
"Kapan terakhir kalinya lo rayain ulang tahun lo?"
Aku diam dan mencoba mengingat kembali. Samar-samar amu dapat mengingat pesta ulang tahun di mana ada peri, hadiah, dan games yang dilaksanakan di acara itu. Aku ingat malam itu aku sangat bersemangat karena akhirnya dapat bertemu dengan ibu peri. Saat itu aku sangat berharap dia bisa mengabulkan banyak permintaanku.
"Kayaknya pas gue umur 5 atau 6 tahun deh. Lo ingat nggak soal peri yang diundang waktu itu?" Gio mengangguk dan tersenyum dengan kilatan matanya. Dia mengulurkan tangannya ke samping dan masuk ke plastik grocery. Karena warnanya hitam, jadi aku tidak bisa menebak apa yang ada di dalamnya.
Sebelum aku bisa melihat, dia dengan cepat menyembunyikan sesuatu itu di belakang punggunya dalam sekejap mata dan dia juga memasukan tangannya yang lain ke dalam tas untuk mengambil sesuatu juga.
"Lo udah siap?" tanyanya memastikan. Aku memnyipitkan mataku dan mengangguk perlahan.
Kemudian dia mengeluarkan tangan yang dia sembunyikan lebih awal dan menunjukkan isinya padaku. Ada sekantong balon dengan tulisan angka 17 di tangan kiri. Semuanya beraneka warna. Di sisi sebelah kirinya juga terdapat angka yang sama.
"Lo tahu kan ini artinya apa, Aretta!?" Dia berdiri dan bersorak, "kita bakal party." sedangkan aku hanya bisa membuka dan menutup mulutku karena rencananya.
"Ingat! Lo nggak perlu bantu buat siapin semuanya karena gue yang bakal siapin buat lo. Gue bakal rayain ulang tahun lo." Dia mencoba berunding tapi menuntut tegas. Aku enggan sebenarnya, tapi Gio yang sampai memohon membuatku luluh.
"Cuma pesta kecil-kecilan kok. Gue bakal undang teman lo sama teman gue. Yang penting feel kebersamaanya itu dapat," suaranya terdengar semakin panik. Mungkin dia mengira jika aku akan menolaknya.
"Oke," jawabku lugas, "dengan syarat lo harus ikutiin rencanan yang gue buat." Dia mengangguk dengan antusias sambil berterias yass dengan tangan terkepal ke atas. Hal itu bertepatan juga dengan Ana yang baru pulang dari kampus.
"Aretta setuju!" Dia kembali berteriak pada Ana dan itu juga membuat wanita itu melompat gembira. Sementara keduanya saling menikmati euforia sambil berpelukan, kesempatan itu aku gunakan untuk masuk ke dalam kamar.
Entah sudah berapa lama aku berdiam di kamar karena setelah itu ada suara orang yang mengetuk pintu kamarku.
"Masuk," seruku dari dalam. Gio dan Ana masuk sambil membawa box yang tampak mencurigakan. Aku menatap tajam keduanya tapi paksaan dari mereka yang memintaku untuk menerima box tersebut membuatku pasrah.
"Ini dari gue sama Ana. Karena bentar lagi lo pasti butuh barang ini dan kami udah siapin sebelum lo keteteran nantinya. Meskipun lo nggak suka, lo nggak boleh balikin lagi barang ini." Gio langsung mundur begitu box itu aku terima dan melingkarkan lengannya ke pinggang Ana. Aku masih menatap mereka dan mengagumi kemesraan keduanya sampai Gio kembali mengintruksikan agar aku membuka boxnya.
__ADS_1
Di bawah kertas kado bermotif pita itu ada kejutan yang langsung melompat keluar ketika tutup box aku buka. Aku tersentak kaget dan berteriak dengan pandangan yang masih tertuju ke isi box. Untuk sejenak hanya suara tawa dari Ana dan Gio yang terdengar sampai saat aku menatap isi box dan keduanya dengan pandangan tidak percaya.
Di dalamnya ada laptop dan ponsel keluaran terbaru yang aku taksir harganya masih mahal. Aku melirik lagi ke arah Gio dan Ana, kedua manusia itu hanya berdiri di sana sambil tersenyum puas seperti orang idiot.
