
Membicarakan soal Pak Aidan memang tidak akan ada habisnya. Dia adalah salah satu guru yang paling didengar oleh para murid. Meskipun usianya masih tergolong muda 23 tahun, tapi dia sudah pintar menempatkan diri. Itu hanya penilaian spontan dariku. Terkadang dia juga bisa menjadi sosok yang dewasa dan bijaksana di saat bersamaan, mungkin itu karena faktor tuntutan pekerjaan dan lagi untuk mendekati murid SMA memang membutuhkan banyak pendekatan yang lebih bijak. Tidak menggurui dan tidak memojokkan.
Jadi intinya dia harus bisa berperan sebagai seorang teman, guru, kakak, dan keluarga di saat yang bersamaan.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Kali ini dia menjelaskan banyak materi dan juga memberitahukan poin-poin penting yang akan keluar saat ulangan minggu depan. Aku sangat berharap ulangan darinya tidak seperti yang diberikan Pak Dewa tadi.
Suara sayup-sayup di belakangku membuatku sedikit memasang telinga. Aku tahu ini bukan tindakan yang baik, aku hanya takut mereka akan membicarakan tentangku. Suara bisikan dari mereka cukup besar karena dari tempat aku duduk saja aku bisa mendengar dengan jelas isi dari percakapan mereka.
"Jadi gimana Pak Aidan menurutku lo? Dia emang kelihatan kalem dan kurang menarik karena pakai kacamata kotak gitu, tapi kalau dia lepas, gue yakin seratus persen kalau semua cewek bakal langsung gatal sama dia. Belum lagi badannya. Pakai seragam aja nggak bisa nyembunyiin dada bidang dan pundaknya yang proposional," seru salah seorang siswi yang kutahu bernama Tia.
"Iya. Kalau dibuka pasti gue bakal langsung mimisan," jawab seorang lagi yang bernama Rani.
"Tapi menurut gue sih nggak deh," sela si Dila, "Pak Aidan itu serem kali. Kalau nggak di kelas dia nggak bakal banyak omong dan nggak bakal banyak senyum. Belum lagi dia terus-terusan ngelirik ke arahnya Intan. Jangan-jangan dia suka aja sama lo."
Aku terkekeh mendengar bisikan mereka. Kenapa semua siswi yang ada di sekolah ini tergila-gila dengan guru mereka? Aku akui memang sekolah ini memiliki guru laki-laki yang tampangnya di atas rata-rata, tapi tidak untuk guru wanita. Entah kenapa semua guru wanita di sini berusia di atas 40 tahunan.
"Kayaknya iya. Mungkin Pak Aidan terpesona sama penampilan gue," bualnya. Intan memang cantik. Aku akui itu dan mungkin memang benar Pak Aidan terpesona dengannya.
__ADS_1
Percakapan mereka terpotong karena suara bel. Kami pun segera bergegas untuk masuk ke kelas selanjutnya.
Aku melangkah ke kelas Seni yang menjadi kelas terakhirku. Aku masih belum mengenal siapapun di kelas ini, dan lagi biasanya aku duduk sendiri. Tapi itu tidak membuatku merasa terganggu dengan kenyataan itu. Aku menyukai kesendirianku.
Kelas Seni kali ini adalah tentang melukis. Di sekolah lamaku hanya orang-orang yang berbakat yang bisa melukis dan mengikuti pelajaran seperti ini, sedangkan di sini pelajaran Seni menjadi materi wajib yang harus diikuti semua siswa. Aku sejujurnya tidak pandai soal melukis, tapi aku senang memiliki kesempatan untuk belajar.
Miss Nisa, guru Seni yang mengajar masih memberikan penjelasan soal melukis yang masih aku dengarkan setengah hati. Maaf miss, aku hanya tidak sabar untuk dapat memegang alat lukis.
Sebagai seorang anak, aku hanya hidup mengikuti apa yang telah dipersiapkan oleh orang tua untukku. Selama aku kecil, Papa dan Mama tidak pernah memintaku untuk menggambar. Mereka semua orang yang praktis dan tidak suka ribet. Keduanya lebih senang jika aku bermain di luar atau bermain dengan mainanku. Jadi jika ditanya soal menggambar, aku benar-benar tidak memiliki jawaban.
