
"Kamu ternyata berhasil bertahan sampai sekarang. Berarti kamu emang suka lari ya?" tanyaku. Aku memutuskan untuk tidak akan membahas soal yang terjadi barusan. Menunggu dia bercerita merupakan pilihan terbaik menurutku.
"Biasanya sih pakai treadmill karena jadwal yang super sibuk. Tapi sebenarnya aku lebih suka lari di luar ruangan karena udaranya lebih segar." Pak Aidan menjawab dengan nafas yang terputus-putus.
Aku mengangguk paham dan dengan berani mengambil earphone miliknya dan mengaitkan di telingaku sendiri. Aku ingin tahu jenis musik apa yang didengar oleh pria ini. Suara musik dan gitar yang akrab mengalun di telingaku.
"Ini musik apa? Familiar, tapi aku nggak tahu persisnya," tanyaku padanya.
"The Luminers. Lagu-lagunya bagus, aku sering banget dengarin musik mereka kalau senggang."
Aku mencatat nama yang dia sebutkan. Jika ada kesempatan aku harus mencaritahu lebih banyak tentang mereka dan juga tentang musik tersebut. Sepertinya aku belum terlalu tahu banyak tentang musik dan akan kupastikan lagu mereka akan masuk ke dalam daftar list track yang harus aku dengar, "kamu sendiri lagi dengarin lagu apa?" Dia balas bertanya sambil menarik earphone milikku.
"Cuma John Mayer. Lagunya bagu-bagus, lagian aku nggak bisa sering search soal musik jadi aku cuma dengar apa yang menurutku bagus."
Aku memang seperti itu. Ponsel milikku yang tidak memiliki fasilitas internet memaksaku hanya mendengar lagu-lagu yang keluar dari beranda YouTube. Karena biaya di warnet sangat membebankan, jadi aku tidak begitu pemilih.
"Kalau gitu mau aku rekomendasikan musik yang d bagus nggak? Ntar aku copy ke memori card punya kamu."
"Boleh!" jawabku cepat dan antusias. Dia terkekeh pelan. Aku sekarang merasa jika kami sudah melewati batas antara guru dan murid. Saat ini kami sudah berada di tahap pertemanan.
Pak Aidan mulai mengayunkan ayunan yang dia naiki. Semakin lama ayunanya semakin cepat dan itu membuatnya terbang semakin tinggi. Aku mulai ikut mengayunkan ayunanku. Angin dingin mengenai kulitku dan menerbangkan rambutku yang terkuncir kuda
"Main ayunan kayak gini, buat aku merasa bebas," teriaknya. Suaranya sedikit menghilang karena hembusan angin yang membawanya, tapi aku masih dapat mendengar sedikit-sedikit kalimat yang dia ucapkan. Pak Aidan terlihat bebas dan sangat menyukai kegiatannya kali ini.
"Nanti mampir ke rumah dulu berarti ya!," ucapnya setelah menyelesaikan permainan.
__ADS_1
Aku menatapnya sejenak. Dia seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan dan kemudian langsung berbicara.
"Rumahku cuma satu blok dari rumah kamu. Kita bisa copy sekalian jalan pulang habis itu aku antar lagi ke rumah kamu."
Aku memang mempercayai pria ini, tapi jika harus pergi ke rumahnya... Apakah harus? Jika itu Pak Dewa aku sudah pasti akan langsung menolak saat itu juga. Tapi masalahnya ini Pak Aidan.
"Nggak usah khawatir. Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu kalau itu yang kamu takutin," katanya. Dia sepertinya membaca keraguanku.
Aku akhirnya mengangguk pelan dan mengikutinya. Dia memimpin jalan untuk menuju rumahnya.
Kami sampai di sebuah rumah mungil dengan halaman yang luas. Rumah itu berwarna biru dan putih yang mana malah lebih terlihat imut, dengan gerbang putih yang melindungi bangunan.
"Rumah kamu lucu."
