Anak Kembar Empat

Anak Kembar Empat
.........


__ADS_3

"..."



Meskipun Tuan Muda sangat pintar, namun dia tetap saja anak kecil. Bimo tampak menyetujuinya, namun dia akan menceritakan permasalahan ini.



Setelah kembali, dia berpikir sebentar dan akhirnya memilih untuk menceritakan semuanya kepada Rendy.



Wajah tampan Rendy berubah dingin, "Sepertinya dia sudah bosan hidup!"



Suara ini seperti berasal dari neraka, yang diikuti dengan rasa dingin yang sangat menusuk.



Bisma gemetaran saat melihat aura pembunuh di mata Rendy.



Sudah lama sekali dia tidak melihat Presdir Adiguna begitu menakutkan.



Tentu saja, anak-anak ini dan Cindy adalah nyawa Presdir Adiguna . Dia dapat meninggalkan Adiguna Grup untuk datang ke sini bersama Cindy untuk memeriksa latar belakangnya. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam hatinya, istri dan anaknya jauh lebih penting daripada perusahaannya.



Kali ini Marry, wanita itu, pasti akan sengsara.



Tetapi...



"Presdir, Tuan Muda suruh aku untuk tidak katakan hal ini. Dia bilang mau balas dendam sendiri. Kalau, kalau kamu mau bertindak, boleh diam-diam kah? Supaya dia tidak tahu bahwa aku telah mengkhianatinya."



Bimo dapat melihat dengan jelas bahwa Adrian adalah versi mini dari Rendy, yang sangat membenci dikhianati oleh orang.



Firasatnya mengatakan bahwa Adrian tidak akan melepaskannya dengan mudah kalau dia mengetahui bahwa dia diam-diam memberi tahu Presdir Adiguna .



Dia sangat khawatir jika niat baiknya tidak mendapatkan balasan yang baik, dan dia justru akan dipermainkan oleh anak-anak itu.



Rendy terdiam sebentar dan menganggukkan kepalanya.



Hati Bimo menjadi ringan.



"Masalah ini kuserahkan padamu."



"...?"



Bagus juga.



Hal ini diserahkan padanya. Dia akan melakukan perencanaan yang tepat, lalu bertindak dengan diam-diam dan tidak diketahui oleh Tuan Muda.



Di sisi lain.



Shella dan Shelly sangat marah ketika mengetahui bahwa dalangnya adalah Marry.



"Ternyata wanita itu. Sialan!"



“Wanita buruk, sangat jahat. Aku rasa dia harus ganti namanya." Shelly juga sangat marah.



"Ganti nama apa?" Shella bertanya.



"Jahat! Kejam! Busuk Hati...hati...hati serigala!"



Sial, beberapa kata terakhirnya hampir saja mengejutkannya.



Setelah mendengarnya, Cindy yang berada di sebelah Shelly menatapnya dengan mata yang membesar. Dia tidak menyangka Shelly mengetahui beragam kata yang berhubungan dengan hati. Dia sungguh hebat.



"Shelly hebat sekali. Mari tepuk tangan ."



"..."



Hmm, dia ternyata mendapatkan pujian. Sungguh mengejutkan.



Dia hanya sekedar mendeskripsikan wanita jahat saja, dan merasa malu jika mendapat tepukan tangan.


__ADS_1


Wajahnya yang gemuk memerah.



"Mami, dendam ini harus dibalas."



"Betul! Mami dukung kalian. Karena mami didorong jatuh ke kolam, jadi mami akan ikut kalian balas dendam juga."



"Jangan khawatir, Mami. Serahkan hal ini pada kami."



Bobby membiarkan Cindy melakukan pekerjaannya dan berjanji bahwa mereka berempat akan membalas dendam ini dengan berlipat ganda.



Cindy sangat puas dengan sikap Bobby. Masih kecil saja sudah bisa meringankan beban ibunya. Dia adalah anak yang sangat berbakti.



"Ingat, keselamatan nomor satu. Ada apa apa langsung kabarin Mami."



Setelah selesai mengingatkan mereka, Cindy melanjutkan pemeriksaan latar belakangnya.



Sebelum bertindak, empat anak ini mengadakan rapat terlebih dahulu untuk menemukan cara terbaik untuk membalas dendam ini. Masing-masing mengemukakan pendapat mereka.



Dan mereka akhirnya menemukan cara terbaiknya setelah berdiskusi selama tiga puluhan menit.



"Kalau gitu siapin dulu peralatannya. Kami akan beraksi di malam hari."



"Baik."



"Aku akan bantu juga."



Keempat anak itu menyibukkan diri mereka dengan gembira.



Di sisi lain.



Cindy yang baru saja keluar ke halaman langsung melihat Rendy yang sedang menggenakan topeng Roni dan berjalan kemari.



