
Aku setuju untuk membantu Aretta dan Gio pindah. Setelah mengetahui bagaimana keadaan keluarga mereka, aku tidak pernah sekalipun menutup mata. Memiliki orangtua yang toxic sangat mengganggu pertumbuhan mental dan itu terjadi pada Aretta yang sangat menutup diri dari orang-orang. Tidak dipungkiri memang, peran kondisi rumah menjadi faktor paling utama untuk tumbuh kembang.
Aku menunggu telephone dari mereka sambil menghabiskan waktu bersama Davin. Kami memnonton acara pertandingan bersama sambil sesekali mengobrol soal keseharian atau membicarakan tentang wanita. Obrolan khas pria tidak jauh-jauh dari hal itu.
Ketika aku akan menggigit slice pizza keduaku, ponselku berdering. Aku dapat merasakan dengungannya karena benda itu kuletakkan di saku celanaku. Aku memang mengharapkan panggilan dari Gio ataupun Aretta, tapi perjanjian tadi tidak secepat ini. Dengan cepat kurogoh celanaku dan id call Gio terpampang di sana.
Perutku tiba-tiba mual dan aky bersyukur karena aku belum banyak memakan pizza. Rasa khawatir itu muncul yang sontak membuatku menekan dial panggilan untuk menjawab panggilan Gio. Aku juga segera beranjak dari dudukku untuk mencari dompet dan kunci mobil milikku yang kuletakkan sembarangan tadi.
Aku belum sempat menyapa Gio saat suara tangisan dan dan jeritan menyapaku lebih dulu. Suara itu saling bersautan dan berhasil membuatku membatu.
"Tolongin gue!" Gio berteriak panik. Dia juga kemungkinan besar sudah menangis.
"Gue jalan sekarang," kataku meyakinkannya dan berusaha memberinya kekuatan agar dia tidak terlalu panik. Aku langsung menutup panggilan sepihak dan segera bergerak tanpa ingin membuang waktu setelah aku menemukan kunci mobilku. Aku menghela nafasku dalam ketika mulai melangkah menuju pintu dan mencoba menemukan kewarasanku karena Gio hanya bisa bergantung padaku di situasi saat ini.
"Mau kemana lo?" suara Davin menghentikan langkahku ketika aku sudah akan pergi tanpa pamit. Aku hanya bisa mengucapkan satu nama dan berharap dia mengerti dengan sendirinya tanpa perlu aku jelaskan.
"Aretta."
Aku kembali melangkah dan kali ini langsung mengemudikan mobilku dengan kecepatan penuh. Aku tahu ini adalah tindakan yang salah karena bagaimanapun juga yang menggunakan jalanan bukan hanya aku, ada pengemudi lain yang juga menginginkan keselamatan untuk diri mereka. Tapi sayangnya aku tidak dapat berpikiran jernih karena suara isakan Gio dan jeritan itu masih menghantuiku. Aku takut sesuatu terjadi pada Aretta.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya terjadi?
Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Apa dia baik-baik saja?
Pertanyaan itu terus menari-nari dalam otakku. Aku tidak bisa tidak khawatir karena wanita itu.
Aku memang tidak tahu apa benar itu ada hubungannya dengan Aretta, hanya saja wanita itu selalu berhasil membuatku tidak karuan. Aku sampai di rumahnya dan segera menerobos masuk untuk memastikan bahwa dia bsik-baik saja. Bahkan tadi saat memarkirkan mobil aku hampir saja menabrak mobil milik tetangga karena sudah tidak sabar.
Langkahku semakin cepat begitu aku mendengar suara isak tangis dari dalam rumahnya. Aku mendekat dan suara orang yang memohon agar sosok tersebut bangun itu semakin jelas terdengar.
Aku sudah hampir melangkah keluar lagi karena kekacauan yang sangat mengerikan ini, tapi aku langsung berhenti saat Gio bergerak dan dia berbalik lalu menemukanku di sana. Aku dapat melihat Aretta yang sudah terkapar di lantai dengan posisi seperti janin yang tengah melindungi dirinya.
