
Awalnya aku berpikir aku akan memendam amarahku padanya, tapi melihat dia yang langsung meminta maaf membuat semua dendamku lenyap seketika. Dia mungkin sudah membuatku marah tapi kesalahan yang dia lakukan tidak sefatal itu sampai aku harus menyimpan dendam, lagian dia juga meminta maaf yang berarti masalah kami sudah bisa diselesaikan dengan cepat secara teknis.
Aku kira hari ini aku tidak akan datang ke toko, tapi penyelesaian dokumen ternyata hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa dan Gio dibantu oleh Papa, karena aku tidak diperlukan jadi aku memutuskan untuk pergi bekerja. Untungnya aku datang jadi permintaan maaf darinya bisa aku dengar lebih cepat dan aku senang ketika hubungan kami pada akhirnya bisa membaik kembali.
Memikirkan soal Gio membuatku sedikit tersentuh. Dia sampai menyewa pengacara agar kami bisa keluar dengan aman. Dia benar-benar memastikan semua hal berjalan dengan lancar. Aku masih memiliki beberapa hari tersisa sampai waktu perjanjian yang kubuat dengan diriku sendiri, aku tidak berpikir soal pengacara dan andai tidak ada bantuan dari Gio, sudah dapat dipastikan aku akan mendekam selamanya di tempat itu.
Gio benar-benar menyiapkan segala hal untuk membuka lembaran baru dan melupakan masa lalu. Dan alasan yang membuat dia menjadi seperti itu adalah Ana. Aku harus mengucapkan terima kasih pada wanita itu ketika kami bertemu nanti. Entah kapan.
Hari ini dia membawaku untuk bertemu Ana. Aku gugup, maksudku hubungan kami baru saja membaik dan dia mau mengenalkanku pada pacarnya yang jika dia bertanya aku pasti akan bingunh untuk menjawab. Apalagi jika dia menanyakan soal Gio dan kepribadiannya. Habislah aku.
"Nggak usah gugup, Ana pasti bakalan senang ketemu sama lo," ucapnya ketika dia melihatku menggigiti bibirku. Hal yang selalu aku lakukan ketika gugup.
Aku tersenyum gugup dan mencoba menerima nasihat darinya untuk tidak khawatir.
Aku tidak tahu pasti kemana Gio akan membawaku karena mobil semakin lama semakin menuju ke pinggiran kota. Kemudian jalanan semakin menyempit dan menuju ke perumahan mewah yang hanya pernah aku dengar lewat berita. Aku menatapnya sekilas dan berdecak. Bagaimana bisa pria ini bertemu dengan gadis kalangan atas? Apa karena dia seorang atlet?
Aku masih mengangumi pemandangan yang tidak mungkin kunikmati setiap hari sampai akhirnya mobil berhenti. Rumah tiga lantai bergaya modern dengan taman besar berdiri di depan kami.
__ADS_1
."Gila. Lo beneran mau bawa gue masuk," kataku, tubuhku sudah gemetar karena kecantikan luar biasa yang ditampilkan rumah ini.
"Tenang aja, dalamnya nggak semewah yang lo pikirin kok," kata Gio seolah dia baru saja membaca pikiranku dan mulai menapaki jalan kecil menuju rumah mewah tersebut. Aku mulai mengikutinya dan masih berdecak kagum menyaksikan keindahan luar biasa yang belum pernah aku bayangkan untuk bisa kulihat.
Pagarnya terbuat dari tanaman yang dipangkas rapi, halamannya menggunakan rumput gajah yang tidak ada satupun yang panjang seolah-olah mereka memang sudah diukur satu-persatu agar tingginya sama. Rumah ini tampak seperti rumah yang biasanya digunakan untuk syuting film.
Gio menekan bel ddi dekat pintu yang terbuat dari logam kuningan. Seperti dugaanku ada suara gonggongan anjing yang terdengar dari dalam sana ketika pintu terbuka dari dalam dan kami mulai menaiki tangga.
