Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Renovasi tahap 1


__ADS_3

Seseorang yang memanggilku tadi adalah Aidan. Aku segera mengarahkan fokus kepadanya dan menanti apa yang akan dia katakan.


"Kenapa?" tanyaku ingin tahu.


"Aku sudah menemukan toko furniture barang bekas yang menjual barang yang bisa kamu gunakan di tempat tinggal baru kamu. Harganya miring dengan kualitas bagus tapi kamu harus cepat ke sana buat memilih Karena barangnya cepat sold out." Dia menjelaskan soal itu. Aku penasaran, padahal semalam kami berdua bergadang untuk menemukan toko tapi masih tidak menemukan yang sesuai, lalu apa dia menggunakan waktu mengajarnya untuk mencari tahu soal itu? Aku ingin bertanya tapi tidak enak.


Bagaimanapun juga dia sudah mengusahakan yang terbaik dan aku hanya harus menerima kebaikannya.


Tiba-tiba Aidan melangkah maju, dia meletakkan kedua tangannya di lenganku.


"Aretta," panggilnya serius. Dia menatap mataku dalam-dalam, "apa... Kamu... Mau..." Aku masih menunggu dia melanjutkan kalimatnya. Entah kenapa kalimatnya yang patah-patah itu membuatku malah semakin banyak berharap pada sesuatu yang mustahil.


Memang apa sih yang aku harapkan? Bukankah hal seperti itu malah akan membuat canggung keadaan kami. Aku dan dia baru saja berbaikan.


"Mau bareng nggak ke tokonya?" lanjutnya. Aku tertawa. Dia pun tertawa. Kami mentertawakan hal konyol dengan konteks yang berbeda.


"Kenapa sih ngomongnya pakai dipotong-potong segala," geramku sambil meninju lengannya, "bikin orang jadi salah paham aja," tuntutku merengut dalam kepura-puraan.


"Lagian muka kamu tadi lucu banget pas tegang."


Aku mendengus sambil mengalihkan pandanganku karena aku tidak mau dia melihatku tersipu. Aku menganggukkan ajakannya dan kami melanjutkan sebentar obrolan basa-basi kami sebelum pada akhirnya memutuskan berpisah untuk melanjutkan kegiatan kami masing-masing.


Sekolah usai. Kegiatan belajar mengajarpun juga usai. Aku melangkah keluar dan menemukan mobil Aidan sudah terparkir manis di seberang sekolah. Tanpa menunggu lama aku segera beranjak mendekat.


Tiba di sana toko tampak tutup dan kami berdua harus bekerjasama untuk mencari kunci karrna semuanya sudah tertutup rapat dan lampu-lampu juga sudah dimatikan. Begitu kami masuk, aku menemukan cacaran note di konter. Tertulis jika Oma Dewi tutup lebih dulu karena kondisinya tidak terlalu baik.


Aidan mengkhawatirkan keadaan Omanya dan dia meminta izin untuk menelepon sebelum dia membantu membuka toko. Setelah 15 menit berlalu bersamaan dengan aku yang tengah berberes-beres dia kembali. Aidan memberitahu jika Omanya hanya lelah dan dia membutuhkan istirahat agar kondisinya kembali membaik.


Setelah mengetahui keadaan Omanya, Aidan segera memintaku untuk membuka toko. Dia juga segera mengeluarkan laptopnya dan mencari website yang dia bicarakan tadi. Sebuah online shop yang menjual furniture yang sekiranya akan aku butuhkan. Dia menyodorkan layar laptop yang menampilkan gambar sofa. Walaupun bekas tapi masih tetap kelihatan seperti baru.


"Ini satu set?"

__ADS_1


"Iya. Satu set sofa 4,5 juta udah sama ongkirnya."


