Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Keheningan


__ADS_3

Aku tidak merasa terintimidasi dengan tatapannya, tapi satu hal yang menggangguku adalah, tadi aku mendengar suara sepatu yang menjauh saat bel berbunyi. Aku kira itu gadis ini. Namun ketika aku melihat ke arah sepatunya dugaanku langsung lenyap karena dia mengenakan sepatu flat yang tidak akan menimbulkan suara kencang ketika melangkah.


Ketika keduanya berjalan masuk dan meninggalkanku, aku menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Menyelinap dari sana dan bergegas menuju kelas pertamaku. Aku memiliki waktu lima menit untuk menuju kelas geografi. Karena sistemnya seperti kuliah dan kelasnya juga berada di gedung berbeda, aku menjadi kesulitan dan sejak kemarin banyak mata pelajaran yang aku lewatkan.


Pertama, karena faktor letak ruangannya dan yang kedua, karena aku masih belum mengenal seluk beluk sekolah ini.


Aku masuk kelas tepat waktu dan sepertinya yang lainnya juga sama. Semua mata menatapku termasuk mata miliki Pak Aidan. Sepertinya aku tahu apa yang Pak Aidan pikirkan saat dia melihatku. Tatapannya yang tajam serta ada kernyitan di sekitar pelipisnya menandakan ada sesuatu yang sedang dia pikirkan. Aku mengabaikan itu dan langsung masuk untuk ikut memulai pelajaran.


Lima belas menit berlalu dan pintu terbuka dari luar. Aku melihat Jessi, gadis yang tadi bertemu dengan Pak Dewa melangkah masuk. Aku tidak tahu apakah ada yang memperhatikan penampilannya, tapi saat dia melewatiku aku dapat melihat rambutnya yang terlihat kusut terlihat seperti habis melakukan sesuatu. Itu bukan kusut karena perkelahian, jika saja aku tidak mengetahui hubungan dia dengan Pak Dewa, aku juga pasti berpikir jika dia berkelahi.


Walaupun aku mengetahui fakta itu, tapi tetap saja tidak akan mengubah situasi karena Pak Dewa sudah menyuruhku untuk tutup mulut. Aku mengurungkan niatku untuk menceritakan soal ini pada Rendi.


Pelajaran dilanjutkan kembali. Pak Aidan memberitahu jika dia akan memberikan ulangan harian pada Kamis besok. Nilainya akan diakumulasikan untuk menambah jumlah jika saja nilai ujian tidak mencukupi standar. Berarti aku harus mengulang pelajaran pada Rabu malam. Selama pelajaran berlangsung aku sama sekali tidak menatap Pak Aidan. Rasanya canggung, apalagi dia mengetahui hal yang seharusnya tidak dia ketahui. Tapi entah kenapa hatiku bisa memercayai pria itu. Berharap dia akan menyimpan soal ini tanpa memberitahukan pada siapa-siapa.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kelas usai dan kami kembali melanjutkan kelas selanjutnya. Selama sehari ini aku terus berada satu kelas dengan Jessi. Dia menatapku tajam setiap kali kami bertemu pandang. Sepertinya dia pikir aku adalah selingkuhan Pak Dewa dan dia pasti cemburu karena hal itu. Aku hanya mendengus kesal. Aku tidak tertarik dengan pria macam Pak Dewanya. Hidupku sudah dipenuhi oleh manusia-manusia yang selalu memojokkanku dan aku tidak mau menghabiskan waktuku untuk kembali berhubungan dengan manusia seperti itu.


Aku sampai rumah dan suasana sangat sepi. Mama pasti akan mampir ke klub dan berjudi seperti biasa. Aku memasuki rumah dengan kunci yang kumiliki dan bergegas menuju kamarku. Keadaan rumah masih sama seperti saat aku berangkat sekolah. Aku mengganti pakaianku dengan kaos rumahan dan celana pendek usang. Aku sudah berhemat agar dapat membeli sepatu. Meski aku selalu diperlakukan tidak baik tapi Mama masih memberiku uang saku meski tidak banyak. Dari semua uang itu, beberapa aku sisihkan untuk membeli keperluanku karena aku tidak mungkin meminta uang pada Mama.


