
Aku sudah bersiap sesuai apa yang dikatakan Davin. Pria itu telah mengajari kami tentang pentingnya membuat kesan.
Aku mengenakan dress model sabrina berwarna baby blue dengan panjang sebetis. Dress itu tidak terlalu terbuka dan aku sangat menyukainya. Aku memasangkannya dengan sepatu converse agar gerakanku lebih luwes. Rambutku juga kugerai agar penampilanku hari ini tampak berbeda.
Memar yang kudapat dari Mama hampir sepenuhnya hilang. Hanya tersisa bercak kuning di daerah perutku dan bawah mata yang sudah tertutupi oleh make up. Aku pikir, aku terlalu berusaha keras hanya untuk ini, tapi aku mengesampikan keraguanku dan tetap memutuskan untuk mengenakan apa yang sudah aku persiapkan.
Aku menatap penampilanku sekali lagi di cermin panjang. Aku mengangguk menikmati hasil karyaku, tidak berlebih dan aku puas. Aku sudah akan keluar karena berpikir aku juga harus menyambut para tamu-tamu kami. Di luar dugaan, mereka ternyata sudah mulai berdatangan. Kami memang hanya mengundang penduduk setempat dan pemilik bisnis di daerah ini untuk acara pembukaan hari ini. Meski begitu, harapan Davin teramat besar. Dia ingin banyak lagi yang datang karena itu juga termasuk marketing.
Begitu keluar, aku langsung disambut dengan suara musik jazz yang lembut. Suara itu berkeliaran di benakku saat terputar. Aku memasuki toko dan banyak kepala yang langsung menoleh ke arahku. Mereka tampak sedikit mengernyit dan kurasa bukan kedatanganku yang mereka harapkan. Aku tersenyum sebafai bentuk sopan santun dan langsung berjalan lebuh dekat ke temoat acara.
"Aretta!" Aku mendengar seseirang memanggilku dari sebelah kiriku. Aku menoleh, dan orang itu langung memelukku. Aroma parfum langsung memenuhi hidungku begitu dia berhasil menjangkauku, "kamu cantik banget malam ink." Oma Dewi terisak begitu melepaskan pelukan kami. Untuk seseorang yang sudah sepuh, pelukan Oma bisa dibilang sangat bertenaga. Wanita tua itu menatapku dari atas ke bawah sebelum melihat dari balik bahuku jika cucunyavtengah memandangku.
"Aretta cantik, kan?" Oma bertanya yang langsung membuatku menoleh ke belakang. Aidan tergagap dan dia masih bisa mencuri-curi pandnag ke arahku.
"Ah..."
"Aretta cantik, kan?" Oma bertanya lagi dengan nada tegas.
__ADS_1
"Iya," hingga membuat Aidan maengakui. Dia melihat ke arah langit-langit ruangan selesau menjawab. Aku dapat melihat wajahnya yang memerah karena ditegur oleh Oma. Sedangkan Oma, dia tampak tersenyum puas seraya memelukku lagi.
"Terima kasih, Aretta." Oma berbisik lembut di telingaku, "kamu berhasil buat wujudin impian kami," ucapnya masih sambil memelukku.
Air mataku mengalir dan itu membuat tenggorokanku tercekat ketika Oma juga menjadi sentimental. Dia banyak berterima kasih atas perubahan yang luar biasa pada toko ini. Aku sendiri tidak bisa mengucapkan kata-kata, yang aku lakukan gabya memvalas pelukannya.
"Sama-sama, Oma," hanya itu balasan yang bisa aku ucapkan, "ini semua hasil tangan kami, jadi Oma jangan berterima kasih sama aku aja." Aku memberi isyarat agar Oma menatap sekeliling ruangan. Aku menunjukan betapa lyar biasanya bangunan itu karena kerja keras kami. Aku juga melirik ke arah semua orang yang bersangkutan dan melayangkan senyum peda mereka.
