
"Woi Retta." Gio berteriak dari sebrang jalan. Pria itu hanya membuka jendela mobilnya dan memintaku untuk segera masuk ke dalam. Aku langsung bergegas mendatanginya dan langsung masuk. Tapi pria itu yidak kunjung menyalakan mobilnya.
"Kenapa?" tanyanya yang langsung membuatku mengernyit.
"Apa sekelihatan itu ya kalau gue lagi mikirin sesuatu."
"Soalnya lo keliatan kesal dan swring banget naik turunin mata. Khas lo kalau lo lagi mikir." Dia benar. Gio itu sudah memperhatikan tingkahku sejak kemarin dan dia cepat belajar hanya dengan mengamati ekspresi wajahku.
"Nggak ada apa-apa," kataku meyakinkan. Toh, apa yang terjadi batusan jika kuceritakan pada Gio pasti akan mendapat ejekan khas darinya dan aku tidak mau. Dia tampaknya juga menerima jawabanku dan langsung menghidupkan mobilnya agar kami dapat segera pulang. Tidak sampai sepuluh menit kamipun sampai di depan rumah. Dia tidak langsung memasukkan mobilnya ke dalam dan itu membuatku heran.
"Lo tahu kan kalau gue bakal selalu ada dipihak lo. Jadi kalau lo butuh seseorang buat curhat, gue bakal dengarin."
Aku terkekeh dan mengucapkan terima kasih, tapi aku memang tidak apa-apa dan soal Aidan itu tidak mau kuceritakan. Gio hanya bisa menghela nafasnya pasrah dan dia membiarkanku masuk terlebih dahulu.
Aku menghela nafas kasar begitu menemukan kamarku berantakan. Pasti badai menghampiri kamarku ketika aku pergi sekolah tadi dan tengu saja ini perbuatan Mama. Lokerku sudah di luar, baju-bajuku pun sudah berserakan di lantai. Tampaknya dia mencari sesuatu dan perasaanku langsung kacau. Aku takut dia menemukan dana daruratku Aku menoleh dan benar saja kotak rahasiaku dudah terlempar ke bawah. Aku segera membaliknya dan tidak menemukan apa yang aku cari. Aku segera memeriksa di bagian paling atas. Tanganku ku panjangkan agar aku dapat merasakan kotak kecil yang menjadi simpananku, seketika aku dapat bernafas lega ketika merasakan kotak itu masih ada di sana.aku segera menurunkan ya dan memeriksa. Kumpulan kaos kaki itu masih di sana. Di sini sku menyimpan dana paling banyak dan ini adalah tiket paling berharga agar aku dapat keluar dari rumah ini. Aku memeluk kotak itu di dadaku saking senangnya.
Kamarku seperti didatangi perampok dan saat mengetahui uang simpananku aman, aku langsung bergegas merapikannya. Aku juga memeriksa kaos kaki lusuhku yang lain dan di sana juga masih tersimpan dana daruratku dengan aman.
__ADS_1
Beberapa barang rusak, wallpaper yang menghiasi kamarku juga robek. Sangat ironis ketika melihat semua ruangan itu benar-benar hancur. Untungnya planning untuk menjadi Aretta versi baru itu masih tertempel rapi di belakang dashboard tempat tidur. Aksi Mama yang seperti ini malah semakin memotivasiku untuk cepat keluar dari rumah ini. Aku hanya punya waktu kurang dari 10 hari untuk keluar dan jika aku mengabaikan kesempatan ini maka aku harus tinggal di sini di sisa hidupku. Itu adalah janji yang kubuat dengan diriku sendiri.
Butuh waktu 2 jam untukku membereskan kamar ini. Beberapa barang juga harus kusingkirkan karena mereka sudah tidak berguna tapi setelah melihat semuanya kembali rapi, aku merasa lebih baik. Mama tidak tahu saja jika kamar berantakan tidak lagi membuatku merasa terancam.
Aku menarik tasku dan memasukkan barang berharga dan beberapa pakaian yang akan aku bawa pergi. Kemudian aku mendorong tas ini masuk ke bawah tempat tidur, karena jika ingin pergi aku harus bersiap-siap dan aku tidak mau memakan waktu lama ketika harus membereskan barangku. Ini juga mengantisipasi dari awal karena aku tidak tahu apa yang akan mema lakukan saat dia tahu aku akan keluar dari rumah ini.
