
"Lo udah ketemu Papa?" tanyaku padanya. Dia menganggukan kepala dan merenggut setelahnya.
"Udah. Kayaknya ou harus tahu soal ini. Gue ketemu Papa di rumahnya dan lo tau apa, rumah Papa besar banget." Aku menatapnya tidak percaya.
"Yang bener lo. Terus Papa bilang apa?" Gio tampak menghela nafas berat. Dia terlihat tidak nyaman dengan topik yang membahas soal Papa.
"Papa minta maaf. Papa juga nawarin mau kasih uang buat kita dan yang paling penting dia juga minta tolong sama gue supaya gue bisa memastikan kalau lo baik-baik aja. Tapi kemarin Papa ngungkit sesuatu."
"Apaan?" tanyaku. Entah kenapa sekarang rasa ingin tahu sudah mulai merasuki diriku.
"Papa mau bantu bayar buat uang pindahan kita." Gio tampak marah ketika mengatakan itu. Memang sih keterlaluan seolah semua tanggung jawab yang Papa lalaikan dapat terbayar dengan uang, tapi aku tidak mempermasalahkan soal itu.
"Kayaknya kita terima aja deh tawaran dari Papa. Lagian dia yang ninggalin kita dan sekarang kita emang lagi butuh uang. Terus yang paling penting, dia jelas punya uang. Jadi kalau kita beneran bakal dikasih kita jadi nggak perlu pinjam uang di bank," saranku dan itu berhasil membuat Gio kembali berpikir.
"Bener juga apa yang lo bilang. Gue nggak mau dia ada di hidup kita tapi pertemuan sebulan sekali nggak masalah buat gue. Menurut gue kita udah terlalu terbiasa hidup tanpa papa dan lagi gue juga optimis kalau gue bisa jaga lo tanpa dia." Aku mencibir ketika dia mungkin soal dia yang ingin menjagaku, tapi Gio hanya terkekeh.
"Kalau gitu ayo kita beli rumah. Terus deketin papa dan tunggu sampai dia mau bayarin." Dia tersenyum jahat khas Gio sekali.
__ADS_1
Aku dan dia kembali mencari-cari rumah karena sudah mendapat bantuan finansial yang menggiurkan.
"Gue dapat," seruku sambil menunjuk ke tempat yang aku maksud, "di daerah pertokoan bersebrangan dengan apartemen. Di sekitarnya ada dua toko yang udah ramai. Terus di sini tertulis dijual cepat. Bisa ditawar asal harga masuk akal," bacaku dan berhasil membuat tatapan Gio berbinar. Ternyata ini toko yang ada di sebelah toko buku, bukankah ini bentuk investasi yang menguntungkan. Aku bisa lebih memperbesar kafe dengan dua bangunan yang sudah kami miliki dan pastinya nanti hasil dari usaha akan tetap aku bagi dua dengan Oma. Peluang untuk bisnis ini menjadi semakin maju akan lebih besar dan aku yang akan membuat semua itu menjadi kenyataan.
Saat itu juga aku langsung menjelaskan rencana yang dibuat Oma Dewi untukku dan Gio semakin bersemangat untuk membeli tempat itu.
***
Butuh waktu seminggu bagi Gio untuk bertemu dengan pemilik rumah. Jika saja aku tidak memberikannya banyak omelan, sudah pasti rencana untuk bertemu dengan pemilik gedung akan kembali mundur. Gio beralasan jika dia sibuk dan sulit mengatur waktu, tapi aku tahu itu hanya alasan dia saja.
Sementara aku, aku sendiri juga sudah kembali ke kegiatanku. Bersekolah, bekerja, berlari, dan mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak ada yang berubah hanya saja hubunganku dengan Aidan tidak berjalan baik seperti sebelumnya. Sejak kami berciuman dia benar-benar menjaga jarak denganku, bahkan dia juga sampai berubah ke mode guru-murid.
Sangat menyebalkan untuk diingat kembali, apalagi dia sendiri yang sudah berjanji untuk selalu berada di sisiku, tapi karena tingkah bodohnya, dia malah mengabaikanku.
Aku sedang berada di kelas Geografi, kelas yang diampu Aidan pada hari Rabu. Karena situasi kami yang sedang tidak baik, aku bahkan sangat enggan untuk memperhatikan dia ketika dia mengajar. Rafa yang duduk di sebelahku tampaknya menyadari jika kami berdua sedang perang dingin. Gadis itu mencolekku dan berbisik
"Woi, Aretta," bisiknya. Aku menoleh ke arahnya sambil menaikkan salah satu alisnya tanda bertanya, "lo baik-baik aja?" tanyanya dan aku mengangguk pasti sebagai jawaban.
__ADS_1
Aku benci melihat seseorang yang terluka hanya karena hubungannya tidak berjalan baik dengan pria yang disukainya dan aku tidak mau menjadi sosok yang seperti itu. Lagipula dia itu memang hanya guruku dan di sini sepertinya hanya aku sendiri yang menganggap hubungan kami itu lebih.
Aku sudah bertekad untuk tidak mempedulikan Aidan dan memutuskan untuk mendengarkan penjelasannya. Aidan hari ini berpakaian lebih rapi dan lebih wangi dibandingkan hari sebelumya. Aku tidak tahu apa pemicunya, mungkin pria itu sedang PDKT dengan seseorang dan aku akan mencoba untuk tidak peduli.
Aidan menerangkan, dia juga melihat ke sekeliling ruangan tapi ketika pandangannya bertemu dengan mataku, dia melengos. Apa yang dia lakukan itu benar-benar memancing amarahku.
Padahal aku sempat merasa bersalah meski bukan aku yang memberinya ide untuk berciuman tapi melihat aksinya yang menyebalkan itu, semua rasa bersalahku langsung menguap begitu saja.
"Gue bakal nemuin lo pas makan siang," kataku pada Rafa. Gadis itu mengangguk sambil menatapku dan Aidan secara bergantian.
Semua murid langsung pergi meninggalkan kelas dan hanya tinggal aku bersama Aidan. Pria itu sedang menghapus papan tulis dan pasti dia sadar jika aku masih berada di sini.
"Kamu kenapa, sih?" todongku. Aku tidak mau mengambil spekulasi sendiri dan lebih memilih untuk meminta penjelasan secara langsung kepada orang yang bersangkutan.
"Mendingan kamu makan siang dulu. Ini udah jam istirahat," katanya dingin masih sibuk menghapus papan tuli tanpa mau menatapku.
Sumbu kesabaran milikku sudah habis dan aku benar-benar tidak bisa bersabar lagi, "Kalau begitu maaf Pak karena sudah berani menyita waktu Bapak," kataku lalu melipir pergi keluar dari ruangan.
__ADS_1
Padahal aku tidak akan meminta dia memperhatikanku seperti dulu, aku hanya ingin Aidan kembali menjadi temanku yang baik dan ramah. Namun tampaknya hal itu mustahil terjadi karena dia sudah memberi batasan yang luar biasa dalam untuk kami.
Aku memutuskan untuk pergi ke taman belakang. Di sana sudah ada Rafa dan Rendi yang menunggu. Saat aku sampai keduanya sudah sibuk sendiri berbicara dan bercerita. Aku tidak masalah karena melihat orang di sekelilingku bahagia, akupun ikut senang. Hanya saja kenapa mereka tidak berpacaran jika saling menyukai?