Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Alasan Gio Marah


__ADS_3

Perubahan kedua yang harus aku lakukan hari ini adalah untuk tidak mampir ke Daia kafe di pagi hari. Aretta versi baru yang sedang aku persiapkan ini sudah berjanji untuk mengurangi kafein dan menabung lebih banyak uang karena akhir-akhir ini aku sudah banyak menghabiskan uangku di sana. Meskipun hari ini aku sedikit sedih karena tidak bisa bertemu Aidan dan menanyakan alasan kenapa dia pergi meninggalkanku kemarin, tapi demi planning yang sudah aku susun, aku tidak bisa menyia-nyiakan hari pertama pada tahap perubahan. Lagian aku akan bertemu Aidan nanti di jam pelajaran ke empat dan pastinya aku juga akan kembali bertemu dengannya di jam makan siang.


"Ayo berangkat." Gio mengatakan itu sambil membawa bekas makannya ke wastafel. Aku pun langsung mengikuti, mencuci bekas makan kami, tidak lupa untuk menyikat gigi, dan segera menyusul Gio ke luar sambil menenteng tas tua lusuh milikku.


Perjalanan ke sekolah menggunakan mobil terasa nyaman, hanya saja kecanggungan diantara kami masih sulit untuk diatasi.


"Soal Papa..." kataku mencoba membuka percakapan.


"Kayaknya gue bakal atur tanggal buat kita ketemu sama dia," ucap Gio. Dia menghindari kontak mata denganku dan hanya menatap ke depan atau ke spion. Untuk sekarang, Papa memang masih menjadi sosok yang meninggalkan kenangan menyakitkan untuk kami berdua, tapi untungnya kali ini kami bisa bersandar pada satu sama lain jika ada yang tidak beres juga dengan Papa. Tapi aku sangat berharap hal itu tidak terjadi karena hanya dia harapanku satu-satunya agar aku dapat keluar dengan tenang dari rumah ini.


"Gue setuju," jawabku cepat. Sekarang aku akan mencoba percaya pada Gio karena kegigihan yang dia tunjukan sangat mengesankan.


"Gue berharap Papa nggak banyak berubah. Cuma dia satu-satunya orang dewasa yang bisa bantu kita."


Untungnya Gio sepemikiran denganku. Aku kembali menoleh ke samping untuk menikmati pemandangan yang biasanya aku lihat dari dekat. Tanganku mulai gatal dan tanpa izin dari Gio, aku membuka kaca spion tapi langsung dihentikan oleh Gio.


"No Aretta!" Dia bahkan sampai berteriak dan memukul pelan tangan jahilku agar aku tidak menurunkan jendela.


"Ish, kenapa sih?" protesnya. Heran saja padahal tidak hujan di luar.

__ADS_1


"Di luar masih dingin," protesnya.


"Lo bercanda ya? Mobil lo bau banget Gio. Gue nggak tahan," seruku kesal. Aroma mobil Gio tidak semenarik tampilan luarnya. Baunya seperti kaos kaki busuk yang sudah dibiarkan terlalu lama dan tidak dicuci.


"Nanti elah. Kalau gue udah longgar bakal gue bersihin," serunya sambil memasang wajah cemberut yang malah tampak menggemaskan di wajahnya.


"Cewek lo bakal pingsan kalau tahu pacarnya sejorok ini," kataku memanas-manasinya. Dia terlihat sangat mencintai Ana dan sepertinya menyenangkan menjahili Gio dengan membawa nama pacarannya itu.


"Nggak ya. Lo belum tahu dia aja, kalau lo ketemu dia, lo pasti kaget karena ada cewek spek bidadari yang kecantol sama gue. Jangan kaget kalau gue temuin lo sama dia," ucapnya menggebu-gebu. Aku tidak berharap banyak dia akan mengenalkan pacarnya padaku karena dia pernah berkata dia tidak mau Ana tahu bagaimana brengseknya dia dulu.


