Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Kelas Pertama


__ADS_3

Rendi tertawa. Dia merasa terhibur dengan jawabanku.


"Jadi gitu. Benar sih apa yang lo bilang barusan, lagian siapa coba yang butuh teman kalau lo bisa kabur sendiri," katanya.


Kami berbelok dan menuju gedung lain yang lebih besar. Gedung berlantai dua yang berdiri angkuh di depan sana.


"Kelas kita ada di lantai atas. Ruangan kedua dari dekat tangga. Gue jamin lo nggak bakal nyesal masuk pelajaran ini karena guru yang ngajar incaran semua anak cewek di sekolah. Bisa dibilang dia lumayan oke buat ukuran cowok," jelas Rendi panjang lebar. Aku terkekeh karena merasa terhibur dengan dia. Ternyata anak ini asyik diajak mengobrol meski aku tidak banyak merespon.


Dan... soal guru itu. Entah kenapa aku menjadi penasaran. Memang seberapa menariknya dia hingga ada seorang pria yang memujinya.


"Senang bisa kenal sama lo. Sampai ketemu lagi," katanya, "oh iya hampir lupa gue, lo tertarik nggak buat ikutan jadi atlet. Menurut gue lo udah masuk kriteria dan Pak Indra pasti juga setuju sama apa yang gue bilang barusan. Lo harus gabung ya, gue maksa. Sampai ketemu hari Kamis pas pulang sekolah." Dia langsung mundur tanpa berniat mendengarkan penjelasan dariku, "jangan lupa ya Aretta. Kamis."


Suara bel kembali berbunyi dan membuatku terlonjak. Aku masih berada di lantai satu dan dengan cepat aku segera melangkah menaiki tangga untuk menuju lantai dua. Aku menemukan ruang kelas yang tadi diberitahu oleh Rendi. Pelajaran sudah di mulai dan aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu sebelum aku membuka dan berniat masuk.


Aku mulai kesal dengan tatapan yang mereka berikan. Lagi-lagi tatapan seperti itu. Aku menundukkan kepalaku agar tidak bertemu pandang dengan salah satu dari mereka, dengan segera aku melangkah mendekat ke meja guru.


Aku kira jika aku terlambat aku tidak akan mendapatkan perhatian seperti ini.


Saat aku sampai di meja guru, aku segera mendongak untuk menatap. Aku sedikit terkesiap seketika.


Mata coklat yang kukenal itu, sang pemilik tatapan tajam dan mengintimidasi. Hanya sesaat dan aku kembali menunduk. Apa yang Rendi katakan tadi benar, guru ini oke, bukan cukup oke. Dalam artian dia benar-benar tampan. dan dia adalah pria yang menolongku tadi pagi saat aku tergelincir.

__ADS_1


"Ma-af Pak saya telat. Saya tadi tersesat," cicitku pelan.


Dia tidak menjawab dan itu membuatku tidak nyaman. Aku segera mendongak dan dia juga menatapku dengan tatapan terkejutnya.


"Ah iya. Nggak apa-apa. Silahkan duduk, cari tempat yang kosong."


Setelah dia memberikan perintah, aku segera melipir dan mencari tempat. Tempat duduk nomor dua dari depan terlihat kosong dan aku memutuskan untuk duduk di sana. Tatapan itu masih ada, aku mencoba acuh dan mulai mengeluarkan buku dan penaku untuk memulai mengikuti kelas.


Sepanjang pelajaran kami saling melirik ke satu sama lain. Kenapa dari sekian banyaknya sekolah yang ada di sini, dia menjadi guruku? Aku sedikit bersyukur meski yang paling dominan adalah rasa canggung.


Aku mulai mengenyahkan pikiran yang menggangguku dan kembali fokus pada pelajaran di depan. Dan empat puluh menit berlalu, kelas pun usai. Bel berdering, kami semua bergegas untuk keluar.


Aku melewati Pak Aidan. Entah itu hanya perasaanku saja atau bagaimana, aku melihat dia juga melirik ke arahku. Aku mencoba mengabaikan dan kembali berjalan keluar kelas untuk menuju kelas selanjutnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh dan menemukan Rendi yang tengah menatapku dengan memberikan senyum terbaik versinya, "Hai Aretta. Kelas Biologi? Gue juga." Dia berkata dengan penuh semangat.


"Emang apa menariknya kelas Biologi sampai lo semangat banget?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.


"Nggak ada yang menarik. Lo harus tahu kalau sekolah itu mendiskriminasi murid cowok. Mereka mempekerjakan guru muda cuma khusus cowok. Apa mereka lupa kalau orang-orang kayak gue juga butuh asupan." Rendi mendengus kesal, "kasihannya gue yang kehilangan masa remaja," ratapnya melas.


Aku hanya menggeleng karena tingkah absurdnya.


Kami memasuki kelas bersama 30 siswa lainnya. Aku dan Rendi memilih tempat di tengah. Aku sudah memikirkan soal ini, Rendi adalah orang pertama yang menyapaku dan aku harap aku dan dia dapat berteman baik untuk kedepannya. Namun jika mengingat bagaimana buruknya keterampilan berkomunikasku, apakah dia akan rela bertahan untuk berteman denganku?

__ADS_1


Lamunanku terinrupsi saat seorang guru muda masuk ke dalam ruangan. Benar yang Rendi katakan, guru-guru muda di sini benar-benar spek dewa. Mereka sudah tampan tanpa perlu bekerja keras dan sudah dapat dipastikan jika para siswi lebih memilih untuk melirik para guru dibandingkan para siswa. Saat Pak Dewa mulai menyapa godaan-godaan dari para siswi terlontar dan itu membuat para siswa mendengus.


"Seperti biasa bapak selalu kelihatan ganteng setiap kali kita ketemu."


"Pak rasanya saya bisa pingsan kalau kegantengan Bapak terus bertambah."


Aku melirik Rendi yang menggerutu, wajahnya sudah tertekuk sempurna karena kejadian ini. Sedangkan Pak Dewa malah tampak menikmati godaan dari mereka karena terlihat dari senyuman yang tidak luntur di bibirnya. Berbanding terbalik dengan milik para siswa.


Aku perlahan menggelengkan kepalaku karena tidak tertarik dengan kegiatan saling menggoda ini. Kedatanganku ke sekolah untuk menimba ilmu bukan untuk menyaksikan adegan tidak bermanfaat macam itu.


Menyenangkannya dari kelas ini adalah, fakta jika semua orang fokusnya hanya tertuju pada Pak Dewa. Kelasnya memang sedikit liar dengan candaan-candaan yang melewati batas, tapi di sini mereka tidak peduli dengan kehadiranku dan aku menyukai itu.


Kelas usai dan aku segera membereskan barang-barangku. Aku keluar beriringan bersama dengan Rendi. Sekolah hari ini selesai lebih awal karena guru-guru akan mengadakan rapat. Padahal sekolah baru saja dimulai, tapi kenapa mereka sudah mengadakan rapat?


Aku tidak mau ambil pusing dan memutuskan untuk pulang. Ketika melewati gerbang sekolah aku baru sadar jika ponselku tertinggal. Tadi saat memasukkan buku aku memang meletakkan barang itu di atas meja.


"Ren, lo duluan aja, HP gue ketinggalan di kelas biologi soalnya," kataku.


"Oke deh." Dia membalas seraya tersenyum hangat.


Setelah mendapat persetujuan darinya, aku segera melangkah masuk kembali, melawan arus para siswa dan siswi yang berderap keluar.

__ADS_1


__ADS_2