
Cukup lama aku menangis dan Aidan masih setia menemaniku. Pria itu mengusap air mata yang mengalir di pipiku seraya mengelus lembut kepalaku. Hal yang dulu selalu Papa lakukan untukku. Aku sendiri sampai lupa rasanya.
"Kamu mau cerita ke aku?" bisiknya pelan. Hembusan nafasnya terasa di leherku dan membuatku bergidik.
Nada bicaranya teramat lembut seolah dia takut jika dia salah berbicara hal itu bisa memancing kembali tangisanku. Berkat itu aku merasa terhibur. Belum ada orang yang mengulurkan tangannya untuk menemaniku dan menghiburku, aku berharap jika ini bukan hanya mimpi karena kehadiran Aidan benar-benar membuatku yakin aku bisa melewati semua ini. Lagi.
Aku menggelengkan kepalaku. Apa yang menimpaku bukan hal yang bisa dia tangani dengan mudah dan aku juga tidak mau menariknya masuk ke dalam duniaku yang sangat kacau ini. Aku tipikal orang yang tidak mau merepotkan orang lain, mungkin karena aku sudah terbiasa untuk selalu melakukan apa-apa sendiri.
Aidan masih memelukku dan kali ini durasinya lebih lama. Aku tidak keberatan, hanya saja ini bukan hal yang benar untuk dilakukan. Dia itu guruku. karena aku takut terjatuh ke dalam jurang perasaan yang mungkin akan sulit untuk aku hilangkan, dengan segera aku mendorongnya pelan. Memutuskan dekapannya secara sepihak dan langsung beranjak pergi untuk menuju kamar mandi.
Aku masih mengenakan pakaian yang kupakai tadi pagi dari rumah. Aku sudah jatuh, masuk ke rumah sakit, dan juga berkeringat banyak. Sudah pasti pakaianku bau dan Aidan masih nafsu untuk memelukku? Pria itu aneh.
Aku hanya mencuci wajahku karena tidak mungkin untuk mandi di sini ketika aku tidak membawa baju ganti. setidaknya aku harus tampak fresh meskipun aku sakit.
Keluar dari kamar mandi aku langsung menemukan Aidan yang tengah menyeduh teh. Raut wajah lelah yang terpancar darinya tidak dapat dia sembunyikan. Aku jadi merasa bersalah karena sudah merepotkannya. Harusnya aku bisa menahan diri agar tidak membuatnya ikut kelelahan.
"Kayaknya aku harus pulang," kataku. Aku merasa aku harus memberi batasan yang jelas. Kami harus bersikap seolah hubungan kami hanya sebatas guru dan murid. Tidak boleh lebih dari itu.
"Kamu yakin mau pulang sekarang? Mending kamu nginap di sini. kondisi kamu lagi nggak baik-baik aja." Dia menolak usulan dariku.
Tapi aku tidak mau dia sampai tahu apa yang membuatku seperti ini. Kemarin seharian kami bekerja bersama dan kesalahan fatal pun tidak kami lakukan apalagi jatuh, dengan keadaanku yang tampak aneh tadi dia pasti sudah dapat menerka dari mana luka itu kudapat.
"Iya. Aku mau pulang karena aku nggak mau ganggu kamu."
Aku dapat mendengar dia mendengus pelan sebelum menjawab, "Tapi kamu udah berhasil buat aku selalu kepikiran soal kamu."
__ADS_1
Aku menundukkan kepalaku. Merasa bersalah karena sudah mengganggu waktu luangnya.
"Ayo," ajaknya, sambil memberi isyarat agar aku mengikutinya di belakang. Aku sedikit takut ketika dia membawaku ke dalam kamarnya. Harusnya aku lari, tapi tubuhku berkhianat dan tetap mengikuti Aidan. Dia berjalan menuju lemari pakaian dan mengeluarkan celana dan kemeja lengan panjang untuk dia berikan padaku, "aku nggak bakal antar kamu pulang malam ini. Tanpa kamu cerita aku udah tahu apa yang terjadi dan aku nggak yakin kamu bakal aman malam ini kalau kamu maksain buat pulang..."
Dia benar. Tidak ada yang bisa menjamin jika Mama akan baik-baik saja malam ini. Apalagi jika dia memergokiku berduaan dengan Aidan. Berapa tulang rusuk lagi yang akan patah jika itu terjadi?
