
Aku tiba di rumah dan seperti biasanya dengan suasana yang masih sepi dan tidak ada orang. Aku memutuskan untuk berlari sebentar saat pulang ke rumah dan ketika sampai aku sudah kehabisan nafas. Aku meraih water lemon yang ku beli tadi. Rasa lelah yang menghampiriku membuatku memutuskan untuk duduk sejenak di teras sambil menatap suasana malam yang hening.
Tidak seperti remaja pada umumnya yang memutuskan untuk keluar ketika malam weekend datang, untukku sendiri aku lebih memilih untuk diam di rumah. Segera setelah memutuskan untuk bebersih aku langsung mengenakan piyamaku dan mengambil buku dari atas meja riasku. Aku menghabiskan malam dengan membaca hingga ketiduran.
Saat aku kembali membuka mataku di pagi hari, aku sedikit lega karena aku bangun tepat sebelum alarm berbunyi. Aku segera memeriksa alarmku dan memastikan jika dia tidak merubah di angka yang salah. Karena jika aku teledor dan alarm berbunyi di saat yang tidak tepat pasti mama akan mendatangiku dan akan memarahiku.
Suasana rumah masih tampak gelap saat aku selesai mandi. Aku memutuskan untuk keluar rumah lebih awal karena jika hanya berdiam diri di rumah dengan adanya mama dan Gio hal itu benar-benar membuatku merasa tidak nyaman. Sebenarnya alasanku keluar lebih awal adalah agar aku tidak terkena amukan di pagi hari.
Aku hanya mengenakan kaos dan kulot serta sepatu kets yang jarang aku kenakan. Aku juga membawa roti dan air putih untuk menu makan siang hari ini. Tidak lupa membawa buku geografi dan buku gambar untuk menyelesaikan tugas rumah yang diberikan Miss Nisa, serta aku juga harus mulai belajar untuk ulangan minggu depan. Aku sebisa mungkin menyelesaikan semua tugas yang diberikan dengan segera karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku mengerjakannya nanti-nanti.
Saat aku melangkah keluar rumah, aku baru merasa jika ini masih terlalu awal untukku berangkat. Jika aku langsung menuju toko, pastinya belum buka. Aku memutuskan untuk mampir ke kafe langganan. Aku masuk dan memesan kopi seperti biasa, meskipun aku selalu minum kopi tapi aku tidak pernah berada dalam tahap kecanduan. Itu yang aku syukuri sampai sekarang, hanya saja aku sudah mulai kecanduan dengan suasana di Dian cafe. Tempat di mana semua orang terlihat akrab dan ceria. Tempat ini juga memiliki karakteristik suasana yang hangat dan nyaman.
Aku melirik ke sekeliling ruangan dan sepertinya Pak Aidan juga sepemikiran denganku dengan segelas kopi di depannya. Kelihatannya dia akan mulai berlari pagi karena kini dia hanya mengenakan kaos dan celana pendek dipadu dengan sepatu larinya. Tampilannya terlihat berbeda dan tampak segar.
"Mau olahraga?" tanyaku, saat aku berdiri tepat di sampingnya.
Pak Aidan terlonjak kaget, dia bahkan sampai menjatuhkan koran yang sedang dia baca.
__ADS_1
"Aretta! Bikin kaget," geramnya, kemudian tersenyum ramah, "kayaknya nggak jadi. Hari ini terlalu indah kalau dipakai buat olahraga," ucapnya, sambil menunjuk ke luar jendela di mana matahari sudah bersinar dengan indah.
"Sayang banget padahal," jawabku, kemudian berjalan meninggalkannya untuk ke meja konter dan memesan kopiku. Aku memutuskan untuk duduk di samping Pak Aidan. Rasanya aneh jika aku duduk di tempat lain sedangkan aku mengenal baik pria ini.
"Kenapa sayang banget?" tanyanya.
