Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Rutinitas Baru


__ADS_3

Aku benar-benar tertidur lelap hingga keesokan paginya. Ketika aku bangun, aku menemukan tubuhku sudah diselimuti selimut tambahan. Aku melirik kamar karena cahaya yang bersinar teramat terang. Saat menoleh ke jam weker di nakas, aku mendesah pekan. Pukul 11.30 yang berarti aku sudah melewatkan setengah hari dari sekolah.


Bukannya bangun, aku malah semakin menyelipkan diriku jauh ke dalam selimut. Aku sudah berencana untuk kembali tidur. Aku bergerak tak tentu arah untuk mencari posisi yang nyaman dan menemukan sebuah catatan kusut di dekat telingaku. Aku menarik kertas tersebut dan membacanya.


Tidur lo nyenyak banget dah.


Itu tulisan tangan milik Gio. Setelah meletakan kertas tersebut ke nakas, aku kembali mencoba untuk menutup mataku dan tidur. Tapi sudah tidak bisa. Aku sudah tidur selama 12 jam lebih ditambah Gio juga sudah menyiapkan sarapan dan obat di atas meja belajarku yang membuatku semakin malas bergerak. Memang aku mau melakukan apalagi ketika semuanya sudah disiapkan.


Selesai bengong untuk mengumpulkan nyawa, aku segera bergerak bangun. Hari ini aku sudah tidak merasakan nyeri. Tampaknya bekas lukaku perlahan membaik dan ketika menoleh ke kaca, semua memar yang tertinggal pun sudah perlahan memudar.


Hari itu aku menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan di sekitaran apartemen. Setelah menjawab pesan dari Aidan dan dua temanku, aku memutuskan untuk membuat camilan. Lalu belajar dan ketika sedikit lelah, aku juga merencanakan barang-barang yang harus dimiliki di toko.


Aku tahu mereka bertiga pasti sudah banyak berdiskusi soal ini dan aku juga percaya dengan pilihan mereka, tapi aku juga ingin menyumbangkan ide meski belum tentu diterima.


Aku melihat lagi kertas-kertas yang tersimpan di konter pantry. Berisi tentang oemberitahuan jika tukang akan databg pada hari Kamis untuk merobohkan beberapa dinding pemisah yang ada di lantai bawah, lalu melapisinya dan mengecat ruangannya juga. Kegiatan itu akan berakhir pada hari Selasa. Membaca kertas ini saja membuatku semakin bersemangat karena mimpi Oma Dewi akan terwujud dan menjadi kenyataan. Jadi aku bertekad untuk menyaksikan semua prosesnya.


Aku memutuskan untuk mengirim pesan pada Oma Dewi setelah meminta nomer teleponnya pada Aidan. Karena terlalu exicted aku jadi tidak sabar dan memutuskan untuk menelepon Oma Dewi.

__ADS_1


Deringan terdengar dari ujung sana dan masih menunggu beberapa saat sampai akhirnya Oma menjawab dengan suara bergetar.


"Hallo?" jawabnya. Aku hampir saya menjawab dengan suara kencang dan untungnya langsung aku tahan karena kini kami sedang bertelepon. Tentu saja dengan cara seperti ini Oma dapat mendengar suaraku meski aku berbicara dengan nada pelan.


"Hallo Oma. Ini Aretta! Oma gimana kabarnya?" suara Oma Dewi terdengar senang saat tahu aku yang menelepon. Dia juga memberitahu tentang keadaanya yang sangat baik-baik saja. Hanya saja sekarang dia merasa sangat bosan karena tidak bisa melakukan apapun setelah dilarang keras oleh Aidan. Bahkan cucu satu-satunya itu sampai menyewa perawat untuk membantu merawat Oma.


Kami banyak bercerita. Oma bahkan bertanya sola progress toko dan aku jawab semua progressnya dengan lancar. Berita yang aku sampaikan membuat Oma semakin bersemangat. Selain soal toko, dia juga menanyakan tentang sekolagkh dan keadaanku.


"Aidan sering mampir ke rumah," bukanya, "akhir-akhir ini dia selalu bicarain soal kamu." Aku tahu Oma hanya sedang menggodaku dan memancingku untuk bercerita, tapi sayangnya tidak ada hal yang bisa aku bicarakan soal hubungan kami. Aku bahkan menekankan pada Oma jika hubungan kami berdua hanya sebatas guru dan murid. Meski kami berhubungan baik, itu tidak menjamin apa-apa.


"Oma kata siapa sih kalau hubungan aku sama Pak Aidan kayak gitu. Aku kan muridnya Pak Aidan, Oma." Aku terkekeh pelan karena tidak habis pikir dengan dugaanya. Aku dan Aidan hanya berteman baik dan kami memang pernah berciuman, tapi jika membicarakan soal cinta? Itu tidak mungkin.