Dengan segera aku langsung mengikuti titah yang Aidan beri meski dengan raut wajah yang cemberut.
"Ada handuk di dalam lemari kamar mandi," teriaknya sebelum aku benar-benar menutup pintunya.
Rasanya menyenangkan bisa membilas kotoran dan keringat yang sudah menempel di tubuhku seharian ini. Mungkin tubuhku benar-benar merasakan kesegaran yang sudah aku impikan, tapi tetap saja hal itu tidak bisa menenangkanku. Entah kenapa aku berpikir hal yang sangat buruk akan mendatangiku.
Kenapa bisa aku berpikir seperti itu? Karena aku sedikit merasa tenang, Mama juga tidak terlalu banyak berulah seperti sebelumnya.
Aku menghela nafas pelan sambil menatap pantulan diriku di cermin. Kenapa semuanya malah semakin memburuk, aku kira keadaan akan berubah menjadi lebih baik ketika kami pindah. Memiliki Aidan di sini benar-benar sesuatu yang aku syukuri, karena setidaknya aku bisa menghabiskan malamku dengan tenang.
Setelah menyelesaikan mandi, aku bergegas keluar.
"Kenapa kaosnya bisa kelihatan kecupan?" tanyaku begitu aku menemukannya tengah duduk di sofa.
"Tapi muat kan?"
"Muat kok."
"Itu gara-gara aku lupa kalau aku ngeringin kaos di mesin pengering, karena kelamaan jadinya menyusut. Kaosnya buat kamu aja, lagian aku udah nggak muat pakai itu." Aku mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Kepalaku menoleh ke sekeliling ruangan dan aku menemukan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9.30. Sudah sangat malam ternyata, pantas dia tidak membiarkanku pulang.
Aidan menuntunku ke dapur. Dia mempersilakanku untuk duduk lalu menyodorkan gelas teh yang dia buat sebelumnya ke hadapanku.
"Minum tehnya. Malam ini pasti bakal dingin banget."
"Kamu nggak masukin sesuatu ke dalam tehnya kan?" Aku menyeringai sambil menyesap sedikit tehnya. Aidan ikut tertawa. Dia juga ikutan menyesap teh buatannya.
Aku merasa nyaman dengan keheningan ini. Tidak pernah terpikirkan dalam benakku, bahwa aku akan menginap di rumah guruku dan duduk berdua sambil minum teh. Tapi Aidan bukan cuma guruku, tapi dia.... Temanku? Itu hanya asumsi sepihak dariku, tidak tahu tapi apa yang dia pikirkan tentangku.
"Kamu bisa tidur di kamar tamu. Tahu kan ruangan kemarin yang kita pakai buat copy musik?" katanya, aku mengangguk.
"Seprainya baru aku ganti jadi jangan khawatir kalau aku kasih kamu seprai yang banyak debunya. Oke."
"Terima kasih. Maaf aku ngerepotin." Aku mengatakan itu tulus dari sudut hatiku paling dalam. Dia adalah orang pertama yang mengulurkan tangan untuk membantuku dan aku sangat bersyukur.
Aku belum pernah menemukan orang yang sebaik Aidan. Maksudku, tidak banyak orang yang akan suka rela rumahnya dimasuki orang asing.
"Nggak masalah. Ingat besok sekolah, kalau kamu mau masuk aku bakal bangunin pagi supaya kamu bisa sarapan."
Sekolah?
Entah kenapa kalimat itu langsung menyadarkanku. Menekankan sebuah fakta jika ada garis tebal yang memisahkan kami. Hubungan kami hanya sebatas guru dan murid, jadi tidak salah jika dia bersikap sebaik itu pada muridnya, kan?
Aku langsung berdiri dan keluar dari dapur, sebelum meninggalkan ruangan aku berbalik untuk menatapnya, "Sepamat malam," gumamku dan langsung melangkah pergi menuju kamar tamu.
__ADS_1
"Malam." Dia membalas dan sayup-sayup aku juga mendengar dia mengatakan, "have a nice dream." Entah benar atau tidak, tapi kurasa itu hanya khayalanku saja.
Aku kira akan sulit menutup mata, tapi begitu aku merebahkan tubuhku, mataku langsung mengerjai, kantuk pun datang.