
Dia batuk-batuk sejenak, lalu bergegas menjelaskan, “Salah paham. Dia salah paham. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Zenitsu.”
Roni hanya menatapnya lekat-lekat dan tak mengatakan apapun.
Cindy mengerutkan kening, apa dia marah? tidak mungkin sampai begitu kan.
Dia menghela napas, lalu bergumam, “Aku sudah cukup lelah setelah tadi menghadapi Marry. Kamu jangan menatapku dengan wajah dingin seperti itu. Aku juga tidak akan mungkin datang ke sini dan menahan kekesalan ini jika bukan untuk mengetahui asal usulku yang sebenarnya.
Dia menahan kekesalan?
Walaupun ini bukan wilayahnya, namun dia tidak akan mengizinkan wanitanya sendiri sampai harus menahan kekesalan.
“Kembalilah, aku yang akan menyelidikinya.” katanya dengan tegas.
Cindy mendongak menatapnya, kenapa menyuruhku kembali? Apakah dia benar-benar salah paham dan mengira aku ada hubungan apa-apa dengan Zenitsu?
Dia merasa benar dan tidak salah apapun, dia tidak akan takut.
Dia meliriknya dengan tak terima hal ini, “Aku tidak mau kembali.” Menyerah begitu saja dan mengerjakan sesuatu setengah-setengah, itu bukanlah gayaku! batinnya.
“...”
Roni terdiam dan tak mengatakan apapun lagi, dia melangkah dan berjalan keluar dari kamar.
Eh?
Kenapa pergi begitu saja?
Dia belum selesai bicara, dia berencana meminta Roni tengah malam nanti untuk ikut bersamanya pergi ke tempat tinggalnya Marry untuk mencari petunjuk.
Tampaknya, terpaksa harus pergi sendiri.
Cindy menggunakan alasan ingin tidur lebih awal untuk membuat para pelayan pergi agar dia bisa menyembunyikan niatnya. Lalu, dia berdandan dan berpakaian seperti pembantu, dan menunggu sepertiga malam baru diam-diam dia pergi ke tempat tinggal Marry untuk mencari petunjuk.
Saat dia merasa waktunya telah tiba, dia menyelinap keluar seperti pembantu biasa dan berjalan menuju tempat tinggal Marry.
Begitu sampai di halaman tempat tinggal Marry, dia baru mengerti kenapa Marry tidak ada pikiran untuk pergi dari sini padahal sudah tinggal selama lima tahun. Dekorasi tempat ini terlalu bagus sekali, ini seperti surga dalam mimpinya.
Watak Marry sangat keras kepala. Akan sulit untuk mendapatkan informasi apapun dari mulutnya. Jadi lebih baik melakukan yang pasti saja dengan diam-diam mengambil rambutnya, lalu melakukan tes DNA untuk memastikan apakah Marry saudara perempuannya.
Jika bukan, dia akan membalasnya jika dia berani sekali lagi menginjak martabatnya.
Dan mencari tahu lagi, siapa sebenarnya yang telah mengajarinya ketrampilan akupuntur.
Jika iya dia saudaranya, maka dia akan memaksa ayah kandungnya keluar dan menyeretnya ke depan makam ibunya untuk menebus kesalahannya!
Setelah memutuskan ini, dia melihat seorang pembantu yang baru saja pergi untuk mengambil sesuatu, dia pun berpura-pura menjadi pembantu itu lalu masuk untuk melayani Marry.
Begitu dia masuk, dia mendengar Marry yang sedang marah-marah dan memaki keluar jendela.
“Dasar wanita penggoda, dia kira tinggal di kediaman Ducal lalu dia bisa memikat kakak sepupuku? Mimpi saja! tidak melihat dirinya yang berperilaku seperti kodok itu. Malam ini, aku akan mengirim beberapa orang untuk melayaninya dengan baik. Setelah nama baiknya rusak, kakak sepupuku yang pasti jadi orang pertama yang mengusirnya dari kediaman Ducal!”
Setelah selesai bicara, dia langsung memukul meja dengan marah.
Suara ‘brukkkk’ sangat mengejutkan Cindy.
Sialan! tidak disangka ternyata Marry bisa sekejam ini!
__ADS_1
Kelihatannya sudah benar dia datang ke sini malam ini. Kalau tidak, dia akan masuk ke dalam perangkapnya.
Beberapa pembantu di samping hanya diam bagai tongkat kayu. Hanya berusaha tidak memedulikan ucapan Marry dan sama sekali tidak memberi respon apapun.
Dia jadi tegang dan tak bisa menahan diri untuk berdoa. Ya Tuhan, tolong jangan sampai aku bersaudara dengan orang sejahat dan sekejam itu.
Sekarang bagaimana caranya mendapatkan rambutnya? Sudah semalam ini, tidak mungkin bilang ingin menyisir rambutnya kan?
Saat dia termenung berpikir, pintu kamar itu tiba-tiba ditendang dengan keras sampai terbuka, seseorang yang memakai topeng muncul di depan pintu.
“Siapa kamu?”
Baru saja Marry bertanya, Cindy melihat sederet jarum perak dilemparkan ke arah mereka. Cindy langsung menghindarinya dengan cepat sekali.
Satu persatu pembantu yang lain jatuh di lantai, Marry juga terkena jarum itu, dia jatuh di bangku kayu di dekat jendela.
Melihat ini, Cindy pun pura-pura terkena jarum itu dan jatuh di lantai, lalu diam-diam mengawasi pergerakan orang itu.
Pisau tajam yang bersinar dingin di tangannya diarahkan ke wajah Marry.
Apa dia ini mau merusak wajah Marry?
