
Bagian terbaik dari liburan adalah, aku jadi tidak perlu bertemu dengan Pak Dewa. Aku juga bisa berhenti menggunakan pakaian longgar dan mengenakan pakaian yang aku inginkan tanpa takut mendapat pandangan mencemooh dari orang lain. Aku juga tidak lagi mendapat ancaman dari Jessica, wanita itu akhirnya menjauh dan tidak pagi membuatku merasa tidak nyaman. Mungkin dia sedang berusaha menghabiskan waktu bersama Pak Dewa yang notabenenya memiliki banyak wanita simpanan. Atau jangan-jangan wanita itu tahu jika aku tidak memiliki hubungan aneh seperti yang dia pikirkan dengan Pak Dewa. Tapi apapun itu, aku merasa sangat bersyukur dengan keadaan ini.
Namun masalahku tidak hanya berputar ke sekitaran Pak Dewa saja. Aku masih memiliki Mama yang menjadi ancaman terbesar untukku.
Aku dan Gio harus pindah, tapi sebelum itu kami berdua harus memastikan Mama tidak ada di rumah ketika kami pergi. Baik aku dan Gio, sama-sama menghindari Mama agar tidak menimbulkan drama ketika kami akan pergi. Dan ketika perpindahan itu terjadi Mama jadi tidak memiliki hak untuk turut campur karena kami sudah lebih dulu keluar.
Gio dan Aidan sudah memutuskan jika kami akan pindah saat malam hari. Menurut mereka itu adalah waktu paling pas karena saat itu Mama pasti sedabg keluar entah untuk berjudi ataupun mabuk-mabukan.
Aku dan Gio sekarang masih berada di rumah. Kami sama-dsama mengunci diri di dalam kamar dan menunggu Mama pergi. Hingga pada akhirnya kami mendengar suara pintuykeluar yang dibanting kencang yang menandakan dia pergi, kami berdua langsung bergegas membereskan barang dan diri kami. Kami hanya memiliki sisa waktu beberapa jam saja sampai Mama kembali pulang. Itu zona bebas yang sangat kami butuhkan.
Aku dan Gio sudah mempersiapkan box-box yang akan membawa barang kami, hanya saja jika kami mempersiapkannya sejak awal Mama pasti akan curiga.
Aidan sendiri akan datang nanti untuk membantu kami pindah. Dia juga berencana membawa mobil pengangkut yang bisa membawa ranjang reotku ke rumah baru.
Aku selesai lebih dulu dibandingkan Gio, lagipula barang yang ingin aku bawa juga tidak terlalu banyak. Aku segera menumpuk semua box tersebut menjadi satu.
"Udah selesai belum?" teriakku sambil menatap jam di dinding. Saat itu pukul 8.30 malam. Hanya saja untuk berjaga-jaga kami akan pergi lebih awal karena Mama biasanya akan ditendang keluar dari bar jika dia sudah terlalu mabuk atau kehabisan uang untuk berjudi.
"Bentar lagi." Dia membalas teriakkanku dengan suara panik. Aku hanya mengangguk dan bergegas bergerak ke dapur untuk mencari barang-barang yang kemungkinan bisa aku bawa.
Semua barang yang ada di dapur milik Mama walaupun tidak pernah dia gunakan. Hanya saja jika aku berpikir sampai membawa barangnya kabur, sudah pasti Mama akan semakin murka dan dia tidak akan melepaskan kami semudah itu. Tapi aku tidak peduli karena Mama juga memiliki barang yang tidak pernah dia sadari jika dia punya. Aku akan membawa barang-barang itu.
Aku mengeluarkan beberapa peralatan yang memang tidak pernah Mama gunakan. Toh, Mama juga tidak akan mungkin sadar jika barangnya ada yang hilang karena yang aku ambil adalah barang-barang yang sudah lawas. Dibandingkan Mama, kami berdua lebih membutuhkan peralatan ini.
Sudah dipastikan Mama juga tidak akan menggunakan peralatan ini karena Mama pasti lebih memilih menggunakan wadah bekas makanan fast food yang biasa aku singgahkan di rak luar.
Aku tersenyum, merasa seperti sedang balas dendam karena uangku melayang dengan tidak elitnya hanya karena keinginan sembrono dari Mama. Aku menarik mangkok dari lemari lain dan memasukannya ke box yang sudah hampir penuh. Aku kembali mengitari dapur dan mencari barang yang dibeli menggunakan uangku. Aku juga menemukan tumpukan selimut, bantal, dan guling yang masih baru di sudut lainnya. Dengan cepat kutarik semua itu agar dapat mengisi rumah kami yang baru.