Harus ladenin dia kah? Sungguh dilema.




Tapi Bimo mengatakan bahwa Rendu memperoleh informasi penting yang berhubungan dengan latar belakangnya dari Marry. Dia ingin menanyakan tentang hal itu.



Jadi, mau bicara dengannya atau tidak? Mau tanya atau tidak?



Dia terus dilema dan Rendy sudah berjalan sampai ke sisinya.



Sepasang mata dingin itu terus menatap dia dan membuatnya merasa tidak nyaman.



Dia mengangkat kakinya untuk pergi dari sana, namun Rendy memegang pergelangan tangannya.



"Apa?" Cindy meliriknya dan bertanya dengan nada marah.



Rendy tidak merasa kesal karena dia sudah menebak sikapnya ini sejak awal.



Dia bertanya dengan santai, "Ada dua petunjuk penting tentang latar belakangmu. Kamu tidak ingin tahu?"



Mau! Cepat katakan.



Rendy sama sekali tidak memiliki niat untuk memberitahunya secara langsung. Cindy diam-diam meyakinkan dirinya untuk bersikap fleksibel. Dia akan berbicara dengannya untuk sementara waktu dan setelah memperoleh informasi yang dia butuhkan, dia akan membuat batasan lagi di antara mereka berdua.



"Petunjuk apa?" dia bertanya



Suara lembut dan dalam Rendy berbunyi tanpa terburu-buru, "Informasi ini diperoleh dengan tidak mudah. Kamu mesti bayar kalau mau tahu."



Bayar?



Bajingan ini benar-benar menyuruhnya bayar?



Bayar ya bayar!

__ADS_1



Tidak apa apa untuk membayar demi mengetahui siapa pria yang meninggalkan ibunya saat itu.



"Kamu mau aku bayar apa?"



Bibir Rendy melengkung samar-samar ketika dia menatap raut wajah Cindy yang waspada, yang seolah-olah sedang memberitahu dia untuk tidak bertindak keterlaluan. Lalu dia berbisik di telingannya, "Aku menginginkanmu."



Napas yang hangat itu menyembur ke telinganya dan membuatnya mati rasa bagaikan tegangan listrik yang membuat wajah Cindy memerah dan jantungnya berdebar kencang.



Tidak disangka bajingan ini benar-benar membuat permintaan seperti itu.



Dia langsung teringat pada adegan dimana dia berjuang untuk menyelamatkan Marry dan hal itu membuatnya menjadi sangat marah.



Dan masih memintanya untuk tidur dengannya?



Tidak. Aku tidak akan menyetujuinya!



Dia tanpa sadar meremas sudut pakaiannya lalu mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan jijik, "Mimpi!"



Gadis ini benar-benar sulit untuk diajak kompromi.



"Tidak mau tahu petunjuk pentingnya?"



Cindy mencibir, "Mau tahu pun aku tidak akan meyetujui permintaanmu ini."



"Keterlaluan kah?"



"Keterlaluan!"



Cindy dengan tegas mengucapkan kata itu.



Rendy menatapnya dengan dalam.



Dia merasa ada yang tidak beres pada hubungan mereka karena Cindy sepertinya tidak memiliki dorongan itu padanya



Dia mengerutkan keningnya dan bertanya, "Masih marah karena aku dekatin Marry?"



Tentu saja!



Wanita mana yang ingin melihat pria yang dicintainya pergi menolong wanita lain? Dan memikirkan wanita lain.



Bagaimanapun juga dia tidak begitu murah hati.



Prianya tidak boleh terlibat dengan wanita manapun dan harus menjauhi wanita lain.



Tetapi wanita itu suka berkata sebaliknya. Meskipun hatinya berpikir seperti ini, namun dia menjawab dengan santai.



"Kamu suka dekatin siapa tidak ada hubungannya denganku."



Setelah itu, alih-aih menatap langsung ke mata elangnya, dia menunduk kepalanya dan mengagumi kukunya.



"..."



Rendy tiba-tiba merasa bahwa Cindy sudah tidak menyukainya lagi, karena dia tidak ingin melakukan itu dengannya dan tidak peduli juga dia sedang dekat dengan siapa.



Jangan-jangan dia telah menyukai orang lain dan berpindah hati?



Jangan katakan pria itu adalah Zenitsu?



Zenitsu mulai menyelidikinya lebih dari satu tahun yang lalu. Mungkinkah...



Dalam sekejap, hatinya seperti dipegang oleh sepasang tangan besar yang tidak berwujud.



Dia merasa tidak berdaya.

__ADS_1



Cindy tertegun melihat wajahnya yang tidak senang dan mengerucutkan bibirnya. Pria pelit ini pasti tidak akan memberitahu dia tentang petunjuk penting itu jika dia tidak menyetujui permintaannya.


__ADS_2