja.
"Kalau gitu jawab dengan jujur!"
Mareka hanya bisa berkata jujur demi menyelamatkan hidup mereka.
Kemarahan terpancar di wajah kecil Adrian setelah mengetahui bahwa dalang di balik semua ini adalah Marry.
"Ternyata wanita itu. Sialan!"
"Kami sudah katakan semua yang kami tahu. Sudah boleh lepaskan kami kan."
"Pergi dari sini!"
"Kami juga tahu. Kalian tidak bilang juga kami tidak akan tinggal di sini. Nona Letisha sangat kejam. Kalau dia tahu bahwa kami telah khianati dia, dia akan bunuh kami hidup-hidup."
"Keluar!"
Kedua orang itu melarikan diri dengan menyedihkan.
Bimo memandang wajah dingin Adrian dan bertanya apa yang akan dia lakukan selanjutnya?
Adrian dengan wajah dinginnya, berkata dengan pasti, "Balas dendam!"
"Apa perlu biarkan Presdir Adiguna "
"Jangan beri tahu Daddy! Biarkan kami sendiri yang urus balas dendam ini."
__ADS_1