Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Rafa dan teman-teman


__ADS_3

"Kalau begitu lanjutkan perjuanganmu Kak," kataku menyemangati dia dan mencoba untuk meringankan suasana yang tiba-tiba menjadi mellow.


Gio terkekeh dan dia langsung menyalakan radio untuk mengisi keheningan yang pastinya nanti akan menghampiri kami. Aku menyukai Gio yang sekarang dan menyukai Gio yang lama ketika dia belum berubah menjadi sosok yang menyebalkan. Dia pasti akan menjadi orang yang baik tapi aku tidak tahu sampai kapan itu akan berjalan. Jadi selama dia masih baik aku akan menggunakan kesempatan untuk memanfaatkan dia sebaik-baiknya.


"Soal Ana. Apa gue boleh ketemu sama dia?" tanyaku ragu-ragu, masih berhati-hati karena ini pasti permintaan yang sulit.


Sebuah senyuman terpantri di wajahnya dan dia langsung menjawab dengan lugas, "Boleh dong. Tapi ketika lo udah siap. Gue juga masih sibuk ambil pelatihan." Aku tidak tahu apa yang dia maksud tapi aku tidak ambil pusing. Kembalinya sosok Gio menjadi saudaraku saja merupakan hal yang amat berarti.


"Pelatihan apa yang lo maksud?" Aku melanjutkan pertanyaanku. Mungkin aku sudah melewati batas tapi aku penasaran dan aku benar-benar ingin kembali dekat dengan Gio.


"Gue masuk timnas negara dan gue juga dibayar," katanya penuh semangat. Gio memang pandai bermain sepak bola dan dia selalu mendapat penghargaan ketika mengikuti lomba. Jadi meski pada akhirnya dia memilih karir yang sesuai dengan passionnya aku tidak terlalu terkejut.


"Tapi gue juga masih kuliah, buat dapat gelar pribadi gue sendiri."


Aku sedikit terkejut tentang ini, tidak menyangka jika Gio seluar biasa ini sekarang. Aku kira dia hanya bermain-main saja. Maafkan aku Gio karena aku sudah  buruk padamu.


Mobil Gio parkir di sebuah area yang amat aku kenal. Aku menoleh padanya dan sedikit mengernyitkan keningku.


"Ngapain kita di sini?"


Dia menyipitkan matanya sebelum menjawab, "Kita mau nyari kucing buat sarapan. Ya menurut Lo kita ngapain ada di sini Aretta," ucapnya dan langsung berlalu untuk keluar dari mobil. Dia melangkah menuju pintu Daia kafe dan aku hanya mengikuti dia.


"Lagian gue nggak bakal biarin lo pergi ke sekolah tanpa sarapan yang layak," ucapnya lagi.


Sarapan di Daia mungkin bukan ide yang bagus karena aku bisa saja bertemu dengan Aidan di dalam. Jika hal itu terjadi aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi aku hanya bisa mengikuti Gio untuk sekarang.

__ADS_1


Dia berjalan menuju konter yang ternyata ada Rafa tengah berjaga.


"Gue pesan dua jus jeruk plus dua burger ekstra daging," serunya penuh semangat ketika melihat menu yang tertera.


Aku menggeleng pelan melihat aksinya yang kelewat semangat, hanya saja aku tidak makan daging yang dipanggang, "Gue nggak makan daging panggang Gi," kataku.


Ekspresi bahagia yang ada di wajahnya perlahan memudar. Gio berbalik dan mengoreksi pesanannya dengan satu burger yang diganti dengan isian telur. Dia lalu melangkah menuju tempat duduk yang kosong untung saja itu bukan tempat dimana aku dan Aidan duduk.


"Kenapa lo tiba-tiba diam? Gue bisa makan daging kalau-"


"Nggak. Bukan gitu maksud gue," katanya, memutus kalimatku. Dia mengusap wajahnya kasar, "gue ngerasa bodoh aja karena gue nggak tahu apa aja yang lo makan. Masih ada berapa banyak hal lagi yang nggak gue tahu soal lo? Kacau banget emang gue."