Sampai di teras aku melihat ada hewan besar berbulu yang berlari, aku pikir itu kuda poni tapi itu adalah seekor anjing dengan lidah yang menjulur keluar dari mulutnya. Ekornya bergoyang-goyang dengan kencang dan dia tampak senang bertemu dengan orang. Aku tersenyum melihatnya karena menurutku anjing itu binatang yang lucu, tidak seperti kucing yang terkesan tampak sombong dan tidak tahu terima kasih.
Aku selalu menginginkan memiliki seekor anjing dan Mama tidak pernah menyetujuinya, yah mungkin dia takut harus memberi makan makhluk hidup yang lain ketika hobi mabuknya lebih menyenangkan.
"Mio! Turun!" Seseorang berteriak dan anjing itu langsung turun dan menundukkan kepalanya. Aku kira dia anjing jantan tapi mendengar namanya, tampaknya dia betina.
"Hallo, kamu pasti yang namanya Aretta. Aku udah banyak dengar cerita tentang kamu." Aku mendongak untuk melihat dan seorang wanita cantik dengan usia yang sepertinya terpaut beberapa tahun di atasku tengah tersenyum hangat. Dia memiliki rambut hitam panjang yang bergelombang. Dia pasti Ana.
Wanita itu mengenakan celana jins dengan kaus rumahan. Dia tidak seperti yang aku bayangkan dan tampaknya dia sedikit kaku karena melihat dari tempatnya tinggal sudah dipastikan banyak larangan yang dibuat untuknya oleh keluarganya.
__ADS_1
"Iya. Aku Aretta, Kakak pasti Kak Ana," jawabku sopan sambil menjulurkan tangan untuk menjabat tangannya.
Anan menatap tanganku dengan kepala yang dimiringkan. Alih-alih membalas tanganku dia malah memelukku. Aku terkekeh pelan dan membalas pelukannya meski tidak nyaman.
"Sayang? Aku datang lho, masa kamu cuma fokus sama Aretta." Gio berkata dan membuatku menghela nafas pelan karena merasa terbantu. Ana langsung melepaskan pelukannya dan kembali memeluk Gio penuh sayang. Aku memperhatikan keduanya karena setelahnya mereka berciuman bibir dengan penuh gairah.
Sejak kapan Gio menjadi sebebas ini? Tidak heran sih karena tidak ada yang mengontrol pria itu. Aku menolehkan kepalaku ke arah lain karena canggung menyaksikan keintiman mereka.
"Ayo masuk," katanya dan membuka lebar pintu rumahnya. Gio langsung berjalan seolah dia pemilik tempat ini dan langsung melepaskan sepatunya di depan pintu. Aku mengikuti mereka yang masih saling merangkul.
Gio duduk di sofa kulit yang tersedia di dalam. Apa yang pria itu katakan memang benar, bagian dalamnya tampak lebih sederhana.
Aku berjalan mengikuti Ana dan duduk di sofa kosong seberang Gio. Dia menyeringai seperti anak kecil ketika melihatku yang terus menatap ruangan ini. Aku merengut karena dia menggodaku.
"Jadi kita mau ngapain?" tanya Ana dan jawaban dari Gio adalah nonton dan makan. Aku tidak tahu apa yang mereka lihat tapi tampaknya itu romcom karena keduanya saling berpelukan di sofa bed. Gosh, aku menjadi nyamuk di tempat ini.
Mereka saling menyentuh dan tertawa, sedangkan aku sendiri melihat keduanya yang saling bermesraan. Jika pada akhirnya akan menjadi seperti ini, aku lebih memilih untuk bertemu Ana di tempat umum. Setidaknya aku tidak tampak mengenaskan karena aku bisa melakukan banyak hal di luaran sana.
__ADS_1
Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur dan aku hanya bisa menatap mereka sambil menggigit jariku.