Bagaimana kalau ternyata, Marry adalah saudara perempuanku?
Aku tak bisa hanya menyaksikan saja tanpa menolongnya seperti ini.
Cindy diam-diam merangkak dan dengan cepat berlari ke arah pintu, dan berteriak, “Tolong, ada pencuri yang mau membunuh! Cepat tolong...”
Orang yang memakai topeng itu tertegun saat mendengar suaranya, menoleh dan melangkah dengan cepat ke sampingnya, “Jangan berteriak lagi, ini aku.”
Cindy langsung mengenali siapa orang itu.
“Roni, kenapa kamu bisa ada di sini?”
Roni tidak mengatakan apapun.
Apa dia datang ke sini untuk membalas dendam demi aku dengan memberi pelajaran kepada Marry?
Saat mereka berdua diam tertegun, tiba-tiba terdengar sekelompok pembantu yang berlari masuk dari luar.
“Cepat pergi!”
Roni berteriak. Cindy langsung mengerti, “Kamu pergilah duluan. Aku mengenakan baju pembantu, mereka tidak akan mengenaliku.”
Roni tertegun, lalu mengangguk.
Cindy langsung mencabut beberapa helai rambut Marry dengan memanfaatkan kesempatan saat Roni berurusan dengan pembantu. Dia langsung memasukkannya ke dalam saku, berdiri lalu berjalan keluar.
Keributan ini membuat kediaman Peter jadi ramai sekali. Sekelompok pengawal bergegas pergi menuju tempat tinggal Marry.
Cindy mempercepat langkahnya berjalan untuk kembali. Saat dia melewati koridor, tiba-tiba dia menabrak sesuatu. Dia pun langsung berhenti.
“Siapa?” Suara itu dalam dan berat, dengan perasaan yang berubah-ubah.
Ternyata dia menabrak orang, seorang pria.
Dia menghela napas dan bertanya dengan marah, “Siapa yang tengah malam berdiri di sini menghalangi jalan sih. Benar-benar tidak punya mata ya.”
__ADS_1
Orang yang ada di depannya mengerutkan kening, “Siapa yang kamu maksud?”
“Tidak ada orang lain di sini, ya tentu saja maksudku itu kamu-lah!”
“...” raut wajah pria itu sangat muram, dan menatapnya dengan aneh.
Tiba-tiba, terdengar suara kejar-kejaran di belakangnya, hati Cindy langsung bergetar, apakah Roni lari sampai ke sini?
Jangan sampai dia tertangkap.
Dia diam-diam berdoa. Lalu, saat melihat pria di depannya yang sedang melihatnya juga itu, tiba-tiba muncul ide dalam pikirannya.
Dia buru-buru berteriak ke arah para pengawal yang sedang mengejar seseorang itu, “Cepat ke sini, penjahatnya di sini! pencurinya di sini! cepat ke sini!”
Dia berteriak sambil berbahagia dalam hatinya. Serangan teriakan ini akan berhasil megalihkan orang-orang yang mengejar Roni, dan Roni pasti bisa lolos dengan mulus.
Saat para pengawal datang begitu mendengar suaranya, mereka memandangnya dan bertanya, “Pencurinya di mana?”
Dia menunjuk ke arah pria itu, “Di sana!”
Mereka melihat ke arah jarinya mengarah, saat melihat dengan jelas siapa pria di depan mereka, satu persatu dari pengawal itu terdiam, menundukkan kepala dengan kesal.
“Dia! Dia-lah pencuri yang tadi itu. Cepat tangkap dia dan bawa pergi!”
Begitu ucapan ini terlontar, dia melihat para pengawal yang langsung berdiri tegak tak bergerak. Dia menoleh menatap pria itu.
Dalam sekejap, muncul firasat buruk dalam hatinya.
Dia tak begitu melihatnya dengan jelas tadi. Saat ini, kenapa dia merasa pria tua di depannya ini bukan orang biasa.
Mengenakan pakaian yang membuatnya begitu berwibawa dan terhormat, dan berdiri di sana tanpa mengatakan apa-apa, ini adalah interpretasi terbaik dalam menggambarkan pimpinan yang memiliki jabatan tertinggi yang menakjubkan.
Apa jangan-jangan dia ini adalah anggota keluarga Ducal?
Saat dia masih menebak-nebak, Zenitsu yang mendapatkan kabar bergegas datang dengan paniknya, lalu melihat Cindy sekilas, dan kemudian berjalan ke depan pria itu.
“Ayah, apakah anda baik-baik saja?”
“Ayah?
Ayah Zenitsu, kalau begitu dia ini Peter.
Ya Tuhan, kekhawatirannya terhadap keselamatan Roni tadi benar-benar membuat situasi malah jadi kacau.
Sangat kacau sampai ada orang yang begitu terhormat berdiri di depannya, dia malah tak menyadari aura wibawanya dan malah bisa-bisanya bilang Peter adalah pencuri.
Bagaimana ini? apakah nanti akan dihukum?
Dia meremas kesepuluh jarinya sendiri karena ketakutan sambil mendongak menatap Peter.
Hanya melihat mata Peter yang begitu tajam dan dalam sedang memandanginya dari atas ke bawah dengan seksama.
“Pembantu siapa ini?”
Zenitsu melihat dia yang mengenakan baju pembantu itu. Tidak tahu bagaimana seharusnya memperkenalkan Cindy ini, yang telah membuat kekacauan sebesar ini. Jika bilang Cindy adalah wanita yang disukainya, dia khawatir Peter akan langsung tidak setuju.
Kalau nanti dia malah menyuruh orang untuk mengusirnya, maka rencananya akan gagal.
__ADS_1