Aku tidak pernah melihat Gio sehancur ini apalagi matanya sampai memerah dengan air mata yang menggenang.


"Oke." Suaranya membuatku terlonjak, "gue masih punya banyak waktu buat cari tahu apa yang lo suka dan yang lo nggak suka. Sekarang kita cuma harus sarapan dan pergi ke sekolah dengan penuh semangat," katanya tiba-tiba.


Pesanan kali ini juga disajikan oleh Rafa. Wanita itu menatapku bingung seolah bertanya siapa pria ini yang hanya kubalas dengan senyuman. Dia kembali ke konter dan masih terus menatap kami. Aku mulai menyuapkan burger pesanan Gio, untung saja dia tidak memesan banyak, karena jika iya dia pasti akan mengetahui jika aku makan dalam porsi yang sangat sedikit. Pria itu tidak melepaskan pandangannya dariku. Dia menatapku seolah tengah menyusun kslimat apa-apa saja yang ingin dia tanyakan.


"Apa yang bakal lo lakuin setelah lulus sekolah?" tanyanya. Pada akhirnya dia menanyakan hal yang simoel terlebih dahulu


"Gue nggak tahu," jawabku cepat. Aku masih belum kepikiran harus melakukan apa karena tujuanku yang paling utama adalah keluar dari rumah dan membangun usahaku sendiri, "gue masih belum kepikiran mau ngapain setelah lulus."


Tapi tampaknya Gio masih belum puas dengan jawabanku, "Kalau gitu, apa yang paling lo minati? Gue tahu lo nggak sebegi gue dan gue yakin ada hal yang lo suka." Aku meringis mendapatkan pertanyaan bagus dari dia.


"Gue suka hal-hal yang menyangkut dengan lingkungan," maksudnya di sini aku menyukai sesuatu yang bisa membuat lingkungan menjadi lebih asri dan terawat. Sebagai generasi masa kini kita tetap harus memperhatikan kondisi lingkungan untuk masa generasi masa depan kelak. Aku juga sangat menyukai kegiatan yang membuatku dapat berinteraksi dengan alam, seperti hiking dan berlari. Dengan begitu aku dapat melihat bagaimana kondisi alam dan bagaimana caranya aku memperbaiki apa yang sudah di rusak.

__ADS_1


Gio mengangguk paham lalu bertanya kembali, "Terus apa yang lo lakuin di waktu luang?"


Ini pertanyaan mudah.


"Gue kerja part time di toko buku. Gue juga masih lari kalau punya waktu luang, sama ngerjain belajar kalau gue belum ngantuk," jawabku. Dia tampak tidak senang mendengar jawaban dariku.


"Terus kapan lo main? Lo nggak punya teman?"


Aku sedikit tersinggung dengan kalimatnya.


"Gue punya teman. Itu Rafa waiter di sini teman gue, di sekolah juga gue masih punya Rendi sama Aidan," sungutku, hanya saja aku tidak mau memberitahu jika Aidan itu guruku. Tapi kan kami sudah berikrar untuk berteman jadi tidak ada salahnya dong kalau aku mengatakan Aidan itu temanku.


"Pelayan," semua mata tertuju pada kami ketika Gio memanggil. Harusnya kan dis yang mendatangi konter.


Dan yang mendekat ke sini adala Rafa, dia mengeluarkan kertas untuk mencatat, "Ada yang bisa kami bantu," tanyanya ramah.


Gio terkekeh, dia mengulurkan tangannya yang membuat Rafa menatapnya heran.


"Gue Gio. Kakaknya Aretta," setelah mengatakan itu Rafa baru paham dan dia menyambut uluran tangan Gio.


"Rafa," jawabnya pelan. Wanita itu tampaknya sedikit tercengan tapi hal itu luput dari pandangan Gio karena dia masih terus berbicara.


"Aretta bilang kalau lo salah satu temannya," ujar Gio.


"Harusnya dia cerita kalau dia punya kakak," jawab Rafa sedikit kesal.

__ADS_1


__ADS_2