Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Tentang Gio


__ADS_3

"Gimana pendapat lo soal kampus ini setelah kita keliling?" tanyaku pada Rafa yang kini juga tampak asyik menikmati sate buah yang disediakan pihak kampus.


"Sejauh ini menarik, tapi kenapa mereka belum bawa kita ke fakultas Sains? Padahal gue penasaran banget," katanya, masih dengan mengunyah banyak makanan yang barusan dia ambil. Aku sendiri hanya terkekeh, dia termasuk orang yang tahu apa yang ingin dia ketahui dan itu hal yang luar biasa. Tidak semua orang memiliki pemikiran yang jelas tentang sesuatu yang ingin dia cari tahu. Contohnya ya aku sendiri.


"Habis ini kayaknya. Fakultas ini menarik sih, tapi kayaknya nggak cocok buat gue yang sudah terlalu sering mengalami drama di dalam kehidupan," ucapku sok puitis yang malah diberi respon tawa geli darinya.


"Gue nggak tahu ternyata lo bisa seekspresif itu soal kehidupan lo." Dia berseru sambil mengusap pelan kepalaku.


Aku hanya tersenyum, sejujurnya aku paling tidak suka jika ada seseorang yang menyentuh wajahku. Untungnya Rafa hanya mengusap kepala bukan wajah.


"Kayaknya kamu harus lebih hati-hati lagi," suara seseorang membuat kami berdua sontak berbalik, "tiap saya mau sentuh wajahnya Aretta, dia pasti langsung defensif dan mandang saya pakai tatapan tajam," dan itu suara milik Aidan.


Respon dari Rafa hanya tersenyum penuh arti. Tampaknya dia salah mengambil kesimpulan. Bukan sentuhan seperti itu yang dimaksud oleh Aidan.


"Kayaknya saya harus belajar lebih banyak lagi dari Bapak," ejeknya. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah, dia sengaja menumpahkan jus yang dia minum ke arahku. Responku yang telat membuat dia menyeringai.


"Sorry Reta. Gue nggak sengaja," teriaknya penuh kepalsuan, "kayaknya lo harus ke toilet buat bersih-bersih. Pak, Aretta nggak bisa pergi sendiri pastinya dan saya juga nggak bisa izin gitu aja karena outing class hari ini adalah moment yang paling saya tunggu. Jadi, bisa minta tolong nggak Pak buat antar Aretta."


Aku mendesis kesal pada Rafa. Dia harus membayar aksi jahilnya nanti dan itu akan berkaitan dengan Rendi. wanita itu pasti memiliki perasaan pada temanku yang pertama itu karena tatapan matanya yang penuh damba ketika melihat Rendi. Awas saja, dia akan mendapat balasan dua kali lipat lebih parah dibandingkan ini.

__ADS_1


Aku sudah akan membuka mulut untuk menolak, tapi Aidan bergerak lebih cepat. Dia mendatangi Miss Naura dan mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu menatapku lalu mengangguk paham. Dan sedetik kemudian dia sudah berada di depanku dan membimbingku untuk mengikutinya keluar.


"Imajinasi teman kamu kayaknya liar banget ya," ucap Aidan begitu kami sampai di luar. Aku hanya bisa tertawa datar karena niat murahan Rafa yang memalukan. Aku memang mengakui gadis itu terlalu over dalam berpikir. Mungkin dia juga menganggap hubunganku dengan Aidan sudah berada di tahap pendekatan yang luar biasa. Padahal tidak sama sekali.


Kami melangkah beriringan di koridor untuk mencari toilet. Namun tampaknya letak toilet itu agak tersembunyi karena meski kami sudah berkeliling hampir lima menit, kami berdua masih belum menemukan tanda keberadaan toilet.


"Tadi pagi aku lihat kamu sama cowok," kata Aidan. Dia mencoba membuka percakapan karena sedari tadi kami hanya saling diam membisu. Sayangnya topik yang dia pilih bukan topik pembicaraan yang ingin aku bahas lagi untuk kedua kalinya tapi dengan orang yang berbeda.


