
Aku terbangun. Mataku terbuka dan aku berkedip dengan cepat untuk memfokuskan diri. Tapi yang kudapati habya nuansa gelap gulita yang membuatku mempertanyakan dalam hati apakah aku benar-benar terbangun atau tidak. Aku mencoba merasakan sekelilingku dan aku mulai sadar jika aku tengah berbaring di atas sesuatu yang lembut. Itu adalah kasur.
Aku langsung bangkit dan menolak menyentuhnya lebih lanjut. Memang siapa yang tahu kasur ini akan digunakan untuk apa.
Anehnya di dalam kegelapan ini aku tidak merasa takut. Aku memang tidak bisa melihat sekeliling, tapi di ruangan ini juga tidak ada sesuatu yang menjadi pemicu ketakutanku.
Tidak ada suara dan tidak ada secercah cahaya pun. Aku memutuskan untuk bergerak, meletakkan kakiku ke lantai dan mencoba menemukan apa pun yabg mungkin bisa dijadikan acuan tentang dimana sebenarnya aku disekap. Aku berlutut perlahan, lalu mengerang pelan ketika lututku yang terluka menyentuh lantai.
Aku meletakkan tanganky ke lantai, tapi yang kudapat malah rasa sakit yang menusuk dan mematikan indera perasaku untuk sesaat. Aku menggenggam erat-erat tanganku karena nyeri itu mulai menjalar ke pergelangan tangan. Aku kini dapat mengingat kembali sebagian besar kejadian yang aku alami dan ketika aku bersandar, semua rasa nyeri itu perlahan muncul bersamaan.
Mengingat kejadian itu hanya membuatku semakin marah, bukannya takut atau kesal. Hanya amarah yang tersisa. Padahal aku sudah diberi tiga kali kesempatan untuk berlari, tapi dari ketiganya tidak ada yang berhasil aku lewati. Aku terlalu lambat, terlalu lemah bahkan hanya untuk berlari masuk ke dalam toko. Aku merasa sudah seperti mayat hidup saat menghadapi kejadian dimana aku dilempar dengan mudahnya masuk ke dalam bagasi dan lebih sialnya lagi, tidak ada orang di sekitaranku saat itu.
Begitu mataku bertatapan dengan mata cokelat yang berkilauan dalam kegelapan, aku mulai sadar jika kebodohanku itu sangat menguntungkannya. Dia memukulku, dan dia bahkan tidak pandang bulu. Harusnya aku sedikit lebih waspada ketika tahu dia mengirimkan surat ancaman. Tampaknya pria itu sudah menunggu waktu yang tepat untuk membawaku dan kini dia berhasil. Berhasil menculik dan menyekapku di tempat yang aku sendiri tidak tahu berada dimana.
Aku mengumpati kebodohanku yang dengan berani-beraninya keluar sendirian. Ditambah jalan yang aku pilih adalah jalan yang teramat sepi. Pilihanku itu membuat Pak Dewa leluasa. Dia memang mengenakan topeng, tapi aku sudah terlalu hafal dengan tatapannya itu. Hanya sekilas pun aku bisa mengenali dia.
__ADS_1
Harusnya aku peka dengan keadaan sekitar. Jika Pak Dewa tidak mengganggu, dia pasti sudah memiliki rencana. Aku yang terlalu santai memang dan menganggap apa yang aku takutkan hanya satu hal yang mustahil terjadi. Dan ujung-ujungnya, aku sendiri yang sengsara.
Aku ingin membodohi diriku, tapi berada di ruangan gelap tanpa cahaya sudah menjadi hukuman yang menyedihkan menurutku.
Aku berlutut lagi, tapi kali ini aku memeluk pergelangan tanganku ke dada saat aku harus mengedit terseok-seok di lantai dingin ini. Itu adalah beton dingin yang rasanya seperti lapisan es yang sengaja diletakkan di sana. Batu-batu kecil dan pasir menancap di lututku ketika aku melangkah. Tidak peduli seberapa banyak aku mengedipkan mata, kegelapan itu bahkan tidak memudar sama sekali atau berubah menjadi cahaya. Aku beringsut lagi, tapi entah kenapa kini aku merasakan ada sesuatu di depanku. Aku duduk dan bersandar pada tumitku sambil mengulurkan tangan ke depan untuk merasakan sekelilingku.