"Are you serious?" tanyaku, "ini kan barang-barang mahal!" seruku lagi dan malah membuat kedua orang itu bertambah puas untuk tertawa.
"Itu emang buat lo."
Aku segera menarik keluar kedua benda elektronik itu yang masih di dalam boxnya masing-masing. Aku memilih membuka box laptop dan menyalakannya.
"Gue udah casin buat lo dan lo udah bisa gunain kedua barang itu sekarang. Gue berharap lo bisa belajar dengan lebih nyaman dan gue juga berharap ponsel ini juga bisa buat lo dengarin lagu-lagu yang lo suka." Gio menjelaskan lagi.
Aku mengangguk kencang dan segera bangkit untuk memeluk keduanya. Karena Ana yang berdiri paling dekat denganku, jadi aku memilih untuk memeluknya lebih dulu.
"Terima kasih, Kak," kataku tanpa bisa berkata-kata. Wanita itu mengangguk dan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Padahal kami belum lama saling kenal dan dia malah sudah memberikan kado yang luar biasa istimewa padaku. Aku sekarang mengerti kenapa Gio bisa secinta itu pada wanita ini, karena Ana benar-benar seperti sosok ibu peri yang turun dari langit. Kehadirannya juga menyempurnakan keluarga kami yang berantakan.
"Happy brithday Aretta. Sorry karena selama ini gue udah lewatin ulang tahun lo dan biarin lo sendirian. I love you sis." Dia melepaskan pelukannya dan mendorongku pelan agar aku dapat melihat betapa bersungguh-sungguhnya dia ketika mengatakan itu padaku.
"Terima kasih, Kak," jawabku. Kali ini aku memanggilnya seperti dahulu dan ekspresi senang ketika aku menggunakan panggilan benar-benar terpancar di wajahnya.
"Gue senang dipanggil gitu. Rajin-rajin belajarnya," serunya sambil mengusap sayang kepalaku.
"Waktunya makan malam!" Aku mendengar suara Ana yang memanggil kami dari dapur. Gio mengusap lagi kepalaku dan langsung berjalan keluar meninggalkan aku dan para teman-teman baruku agar kami dapat berkenalan. Aku segera meraih ponsel baruku dan menekan tombol power untuk menghidupkannya. Aku tidak percaya dua benda yang menurutku mahal ini malah menjadi hadiah untukku dan itu diberikan oleh orang-orang yang aku sayangi. Rasanya masih seperti mimpi karena bisa memiliki benda-benda ini.
Layar menyala dan sebuah gambar muncul yang menandakan Gio sudah mensetting benda ini. Aku juga memeriksa laptop baru pemberian mereka dan menemukan hal yang sama, jadi intinya kau bisa langsung menggunakannya tanpa harus mengutak-atik lagi karena sejujurnya aku juga tidak begitu paham dengan benda-benda ini. Gambar yang terdapat di layar desktop adalah poto lawas dua anak kecil yang sedang bermain pasir. Salah satunya sedang menggali dan satunya lagi tengah sibuk memegang topi merah mudanya hampir terbawa angin. Gadis kecil di foto itu memiliki warna rambut yang sama seperti miliku dan bocah laki-laki itu juga memiliki warna rambut seperti milik Gio. Aku memajukan lagi kepalaku dan memeriksa dimana foto itu diambil. Itu di rumah lama kami saat dimana keluarga kami masih sangat harmonis.
Sosok Aretta yang sangat muda yang belum pernah aku lihat lagi setelah keluarga ini hancur tampak tersenyum bahagia. Tumpukan foto-foto saat itu entah disembunyikan atau dibuang oleh Mama. Yang pasti aku tidak pernah melihat atau menemukannya dimanapun. Gio pasti tahu dimana Mama menyimpannya karena pria itu termasuk orang yang dapat berkeliaran di rumah dengan bebas. Melihat sosok aku dan Gio kecil membuatku tersenyum. Akhrinya aku bisa kembali merasakan kebahagiaan di masa itu.