Percakapan selesai dan kami berdua sama-sama memutuskan panggilan telepon karena Oma harus check up. Aku mendoakan kesehatannya sebelum benar-benar memutuskan panggilan.


Suasana kembali sepi begitu panggilan terputus. Yang terdengar hanya suara kendaraan yang melintasi jalanan di bawah sana. Karena tidak mau merasakan sepi, aku segera melangkah menuju speaker dan menyalakan musik. Kali ini tidak akan ada yang melarangku dan juga aku ingin sedikit bernostalgia tentang masa lalu. Dahulu Mama dan Papa akan menyalkan musik dengan keras sampai membuat kaca jendela bergetar. Itu moment paking menyenangkan karena saat itu kami semua akan bernyanyi bersama sampai suara kami serak dan habis.


Aku membaringkan tubuhku di sofa kulit yang berhasil kudapat dengan harga miring sambil menyanyikan lirik lagu dengan nada asal. Ternyata mendengarkan musik juga tidak semenyenangkan itu. Aku menoleh lagi dan menatap ruangan yang belum aku teliti sebelumnya. Kini terdapat kami memiliki TV digital yang bahkan bisa menonton netflix. Aku tidak heran karena Gio dan Ana merupakan pasangan kekasih yang menyukai acara menonton bersama di rumah. Aku kira mereka berdua lebih memilih date di luar karena banyak option yang bisa mereka kunjungi. Namun, kedua orang itu ternyata berpikiran sangat dewasa. Dari pada keluar mereka lebih memilih di rumah saja dan uang yang mereka miliki mereka gunakan untuk berbisnis.

__ADS_1


Aku iri dan ingin juga memiliki pasangan seperti itu.


Aku beranjak dari sofa untuk minum. Mataku ternyata masih haus dengan pemandangan di rumahku sendiri. Aku menemukan novel yang tergeletak yang kuyakini ini milik Ana. Gio tidak mungkin membaca novel romance. Yang membuatku tertarik untuk membaca adalah, nama Aidan yang tertulis di sana.


Aku langsung mulai membaca dan terhanyut dalam kisahnya. Aku membacanya halaman demi halaman dan semakin ketagihan dibuatnya. Cerita ini berkisah tentang hubungan rumit yang dialami oleh Aidan dan Runi, sang pemeran utama. Aku begitu terbawa dengan romansa terlarang antara keduanya hingga aku tidak mendengar jika pinth terbuka. Hanya ketika pintu dibanting menutup dengan kencang baru aku sadar karena aku langsung menyembunyikan buku tersebut dan terlonjak di tempat. Aku tidak mau Gio tahu adiknya ini sudah membaca buku-buku dewasa.


"Hallo everybody!" Gio berteriak karena suara musik dan dia bergegas mendekatiku. Pria itu membasa tas olahraga yang disampirkan dk bahu dengan tangan yang berisi berbagai macam plastik grocery. Dia berjuang melewati celah kecil antara sofa dan meja untuk ikutan duduk.


"Apaan tuh?" tanyaku pelan saat menyaksikan dia yang menjatuhkan semua bawaanya ke lantai.


"Lo habis belanja?" tanyaku lagi. Gio malah memutar matanya dan mengabaikanku. Dia tiba-tiba duduk tegap di tempatnya dan memasang wajah serius.


"Lo tahu, besok itu hari ulang tahun lo?" Dia bertanya dengan wajah yang masih serius. Aku hanya tertawa karena mengira dia salah. Namun ketika aku mengeluarkan ponsel dari sakuku dan memeriksa tanggalnya, aku terdiam. Tanggal 10 juli yang artinya besok memang hari ulang tahunku.


"Gue ulang tahun besok," gumamku seperti orang bodoh dan berniat pergi untuk meninggalkan Gio bersama dengan belanjaanya.


"Mau kemana lo? Duduk dulu!" perintahnya dan aku menurut karena dia mengatakannya dengan suara tegas.

__ADS_1


"Kau tahu besok ulang tahunmu?" dia bertanya dengan letih. Aku tertawa, mengira dia pasti salah. Tapi saat aku mengeluarkan ponsel dari sakuku dan memeriksa tanggalnya, ternyata memang tertulis 24 Juli, artinya besok adalah hari ulang tahunku. "Yah, kurasa kau benar." Aku bergumam dan berdiri, berniat meninggalkan Alex sendirian dengan belanjaannya, "Kemana kamu pergi?" Dia bertanya. "Duduk kembali." Aku melakukan apa yang diperintahkan oleh suaranya yang tegas.


__ADS_2