Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Penculikan


__ADS_3

Aku melihat Aidan yang menelan ludah dan membuka tutup mulutnya berkali-kali tapi tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Benar-benar tidak bersuara. Aku hanya terus menunggu selama aku sanggup, tapi ternyata aku tidak sekuat itu. Air mataku mengalir turun karena tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Aku menutup mulut dengan satu tangan dan langsung memutuskan untuk berlari menjauh meninggalkannya.


Untungnya semua orang tampak sibuk mengobrol, jadi mereka tidak melihatku yang tengah kacau. Aku mendorong pintu kaca besar dan memutuskan untuk keluar. Angin segar dan udara dingin langsung menerjangku. Air mata yang masih mengalir itu pun langsung aku seka meski sekarang itu sudah menghancurkan maskaraku dan membuatnya luntur.


Aku melangkah cepat menjauhi rumah. Entah sudah berapa jauh aku melangkah, karena kini aku sudah benar-benar menjauh dari tempat itu. Aku masih saja menangis dan terisak yang membuat semua orang menatapku heran. Aku mengabaikan, toh mereka juga tidak mungkin datang dan menanyakan aku kenapa.


Aku menarik napasku dalam-dalam untuk menenangkan diri dan masih tetap berjalan untuk menjernihkan pukiranku. Aku tidak habis pikir soal Aidan tadi. Kenapa begitu sulit baginya untuk menjawab? Aku kira kami memiliki perasaan yang sama. Padahal belum dua minggu sejak dia menyatakan bahwa dia juga memiliki rasa padaku, sampai tadi saja aku masih berharap dia menjaga perasaanya, tapi dia malah memutuskan untuk meminta kembali berteman denganku. Tinggal beberapa bulan kami sampai kelulusan, harusnya dia bilang jika dia akan menungguku bukan menjadi temanku.


Rasa asin dari air mata yang mengalir itu masuk ke dalan mulutku. Sangat kontras dengan perasaanku yang tidak karuan. Orang-orang selalu mengeluh soal wanita yang sulit untuk jujur dengan perasaanya, tapi sejujurnya laki-laki juga bisa bertingkah sama.


Aku merasa sudah cukup untuk menjernihkan pikiranku dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Angin sejuk itu berhasil menyadarkanku dan membuatku sedikit tenang. Saat sedang berjalan dengan santai, tiba-tiba sesosok manusi berpakaian hitam menghalangi langkahku. Aku terkejut dan berteriak sebagai refleks. Namun saat mataku bertatapan dengan iris yang sangat kukenal itu, teriakanku semakin kencang.


"Akhirnya kamu datang sendiri ke sini." Dia melompat ke arahku yang membuat kami berdua jatuh tersungkur. Aku ambruk di bawahnya, tapi aku berhasil menyelinap dari bawah lengannya dan berlari dengan kekuatan maksimal menuju rumah. Aku sudah sampai sampai akhirnya dia berhasil menangkapku lagi dan membuatju jatuh. Aku mengayunkan tanganku ke kepalanya dan orang itu mengumpat kasar. Aku mengabaikan rasa sakitku dan mencoba melepaskan diri dari cengkramannya.

__ADS_1


"Kamu nggak bisa kemana-mana Aretta sayang!" Dia berucap dengan suara rendahnya. Alih-alih menarik kakiku darinya, aku malah melakukan hal sebaliknya dengan menendangnya menggunakan kekuatan penuh. Sepatuku mengenai dahinya dan berhasil membuatnya tertegun.


Cengkramannya mengendur dan kesempatan itu aku gunakan untuk berlari ke rumah, aku sudah sampai di jendela dan berharap ada orang yang melihat. Aku mencoba menarik perhatian semua orang yang ada di dalam sebelum sebuah tangan kembali menyeretku dan membuatku jatuh ke tanag. Kepalaku membentur veton dan itu tidak cukup membuatku pingsan tapi meninggalkan rasa pusing yang teramat luar biasa dengan tetesan darah yang mengalir di dahiku hingga terjatuh ke tanah.


