Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Tertangkap Basah


__ADS_3

"Gio!" Aku memekik kencang karena ketakutan. Aidan sudah melepaskan diri dari ciuman kami begitu dia mendengar suara Gio yang berteriak sangat kencang, pasti para tamu juga bisa mendengar suara teriakannya. Gio berdiri dengan wajah memerah syarat akan emosi, dan aku masih di posisi di dekat Aidan. Aku menolak untuk menjauh darinya dan Aidan dengan gantelnya merauh tanganku dan meremasnya hanya untuk meyakinkan jika kami bisa melewati semua ini.


Gio mulai banyak mengoceh, dia segera menahan para tamu yang sudah berdiri di depan pintu rumah kami untuk mencari tahu apa yang terjadi. Namnun, ditahan oleh pria itu agar mereka tidak naik. Selesai dengan para tamu, kini dia beralih lagi pada kami berdua.


"Gue senang waktu Davin bilang lo suka sama cowok, tapi bukan ini yang gue harapkan." Dia mendengus pelan sambil memijit keningnya.


"Lo.itu gurunya Aretta. Kenapa bisa lo punya pikiran buat cium adek gue? Moral lo dipertanyakan di sini. Lo tahu itu salah, kan? Bisa jelasin ke gue sekarang?" Suara milik Gio berangsur-angsur berubah mengeras dan aku yakin semua orang yang berada di lantai satu dapat mendengar.


"Lo pernah nggak ada di posisis dimana lo nggak bisa dapat apa yang impikan?" Aku menatap kedua orang itu bergantian. Di tempatku berdiri aku dapat melihat Gio yang melirik Ana. Gio tidak menjawab dan itu membuat Aidan melanjutkan kalimatnya, "lo mesti tahu apa yang gue maksud. Semakin gue coba buat nggak mikirin, perasaan itu malah semakin terpupuk dan tumbuh subur. Perasaan ingin memiliki itu nggak sekedar datang dan hilang, setiap kali gue lihat Aretta, gue pingin banget buat dia stay di sisi gue. Gue ngerasa dengan adanya dia dunia gue berubah. Dia udah kayak priority item yang musti gue punya," kata-kata Aidan membuatku terpaku. Aku tidak tahu jika dia sungguh memiliki pikiran seperti itu padaku. Dan hal itu malah membuatku terngiang-ngiang dengan kejadian tadi. Memang siapa yang akan dapat berpikiran waras ketika saat itu dicium oleh pria yang didambakan. Aku juga manusia biasa yang tentunya terlena oleh kehangat dan kenimatan sesaat yang salurkan Aidan. Aku bahkan membiarkan dia menghujaniku dengan ciuman, kami juga melakukan french kiss yang tidak pernah aku tahu sebelumnya. Aidan yang memberitahuku.


Aku kembali menyentuh bibirku, masih tidak percaya jika aku melakukan hal itu di pesta ulang tahunku yang berujung ketahuan oleh Gio. Rasa yang tertinggal itu masih teramat nyata. Bagaimana mana dia menuntunku, lidahnya yang menginvasi mulutku, sampai gesekan dari bulu-bulu kasar janggutnya yang mengenai pipiku. Semuanya masih sangat membekas.

__ADS_1


Sayangnya semua tidak berakhir baik. Begifu aku keluar dari kamar mandi Gio langsung menahanku. Dia menarikku masuk ke dalam kamar dan memintaku untuk berjanji agar aku tidak lagi menemui Aidan atau menjalin hubungan dengan pria itu. Aku kesal dan merajuk lalu memilih untuk masuk ke dalam kamar dan mengunci diri. Aku menangis tapi telingaku masih terpantau awas untuk mendengar suasana di luar kamar.


Malam itu pesta tidak berakhir baik karena Gio mengusir semua orang. Rafa bahkan sampai turun tangan untuk membantu menjelaskan apa yang sedang terjadi pada Rendi karena pria itu tidak terima pesta berkahir lebih cepat dari yang dia pikirkan.


