Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Amarah Mama


__ADS_3

Kembali ke masa kini.


Mama merebut paksa panci tadi dan membawanya ke meja makan, dia hanya meletakkan barang itu dan kembali berjalan mendekatiku. Aku sedikit berdesis karena luka melepuh yang aku dapat d tadi, rasanya nyeri itu malah semakin menguat. Mama berteriak menyuruh diam dan saat aku mendongakkan wajahku sebuah tinju menghantam pipi kiriku. Reaksiku yang lambat membuatku tidak bisa menghindar dari pukulan itu, jadi aku terdorong mundur saat pukulan itu benar-benar mengenai pipiku.


Padahal aku kira jika Mama dalam keadaan mabuk dia tidak akan banyak memukulku, tapi ternyata dugaanku salah. Aku malah akan banyak mendapat pukulan saat Mama mabuk.


Dan tanpa memberikan waktu untuk menyiapkan diri, Mama kembali menendang lutut kakiku yang membuatku tersungkur ke lantai. Saat aku benar-benar merasakan sakit, lagi-lagi Mama menghadiahkanku tendangan bertubi-tubi di seluruh tubuhku. Awalnya aku berjuang untuk menahan semua serangan itu, tapi itu tidak membantu sama sekali dan akhirnya aku hanya menunggu sampai serangan dari Mama berhenti dengan sendirinya.


Setelah sudah banyak tendangan yang dia berikan, termasuk ke pundak dan perutku, Mama perlahan mulai berhenti. Melihatku yang tidak mencoba menahan serangannya membuat kesenangannya hilang.


"Awas kalau kamu berani cerita ke Gio," itu adalah kalimat yang aku ingat sebelum dia kembali ke meja makan. Aku masih meringkuk di sana sampai Mama menyelesaikan makannya. Aku tidak kuat berdiri dan harus membiasakan diri terlebih dahulu agar dapat berdiri dan pergi.


Saat sudah mendengar suara pintu yang dibanting, aku dengan cepat menghela nafas lega dan berguling telentang. Rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhku ketika aku bernafas, dan bagian pipi kiriku terasa amat sakit. Aku segera bergegas mencari cermin untuk melihat seberapa parah serangan dari mama kali ini. Tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas karena akibat jatuh tadi pelipisku mengenai sudut meja yang membuat dahiku berdarah hingga darahnya memburamkan pengelihatanku. Darahku pun ikut mengotori lantai.

__ADS_1


Aku menarik kain panjang yang kugunakan untuk mengelap piring dan melilitkannya ke pinggangku sebelum aku berdiri dan melihat ke sekeliling dapur. Di lantai sudah ada bercak-bercak darahku, beberapa piring juga pecah dan belingnya berhamburan. Karena tidak ingin mendapatkan amukan esok pagi, aku segera membersihkan lantai. Menyapu pecahan dan mengelap seluruh darahku. Kulakukan dengan sangat pelan. Walaupun sakit aku masih bisa menahan, sejujurnya aku sangat menikmati rasa sakit yang menyiksa tubuhku ini. Hal itu membuatku tersadar jika aku masih hidup.


Aku kembali membersihkan darahku dan mengelap sisa-sisa gosong yang ada di kompor dan juga di panci. Saat dapur sudah bersih, aku tertatih-tatih meninggalkan tempat itu dan berjalan menaiki tangga menuju kamar mandi. Aku menyalakan lampu, pendar sinar putihnya menerangi kamar mandi itu. Kain yang melilit di pinggangku sudah tidak berbentuk. Itu sudah berubah karena menyerap semua darahku.


Aku langsung keluar dari kamar mandi setelah mengaliri tubuhku dengan air agar sisa-sisa darahnya menghilang sempurna. Baju yang aku pakai sebelumnya berakhir ke tong sampah karena itu sudah tidak bisa diselamatkan. Darahku terlalu banyak dan pastinya akan sulit untuk mengenakan pakaian itu kembali setelah apa yang aku terima ketika aku mengenakan pakaian itu. Aku mencari kotak obat di dalam kamarku yang selalu tersedia. Aku mengobati semua luka di tubuhku dan saat melihat ke bagian perut aku sedikit mendesis. Lukaku parah di sana dan memar juga mulai melihat di sekitaran perutku.