Aku tidak bisa emnggerakan badanku untuk sementara waktu. Kesempatan itu dia gunakan untuk berdiri dan mengankatku. Dia meletakanku di bahunya layaknya tengah membawa karung beras dan mencengkramku keras supaya aku tidak bisa bergerak. Pikiranku masih tidak stabil, meski begitu aku masih berusaha untuk melawan walau akhirnya sia-sia. Peregelangan tanganku tidak mau terayun tiap kali aku berusaha bergerak. Kini yang bisa aku lakukan habya berdia agar seseorang bisa menyelamatka ku. Tapi rasanya mustahil, bahkan saat aku keluar tadi saja tidak ada yang sadar.


Pria itu mulai berjalan menuju tempat parkir dengan aku yang masih berusaha untuk dilepaskan. Sosok itu hanya terkekeh melihat usahaku yang tampak menyedihkan dan tetap melanjutkan langkahnya.


Begitu sampai di parkiran yang sepi, pria itu langsung membuka pintu bagasi. Saat itu aku tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Aku diculik.


Aku menjadi semakin pusing ketika jatuh kembali ke tanah. Pria itu menggosok lehernya dengan marah sambil mencoba menghilangkan rasa sakit yang kusebabkan. Aku mengambil kesempatan itu untuk berlari secepat mungkin.


Melawab atau melarikan diri. Hanya jtu pilihan terakhir. Dengan kondisiku yabg seperti ini, aku pasti akan kalah telak. Melarikan diri adalah pikihan yabg tepat meski membuat kepalaku kembali pusing. Aku berhasil menemukan jalan cepat untuk menuju toko, tinggal satu langkah lagi tapi sebuah lengan mengangkatku kembali dan meletakanku ke pundaknya.

__ADS_1


Aku mendengar suara deritan bagasi yang terbuka, belum sempat aku mencerna situasi, tubuhku sudah terlempar sangat keras ke dalam. Aku masih sempat melirik dan berharap ada orang yang menyadari keberadaanku. Mataku bertemu pandang dengan mata milik Aidan. Awalnya pria itu terkejut, tapi refleksnya luar biasa karena dia langsung sadar jika itu aku dan mulai berlari keluar.


Aku tidak memiliki banyak waktu untuk tahu apa yang terjadi karena bagasi sudah tertutup. Bantingan cepat dan bunyi suara mesin membuatku sadar.


Aku kalah.


Tiba-tiba ban mobil Pak Dewa berdecit ke tanah dan aku terlempar ke depan saat dia melajukan mobil.


Aku mengutuki kebodohanku sendiri. Sudah tahu jika pria itu terobsesi denganku dan sangat bisa dipastikan dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkanku, tapi aku malah dengan cerobohnya keluar sendiri tanpa persiapan


Apa sebenarnya yang dipikirkan pria ini.  Aku sendiri mulai panik dengan apa yabg akan terjadi padaku kedepannya. Apa dia akan menjadikanku budak? Atau bahkan lebih buruk dari itu?


Aku takut membayangkannya dan detik itu juga aku mengalami serangan panik. Aku menendang dinding bagasi menggunakan sepatu dan hal itu berhasil membuatnya melamvat. Mungkin dia hanya tidak ingin meninggalkan kecurigaan. Aku merasakan mobil yang dikendarai Pak Dewa mulai menepi dan terdengar suara pintu dibanting. Aku memukul dinding bagasi lagi dan lagi sambil berteriak sekuat tenaga dengan harapab ada orang atau hanya satu orang yang lewat lalu bertanya padanya.

__ADS_1


Bagasi mulai terbuka dan mata cojelat itu menatapku dengan tatapan tajam. Aku hampir bersorak karena campuran rasa bangga dan marah.


Aku menggunakan kesempatan itu untuk berteriak sekuat tenaga sampai membuat Pak Dewa menutup telinganya. Baru setelah suaraku berhenti, aku melihat dia yang sedang membawa payung. Aku juga melihat pria itu mengangkat payung tersebut ke atasku. Aku tidak memiliki waktu dan ruang untuk bergerak atau menghindar dan ketika pukulan itu mengenai pelipisku, kesadaranku mulai hilang.


__ADS_2