Gio langsung bergerak cepat ke arahku begitu dia melihatku.
"Please tolongin gue, Dan." Gio tampak sangat panik ketika dia kembali mencoba membangunkan Aretta. Dia bahkan mengguncang tubuh wanita itu kasar. Aku langsung mendekat dan berlutut, melupakan darah yang berceceran di lantai. Gio berhenti mengguncang dan dia mengamati reaksiku.
Darah milik Aretta tumpah keluar dari bibirnya. Bagian pipinya sudah memar ungu tua dengan bilur merah yang mengelilinginya. Kelopak matanya sudah tertutup sempurna bahkan tidak ada gerakan lagi. Air mata langsung memenuhi mataku. Keadaanya sangat mengenaskan dan itu berhasil membuatku kesal.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tuntutku pada Gio dan langsung menghapus air mataku untuk membantunya agar tenang. Gio tidak langsung menjawabku dan dia hanya menunjuk pada sosok Mamanya yang sudah tidak bergerak di dekat tempat tidur.
"Aretta memprovokasi Mama dan Mama nggak terima. Mama menendang, berteriak, dan meninju Aretta. Please Aidan, bantu Aretta!" Gio sudah mulai sedikit tenang dan dia berhasil menjelaskan apa yang sudah terjadi padaku.
"Semuanya bakal baik-baik aja, Gi. Percaya sama gue. Aretta itu wanita yang tangguh," ucapku meyakinkannya, "tapi gue mau tahu, dia pingsan karena dipukul di bagian kepala atau karena rasa sakit yang berlebihan?" tanyaku mengintrogasinya dengan tenang. Berusaha mendapat jawaban yang pasti tentang kondisi wanita ini.
"Kayaknya karena rasa sakitnya. Pas gue habis ikat Mama terus noleh ke dia, matanya Aretta sudah mulai tertutup."
Aku mengangguk dan memberitahunya kembali bahwa Aretta akan baik-baik saja dan keadaanya juga tidak akan terlalu serius.
Aku memperhatikan Aretta lagi dan wanita itu masih bernapas dengan napas yang tidak terdengar berat.
akan baik- baik saja dan tidak mungkin terlalu serius. Saya perhatikan dia masih bernapas dan napasnya tidak tampak terlalu berat. Namun saat aku melihat ke arah gadis cantik yang terkapar di atas lantai kayu yang membeku, aku berdoa agar dia baik- baik saja.
Aku kira aku akan baik-baik saja. Nyatanya tidak. Aku tidak tahan melihat dia yang seperti itu. Aku rindu Aretta yang tertawa bahagia dengan wajah cantiknya. Bukan dirinya yang tampak rapuh dan tidak bisa bertahan. Aku menyesal karena sudah menyia-nyiakan banyak waktu. Harusnya aku langsung mengambil tindakan begitu menemukan dia tidak berdaya kemarin. Aku terlalu menurut dan terlalu percaya jika keluarganya baik-baik saja. Keluarga Aretta hancur, bahkan lebih buruk. Aku tidak mau lagi membiarkan dia sendiri. Bahkan jika aku harus melewati batasan antara guru dan murid, aku akan melakukannya. Untukku, wanita ini adalah sosok yang sangat berarti. Aku akan merawatnya dan menunggu dia sampai dia siap dan membuka hatinya untukku.
Banyak hal yang sudah kuciptakan dalam imajinasiku. Aku ingin mendekapnya dan menghabiskan weekend dengan saling saling berpelukan. Lalu bersantai bersama di bawa terik matahari pagi yang hangat sambil bercanda gurau dengan sesekali melontarkan candaan tidak bermutu untuk mewarnai hari.
Aku menginginkan Aretta.
__ADS_1
Sangat-sangat menginginkan wanita itu.