***


Perasaanku semakin kacau. Bohong jika aku menyukai keadaan ini karena rasanya aku semakin tersiksa. Aku dan Aidan benar-benar tidak boleh menghabiskan waktu berdua jika tidak berada di bawah pengawasan Gio. Bahkan saat menanyakan tentang apa saja yang harus aku beli, aku melakukannya lewat Gio.


Kini pandangan Aidan padaku pun sudah berubah. Dia tidak memandangku selembut dulu. Jarak yang tecipta sangat besar berkat persetujuanku dengan permintaan Gio. Di dalam kelas Geografi sekarang pun, dia sama sekali tidak melirikku. Pria itu benar-benar menganggap aku sebagai angin lalu.


Aku mengantupkan mulut agar suara tangisku tidak sampai terdnegar orang lain. Aku harusnya bisa mengerti apa yang terjadi dan apa pemicunya. Dia juga tidak berada di posisi bisa menolak karena itu keputusan mutlak. Kami harus bertahan hingga tiga bulan lagi sampai hari kelulusanku yang ternyata jika menunggu akan sangat terasa lama.

__ADS_1


Dia bersikap seperti itu hanya untuk menjaga hatinya dan bukan berarti dia membenciku. Tapi aku tidak bisa memahami itu. Aku merasa dia memang sengaja menjauh. Air mataku kembali mengalir deras, bahkan aku sampai meredam isak tangisku ke bantal.


Aku bukan tipikal orang yang sedikit-sedikit menangis. Aku termasuk kuat karena selama hidup aku bisa menahan semua caci maki dari Mama dan teman-temanku, tapi tampaknya itu tidak berlaku jika menyangkut soal percintaan.


Malam datang dan Aidan datang ke rumah untuk membahas soal toko. Kali ini aku sengaja keluar dengan wajah berantakan. Mata memerah dan membengkak untuk memberitahu jika aku tersiksa.


Setelah kejadian itu, aku mencoba mengalihkan perhatian dan pikiranku dari semua hal yang bersangkutan dengan Aidan. Fakta jika aku tidak bisa memilikinya malah membuatku semakin menginginkannya. Sejak kedian itu semua kegiatanku selalu dipantau oleh Gio, bahkan kini aku tidak bisa leluasan lagi untuk membicarakan soal perubahan toko di depan pria itu. Namun aku sadar kini ada yang berubah dari Aidan. Dia tidak lagi banyak bercanda seperti dulu dan dia selalu mencoba menahanku meski pembicaraan kami sudah selesai.


Mengalihkan perhatianku dari kejadian itu termasuk hal yang sulit. Aku bahkan sampai harus memfokuskan diri pada studiku dan aku juga sampai harus menyibukan diri agar tidak lagi memikirkan tentang kejadian itu. Hari ini aku memutuskan untuk berbelanja dalam rangka mengisi toko. Belanja kali ini via online. Aku sudah berdiam diri di depan laptop selama satu jam untuk menjelajah dan mencari perintilan seperti meja, kursi, perlatan makan, dan beberapa baramg yang sekiranya akan dibutuhkan untuk toko.


Kemarin hasil rapat terakhir kali berisi tentang Gio dan Aidan yang memberikan budget masing-masing 30 juta untuk mengisi toko. Karena aku terlalu fokus berbelanja kemarin aku sudah menghabiskan setengah karena alasan ini melupakan soal kejadian malam itu. Budget untuk pembelian kali ini tampaknya akan kurang. Aku sudah menawarkan untuk meminta lagi pada Papa tapi Gio menolak halus.

__ADS_1


Sebenarnya Papa menolak tegas keputusan kami berdua yang ingin tinggal di sini. Papa pikir kami hanya butuh gedung untuk berbisis, tapi pada akhirnya dia mengerti dan membiarkan saja. Aku dan Gio sudah mulai beranjak dewasa dan Papa tahu kami butuh banyak explore untuk membentuk mental dan kepribadian. Lagipula kami bukan lagi anak kecil yang membutuhkan Papa seperti bebefapa tahun yang lalu.


Dan lagi proses renovasi ruangan hampir usai. Semua pegawai yang disewa Gio sudah bolak-balik memperbaiki dan mengecat ruangan. Kesibukan yang sangat luar biasa itu sudah perlahan memudar.


__ADS_2