Aku merasa seperti orang bodoh ketika tangan teratur ke udara tapi tidak menemukan apa-apa. Aku mencoba kembali ke kiri dan kini aku merasakan tengah menggesek sesuatu yang kasar. Aku menarik napas karena kontak yang tiba-tiba itu lalu mengusap lengan dan kakiku pelan untuk menghilangkan rasa sakit. Aku mengulurkan tanganku lagi, masih memeluk lenganku yang sakit dan membiarkan lenganku yang baik-baik saja untuk mencari tahu.
Tidak seperti tanah yang dingin, permukaan yang aku sentuh kali ini terasa lebih hangat. Aku tahu itu adalah sebuah kayu karena serpihannya menyangkut di kulitku. Tanganku naik semakin tinggi mengikuti kerangka tersebut. Kini aku yakin jika itu adalah sebuah tangga. Aku bertanya-tanya berapa banyak anak tangga yang yang ada dan aku mencoba untuk terus meraba-raba. Perlahan namun pasti, aku mencoba merangkak menaiki tangga.
Aku mencoba menaiki tangga setenang mungkin. Jika salah sedikit saja, ditambah jika pria itu ada di luar sana sudah pasti aku akan kembali didatangi dan akan mendapat hukuman. Aku sudah berhasil mencoba menaiki tangga tersebut. Selangkah demi selangkah, namun ada kalanya aku mengeluarkan suara yang berdebum karena masih sulit mengontrol kekuatanku. Meski terasa nyeri, aku tetap mengabaikannya karena aku harus tetap fokus.
Aku mencoba berlutut lebih tinggi lagi agar dapat menyentuh gagang pintu dengan sempurna. Aku sangat berharap ruangan itu tidak terkunci. Dan ekspresiku langsung berubah saat tahu pintu itu terkunci.
Saat itulah aku baru sadar jika aku terjebak dalam lubang kegelapan ini. Yang aku pikirkan pertama kali adalah menangis. Tapi aku yakin menangis malah juga tidak akan membantu di situasi macam ini, namun ketika menemukan pintu yang terkunci membuatku merasa kalah dan tanpa bisa kutahan mataku mulai berkaca-kaca. Aku menunduk di tangga paling atas dan menumpukan kepalaku ke pintu.
__ADS_1
Ada seberkas caha kecil yabg masuk dari bawah pintu, meski masih terlihat gelap. Ku mendekat dan mengintip ke bawah untuk melihat di antara celah-celah kecil.
Aku tidak bisa melihat apapun dari cahaya gelap yang dipancarkan dafi luar, tapi samar-samar aku bisa melihat sesuatu. Aku melihat mesin cuci di seberang lorong kecil dan juga tumpukan cucian. Itu bukan hal yang aku ingin ketahui. Aku merosot kembali ke anak tangga.
"Gue harus gimana sekarang?" Aku menunduk di tempatku. Aku harus keluar dari tempat ini, tapi gimana caranya? Pintunta terkunci dan lagi aku belum menemukan jendela. Apa aku harus menunggu pria itu turun dan mengambil kesempatan untuk kabur?
Aku mencoret semua ide yang tidaj ada jalan keluarnya itu, jika memang aku berhasil keluar dari ruangan ini, belum tentu aku bisa keluar dari rumah ini. Aku tidak hafal denah rumah dan terasa sangat mustahil untuk dilakukan.
Tapi aku tidak mau menyerah secepat itu.
Aku menghela napas lagi tapi langsung berhenti ketika aku mendengar suara langkah kaki di atas kepalaku. Lantainya berderit dan langkah-langkahnya cukup keras, lalu semakin keras. Aku perlahan segera menuruni tangga, satu per satu. Bahkan saat aku belum berhasil menyingkir dari tangga, orang itu sudah masuk.
"Hallo sayang. Aku tahu kamu nggak bakal diam aja." Dia berbicara dnegan nada yang teranat ceria sambil bertepuk tangan dengan gembira. Aku mencoba pergi dengan cepat, membebaskan diri dari pria itu.
Pak Dewa menuruni tangga dengan pelan, namun mengancam yang membuat jantungku berdebar ketakutan. Aku akhirnya kembali menyentuh beton dan itu membuat tubuhku merinding. Dinginnya bahkan sampai meresap ke dalam tulang.
__ADS_1
Aku menunduk dan suara klik membuatku mendongak. Lampu di ruangan hidup, hal itu sontak membyat pandanganku menjadi buram karena langsung dinyalakan lampu.
"Jangan tutup wajah kamu." Dia menggeram ketika aku menutupi wajahku karena silau.