Oma awalnya terkejut, mungkin dia tidak tahu dan Aidan juga, mungkin belum sempat bercerita. Wanita tua itu menunduk pelan dan mengucapkan terima kasih kepada kami. Andai dia tahu yang sebenarnya, Oma pasti tidak akan bersikap seperti itu.
Selain karena ini permintaan Oma, tempat ini juga sebagai wujud memulainya kehidupan baruku dan Gio.
Aidan mengantar Oma keluar. Dia tidak akan pulang lebih awal karena Oma sudah memiliki supir sendiri.
"Acaranya sukses," suara Gio mengintrupsi dan aku langsung menoleh. Pria itu sudah mengambil gelas yang lain lagi setelah beberapa saat yang lalu meminum cola, "gue pingin ngajak lo tos, tapi kayaknya bukan waktu yang tepat." Dia menyesap lagi dengan wajah serius sambil bertingkah bak seorang pria dewasa.
Dari arah lain, Davin datang untuk bergabung, tapi sampai di depan kami, dia segera berbalik ke arahku.
__ADS_1
"Gue mau minta maaf soal itu, Aretta. Gue menyesal karena udah kasih tahu abang lo soal lo sama Aidan."
Aku menatap pria itu yang tengah menunduk. Pria yang biasanya tampak sangat ceria, malah bersikap seperti anak kecil yang tertangkap basah membocorkan rahasia pada tetangga. Aku terkikik pelan, "Nggak pa-pa. Kalau lo nggak bilang, dia nggak mungkin maki-maki Aidan kemarin," ucapku sambil melirik Gio. Pria itu malah tampak santai, menyesap minumnya tanpa merasa bersalah. Aku mengabaikan ekspresi Gio dan beralih menatap Davin lagi, "harusnya gue bilang terima kasih ke lo, karena lo itu jadi ujian buat gue sama dia." Aku berbicara sambil berpikir.
Davin sendiri segera menatapku tidak percaya.
Aku mengedikkan bahu dan memutar tubuhku untuk pergi, tapi ketika aku berputar aku langsung berhadapan dengan Aidan. Mata cokelat miliknya itu menatap tajam padaku.
"Gue perlu bicara sama lo." Dia bergumam dan meraih lenganku dengan paksa. Aidan juga menyeretku ke salah satu sudut ruangan di area rak buku. Kemudian dia memintaku duduk di sofa kecil yang ada di sevelahnya dengan dia yang masih menatapku.
"Aretta, aku minta maaf karena seminggu ini aku udah bersikap nggak baik ke kamu. Jujur, aku masih kecewa sama keputusan kamu, tapi ternyata aku nggak bisa diam-diaman terus sama kamu. Kamu mau nggak anggap aku teman kamu lagi? Aku dengar pecakapan kalian tadi, emang harusnya aku nggak bersikap kayak gitu ke kamu." Dia berkata dengan penuh permohonan sambil mengusap kasar wajahnya.
Raut putus asa yang hanya aku bisa dari jauh, kini terpampang nyata di depan wajahku. Ekspresinya juga tampak menyesal, tapi ada pertanyaan yang tertinggal di benakku. Apa dia menyesal dengan semua yang sudah terjadi? Atau apakah dia menyesal karena apa yang sudah dia lakukan? Aku tidak yakin yang mana dari kedua pertanyaan itu yang tengah menggambarkan situasi Aidan.
Tapi kembali menjadi teman? Bahkan kata itu saja berhasil mengejutkanku. Padahal yang aku inginkan adalah status yang lebih dari seorang teman. Tapi apa daya, aku juga tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya.
"Apa kamu suka sama aku? Lebih dari rasa suka ke seorang teman?"
__ADS_1
Entah keberanian dari mana, hingga akhirnya aku berani bertanya. Dan yang aku dapatkan adalah ekspresi khawatir yang ditunjukan Aidan.