
Malam semakin larut dan para tamu satu-persatu bergerak pergi. Tapi aku tidak melakukan itu. Aku untuk pulang dan memilih tetap berjaga di sini. Gio Telah menelpon polisi dan dia juga berkali-kali memaksa untuk pulang. Pria itu berusaha mati-matian memintaku pulang karena menurutnya keberadaanku di sini juga tidak serta-merta bisa membuat adiknya kembali.
Sikapnya yang seperti itu semakin membuatku kekeh untuk tetap di sini. Aku ingin tahu kapan Polisi datang dan bagaimana cara mereka menyelesaikan kasus ini.
"Kalau dalam waktu 5 menit lagi mereka belum sampai di sini. Gue sendiri yang bakal keluar buat nyari Aretta!"
Aku masih terus mondar-mandir di depan Gio dan Ana yang saling berpelukan. Ana bahkan sudah menangis. Wanita itu tampak ketakutan dan mengkhawatirkan keadaan Aretta.
Bayangan tentang kejadian tadi melintas di kepalaku. B******* macam apa yang berani melakukan hal itu? Kenapa harus Arreta? Banyak orang yang datang di acara grand opening tadi dan kenapa harus gadis yang aku cintai yang terdampak kasus.
Aku masih terus menatap jam. Menunggu dengan pasti kedatangan polisi yang bahkan sampai saat ini belum terdengar suara sirinenya. 5 menit kemudian dua orang polisi berseragam memasuki toko dengan wajah sedikit kusut.
"Kami datang karena mendapat laporan adanya kasus penculikan. Apakah benar?" Mereka bertanya dengan ragu-ragu. Aku yang tidak ingin membuang waktu lagi langsung menjelaskan setiap detail dari kejadian yang aku lihat tadi. Tentang plat nomor, tentang bagaimana si penculik yang memukul Aretta di bagian lehernya, juga kejadian malam itu tanpa terkecuali.
Setelah mencatat semua detail-detail cerita yang keluar dari mulutku, mereka pergi dan berjanji akan menelpon kami keesokan paginya. Gio menawarkan diri untuk membuatkanku minuman hangat, tapi bukan itu yang aku butuhkan sekarang. Aku memberitahu mereka kalau aku akan berjalan-jalan keluar. Aku tidak bisa hanya duduk diam di sini saat Aretta berada dalam bahaya. Dan lagi pria yang aku lihat itu sangat besar. Gadis itu tidak mungkin sanggup melawan sendiri.
Aku berkeliaran di sekitar lingkungan yang sekiranya tadi dilewati Aretta. Mulai dari toko dan berjalan menuju parkiran dimana mobil berplat B2402UI diparkir. Aku menyusuri sepanjang jalan hingga cahaya matahari mulai terbit di ufuk timur. Hariku akan berubah menjadi cerah, andai aku bisa menemukan Aretta lebih cepat.
Saat aku berhasil menemukannya, aku berjanji akan membawanya pergi ke pantai dan menikmati sunset dan sunrise bersama. Kami berdua akan duduk di atas kain pantai sambil menikmati ombak dan air pasang yang mendekat. Setelah itu kami akan bermain air bersama sambil berkejar-kejaran dengan tawa yang berderai.
Aku mengistirahatkan diri di bangku yang terdapat, berusaha menghentikan air mata yang hampir saja mengalir.
__ADS_1
"Suntuk banget muka lo. Ada masalah?" Aku menoleh dan menemukan Dewa berdiri di sampingku.
"Cuma sedikit masalah," jawabku tanpa tenaga.
Dia terkekeh pelan, "Sama kayak gue. Gue harap masalah lo cepat selesai. Kalau gitu gue duluan, mau cari sarapan buat pacar baru gue."
Sesungguhnya aku tidak peduli dengan apa yang terjadi padanya. Terlebih kisah cintanya. Tapi aku tetap mengangguk dan tersenyum sebagai sopan santun belaka. Aku melihat Dewa berjalan ke toko sambil menggosok bagian belakang lehernya. Langkahnya tampak kaku.
Aku memutuskan untuk kembali ke toko. Tidak ketika Aretta belum ditemukan. Toko adalah tempat pertama kali dia datangi dan aku harus berada di sana untuk menyaksikan bahwa dia baik-baik saja.
Sebuah suara berdebum membuatku menoleh. Aku berbalik dan menemukan Dewa sedang berjuang mengangkat sekotak jus yang dia jatuhkan di trotoar. Dari kejauhan tingkahnya sangat lucu melihat seorang pria yang berjuang membawa belanjaan Di kondisi lehernya yang terluka. Jika saja moodku sedang baik, sudah dipastikan aku akan tertawa bahkan aku akan lari ke sana untuk menolongnya.