"Lari kan membakar kalori, menambah semangat di saat bersamaan karena menghasilkan hormon endorfin sebagai pemicu kebahagiaan," jelasku. Entah sejak kapan aku mulai berbincang santai dengan dia. Pria ini baik dan juga good looking disaat yang sama.
"Oke oke! Aku bakal lari! Tapi nggak sekarang karena kita harus bekerja satu jam lebih awal."
"Lho waktunya maju ya? Bukannya jam 09.00? Terus kamu juga bakalan ikut kerja sama aku?" tanyaku beruntun.
"Ehm... Nggak gitu. Soalnya Oma Dewi bilang, beliau nggak bakal minta tolong lagi sama cucunya. Lagian aku juga udah ngerti gimana cara kerjanya."
Sejujurnya pasti akan terasa canggung jika bekerja dengan Pak Aidan di sana. Tapi aku tidak benar-benar menolak bantuan yang akan dia berikan.
"Oma bilang aku harus temenin kamu. Seperti yang kamu tahu hari Sabtu dan Minggu adalah puncaknya toko ramai karena toko buku itu adalah satu-satunya toko terlengkap di sini," kata Pak Aidan, "sebenarnya hari ini bakal ada buku yang datang makanya bukannya lebih awal. Tadi niatnya cuma aku yang bakal bantu beresin tapi karena kamu udah ada di sini Kenapa nggak langsung ke toko aja kan."
__ADS_1
Aku mengangguk mengiyakan.
Aku dan Pak Aidan melanjutkan obrolan kami, kali ini dia banyak membahas tentang tempat-tempat pariwisata yang wajib dikunjungi. Dia juga banyak memberi rekomendasi resto dan warung makan enak di sini, kecuali warung makan di pojok jalan yang membuat dia keracunan karena menggunakan bahan yang sudah kadaluarsa. Serta masih banyak tempat-tempat yang direkomendasikan lagi yang sepertinya tidak mungkin untuk aku datangi satu persatu.
Obrolan kami berjalan cukup lancar sampai kami hampir terbuai. Aku melirik jam tanganku, tersisa 10 menit lagi dan aku memaksa Pak Aidan untuk segera berjalan menuju toko.
Kami berjalan beriringan dan ketika sampai di toko kami melihat Oma Dewi yang sudah duduk di konter sambil membaca buku. Saat aku dan Pak Aidan masuk dia langsung meletakkan bukunya dan menoleh ke arah kami dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Kalian kok bisa datang bareng? Apa kalian saling kenal?"
Pak Aidan memberi kecupan singkat di pipi Omanya sebelum menjawab, "Aretta ini muridnya Aidan di sekolah Oma," jelasnya.
Oma Dewi mengangguk sambil memberikan senyum yang mencurigakan. Dia terlihat tidak percaya dengan apa yang cucunya katakan. Setelahnya dia seperti menelitiku sambil tersenyum penuh arti.
"Karena kalian udah sampai Oma bakal langsung aja. Buku yang baru datang udah ditaruh di gudang. Ada stok novel dan beberapa buku pengetahuan. Jangan lupa nanti disusun di rak ya. Oma mau arisan dulu habis itu istirahat di rumah," ucap Oma Dewi sambil mencari tasnya.
"Iya. Oma nggak usah khawatir. Hari ini ada yang ngantar kan?" Pak Aidan bertanya sebelum omanya keluar dari toko.
__ADS_1
"Ada."
Begitu Oma Dewi pergi, pelanggan pertama pun datang. Pak Aidan memintaku untuk berjaga di konter dan dia memilih untuk membantu pelanggan mencari buku dan kemudian membawakan buku-buku itu untuk dibayar di tempatku. Selama beberapa jam tugas kami hanya melayani pelanggan dan menerima pembayaran. Benar apa yang dikatakannya tadi weekend adalah waktu tersibuk di toko ini. Untung saja tadi aku tidak bersikap bodoh dan menolak bantuan darinya. Jika itu terjadi bukankah aku yang akan kewalahan hari ini.