
Setelah kepergian Dewa, kami kembali sibuk dengan rutinitas yang sama sampai memasuki jam pulang. Ketika sore sudah beranjak semakin malam, kami bersiap untuk segera pulang.
Aku dan Aretta bergerak cepat untuk membereskan barang-barang yang tidak berada pada tempatnya, setelah merasa cukup kamipun beriringan untuk keluar bersama. Dia segera berpamitan dan mulai bergerak pergi meninggalkan toko.
Aku tidak tahu ada apa denganku hari ini, sepertinya tingkat keberanianku bertambah semenjak kami sering bertemu. Aku memanggil namanya dan dia berbalik. Entah kenapa hari ini aku masih belum mau berpisah dengannya.
"Aretta. Ayo pulang bareng. Aku bakal anter kamu sampai rumah. Lagian udah malam dan banyak begal di sekitar sini," kataku. Aku tidak menemukan alasan lain dan pasti akan terasa sangat aneh jika aku memanggil namanya tanpa mengatakan penyebab kenapa aku memanggilnya. Dan sepertinya cara itu berhasil membuatku berduaan lebih lama dengan gadis itu, karena setelahnya dia menurut untuk masuk ke dalam mobil dan dia juga menunjukkan alamat rumahnya.
"Kamu nggak jadi lari?" Dia bertanya sambil melirik ke arah pakaianku. Aku menunduk dan baru sadar jika aku masih mengenakan pakaian lari sejak tadi pagi.
"Rencananya bakal lari kalau sudah sampai rumah," jawabku. Aku memang biasanya berlari hanya ketika akhir pekan. Butuh usaha juga untuk tetap mempertahankan badan yang selalu tampak fit. Berkat training yang selalu diajarkan orang tuaku untuk melakukan olahraga, akhirnya terbiasa dan bahkan kini aku bisa sampai membentuk otot tubuhku walaupun tidak sampai yang berbentuk hebat.
"Ah," hanya itu respon yang dia berikan. Ternyata jarak yang tercipta memang ada karena sepertinya dia masih tampak sungkan jika banyak berbicara padaku. Padahal aku tidak masalah dan aku malah lebih senang ketika dia bercerita.
Dia menatap ke luar jendela tanpa ekspresi, sesekali berbicara padaku untuk beluk di tikungan yang seharusnya.
Kami tiba di depan rumah yang terlihat sama modelnya dengan rumah di sampingnya. Dia tinggal di daerah perumahan ternyata. Aku langsung mematikan mesin mobilku dan dia langsung melompat keluar ketika aku tengah memikirkan kata-kata untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Terima kasih buat tumpangannya. Bye."
Aku masih belum mau berpisah dengannya dan akhirnya aku kembali memanggilnya hingga dia berbalik padaku dan menaikkan salah satu alisnya ketika dia akan menutup pintu mobil.
"Mau langsung pulang?" tanyaku. Aku kenapa sebenarnya? Kenapa tingkahku malah seperti remaja puber.
"Nggak. Aku mau olahraga bentar. Paling lari keliling kompleks dua putaran."
__ADS_1
Aku sedikit terkejut mendengarnya. Dia memang tampak terlatih ketika berlari, aku sering melihatnya di gym atau saat jam olahraga, tapi aku tidak menyangka dia akan berlari ketika matahari bahkan sudah tidak tampak binarnya. Gadis ini memang pemberani atau bagaimana sih?
"Kenapa mesti lari malam sih?" gerutuku pelan dan dengan cepat melepas seatbeltku, "bentar! Kamu lari bareng aku. Ini udah malam pasti rawan. Aku antar kamu pulang buat mastiin kamu pulang dengan selamat. Kalau gini ceritanya aku nggak bakalan tahu kamu selamat apa nggak sampai rumah lagi.
Aku keluar dan langsung mendapatkan tatapan heran yang dia layangkan padaku.
"Kamu yakin bisa ikutin aku?" katanya sedikit khawatir tapi aku tahu dia itu tengah meledekku.
Aku terkekeh dan mengangguk mendapati dia tampak meremehkanku.
"Mau taruhan?" tentangku.