Aku masih melihatnya dari kejauhan. Dewa berjalan menuju mobilnya yang jaraknya teramat jauh dari tempatku berdiri.
Untuk sesaat suara di sekitarku tidak terdengar. Bahkan aku sampai harus mengedipkan mata berkali-kali untuk memastikan apa yang aku lihat. Rasanya amat mustahil dan sulit untuk dipercaya. Tulisannya sangat samar, jadi aku menggumam pada diriku sendiri jika apa yang aku lihat adalah salah. Aku tahu sosok Dewa adalah manusia yang mampu melakukan hal buruk untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dan tadi dia juga membicarakan soal pacar baru. Namun bukan berarti dia berani melakukan hal bejat itu pada muridnya sendiri.
Sampai sejauh ini banyak yang tidak tahu tentang kelompok yang dia ikuti. Akhir-akhir ini aku juga tidak pernah lagi mendengar dia cuti untuk pergi ke luar kota atau kabar tentang dia yang mengintai ke tempat-tempat aneh. Pria itu kini tampak seperti memiliki hobi baru.
Aku mengabaikan soal Dewa dan kembali menyusuri jalan hingga tubuhku membawa ragaku kembali ke toko. Aku menatap sekeliling dan mencoba mengingat kembali setiap detail kejadian yang terjadi malam itu. Aku sangat mendesak otakku untuk mengingat bentuk bahu dan suara umpatan kasar yang dikeluarkan pria itu saat dia memukul Arreta.
Tapi yang aku lakukan sama sekali tidak menghasilkan apapun. Karena selain pikiranku yang kacau aku juga kurang tidur. Aku mendoakan kepalaku ke langit sambil menikmati kehangatan matahari yang menyinari dunia.
__ADS_1
Sebenarnya kamu ada di mana Arreta?
Aku melangkah memasuki toko dan hampir menabrak seseorang.
"Sorry," gumamku dan segera menundukkan kepala berkali-kali. Toko hari ini sangat tampak penuh. Bahkan ditengah kekacauan ini, Gio tetap bersikap profesional dengan berdiri di balik konter untuk menerima pesanan.
"Lo ngapain, sih?" tuntuku murka, hampir sudah terdengar seperti amukan. Awalnya dia tanpa sangat khawatir, tapi begitu dia melihat lingkaran pada di bawah mataku dan bagaimana terkulainyabahuku, Gio menjadi simpatik.
"Kita nggak mungkin tutup buat sekarang, yang ada bisnis kita yang bakalan mati. Mending lo naik ke atas, habis itu mandi. Lo berantakan banget."
Aku menghela napas pelan. Benar apa yang dia katakan. Jika Aretta kembali dan dia masuk melalui pintu, saat melihatku yang bentuknya seperti ini, ku ragu dia mau mendekatiku. Aku mengikuti intruksi dari Gio dan berjalan dengan susah payah menaiki tangga untuk menuju tempat tinggal mereka.
Namun tampaknya keputusanku untuk masuk ke kawasan mereka adalah pilihan yang salah. Karena aku bisa melihat jejak Aretta di mana-mana. Aroma sampo yang dia gunakan, hoodie favoritnya yang dia letakkan di pinggiran sofa, serta kamar tidur yang pintunya tidak tertutup. Semuanya mengingatkanku kepada gadis itu.
Aku mencoba bergerak dan mengabaikan semua khayalan itu. Membiarkan penyesalan mengisi rongga dadaku. Hanya dengan begitu akhirnya aku berhasil masuk ke kamar mandi tanpa sekalipun melirik ke kamar tidurnya.
Aku mandi dengan cepat dan memutuskan untuk mengenakan pakaian Gio yang ada di tumpukan baju kering.
Uap panas ikut keluar dari ke kamar mandi begitu aku membuka pintu. Untuk sesaat aku membiarkan kabut itu menghilang dan setelahnya aku bisa langsung melihat kamar tidur milik Aretta yang aku hindari. Aku tidak bisa mengabaikan lagi dan perlahan melangkah menuju tempat itu. Aku membaringkan tubuhku di sanaan tenggelam dalam selimut dan bantalnya. Aku juga masih bisa mencium aroma miliknya yang tertinggal di bantal ketika aku membaringkan tubuhku.
Setetes air mata meluncur di pipiku dan menghilang di sarung bantalnya ketika dia mendarat. Kesedihan akibat kehilangan Aretta menjadi pukulan terbesar.
__ADS_1
Kamu di mana Aretta?