Anak Kembar Empat

Anak Kembar Empat
~~^......


__ADS_3

Rendy mengenakan piyama, mengambil pakaian yang akan dia pakai besok, berjalan ke kamar tamu.


Berdiri dengan hati berat di depan jendela, menatap langit malam yang gelap, wajah tampan dan sombong itu tampak suram.


Mengingat Cindy , menolak, merasa dia jorok, bahkan memintanya pergi——


Matanya tiba-tiba sedalam laut, hatinya tertekan.


Tanpa bertanya, Cindy langsung putuskan dia membunuh Gerard dengan cara kejam, kemudian marah, begitu tidak percayakah Cindy pada dirinya?


Karena kejadian ini, semua kebaikan dan ketulusannya terhapus?


Siapa dirinya di dalam hati Cindy?


Rendy mendesah, berdiri tegak di depan jendela, tidak bergerak untuk waktu yang lama.


Sejak itu, Rendy tidak pulang ke Villa Royal Garden selama beberapa hari. Selain bekerja, ia tidur di Vila Gerhana, dan sesekali ke Pantai Kapuk melihat anak-anaknya.


Begitu melihatnya, Shella bertanya, “Kapan pulang tinggal bersama mami di Royal Garden?”


Rendy terdiam sejenak, lalu menggunakan alasan “Ibu kalian sibuk”untuk menjawab.


Selebihnya, tidak menyebutkan sepatah kata pun tentang Cindy.


Melihat suasana hati Rendy sedang buruk, Agnes menebak apakah sedang bertengkar dengan Cindy?


Setelah dia pergi, Agnes menelepon Cindy.


“Cindy, kamu baik-baik saja, kan? Anak-anak sangat merindukanmu.”


“Bibi, bisakah mereka pulang tinggal di rumah?”


Taman Villa Royal Garden yang besar, membuatnya merasa sepi dan tidak bisa tidur di malam hari.


Dari nada bicaranya, Agnes mendengar Cindy sangat tertekan. Awalnya ingin membiarkan Cindy beristirahat selama beberapa hari. Melihat dia begitu merindukan anak-anak, hanya bisa menyetujuinya.


“Ok, kalau begitu sepulang sekolah kamu jemput mereka, aku tidak akan minta Anton jemput lagi.”


“Ok, terima kasih Bi.”


Sepulang sekolah, Cindy membawa anaknya pulang ke Villa Royal Garden.


Rumah yang sunyi penuh dengan canda tawa anak-anak, tidak terlihat dingin lagi.


Hati dingin Cindy terasa hangat, dia bertanya kepada anak-anak apa yang ingin mereka makan malam ini. Dia akan memasakkan makan malam untuk mereka.


“Mami, aku ingin makan banyak sayur, nenek selalu berikan kami daging, buat aku jadi gemuk.”


Shella berbicara sambil menyentuh perut kecilnya, yang tidak bisa dia lihat sama sekali.


Shelly meliriknya, menatap perutnya yang gemuk, “Mami, aku juga ingin makan sayur.”


Bobby dan Adrian saling melirik, apa gunanya hanya makan sayuran?


“Mami, bagaimana kalau minta daddy beli sesuatu yang enak untuk dibawa pulang?”

__ADS_1


Setelah Bobby selesai berbicara, Adrian mengangguk, merasa ide ini sangat bagus.


Ekspresi Cindy menjadi jelek, “Daddy kalian tidak pulang.”


“Tidak pulang?”


Bukankah nenek bilang, beberapa hari ini mereka pulang ke Villa Royal Garden untuk memupuk perasaan daddy dan mami, agar melahirkan adik untuk mereka?


Apakah itu bohong?


“Mami, kenapa daddy tidak pulang?”


Shelly bertanya sambil mengedipkan mata besarnya.


Tidak ada ekspresi apapun di wajah Cindy, malah berkata tidak usah pedulikan dia!


“Telepon daddy pulang, aku ingin main bersama daddy.”


Wajah Cindy yang tidak berekspresi tiba-tiba mengangkat kepalanya, menatap Mimi dengan serius, “Jangan telepon dia, jangan biarkan dia pulang!”


Shella:“……”


Bobby:“……”


Adrian:“……”


Shelly:“……”


Keempat anak ini saling memandang, apa yang terjadi?