"Bagus. Aku juga suka modelnya," ucapku, "bisa minta tolong sekalian buat pesanin nggak?" Aidan mengangguk dan dia langsung membuat pesanan sesuai permintaanku. Tidak membutuhkan waktu lama dan kami langsung mendapat jawaban jika barang akan dikirim akhir pekan.


"Urusan sofa udah selesai. Kamu masih butuh apalagi, kita bisa cari sekalian di sini," tawar Aidan.


Aku mengangguk dan selama toko dibuka kami berdua tidak hanya fokus pada pelanggan, kami juga sesekali mencuri waktu untuk mencari furniture yang aku inginkan.


Aku meminta persetujuan pada Aidan untuk membuat pengumuman soal penutupan toko untuk sementara karena kami harus segera memulai renovasi. Awalnya dia menolak, lebih tepatnya dia khawatir namun ketika sepanjang sore yang datang hanya seorang pengunjung saja, pada akhirnya Aidan setuju dan menurutnya itu adalah keputusan yang tepat. Pada akhirnya dia menempelkan pemberitahuan setelah berpikir panjang.


"Kalau gitu kita beres-beres sekarang." Dia berkata begitu sambil melangkah pergi untuk mencari kotak kardus.


"Kenapa sekarang? Cepat banget?" tanyaku.


Untuk sesaat hanya ada keheningan. Dia tidak langsung menjawab dan menghela nafas terlebih dahulu sebelum menjawab, "Aku harus cepat mulai biar Oma bisa lihat usaha yang dia cita-citakan terbangun sebelum keadaan Oma makin parah," ucaonya cepar. Itu memang mimpi Oma Dewi yang ingin membuat kafe library dan kami hanyalah orang-irang yang ingin mewujudkan mimpinya itu. Dan aku pun setuju dengan kalimat Aidan karena bagaimanapun juga temoat ini memang diciptakan untuk Oma Dewi, jika keadaanya sudah tidak baik dia akan sulit untuk melihat berdirinya toko ini.


Aku mulai ikut bergerak untuk membereskan buku-buku yang masih tertata rapi di rak. Semua kami lakukan dengan cepat karena ini sebagai wujud komitmen jika ksmi memang bersungguh-sungguh ingin merubah toko sesuai keinginan Oma.


Aku udah naik dan memutuskan untuk mampir ke toko bangunan . Kami memutuskan untuk berjalan kaki Karena jarak toko itu hanya 10 menit dari toko buku. Dan lagi kami juga harus bergegas karrna toko ini akan tutup sebelum pukul 6 sore.


Kami tiba dan langsung memilih. Setelah berkutat cukup lama dan mempertimbangkan juga warna-warna yang cocok, akhirnya Aidan memutuskan untuk memilih warna putih gading sebagai warna dasar karena setelah tempat tinggalku jadi, kami bisa kembali mewarnai toko sesuai dengan apa yabg kami inginkan. Dan perbelanjaan kali ini kami membeli cat putih berukuran 6 liter. Ketika membawa barang tersebut aku langsung membayangkan apa-apa saja yang akan aku gunakan untuk mewarnai kamarku sendiri.


Setelah hari itu, aku dan Aidan banyak menghabiskan waktu bersama. Bahkan pertemuan kami bisa dibilang sangat rutin seminggu ini. Kami benar-benar memgerjakan apa-apa saja yang bisa kami lakukan seperti mengecat dan membersihkan toko. Gio juga ikut membantu bahkan pria itu juga membeti saran agar kami meletakkan buku-buku di lantai atas agar tidak mengganggu kegiatan di lantai bawah.


Kami semua sangat sibuk mengurus pindahan dan renovasi. Bahkan aku dan Gio juga sudah membawa beberapa barang kami dari rumah tanpa ketahuan oleh Mama. Aku dan Gio sangat optimis pada perpindahan kali ini dan dia memutuskan untuk membawa semua barang kami ketika libur sekolah. Aku hanya menyetujui saja karena sarannya juga tidak buruk.