Aku tertawa, "Iya kalau nggak ada bunga-bungaan sama rumput gajah yang tumbuh rapi di sana."
Pak Aidan hanya memutar bola matanya sambil mengambil kunci dari saku celananya. Dia mulai membungkukkan badan dan membuka kunci gerbang. Kemudian dia mempersilahkan ku untuk masuk.
Aku masuk dan melihat dia memerintahkan ku untuk mengikutinya menuju teras depan rumah. Kami sama-sama membuka sepatu kami sebelum masuk ke dalam rumah.
Aku tidak berharap dia akan seramah itu, karena yang terjadi selanjutnya adalah, dia memberikan house tour gratis untukku. Dimulai dari dapur, ruang makan, ruang tamu, kamar tidur pertama, dan kamar tidur kedua yang aku asumsikan itu adalah miliknya karena di seluruh ruangan terdapat aromanya yang masih tertinggal.
Aku menatap ke sekeliling ruangan. Terlihat rapi dan sederhana yang menunjukkan jika dia benar-benar melakukan semuanya sendiri. Kemudian dia membawaku menuju ruang kerjanya di pintu terakhir. Aku berdecak kagum saat masuk karena menemukan banyaknya CD dan piringan hitam di sini.
Ruangan ini berisikan sebuah meja dengan komputer dan kursi, kemudian sofa panjang yang menghadap ke rak CD yang terdapat speaker berukuran sedang di sana. Dan jangan lupakan sebuah rak buku dibelakang meja kerja.
__ADS_1
Pak Aidan berjalan menuju sebuah rak dan seperti menghidupkan sesuatu. Setelahnya dia bergerak menuju komputer yang sudah dia hidupkan.
"Aku lebih sering dengarin lagu lewat YouTube atau Spotify," ucapnya.
Aku mengangguk. Zaman sekarang internet sudah di mana-mana. Hanya aku saja yang menggunakan ponsel dan MP3 jadul. Aku bahkan tidak memiliki sosial media seperti teman-temanku yang lainnya. Karena itu aku sering diejek dan diganggu.
Bagi sebagian orang mungkin hal itu perlu, tapi untukku pribadi sosial media belum aku butuhkan. Aku hidup di tempat yang tidak memberikanku kebebasan untuk menggunakan komputer karena memang di rumah tidak ada. Gio memiliki laptop dan itu pun aku tidak berani untuk meminjam. Aku hidup dalam ketakutan dan tidak berani bertingkah agar aku masih bisa hidup untuk keesokan harinya.
Pak Aidan tersenyum lembut dan mulai memindahkan memori cardku untuk diisi musik-musik baru. Dia mempersilahkanku duduk dan langsung ku balas dengan kernyitan di dahi. Aku tidak paham.
Pria itu masih menatapku lembut dan menarik ku untuk duduk di kursi. Dia mengajarkanku untuk mengcopy semua lagu yang harus aku dengar. Dia bahkan menawarkan untuk membantuku mencari lagu dan menambahkannya ke dalam memori card ku.
"Kamu haus nggak?" tanyanya, setelah kami selesai berkutat dengan pengcopyan file.
Aku mengangguk sebagai jawaban dan dia langsung melangkah keluar dari ruangan. Aku mulai menyetel salah satu musik dan mendengarkan. Selera Pak Aidan terdengar bagus untuk pemilihan lagu, tapi katanya dia lebih suka musik indie atau rock.
Aku mulai menyamankan diri di kursi kerjanya dan iseng menatap ruangan. Ada sebuah gitar di balik pintu. Aku melangkah ke sana dan menariknya dari tempat. Aku tidak tahu jika Pak Aidan juga bermain gitar
Aku mulai memetik gitar mengikuti musik dan juga mulai ikut bernyanyi.
"Nyanyian sama permainan gitar kamu bagus," suara Pak Aidan terdengar dan dia sudah muncul dengan membawa segelas minum.
Aku menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Dia adalah pria pertama yang memperlakukanku dengan baik selain Rendi.
Tapi kenapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang?
__ADS_1