Melihat keempat wajah bengong itu, Cindy baru sadar nada bicaranya terlalu kasar, ini tidak baik untuk mereka berempat.


Cindy menggerakkan matanya, berdeham, “Ayah kalian sedang sibuk, tidak ada waktu untuk pulang.”


Keraguan muncul di keempat wajah kecil yang tercengang.


Shelly merentangkan kedua tangan kecilnya yang gemuk, “Daddy sibuk sampai tidak makan dan tidur?”


“Mana mungkin, daddy bukan iron man!”


“Iya, telepon daddy agar jaga kesehatannya, pulang makan dan tidur, kalau dia sakit karena lembur, kita yang sudah cukup sibuk dengan sekolah, masih harus merawatnya.”


Shella bersikap seperti orang dewasa, melipat lengannya dan memutar matanya dengan khawatir.


Bobby mengeluarkan smartwatch, menelepon Ayahnya, menunggu Rendy menjawab.


Cindy:“……”


IQ keempat anak ini tidak boleh dianggap remeh.


Cindy tidak sabar ingin menampar dirinya sendiri, kenapa mengatakan Rendy sibuk, kenapa tidak langsung mengatakan dia dinas.


Saat Rendy menjawab telepon, “Ada apa?”


“Daddy, pulanglah makan di Villa Royal Garden, mami sudah siapkan makan malam kesukaanmu, sekarang lagi menunggumu pulang.”

__ADS_1


“……”


Mata aprikot Cindy melebar, anak nakal terkutuk ini, mata mana yang melihat dirinya sedang menunggu Rendy? Mana ada siapkan makan malam untuknya?


Rendy sedikit terkejut. Kemudian berpikir sejenak, Cindy yang mendiami dia beberapa hari ini mungkin sudah ingat kebaikannya, jadi meminta anak-anak memanggilnya pulang?


Karena Cindy sudah memasak makan malam kesukaannya dan tulus, Rendy tidak punya alasan untuk tidak pulang.


Marah ya marah, terus perang dingin juga bukan solusi.


Yang terpenting adalah, beberapa hari tidak melihat Cindy, dia sangat merindukannya.


Setelah berpikir sejenak, Rendy berkata, “Ya, nanti daddy pulang.”


“Daddy cepat pulang, mami sangat merindukanmu.”Ucap Bobby terkikik sambil menutup telepon.


Cindy menatap Bobby, beberapa hari tidak bertemu. Anak ini sudah pandai berbohong, setelah melihat lebih dekat, wajahnya tidak merah sama sekali.


“Bobby, apakah detak jantungmu semakin cepat?"


Bobby terdiam, menggelengkan kepala, bertanya-tanya mengapa mami menanyakan itu.


“Mami mau tahu, kamu berbohong wajahmu tidak merah dan detak jantungmu tidak cepat, itu belajar dari siapa?”


Mata Bobby berputar, “Mungkin …… genetik.”


Genetik.


Alasan ini …… benar juga.


Diwarisi dari ayahnya, Rendy penipu.


“Pergi main sana, mami mau masak.”


“Mami, nanti daddy pulang, kamu masak yang enak ya.”


“Mami, daddy suka makan daging.”


“Mami, semangat.”


“……”


Keempat anak ini mengucapkan kalimat penyemangat, kemudian berlari ke ruang main dengan gembira.


Cindy memasak di dapur dengan kesal, sambil mengoceh, kalau bukan karena anak-anak, dia tidak akan masak untuk Rendy.


Mimpi saja!


Cindy menghela napas, memikirkan berbagai jenis hidangan buruk di benaknya, dan langsung memiliki ide.


Karena terpaksa bermesraan di hadapan anak-anak, di dalam masakan ini boleh ditambahkan sesuatu, agar luka di hatinya menjadi lebih baik.


Memikirkan hal ini, Cindy diam-diam memuji dirinya pintar.


Pada saat yang sama, di bar Hoky sedang menampilkan pertunjukan yang bagus.

__ADS_1


Anton menatap bella, menyeringai, “Sudah kuselidiki, beberapa hari yang lalu kamu berpura-pura menjadi pelayan membuat masalah untukku!”


__ADS_2