"Nggak usah repot-repot lagi Gi. Dia juga pasti nggak bakal tertarik buat kenal gue," responku. Aku tidak mau membebaninya. Meski kami sudah baikan tapi menjaga privasi satu sama lain itu bukan hal yang salah dan aku menghargai keputusan Gio jika dia tidak mengenalkanku pada Ana.


"Gue nanti bakal langsung ke toko buku, jadi lo nggak usah cari gue kalau gue belum pulang. Gue juga bakal pulang sendiri dan... kalau ada apa-apa, gue bakal SMS Lo," jelasku. Aku tidak mau dia melakukan hal gila seperti kemarin.


Gio mengangguk, "Pastiin lo harus kabarin gue," pesannya sebelum aku benar-benar menutup pintu mobilnya.


Aku mengangguk dan langsung melangkah masuk ke gerbang sekolah. Tempat ini adalah tempat yang aku tanyakan kemarin ketika aku tersesat dan butuh waktu lima jam sendiri sampai aku berhasil pulang dengan berjalan kaki.


Bel berbunyi saat aku baru sampai lapangan dan itu membuatku bergegas menuju kelas sebelum bel kedua berbunyi.

__ADS_1


Jam pertama adalah pelajaran Seni dan kelas itu berada di lantai pertama. Setidaknya aku tidak perlu menaiki tangga.


Materi yang diberikan kali ini tetap sama. Menggambar atau melukis potret.


"Jangan lupa PR Minggu lalu yang saya kasih," seru Miss Nisa mengingatkan. Selalu saja hal itu yang diingatkan ketika kami akan meninggalkan kelas. Miss yang satu ini sangat ingin tahu progress dari pelajaran yang dia berikan pada kami.


Aku mendesah lelah ketika harus mengikuti kelas di jam ketiga. Itu kelas Biologi. Disaat semua orang berbondong-bondong untuk segera masuk aku sendiri masih berdiri di luar sambil menatap pelang nama yang menggantung indah di atas sana. Rasa enggan itu masih bercongkol dan jika bisa memilih, aku akan menghindari kelas ini.


“Nggak mau masuk?” Aku terkejut ketika menemukan Pak Dewa yang tengah tersenyum. Pria ini tidak bisa menggunakan ekspresi layaknya guru pada umumnya apa.


Inginku memutarkan mata karena jengah tapi urung melakukan karena dia guruku dan juga jam dimulainya pelajaran sudah berbunyi membuatku harus segera masuk.


Aku melangkah masuk lebih dulu diikuti Pak Dewa yang mengikutiku dari belakang. Bisikan dan gerutuan datang dari meja Jessi ketika dia melihatku bersama dengan guru kesayangannya. Rasanya ingin kuteriak dan berkata dengan lantang di depannya jika aku tidak tertarik dengan Pak Dewa. Lagipula pria itu pasti hanya melirik wanita-wanita yang sudi menyerahkan dirinya sedangkan aku tidak sudi. Lebih tepatnya aku sudah terlanjur jijik dengan pria itu.


Kelas dimulai, Pak Dewa pun segera mengabsen. Ketika nama Rafa dipanggil, tidak ada jawaban yang terdengar seperti jika dia tidak hadir. Berarti aku harus menderita sendiri di kelas ini.


"Hari ini saya akan memberi tugas yang akan diselesaikan dengan berpasangan. Karena saya tahu kalian akan banyak menolak jika saya yang memilihkan pasangan, maka dengan senang hati saya akan membiarkan kalian mencari pasangan kalian sendiri. Jika ada yang tidak mendapatkan pasangan, kalian bisa datang ke saya."


Semua orang langsung bergerak cepat dan berakhir dengan saya sendiri yang tidak memiliki pasangan. Entah kenapa saya malah merasa malu ketika diminta untuk maju ke depan.

__ADS_1


"Ah, tinggal Aretta berarti yang nggak punya pasangan? Kalau begitu kamu bisa maju dan kita bisa menjadi pasangan," serunya. Entah kenapa setiap kali dia berbicara denganku, rasa ingin menarik rambut hingga ke akar-akar selalu terngiang jelas.


__ADS_2