
"Baiklah." Dia tiba-tiba berkata sedikit kencang dan membuatku langsung menoleh padanya, "kalau kamu mau cerita ke aku tentang apa yang terjadi sama kamu, aku janji nggak bakal rekam dan buat rekaman soal ini. Jadi... gimana?" tanyanya mencoba memancingku untuk membuka mulut.
Aku sudah membuka mulut, tapi tidak ada satu suara pun yang keluar. Yang ada hanya rasa haus yang memenuhi tenggorokanku. Aku memberi isyarat pada Pak Aidan untuk memberikanku minum. Pertama kali yang aku inginkan adalah minum agar aku dapat berkomunikasi dua arah dengannya.
Matanya sedikit melebar dan terkekeh karena melupakan hal paling penting bagi orang yang baru sadar dari pingsan. Dia menggumamkan sesuatu yang tidak dapat terdengar oleh telingaku seraya berjalan keluar dari ruangannya. Saat pintu terbuka aku dapat melihat pelang bertuliskan konselor di pintu ruangannya..
Begitu dia pergi, aku mulai merasa panik. Bagaimanaajika dia tahu aku mendapatkan kekerasan di rumah? Aku tidak pernah melaporkan tentang Mama yang menyiksaku terus-terusan selama ini karena aku merasa aku masih sanggup menerima semuanya. Terkadang juga aku merasa pantas mendapatkan hal itu karena bagaimanapun aku seperti menjadi alasan yang membuat Paoa pergi meninggalkan kami adalah aku.
Aku juga tidak merasa harus membuat hal ini menjadi sebuah kasus karena bagaimana pun dia adalah Mamaku. Orang yang mengandungku selama sembilan bulan dan orang yang merawatku sejak aku kecil. Bagaimana aku bisa tega menceritakan kejahatan Mama yang ketika melahirkanku saja dia sudah mempertaruhkan nyawanya.
Aku tahu maksud Pak Aidan menawarkan ini karena dia guruku. Dia hanya ingin memastikan muridnya menjalani kehidupan sekolah dengan nyaman. Aku masih berusaha memutar otakku untuk memberi alasan yang tepat karena sebentar lagi Pak Aidan akan kembali ke sini. Aku tahu dia tidak akan tinggal diam saja setelah melihatku pingsan dan bagaimana pun aku harus membuka mulut agar dia tidak mencercaku. Aku sudah memutuskan akan membicarakan hal lain yang sedikit bersangkutan walaupun dipenuhi kebohongan jika dia bertanya nanti.
Pintu terbuka lebar dan Pak Aidan muncul dengan penampilan yang acak-acakan. Keringat mengaliri pelipisnya, sepertinya dia habis berlari. Dia memegang sebotol air dan satu slice cheese cake yang tidak mungkin ditemui di sekolah. Aku tahu ada sebuah toko roti di seberang jalan dan pastinya dia berkeringat karena harus berjalan menuju sebrang dan harus kembali ke sekolah dengan cepat.
Mengetahui dia melakukan hal itu untukku menbuatku sedikit tidak nyaman. Ada satu perasaan aneh yang tidak bisa aku jelaskan dan itu perasaan baru yang tidak bisa aku jelaskan.
Dia menyodorkan botol air mineral dan roti itu padaku.
__ADS_1
"Kamu harus makan dan minum ini dulu. Dan biasanya pingsan itu karena kamu nggak punya energi. Jadi silahkan makan," katanya.
"Terima kasih Pak," ucapku dengan suara parau ketika aku mengambil barang-barang yang dia sodorkan padaku. Aku menyelesaikan makanku dengan cepat karena tidak mau membuatnya menunggu terlalu lama.
"Aretta. Aku tahu kamu pasti akan sulit buat cerita karena kamu belum pernah konseling sebelumnya. Kamu cuma harus cerita pelan-pelan aja. Aku nggak bakal paksa kamu buat buka mulut. Aku bakal nungguin kamu cerita dengan sendirinya. Aku ada di sini buat bantu kamu, itu yang harus kamu tahu." Dia mengatakan itu dengan hati-hati dan membuatku tersentuh. Nadanya lembut penuh perhatian yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Mungkin aku pernah mendengar nada seperti ini saat kecil, tapi tidak pernah lagi semenjak Papa pergi.