"Kamu lihat. Kok bisa? Aku aja nggak lihat kamu," kataku cepat dan berusaha menghindari kontak mata dengannya.


Aku kira hari ini akan menjadi hari paling bebas karena aku tidak bertemu Aidan dan pastinya tidak akan ditanyakan apapun olehnya, tapi ternyata pria itu sudah melihat adegan tadi pagi. Kenapa aku tidak menyadarinya?


"Gimana mau sadar, kamu aja tatap-tatapan sama dia intens banget kok. Serasa dunia cuma milik berdua sampai nggak sadar kalau aku juga ada di sana," nada bicara terdengar tajam dan penuh emosi. Ada apalagi dengan pria ini. Selama aku mengenalnya, tidak pernah dia berbicara dengan nada setajam itu.


"Sana gih masuk toilet," serunya menunjuk menggunakan dagu letak toilet di depan sana. Aku menoleh dan langsung melipir masuk setelah mengucapkan terima kasih.


Aku mengusap bekas jus yang mengenai seragamku. Memang terlihat sekali basahnya, tapi setidaknya warna dari bekas jus itu sudah tidak terlalu jelas.


Begitu selesai, aku segera melangkah keluar dan hampir saja aku menabrak Aidan karena pria itu berdiri tepat di depan pintu masuk toilet.

__ADS_1


"Udah bersih?" tanyanya. Aku mengangguk seraya melihat ke rokku yang meninggalkan bekas basah. Aidan mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


"Kayaknya kita tersesat," kataku. Aku menatap ke sekeliling dan merasa asing dengan tempat ini. mungkin karena tadi bagian sini tidak kami lintasi dan sekarang hanya ada aku dan Aidan. Aku kembali mencari panita yang menggunakan almamater, tadi Kak Putra sudah berpesan, jika tersesat kami bisa menanyakan tujuan kepada orang-orang tersebut. Tapi seawas apapun pengelihatanku, tetap saja aku tidak menemukan orang-orang yang menggunakan almamater.


Aidan juga mengikuti tingkahku, diapun hanya menghela nafas pelan dan menarikku ke gerombolan mahasiswa yang tengah asyik mengobrol di sudut ruangan. Tempat yang kami datangi ini semacam lorong luas yang di dalamnya hanya berisikan bangku-bangku untuk duduk.


"Kalau bingung, kamu bisa langsung tanya aja sama mahasiswa yang ada di sini, walaupun mereka nggak tahu pasti tapi mereka tetap bakal kasih tahu kemana rombongan kita pergi," jelasnya begitu aku menatapnya seolah tengah menanyakan maksudnya.


"Tadi aku dengar sedikit percakapan kamu sama kakak kamu," katanya, yang berhasil membuatku menoleh ke Aidan, "tenang aja, aku nggak nguling cuma kedengaran doang," belanya.


"Emang apa yang kamu dengar?" tanyaku penasaran. Jika dia sudah mendengar, berarti tidak ada lagi yang harus disembunyikan.


"Soal pindah rumah," jawabnya terus terang, "juga soal kamu yang nggak mau ambil keputusan besar yang bisa buat kamu masuk ke dalam situasi berbahaya."


"Ah, soal itu." Aku hanya mengangguk tapi tidak mencoba untuk menjelaskan lebih jauh.


"Kenapa? Kamu nggak percaya sama dia?" tanyanya.


"Bukannya nggak percaya, cuma belum percaya aja."

__ADS_1


"Mau aku bantu cari tahu. Aku punya kenalan yang bisa cari tahu tentang seseorang, mungkin aja sebenarnya dia emang udah benar-benar berubah."


Aku menimang untuk sesaat. Tidak ada salahnya juga, toh aku juga jadi bisa menghemat waktu.


__ADS_2