Kami menghabiskan waktu 2 hari penuh untuk mengecat sepuruh ruangan. Warna cokelat dan hijau gelap yang sebelumnya memenuhi dinding sudah lenyap sepenuhnya dan sekarang sudah diganti dengan warna putih gading yang menyegarkan mata. Warna itu juga membuat seluruh ruangan terlihat 10 kali lebih besar.


Kami mulai mengecat dari pukul 07.00 pagi hingga 10.00 malam, karena menghabiskan waktu hingga dua hari kamimelakukannya dengan melapiskan dua kali pengecatan.


"Bau catnya bikin kepala sakit." Aidan mengeluh sambil mengaplikasikan cat ke dinding. Dia sudah mengatakan keluhannya berkali-kali hingga aku kenyang sendiri. Aku meninggalkan dia untuk pergi ke tempat lain dan melanjutkan acara mengecatku dengan hati-hati.

__ADS_1


Aku mencelupkan kuasku ke dalam ember cat dan melukis garis putih lurus dan tebal di bagian belakang papan yang rencananya akan dibuat sebagai pemanis ruangan. Aku juga mengecat sedikit kaos yang sedang digunakan Aidan lalu melengos seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.


Mati-matian aku berusaha menjaga ekspresi wajahku agar tetap datar, meski sejujurnya aku sudah ingin tertawa terbahak-bahak.


"Jangan banyak ngeluh," ucapku masih sambil terus mengecat. Aku melirik sekilas ke arahnya dan dia melihatku dengan raut wajah tidaj percaya.


"Aku nggak nyangka kamu bisa kayak gitu. Lihat aja, bentar lagi kamu pasti bakal rasain hal yang sama kayak yang aku rasain." Secepat itu dia menyadari jika aku menjahilinya.


Dia menjatuhkan rolnya ke lantai yang sudah ditutupi lembaran plastik lebar dan mengambil kuas lebih kecil. Aku memundurkan diri ke sudut ruangan, berhati-hati agar tidak menyentuh dinding.


"Please. No!"Aku menjerit, tapi sudah terlambat.


Aidan sudah mencelupkan juasnya ke dalam ember cat dan membawanya ke depan wajahku untuk mengancamku.


"Kalau kamu minta maaf aku nggak bakal bakae," katanya mencoba menawar. Masih dengan kuas yabg ada di depanku, bahkan kini semakin di dekatkan ke wajahku.


"Nggak mau!" Aku berteriak dan mencoba lari darinya. Aku menunduk untuk menghindar tapi kalah cepat dengan gerakannya.


Sepasang tangan yang kuat melingkari pinggangku dan menarikku lebih dekat ke arahnya. Aidan mengambil kuasnya dan kini mengusapkannya ke sepanjang kakiku yang sedang menggunakan celana pendek. Aku memekik karena sensasi dingin yang mengenaiku dan mencoba melepaskan diri tapi dibalas dengan serangsn lain dari Aidan.


"Stop!" Aku berteriak, "udah udah. Please!" ucapku sambil terus memohon ketika dia menyapukan catnya lagi di dahiku. Setelah tergambar sempurna dia langsung melepaskanku dan tertawa terbahak-bahak.


"Kamu harus lihat penampilan kamu sekarang." Dia berbicara sambil berusaha menahan tawa. Melihat ekspresinya aku ikut tertawa terbahak-bahak. Apalagi saat membayangkan bagaimana rupaku yang sudah terkena cat.


"Pasti berantakan. Emang nggak pas rasanya ngecat tanpa perang."


"Kamu senang kan," katanya sambil terus menyerangku dengan cat.


Menurutku, hari itu adalah perang cat terbaik versiku, hingga Gio masuk dan berteriak menatap kami yang sudah dipenuhi cat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria itu speechles.


Semuanya terjadi sangat cepat sampai waktu dimana kami harus pindah pun telah datang.

__ADS_1


__ADS_2