__ADS_1
Aku bolak-balik memainkan ponsel dan laptopku selama satu jam. Di ponsel aku hanya mencoba memutar lagu ataupun mencoba search something yang ternyata sangat mudah. Pantas orang-orang fokus sekali menggunakan barang ini karena keefektifannya.
Sedangkan laptop aku gunakan untuk mencari bahan belajar di situs sekolah. Ketika aku masuk ke akun milikku yang tidak pernah aku gunakan, rasa senang membuncah. Jika dulu hanya aku yang mengumpulkan tugas via offline, kini aku dapat mengirimkan tugas secara online tanpa takut telat.
Aku banyak membaca modul yang tersedia di sana. Kemudian aku memutuskan untuk membuka pesan dan sebuah nama dari pengirim membuatku tertarik. Aku mengklik untuk membukanya.
Kepada: Aretta (Nomor induk:10002)
Dari: Jessica Putri (Nomor induk: 09033)
Aretta,
Gue tahu kita emang bukan teman dan gue akui gue emang bersikap annoying ke lo. Awalnya emang gue kiranya lo mau rebut Pak Dewa dari gue tapi setelah lo kasih peringatan ke gue soal dia, gue jadi mikir berkali-kali. Sampai akhirnya gue mutusin sendiri buat terus ikutin lo dan perhatiin lo apakah lo benar-benar dekat sama Pak Dewa atau nggak dan gue temuin lo yang kelihatan lebih bahagia saat berdua sama Pak Aidan. Waktu itu gue belum percaya kalau lo nggak ada niat buat rebut Pak Dewa, sampai gue lihat sahabat gue Dela keluar dari ruang an Pak Dewa dengan penampilan yang berantakan. Gue curiga dan gue jadi terobsesi buat cari tahu apa yang terjadi. Gue mutusin buat ikutin Pak Dewa dan yang gue temuin adalah hal yang nggak pernah gue sangka.
Soal dia yang ternyata mafia juga banyaknya gadis-gadis yang dia bawa ke ruangannya. Adakalanya bisa dua gadis dalam satu hari. Tapi yang paling buat gue shock adalah Pak Dewa yang selalu perhatiin lo dari jendela ruangannya. Aretta, lo harus hati-hati. Gue tahu gue nggak pantas nasehatin lo tapi gue kayak gini karena gue tahu dia itu orang yang berbahaya dan gue bakal menyesal seumur hidup kalau gue mengabaikan fakta ini.
Gue bakalan pindah. Pak Dewa tahu kalau gue ngawasin dia dan itu buat gue sadar kalau gue harus segera pergi kalau gue masih sayang nyawa gue. Gue tahu gue pengecut tapi sejujurnya gue emang nggak punya keberanian setelah tahu seberapa hebat kelompok yang diikuti Pa Dewa. Gue bakal tinggal sama adiknya bokap buat selesain sekolah dan gue harap semuanya cepat selesai dan kelompok Pak Dewa bisa ditangkap. Sampai saat itu, gue harap juga saat kita ketemu kita bisa jadi teman.
Jaga diri lo Aretta. Please, lo tetap harus hati-hati.
Jessica.
Aku menarik napasku dalam-dalam sambil mencoba mencerna semua tulisan yang ada di sana. Sebagian besar apa yang dia sampaikan sudah aku ketahui. Memang seluar biasa itu kelompok mafia yang diikuti Pak Dewa dan tidak heran hal itu membuat Jessica takut, hanya saja aku tidak pernah berpikir jika gadis yang membenciku akan memberitahuku soal ini. Aku bersyukur.
Tapi ada satu yang membuat perasaanku tidak tenang. Sebuah fakta jika Pak Dewa sudah memperhatikanku secara diam-diam. Aku menggigil karenanya dan langsung melompat untuk menutup gorden setelah aku memeriksa jalanan yang tampak remang-remang. Aku berharap ada seseornag yang ada di sampingku dan membuatku untuk tidak lagi memikirkan itu. Untungnya saat itu bertepatan dengan panggilan Ana yang memintaku untuk makan.
Aku langsung menutup laptop dan ponselku dengan lembut dan meletakannya di atas meja. Aku berharap ketika kembali nanti, aku sudah tidak merasakan gelisah lagi.
__ADS_1