Hari ini kami diberi tugas untuk menggambar potret diri kami sendiri melalui cermin yang dibagikan Miss Nisa. Tidak banyak orang yang mengambil kelas Seni, karena mungkin mereka sudah mengambilnya di jam lain. Walaupun aku masih sedikit ragu untuk menggambar, aku tetap membulatkan tekadku untuk mulai menggambar.
Aku terus-terusan melihat cermin dan buku secara bergantian. Aku terlalu berkonsentrasi pada setiap coretan dan goresan yang aku buat. Aku mulai menggambar bentuk wajahku. Awalnya mudah tapi saat mulai menggambar hidung dan telinga, aku sedikit meringis. Sulit ternyata.
Aku tetap melanjutkan gambaranku. Membuat detail-detail yang ada di wajahku. Seperti anting bintang yang selalu aku kenakan, rambut yang dikucir kuda, sampai bekas luka di alisku saat aku 'tidak sengaja' jatuh dari tangga.
Waktu tersisa sepuluh menit lagi. Aku sudah mengemasi barang-barangku saat Miss Nisa tiba-tiba berhenti di sampingku. Dia menatap gambaranku dan terdiam cukup lama seperti tengah menilai dengan cermat. Yang Miss Nisa lakukan itu membuatku gugup. Apakah karena jelek makanya dia berdiri di sini cukup lama. Untungnya aku tidak pernah memikirkan untuk mendalami seni lukis. Bukti keberadaan Miss Nisa dan bagaimana tatapan tajamnya menilai gambaranku, sudah cukup menjadi dorongan agar aku tidak melanjutkan keingintahuanku soal Seni.
__ADS_1
"Padahal saya nggak berharap ada gambaran yang kayak gini," ucapnya. Aku hanya terkekeh pelan dan menerima fakta jika aku tidak memiliki keahlian di bidang yang ini. Jadi tidak perlu merasa kecewa.
"Tapi gambaran kamu... Luar biasa. Ini gambar yang terbaik yang pernah saya lihat di kelas Seni."
Aku menatap Miss Nisa dan gambaranku secara bergantian. Apa yang baru saja kudengar tadi. Bukankah dia diam kerena hasil gambaranku tidak sesuai?
"Ah...." hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku hanya iseng menggoreskan pensil di atas buku gambar, mengikuti contoh dan memastikan pensilku membuat sketsa.
"Kamu pasti nggak paham. Biar saya jelasin," katanya sambil meraih gambaranku, "karya kamu memang belum sempurna tapi dari karya ini kamu berhasil menggambarkan bagaimana sorot mata yang penuh kesedihan dan kesakitan. Ditambah senyuman yang mengatakan jika kamu baik-baik saja. Semua ekspresi di dalam gambar ini terlihat nyata."
"Ini pertama kalinya saya menggambar dan saya gambar sesuai sama apa yang saya lihat di cermin," jelasku pelan. Apa yang Miss Nisa katakan itu benar soal senyumanku. Aku menatap senyuman yang tergambar di sana. Senyuman yang belum pernah aku buat karena aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Aku tidak yakin apa arti dari senyuman yang kugambar. Apa mungkin itu karena aku mulai merasa bahagia dan nyaman di sekolah ini, atau apa karena aku hanya ingin bahagia.
"Semangat Aretta. Kamu punya bakat yang nggak dimiliki banyak orang. Kamu cuma harus terus melatih diri kamu sendiri dan jangan pernah ragu sama hasilnya," kata Miss Nisa sambil tersenyum seraya mengembalikan bukuku untuk kembali berjalan ke depan kelas.
"Saya beri kalian tugas untuk menggambar lagi, tapi dengan versi diri kalian yang lain. Saya mau Senin depan hasilnya sudah jadi," ucap Miss Nisa sebelum benar-benar menutup pertemuan.
Aku mengela nafas lega karena kelas yang sudah selesai. Tugasku bertambah lagi dan setidaknya itu membantuku untuk menghilangkan kekesalan akibat kelakuan Pak Dewa. Mungkin aku gagal di kelasnya tapi aku meyakinkan diri untuk berhasil di kelas Seni dan Geografi, karena bagaimanapun aku hanya bermasalah dengan guru yang satu itu, tidak dengan guru yang lainnya.
__ADS_1