"Aretta!" Gio berteriak kencang dari kamarnya. Aku segera berlari ke atas sambil membawa box terakhir. Aku menemukan Gio yang tampak kacau. Dia menatapku dengan pandangan memohon.
"Bantuin gue!" serunya lemah, "masukin aja nggak usah diberesin," ucapnya dan aku mengangguk paham. Kami berdua kembali berkemas agar lebih cepat.
__ADS_1
Tapi tampaknya gerakan kami tidak cukup cepat karena sebuah suara berdebum dari pintu yang dibanting terdengar kencang dari lantai bawah. Langkah kaki yang menggema menaiki tangga pun membuat gerakan kami sontak terhenti.
Itu Mama.
Gio langsung meletakan barang yang dia bereskan tadi. Dia juga berdiri dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Wajahnya menampilkan emosi khawatir dan ketakutan. Dia bergerak menuju pintu untuk mengamankan kami, tapi sialnya dia tersandung boxyang membuat tubuhnya jatuh berdebum ke bawah. Jika dalam keadaan biasa, aku pasti akan tertawa dengan kencang, tapi tidak dikondisi sekarang. Dimana Mama sedang menaiki tangga dengan langkah terhuyung-huyung.
Gio membeku di tempat dan berusaha untuk tetap diam. Tapi keberuntungan tidak berpihak pada kami. Saat dia duduk, ponselnya berdering dan membuat suara langkahnya semakin cepat. Gio meraba-raba untuk mematikan ponselnya bersamaan dengan suara langkah kaki yang semakin cepat. Gio kembali mencoba menutup pintu, tapi suara langkah kaki terdengar semakin cepat.
Kemudian suara langkah kaki berhenti.
Mama berdiri di depan kami. Dia menatap kami tajam dengan mata yang melotot sempurna. Mulutnya ternganga melihat pemandangan di kamar Gio dan dia langsung mengangkat box tersebut dan membuat barang-barang milik Gio berserakan di lantai.
"Kamu mau kemana?" Mama bertanya. Dia berusaha menahan amarahnya pada Gio mengingat pria itu adalah anak kesayangannya. Gio panik dan dia menjadi gagap.
"Ah, itu-" bahkan setelah dewasa pun dia masih taku menghadapi Mama.
"Kita mau pergi," potongku cepat dan membuat Gio menatapku dengan pandangan tidak percaya.
"Kenapa aku nggak bisa pergi? Aku bisa pergi kemanapun aku mau."
Mama maju selangkah lagi.
"Kalian nggak akan pernah bisa pegi! Aku udah kasih segalanya. Aku kasih banyak hal untuk kalian. Kaluan pikir aku bakal biarin kalian keluar selangkahpun dari rumah inj? Pertama Papa kalian yang pergi. Sekarang kalian juga mau nyusul? Mau jadi anak durhaka?" Mama mengucapkan itu dengan teriakan lantang. Dia menampilkan ekspresi sedih yang kemudian berganti menjadi marah.
Mama maju lagi selangkah.
Kini dia berdiri hanya beberapa centi di depanku. Aku bisa mencium bau alkohol di embusan napasnya, juga aroma asap rokok yang menempel di bajunya.
"Itu salah Mama sendiri. Coba aja Mama nggak selingkuh, Papa pasti masih ada di sini!." Aku memberanikan diri untuk membalasnya. Gio yang berada di belakangku menahan pundakku, memintaku untuk berhenti memprovokasi. Tapi aku belum selesai.
"Mama kasih segalanya? Yakin? Setiap hari sejak Papa pergi Mama selalu benci sama aku. Mama juga sering kasih aku hukuman yang sulit untuk ditanggung anak kecil ketika aku masih kecil. Aku baru bisa merasakan kehidupan kalau aku keluar dari tempat ini. Ini penjara. Bukan tempat tinggal yang layak ditinggali. Ini--"
__ADS_1
Seperti yang sudah aku duga. Mama tidak akan mungkin hanya berdiri diam di sana sambil menerima penghinaan dariku. Sejujurnya, aku sangat mengharapkan Mama marah. Gio sudah bersiap jika hal buruk terjadi. Tapi sebelum dia bisa melakukan sesuatu, Mama sudah mengangkat kepalan tangannya dan mengarahkannya langsung tepat ke pipiku, di bawa tulang rahangku. Aku mendengar suara berderak yang tidak wajar, entah itu suara yang dihasilkan olehku atau suara Mama yang menghilang.