Perutku mulai berbunyi, aku baru menyadari jika aku belum apa-apa sejak kemarin siang. Aku segera turun ke bawah untuk mencari sesuatu yang dapat kumakan. Aku tidak menemukan apapun di rumah. Aku memutuskan untuk keluar dan pergi ke kawasan ramai tempat di mana banyaknya pertokoan yang buka. Aku mengingat jika ada toko buku yang mencari karyawan.


"Permisi. Maaf saya lihat ada tanda di depan kalau di sini membutuhkan karyawan. Apakah itu masih berlaku?" tanyaku.


"Masih nak. Karena saya sudah tua banyak hal yang nggak bisa saya lakukan karena terhalang usia. Kamu cuma harus bersih-bersih, melayani pelanggan, sama menelepon jika ada stok buku yang harus dipesan," ucap wanita itu, "saya nggak perlu CV, kamu kelihatan bisa dipercaya. Datang lagi ke sini hari Jumat jam 4 sore ya. Nanti biar saya atau cucu saya yang ajak kamu berkeliling. Oke?"


Aku mengangguk cepat dan tersenyum puas. Pekerjaan ini sudah menjadi milikku dan aku sangat bersyukur.

__ADS_1


"Baik. Kalau begitu terima kasih dan saya permisi," jawabku.


Aku segera melangkah menuju kafe yang kemarin aku datangi. Aku memesan segelas susu dan satu slice cheese cake sebagai perayaan karena aku mendapatkan pekerjaan. Aku menunggu seraya membaca koran yang disediakan pihak kafe.


Selesai dengan semua kegiatanku, aku bergegas pulang. Keadaan rumah masih sepi. Mama dan Gio belum pulang. Aku bergegas membersihkan tubuhku dan memeriksa luka memarku. More kini tampak lebih baik dibandingkan kemarin. Hal ini memang rutin terjadi. Sebelum lukaku sembuh dengan sempurna, aku pasti akan mendapat luka baru untuk penggantinya. Kejadian itu membuatku berspekulasi jika Mama tahu kapan tepatnya lukaku akan membaik meskipun kedengarannya itu mustahil. Untuk anak yang tidak diperhatikan macam aku, mana mungkin Mama mau mengingat soal itu. Buang-buang waktu pastinya.


Sampai malam, Mama dan Gio pun tidak kelihatan batang hidungnya. Aku sedikit bersyukur karena setidaknya malam ini tidak ada keributan yang akan menimpaku. Keheningan ini membuatku nyaman dan aku selalu berharap hari-hari seperti ini akan berlangsung lama.


Aku sendiri sudah memiliki niat untuk pergi dari rumah ini, hanya saja banyak hal yang aku pikirkan. Ditambah, aku belum memiliki KTP. Hidup bersama dengan mama dan Gio membuatku selalu mendapatkan mimpi buruk. Penyiksaan Mama yang aku terima menjadi trauma sendiri untukku. Aku tidak menunjukkannya karena sekarang pun aku sampai sudah kebal. Tidak ada yang menolongku untuk keluar dari situasi ini dan aku juga belum berani untuk keluar. Aku tidak memiliki siapapun selain Mama yang akan bertanggung jawab atasku. Walaupun Mama selalu menyiksaku setidaknya dia tidak berpikiran untuk meninggalkanku.


Dalam hati aku selalu berharap kembali ke masa di mana saat semua masih baik-baik saja. Andai Papa tidak pergi apakah aku bisa hidup bahagia seperti anak normal yang lainnya? Apakah keluargaku harmonis? Dan apakah Gio dan Mama akan bersikap baik padaku?


Pertanyaan itu masih berputar-putar dibenakku. Pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab karena hal itu mustahil terjadi. Papa pergi dan dia tidak pernah kembali. Bahkan sepertinya dia tidak berusaha untuk mencariku atau mengetahui bagaimana aku menjalani kehidupanku.

__ADS_1


__ADS_2