
Pintu aula kampus berdiri kokoh dan gagah di hadapanku. Warnanya yang hitam dan tampak suram entah kenapa seolah mengalirkan energi negatif yang membuatku bergidik. Kampus yang kami datangi memang salah satu kampus negeri yang memiliki prospek bagus, tapi tidak semua yang terlihat indah akan menjadi indah juga ketika kita masuk dan mencoba menjadi salah satu anggotanya. Contohnya seperti sekarang. Aku merasa tidak cocok berada di tempat ini.
Dan sekarang aku hanya bisa menghela nafas pelan karena pintu besar itu sangat mengintimidasi. Aku bahkan sampai mundur beberapa langkah karena rasa tidak nyaman.
Beberapa detik menunggu, akhirnya pintu terbuka dari dalam. Rafa segera menarikku masuk untuk melihat bagaimana keadaan di dalam sana. Ruangan yang sangat luas dengan atap yang tinggi menjadi pemandangan yang dapat kami lihat untuk pertama kali. Seperti aula pertemuan pada umumnya, hanya saja tempat ini tampak agak formal dan terawat dengan baik. Untungnya perasaanku perlahan membaik sehingga tidak terlihat lagi jejak-jejak mengerikan yang sempat singgah sebelumnya. Aku merasa dapat melanjutkan kegiatanku di sini.
Setelahbyakin jika semua murid sudah masuk ke dalam, kami diminta untuk berkumpul dan menunggu seseorang yang akan menjadi pemandu acara selama kami berada di sini. Seorang pria muncul menggunakan almamater kampus. Pria dengan tinggi 170 cm itu tampaknya salah satu anggota BEM, karena dia memiliki senyum ramah khas para sales. Ucapan selamat datang dan basa-basi dia lantunkan, meski itu hal yang biasa tapi entah kenapa tidak berhasil menarik perhatianku.
Dia tidak sendiri karena masih ada beberapa lagi mahasiswa dengan almamater yang sama berdiri juga di dalam aula ini. Mereka meminta kami untuk duduk di tempat yang sudah disediakan sedangkan beberapa mahasiswa tadi mulai menutup pintu. Udara di dalam pun ikut berubah. Rasanya pengap dan lembab. Aku tidak menyukai udara yang seperti ini, rasanya mencekik dan seolah tidak membiarkanku bernafas dengan bebas.
"Pertama-tama saya mau mengucapkan maaf karena kami harus menutup pintu aula. Para mahasiswa di sini jahil dan pasti nantinya mereka akan mengerumuni pintu yang malah membuat kalian menjadi kurang leluasa," ucap pria yang menjadi pengisi kali ini, "sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya Putra, mahasiswa kedokteran tahun kedua di universitas ini. Dan hari ini saya yang akan menjadi tour guide kalian. Jadi kalau nanti ada yang mau ditanyakan langsung kasih tahu saja. Tidak perlu sungkan."
__ADS_1
"Nah kalau begitu kita mulai tour kita hari ini," katanya, "di Setiap lantai akan kalian lewati, akan ada seseorang yang mengenakan almamater yang sama seperti yang saya kenakan. Orang tersebut adalah panitia yang akan membantu kalian kalau-kalau kalian tersesat atau tertinggal. Dan juga, jika kalian ingin bertanya tapi terlalu malu untuk mengatakannya secara lantang, kalian juga bisa menanyakan apa yang kalian inginkan pada kakak itu."
"Dan satu lagi, masih banyak keuntungan yang bisa kalian dapatkan jika kalian memikiki rencana untuk menjadi mahasiswa di sini." Dia menjelaskan dengan sangat lugas.
"Karena semua panitia sudah berada di tempat masing-masing, jadi kita bisa memulai tour kita hari ini. Semuanya berdiri dan tujuan pertama yang akan kita datangi adalah fakultas seni dan drama.
Aku benar-benar mendengarkan penjelasan dari Kak Putra karena aku sangat mengantisipasi agar aku tidak tersesat. Jika memang hal buruk itu menimpaku, aku bisa menggunakan informasi yang diberikan tadi untuk menyelamatkan diriku.
di sudut lainnya juga terdapat kantin yang jika dilihat dari tempatku berdiri itu tampak seperti kafe. Aku berdecak kagum. Ketika aku menoleh ke sampingku, aku sontak terkekeh karena melihat ekspresi Rafa yang sama sepertiku.
"Lo mau kuliah di sini?" tanyaku begitu kami melewati kelas-kelas yang tengah diisi dengan perkuliahan.
__ADS_1
"Of course," jawabnya penuh semangat, "ini kampus impian gue. Walaupun kelihatannya kayak kampus mahal tapi mereka tidak mendiskriminasi dan masih membiarkan orang-orang biasa untuk masuk ke dalam sini. Dan yang paling penting, mereka memperlakukan semua mahasiswanya setara. Mau dia anak pejabat ataupun anak tukang sayur." Rafa berbicara seolah dia juga menjadi salah satu seles yang menawarkan para calon mahasiswa untuk masuk ke sini.
"Jadi... jurusan apa yang bakal lo pilih? Apa lo udah punya gambaran apa yang bakal lo lakuin setelah lulus sekolah nanti?"
"Belum," sikap antusiasme yang tadi itu menghilang tiba-tiba bagai uap, "buat menentukan masa depan itu tidak semudah yang terlihat. Buat sekarang aja gue masih bingung mau pilih apa. Hari ini gue pingin masuk manajemen, Minggu depannya gue udah punya keinginan lain." Aku mengangguk paham. Apa yang terjadi padanya juga terjadi padaku, makannya aku hanya membiarkan hidupku mengalir seperti air saja.
Kami mengobrol cukup lama dan aku juga masih terus melihat ke kanan dan kiri untuk mencari objek-objek yang menarik perhatian. Tanpa sadar kepalaku melihat ke depan. Di sana ada Aidan dan Miss Naura, guru Matematika kami. Walaupun tidak banyak guru muda tapi di sekolah tetap ada guru wanita yang masih belum menikah. Miss Naura salah satunya. Dia itu hanya terpaut 3 tahun dengan Aidan dan tampaknya wanita itu menyukai Aidan.
Miss Naura tidak pernah berhenti menatap Aidan dan setiap Aidan menatapnya, wanita itu salah tingkah. Aku masih memperhatikan tingkah keduanya. Miss Naura yang malu-malu dan Aidan yang tengah membaca brosur.
Padahal Kak Putra masih mengoceh panjang lebar di depan sana, tapi apa yang dia jelaskan soal semua hal yang ada di sini benar-benar tidak menarik minatku. Banyak yang dia tunjukan, fakultas sastra, kelas besar yang dapat menampung 100 siswa dan juga aula khusus dansa. Memang untuk apa? Seumur hidup aku tidak pernah menari apalagi berdansa dan sudah dapat dipastikan ruangan ini hanya digunakan oleh orang-orang yang memang di kehidupan nyatanya membutuhkan pelajaran berdansa. Orang-orang seperti itu adalah orang kaya yang selalu menghadiri pesta tentunya. Bukan orang yang seperti aku yang sangat tidak tertarik pada sesuatu yang ribet.
__ADS_1
Dan kami tiba di kantin yang tadi aku ceritakan. Mereka membiarkan kami makan semua camilan yang ada di sini sebelum kembali melanjutkan perjalanan untuk tour lagi nanti.