Aku merasa marah. Kenapa aku harus menerima perlakuan buruk seperti ini. Setelah selama ini aku hanya bisa menahan, sekarang aku sudah sampai di ambang batasku. Aku muak dan lelah. Aku sering bertanya-tanya kapan semua ini akan berakhir, atau apakah hal ini tidak akan pernah berakhir.


Ketika aku terbangun keesokan harinya aku merasakan perasaan senang yang entah kenapa bisa datang setelah badai melanda. Tapi hanya sesaat. Ketika aku merentangkan tanganku ke atas aku merasakan kembali rasa sakit yang masih membekas


Sambil menghela nafas berat aku segera menyeret kakiku menjauh dari tempat tidur dan melangkah menuju lemari pakaianku. Tidak seperti hari sebelumnya, hari ini aku memutuskan untuk tidak membuka jendela karena hujan deras yang sudah mengguyur bumi sejak subuh. Suhu dingin dapat mengganggu moodku yang sedang baik.


Mengetahui jika aku akan kembali bertemu dengan Pak Dewa membuatku gugup. Karakternya yang sedikit arogan dan sombong cukup menakutkan untuk orang seperti aku. Dan saat aku melihat adanya tato kecil di pergelangan tangannya, aku langsung berpikir jika dia adalah anggota salah satu geng. Tatonya bergambar ular yang mengelilingi pergelangan tangannya yang jika tidak diperhatikan itu hanya terlihat seperti gelang biasa. Ada tulisan kecil dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Hanya saja yang paling aku takutkan adalah, dia memanipulasi para siswi untuk terlibat dengan gengnya. Aku harap itu hanya kecemasanku saja.

__ADS_1


Aku menatap jam dan langsung mendesah saat tahu aku bisa saja terlambat jika tidak bergegas. Aku mengenakan mantelku untuk menghalau hujan dan saat menuruni tangga aku melangkah dengan pelan. Aku tidak mau membangunkan Mama di hari liburnya.


Masih dengan hati-hati aku kembali membuka gerbang dengan pelan dan menutupnya juga seperti sebelumnya. Aku melirik jam tanganku dan sedikit mengernyit karena angkanya berbeda dengan yang aku lihat di jam wekerku, Gio pasti yang mengubahnya. Dia pikir aku akan tertipu dengan triknya ini. Aku selalu bangun dua jam lebih awal dan dia tidak bisa membodohiku.


Gio memang selalu mengerjai ku, semenjak kecil, dan itu berlangsung hingga sekarang. Dan aku mulai terbiasa karena setidaknya dia tidak bermain tangan seperti yang Mama lakukan padaku.


Aku melewati sebuah kafe yang sedikit membuatku mengernyitkan kening. Apa itu warkop? Tapi sepertinya bukan. Aku mendekat dan mulai masuk. Ruangannya hangat berbeda dengan saat aku berada di luar. Aku menatap sekeliling, ruangan itu berdesain vintage dengan banyaknya barang-barang antik yang diletakan sebagai hiasan.


Aku menarik nafas panjang dan aroma roti perlahan berebutan masuk ke Indra penciumanku. Aku mengeluarkan dompet usangku dan mencari uang darurat yang aku simpan. Tentu saja uang ini tidak bisa membawaku keluar dari rumah karena uang darurat yang aku miliki di dompet tidak seberapa.


Aku hanya memesan segelas kopi. Aku harus irit karena tidak tahu sampai kapan aku hidup seperti ini. Dan lagi aku belum mendapatkan pekerjaan.


Karena berangkat terlalu pagi, aku memutuskan untuk menunggu di kafe ini sampai hujan reda. Aku membaca buku dan tidak menyadari jika sudah banyak orang yang keluar masuk kafe. Aku sedikit terlonjak saat aku mengalihkan pandanganku dan menemukan Pak Aidan ada di antara mereka. Dia menatapku lekat.

__ADS_1


__ADS_2