
Aku sendiri membutuhkan waktu 10 menit untuk bangkit dari lantai. Aku sudah sering mendapatkan pukulan dari Mama dan ternyata pukulan dari pria benar-benar berbeda. Satu hantaman saja berhasil membuatku sulit bergerak. Pukulan ini membuatku kesakitan dan tidak sanggup bergerak untuk beberapa saat.
Aku memang mengatakan jika aku berani menerima konsekuensinya, tapi sungguh tidak kuduga jika konsekuensinya akan separah ini. Aku membiarkan sisa saladku berserakan di lantai. Dia menyuruhku untuk segera pergi dan anggap saja itu aku lakukan karena aku menuruti perintahnya.
Aku tidak memperhatikan ke mana kakiku melangkah. Aku hanya harus terus berjalan menjauhi ruangan Pak Dewa, masih sambil memegang perutku. Saat itu aku melihat Rendi dan pria itu juga melihatku. Rendi berlari cepat mendekatiku.
"Lo kenapa?" tanyanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena saat itu pikiranku tengah berkelana kemana-mana dan aku tidak bisa mendengar apa yang dia ucapkan. Ketika pikiranku sudah kembali, Rendi tengah membawaku duduk di salah satu bangku taman, "kenapa bisa kayak gini?" tanyanya lagi meminta penjelasan.
"Gue jatuh," ucapku berbicara sesantai mungkin. Dan sesuai dugaanku dia tampak tidak percaya dengan kata-kataku.
"Jadi lo nggak mau cerita apa-apa ke gue." Dia mengatakan itu seolah tahu aku memang tidak ada niatan untuk membuka mulutku. Sesuai dugaannya, aku memang bukan orang yang terbiasa menceritakan segala sesuatu yang sudah menimpaku. Aku menghindari hal itu karena aku tidak ingin mendapat tatapan prihatin dari mereka.
"Gue baik-baik aja. Beneran deh. Apa menurut lo gue kelihatan sebegitu lemahnya? Lo kira gue nggak bisa selesaiin masalah gue sendiri?" ucapku, "gue nggak butuh teman yang nganggap gue lemah, kalau lo orangnya begitu lo bisa pergi sekarang. Gue bahkan udah ngalamin hal yang lebih buruk dari ini berkali-kali. Gue cuma butuh teman yang mau bantu gue buat lupain...." Aku terdiam saat aku menggunakan kata teman, "apa kita temanan?" tanyaku.
"Karena gue jarang ngobrol sama yang lain dan juga gue klik sama lo, berarti kita teman kan." Dia menjawab dan itu membuatku tersenyum. Nyeri di perutku saja sampai memudar karena euforia bahagia itu menyebar ke seluruh tubuhku. Aku sedikit tidak percaya jika aku memiliki teman.
"Gue belum pernah punya teman sebelumnya," gumamku pelan, berharap Rendi tidak mendengar apa yang aku katakan barusan.
__ADS_1
Setelah mengikrarkan soal pertemanan, aku dan Rendi mulai saling bercerita tentang diri kami masing-masing. Dia mengatakan jika dia tidak memiliki teman karena dia selalu sibuk berlatih. Sedangkan aku bercerita alasanku tidak memiliki teman karena aku gendut.
Rendi mendesah lelah begitu mendengar ceritaku. Dia tidak habis pikir karena ternyata teman-teman di sekolahku yang dulu sangat jahat. Menurut dia seseorang tidak boleh dihakimi hanya karena fisiknya berbeda.
Aku terkekeh, benar-benar terhibur dan kehadirannya juga sedikit membantuku untuk melupakan kejadian tadi.
Bel pelajaran kembali berbunyi, menandakan istirahat telah usai. Kelas selanjutnya akan dimulai dalam 5 menit. Aku segera berdiri dan sedikit meringis saat rasa sakit itu kembali menerpa. Aku tidak memiliki waktu untuk menikmati rasa sakit itu dan dengan cepat bergegas bergerak untuk berganti pakaian. Kelas selanjutnya adalah kelas olahraga dan kami harus berkumpul di lapangan sebelum olahraga dimulai.