"Kadang-kadang, saya lupa makan," ucapku begitu aku membuka mulutku, "pikiran saya biasanya berkelana kemana-mana karena banyak hal. Saya suka lari dan biasanya kalau udah selesai lari saya juga lupa buat makan dan minum."
Aku sudah memutuskan untuk bercerita, tidak banyak dan tidak terlalu sedikit karena bagaimana pun itu akan tetap menimbulkan kecurigaan jika tidak sesuai dengan keadaanku.
Alis Pak Aidan seikit berkerut sebelum dia bertanya, "Biasanya sejauh apa kamu lari?"
"Kamu serius? Bahkan maraton aja nggak sejauh itu, lagian ada gym di sekolah kenapa kamu nggak gunain fasilitas itu." Dia menaikan nada suaranya yang mebuatku tersentak. Pak Aidan sepertinya sadar dan dia langsung memelankan suaranya.
"Aretta, kira-kira gimana menurut kamu perasaan saya yang sebagai seorang guru. Terjebak dengan murid yang kekurangan nutrisi yang bakal mempengaruhi bukan hanya kesehatan tapi pendidikannya juga."
"Bapak nggak perlu merasa bersalah. Bapak juga nggak perlu melakukan apa-apa. Lakuin aja seperti sebelumnya karena ini bukan masalah Bapak."
__ADS_1
Aku segera berdiri, berkat Pak Aidan tenagaku sudah pulih kembali. Aku mengambil tasku yang ada di dekat kakiku. Rasanya berat karena ada tambahan baju seragamku di sana.
"Sekali lagi terima kasih atas perhatian Bapak. Jika saya mengalami kesulitan, saya sendiri yang akan mendatangi Bapak," kataku tegas sebelum membuka pintu dan melangkah keluar dari ruangannya. Saat aku sudah hampir sampai di belokan aku mendengar sebuah langkah yang mengikutiku dari belakang.
"Ingat! Pintu ruangan saya akan selalu terbuka buat kamu Aretta," teriak Pak Aidan.
Aku berhenti sejenak dan kemudian kembali melanjutkan langkah. Tidak peduli segigih apa dia berusaha karena pasti ujung-ujungnya dia juga akan menyerah dengan sendirinya.
Setelah mengganti pakaianku di kamar mandi, aku mulai melangkah melewati ruang kelas dan menyadari jika kelas sudah berjalan setengahnya. Aku tidak mungkin masuk. Aku melirik jam tanganku, setelah ini pelajaran biologi. Moodku langsung hancur seketika. Tatapan penuh kebencian dari Jessi dan teman-temannya ditambah tatapan mengancam dari Pak Dewa benar-benar menghancurkan kehidupan nyamanku. Aku memutuskan untuk bolos, tidak mau mengikuti pelajaran itu.
Aku melangkah menuju gerbang utama dan berjalan keluar dari sana. Tidak ada yang berusaha menghentikanku, mungkin karena tidak ada yang memperhatikan. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur. Rasanya sangat melegakan menjadi manusia yang hampir tidak terlihat.
Aku berjalan pulang. Matahari sudah naik tapi sinarnya tidak begitu membakar. Cuaca hari ini mendung dan membuat angin berhembus menyegarkan.
Saat aku sampai di rumah tidak ada seorang pun di sana. Aku membuka pintu dengan kunci yang sudah kuduplikat dan langsung berjalan menuju kamarku. Aku memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Prediksi cuaca malam nanti hujan dan aku tidak mau terjebak di luar.
Aku mulai membereskan kamarku. Hal yang selalu aku lakukan ketika pikiranku kalut dan hatiku tidak tenang. Aku tidak memiliki seseorang yang bisa aku ajak berkeluh-kesah dan pilihan satu-satunya hanyalah melakukan sesuatu yang bisa membantu menghilangkan beban di hati.
__ADS_1
Aku menyapu dan mengepel kembali lantai yang di hari sebelumnya sudah aku bersihkan. Mengganti korden dan seprai untuk mengubah suasana.