"Ehm... Aku pikir-pikir dulu," katanya dan langsung berlari memasuki rumah untuk meletakkan tasnya. Dia kembali dan mulai ikut pemanasan bersamaku.
Perjalanan olahraga bersama ini benar-benar membuatku semakin mengenalnya. Dia tidak lagi bersikap canggung dan bahkan lebih banyak berbicara meski sepertinya dia tidak mau terlalu banyak bercerita tentang dirinya.
Pulangnya dia sudah terlihat lebih bersemangat. Mungkin karena aku mengundangnya ke rumah jadi sikapnya lebih lembut dibanding sebelumnya. Begitu melihat dia sudah berada di beranda rumahnya, aku segera memberikan klakson terakhir sebelum benar-benar pergi.
***
Aku sedikit kesal ketika dia datang terlambat keesokan harinya yang membuatku tidak bisa mengobrol lebih banyak sebelum jam kerja dimulai. Aku bahkan tidak bisa bertanya hal sepele karena hari ini kami dibanjiri banyak pelanggan. Hari Minggu merupakan puncak dimana toko akan dipenuhi pelanggan.
Jam istirahat datang dan aku membiarkan dia untuk makan terlebih dahulu karena masih tersisa beberapa pelanggan di sini. Aku memutuskan untuk makan bergantian karena hari ini sangat tidak memungkinkan untuk kami makan bersama. Setengah jam kemudian dia kembali dengan suasana hati yang terlihat lebih bahagia daripada sebelumnya. Aku ingin bertanya, tapi rasa lapar lebih mendominasi dan aku memutuskan untuk mengisi terlebih dahulu sebelum bertanya. Tapi nanti.
Tadi pagi aku sengaja melewatkan sarapanku agar dapat tiba di toko lebih awal dan malah tidak menemukan dia di Daia.
__ADS_1
"Akhirnya kamu pulang! Aku udah kelaparan." Aku berkata dengan ekspresi sedih yang dilebih-lebihkan ketika dia memasuki toko.
"Kamu makan apa tadi?" tanyaku.
"Omelette sama sereal. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya Rafa di Daia kafe." Sikapnya berubah menjadi sangat defensif ketika aku bertanya soal makanan dan hal itu membuatku sulit mengetahui apakah dia benar-benar makan atau tidak. Tapi rasa lapar yang menggerogoti perutku membuatku memutuskan untuk percaya.
"Iya aku percaya," kataku, sambil mengangkat tangan tanda menyerah. Aku pun langsung berjalan pergi meninggalkannya begitu dia memasuki konter.
Aku memutuskan untuk pergi ke Daia kafe. Setelah memesan burger dan kentang aku pun duduk dan menunggu. Setelahnya aku bertemu Davin dan kami mengobrol sedikit.
"Hei bro! Mana cewek yang kemarin," katanya, sambil menunjuk lenganku dan menyeringai, "dia cantik."
"Shut up! Dia murid gue," kataku memperingati.
Dia menatapku dengan wajah iba. Aku tahu maksudnya itu. Dia hanya ingin mengejekku dengan wajah menyebalkan miliknya itu.
Devin mengambil tempat di depanku dan aku tidak menghiraukannya. Makanan pesananku sudah datang dan aku lebih memilih untuk menyantapnya dibandingkan mendengarkan dia berkicau soal Aretta.
"Ngomong-ngomong setelah lulus kuliah kemarin lo ngapain?" tanyanya.
"Gue langsung dapat tawaran ngajar di SMA sambil ngurus toko bantuin Oma. Lo sendiri?"
Perjalanan kisah hidupku tidak terlalu menyenangkan dan aku juga tidak suka membahas tentang masa lalu. Hal itu menyakitkan dan amat sangat ingin aku lupakan. Untungnya Davin adalah teman baikku, dia mengetahui bagaimana kisah hidupku dan membuatku tidak perlu menceritakan soal itu padanya.
"Gue keluar dari kuliah buat ngejar karir di bidang perfilman. Lo tahu sendiri kalau gue pingin banget jadi aktor, tapi kayaknya gue nggak bakat di bidang itu. Jadi gue mutusin buat ambil pinjaman dan kerja keras terus malamnya gue ambil kelas akting," jelasnya.
__ADS_1