Guru olahraga kami ternyata sakit dan guru pengganti juga belum datang. Materi kali ini juga masih berlari. Pemanasan belum dimulai dan kesempatan itu digunakan anak-anak untuk saling bercanda dan bercerita sebelum kelas dimulai. Hingga...
"Selamat siang semuanya. Hari ini saya akan menggantikan Pak Danu. Sebelum memulai untuk lari, kalian bisa pemanasan terlebih dahulu. Dan untuk penilaian akan dilakukan seperti biasa. Kalian akan berlari dan saya akan mencatat kecepatan kalian dari sini," jelas Pak Aidan. Iya, guru penggantinya adalah dia.
"Tapi kita mulai jogging bentar. Kaki gue masih kaku gara-gara lari kemarin."
Dia mengangguk dan kami pun mulai pemanasan mengelilingi lapangan. Awalnya kami sama-sama diam dan hanya fokus pada lari, namun sepertinya Rendi tidak tahan jika kami harus berdiam-diam lama, karena mungkin menurutnya ada banyak hal yang bisa dibahas bersama. Dia sudah bergerak-gerak tidak nyaman dan itu membuatku terkekeh.
"Karena gue baru di sini, jadi gue butuh saran dari lo," kataku tiba-tiba dan itu berhasil membuat wajah Rendi berubah menjadi cerah, "lo bisa nggak jelasin ke gue apa aja yang boleh dan yang nggak boleh gue lakuin di sini."
__ADS_1
"Sebentar, biar gue pikir dulu," ucapnya sok serius, "buat yang pertama lo harus nyoba mesin penjual otomatis. Ada minuman ada juga makanan, Jadi lo nggak perlu ngantri di kantin. Tenang aja mesinnya hampir ada di setiap sudut sekolah kok. Terus lo juga harus cobain soto baksonya kantin. Itu paling the best. Ikut klub musik juga boleh," ucap Rendi.
"Terus buat hal yang nggak boleh lo lakuin itu, lo nggak boleh bertingkah mencurigakan di sekitar Pak Aidan. Beliau mungkin kelihatan kalem tapi dia itu guru yang paling ditakuti. Pak Aidan bisa tahu mana-mana aja anak yang bermasalah. Dia itu guru BK yang punya kuasa penuh di sekolah setelah kepala sekolah.
"Jadi kesimpulannya mending lo ikutin gue aja. Gue bakal langsung tunjukin apa yang boleh dan yang nggak boleh lo lakuin di sini. Tapi yang paling penting jangan pernah bertingkah mencurigakan di sekitar Pak Aidan," peringatnya sekali lagi.
Aku menggangguk paham dan mulai menyimpan informasi itu, "Gue bakal selalu ngintilin lo kemanapun," kataku sambil berlari menjauhinya. Pemanasan berhasil mengembalikan kelenturan ototku.
"Tiga putaran!" Aku mendengar ini berteriak tidak jauh di belakangku.
Persaingan kali ini cukup alot dan untungnya aku berhasil mencapai garis finish beberapa detik sebelum Rendi. Tidak seperti sebelumnya lari kali ini membuat penglihatanku sedikit kabur... kegelapan mulai memenuhi pandanganku. Aku menggeleng pelan untuk menghilangkan kegelapan itu karena aku mulai terganggu. Mungkin karena tadi aku tidak sarapan dan juga tidak jadi makan maka hal itu membuat kegelapan ini datang. Aku menggeleng pelan mencoba mengenyahkan mereka dan tidak berhasil.
Lututku mulai lemas. Kelopak mataku berkedut. Dan dunia sekelilingku seakan berputar. Aku masih mencoba menguatkan diri agar tidak tumbang saat ini. Aku tidak mau terlihat lemah di depan anak-anak lainnya. Aku juga tidak mau mempermalukan diriku hanya karena hal ini. Aku sudah terbiasa dan harusnya hal ini tidak memberi efek yang begitu mengguncang bagi tubuhku.
Rendi berbicara, tapi aku benar-benar tidak bisa mendengar apa saja yang dia katakan. Untuk sejenak aku meraih lengan bajunya dan bertumpu padanya. Tapi sepertinya pertahananku kalah.
Hal terakhir yang aku dengar sebelum kegelapan menelanku adalah suara Rendi yang berteriak.
__ADS_1
"Aretta! Itu..."