Rasa sakit seperti api menyebar dan menjalar keluar dari pipiku, menyebabkan kakiku lemas. Aku pun terjatuh ke lantai dan membungkuk.
"Kamu anak yang nggak tahu terima kasih!" Mama meraung, "kamu berani bicara seperti itu? Aku ini Mama kamu!"
Aku sangat berharap ini akan menjadi kenangan terakhir aku menghadapinya. Aku tidak mau menyerah tanpa perlawanan seperti sebelum-sebelumnya.
"Kamu bukan Mamaku." Aku mengatakan itu sambil meludahkan darah ke kakinya. Aku terkejut karena ada gigi yang keluar dari genangan darah itu.
Mama menatapku sebentar. Dia tidak percaya jika aku seberani itu. Aku sendiri masih mengantisipasi dan tendangan itu akhirnya menghantam perutku. Aku bertanya-tanya di mana Gio ketika aku dipukuli tepat di depan wajahnya. Pikiranku juga hanya berputar kemana dia, tapi aku tidak sanggup mencari keberadaannya karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Tendangan itu berhenti, tapi Mama masih sempat memberikan satu pukulan yang luar biasa dan membuatku terengah-engah.
"Lepaskan Mama Gio!" Mama mulai berteriak kalap, "kamu itu anak Mama. Kamu yang paling tahu gimana sifat aslinya dia. Harusnya kamu tetap ada dipihak Mama." Mama kembali berteriak lebih keras, bahkan lebih dari sebelumnya.
"Iya Ma. Gio tahu, tapi Mama nggak tahu gimana Aretta yang sebenarnya." Aku mulai membuka mataku sedikit untuk melihat apa yang sedang terjadi. Aku melihat Mama dan Gio yabg saling beradu muput, hal yang tidak pernah aku bayangkan. Dia bahkan berani beradu urat dengan Mama.
Keadaan itu berlangsung selama 15 menit, hingga akhirnya Gio meraih tali pinggangnya dan mengikat Mama ke kaki tempat tidurnya. Mama menjerit tapi Gio lebih kuat. Pria itu tidak membiarkan Mama bebas semudah itu dan Mama berakhir dengan tangan terikat. Karena masih tidak terima diperlakukan seperti itu, Mama mulai membenturkan krpalanya ke tempat tidur. Mungkin karena efek mabuk, Mama tidak dapat bertahan lama. Akhirnya dia pingsan hanya dalam paskan aku Alex! Kamu di sisiku! Kamu tahu seperti apa dia!" dia berteriak keras, lebih keras dari sebelumnya. "Ya Ma, aku tahu seperti apa dia. Tapi kamu jelas tidak!" Aku membuka mata sedikit untuk melihat melalui celah kecil. Aku melihat dia yang berdebat alot dengan Mama dan lebih parahnya lagi, Gio berani mengikat Mama di tempat tidurnya menggunakan tali pinggang miliknya. Seumur-umur, baru kali ini aku melihat Gio yang berani melawan Mama.
Mama merasa tidak terima diperlakukan tidak baik oleh anak kesayangannya. Dia melawan keras hingga membuat pergelangan tangannya memerah dan terluka, tapi hal itu tidak diindahkan oleh Gio. Dan lebih parahnya lagi, Mama bahkan sampai membenturkan kepalanya. Karena tidak ada respon dari kami berdua, Mama semakin menggila. Pada akhirnya Mama pingsan. Mungkin efek juga dari minuman beralkohol yang dia sesap tafi. Mama meringkuk di tengah ketidaksadarannya. Sedanfjan aku, kembali memejamkan mata erat-erat saat rasa sakit kembali menyerangku dan membuatku pasarah terbaring di lantai.
"Aretta!" Gio memanggilku dengan nada panik. Dia menghampiriku dan berlutut di depanku, "Maafin gue. Gue bakal telepone Aidan buat minta tolong."
Aidan? Ah, benar. Seharusnya kami pindah hari ini.
Kesadaranku mulai memudar, bahkan bintik-bintik hitam yang awalnya sangat sedikit mulai memenuhi penghelihatanku krtika rasa sakit semakin mendera.
"Jangan tutup mata lo Aretta!" Lo nggak harus memprovokasi Mama kalau ujung-ujungnya lo bakal jadi korban lagi," sesalnya.
Aku hanya kembali mendengar suaranya yang sayup-sayup karena bayangan hitam yang semakin membesar itu. Aku ingin bertahan, namun sulit. Sebelum kesadaranku hilang, aku kembali berucap pada Gio.
__ADS_1
"Itu sepadan."