Setelah selesai dengan kamar aku segera mandi dan mengerjakan PR, kemudian bersiap tidur setelah menyelesaikan semuanya. Aku tidak dapat menutup mataku lebih cepat seperti sebelum-sebelumnya karena aku masih memikirkan soal Aidan tadi. Aku benci mengakui Jika dia meninggalkan efek sedahsyat itu padaku. Kadang sempat terbesit dalam pikiranku jika aku hanyalah objek bulan-bulanan yang membantu mereka mencapai kesenangan. Seperti yang dilakukan Aidan dan Pak Dewa.
***
Untuk mewujudkan rencanaku, hal yang harus aku lakukan pertama kali adalah mencari tempat untuk tinggal. Karena aku tidak memiliki laptop atau komputer jadi aku harus mencari secara manual lewat koran.
Mama keluar dari dapur dan dia tepat berjalan melewatiku. Untungnya dia tidak tahu jika aku sedang bersembunyi di balik pintu. Mama menaiki tangga menuju lantai atas dan suara langkahnya membuat tangga berderit.
Setelah tidak terdengar suara dan tidak terlihat wujud mama aku langsung mengolah nafas pelan dan bergegas keluar dari tempat persembunyianku.
Aku bergerak cepat ke dapur untuk mencari koran dan aku menemukan koran hari ini tertumpuk di dekat tumpukan piring kotor. Aku segera mengambilnya dan menyelipkan koran tersebut di bawah lenganku. Sebelum pergi aku memutuskan untuk mencuci piring terlebih dahulu karena setidaknya kerjaanku hari ini bisa berkurang.
__ADS_1
Aku kembali berjalan dengan hati-hati ketika menaiki tangga. Aku masuk ke dalam kamarku dan duduk di tempat tidur dengan kaki yang terselip di bawahku. Aku sedang mencari-cari informasi tentang rumah yang bisa disewa atau dibeli. Mau seburuk atau sekotor apapun tempat itu tidak masalah buatku karena aku bisa mengatasinya. Hanya saja aku berharap tempat yang aku minati nanti tidak terlalu mahal karena meski aku memiliki dana darurat aku tidak yakin apa itu bisa cukup.
Kegiatanku terintrupsi oleh Gio yang mendobrak kamarku dan melemparkan dirinya ke atas kasur. Dan tingkahnya itu berhasil mengejutkanku.
"Lagi ngapain lo?" tanyanya dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dia juga mengintip orang yang ada di pangkuan, "bentar! Jangan bilang lu lagi cari tempat buat pindah?" Dia tiba-tiba menjadi sangat antusias dan bergerak untuk melihat. Apa yang dilakukannya berhasil membuatku terkikik.
"Iya karena kita harus cepat buat pindahan."
Dia mau makan tangannya ke udara sambil berteriak yass. Namun dia tetap menjaga intonasi suaranya agar tidak mengganggu Mama.
"Lu udah nemu di mana aja?" Dia kembali bertanya. Aku menunjukkan beberapa tempat yang menurutku layak tapi mendapat penolakan langsung dari dia.
"Kita sewa buat 3 orang Aretta. Buat lo, gue, sama Ana. Jadi mending langsung pilih yang bagusan dan besar. Tapi kalau lu maunya beli Gue bakal ambil pinjaman lo tahu kan gue udah lebih dari 23 tahun. Terus Papanya Ana pasti juga mau bantu karena dia orang kaya."
Aku menatapnya ragu, "Lo yakin cara kayak gitu bakal berhasil?" Dia hanya mengedipkan bahunya lalu tertawa.
"Mungkin. Sini biar gue lihat. Kita harus cari tempat yang bisa digunakan juga sebagai investasi. Gue butuh masukan dari lo." Aku mengangguk dan mulai mencari lagi, "ini gimana?" tunjuk Gio dan aku segera menyerahkan kertas itu padanya. Menyimpan sisa koran yang lain untuk aku lihat sendiri.
__ADS_1
Kami kembali fokus pada koran kami masing-masing. Meski sulit tapi kami berdua tidak menyerah karena bayang-bayang jika kami bisa terbebas sudah menjadi motivasi paling luar biasa. Dan dan lagi aku juga sudah percaya sepenuhnya pada Gio karena dia berhasil menepati janjinya.