
Dan aku bertemu lagi dengan Rendi di kelas olahraga. Kali ini aku tidak ikut melakukan olahraga, aku hanya harus duduk di luar lapangan karena itu perintah langsung dari Pak Aidan. Dia beralasan jika aku masih lemah dan belum sanggup jika mengikuti kegiatan olahraga yang mengabiskan banyak energi.
"Gimana keadaan lo sekarang? Udah enakan? Lo kenapa sih? Jangan bilang Lo punya... anoreksia?" tanya Rendi bertubi-tubi dan memelan saat mengatakan kalimat terakhirnya.
Aku memutar mataku malas dan sedikit terganggu dengan banyaknya pertanyaan yang dia lontarkan.
"Nggak usah lebay. Gue cuma nggak sempat makan aja kemarin. Btw, apa gue kelihatan kayak orang kena anoreksia?" Aku bertanya dengan tatapan penuh penasaran. Aku tidak berpikir jika aku sampai menderita penyakit itu, hanya saja penilaian dari orang sekitar bisa menjadi bukti yang kongkrit.
Rendi belum sempat menjawab pertanyaanku saat Pak Aidan sudah membunyikan peluitnya. Aku sedikit menggeram karena gangguan itu. Siswa yang lain diperintahkan untuk berlari lima putaran sebagai pemanasan. Sementara yang lain berlari, tatapan Rendi masih saja terarah padaku. Dia seperti tengah memberikan jawaban lewat gerakan mata yang tentu saja tidak aku mengerti.
Aku masih asyik menatap anak-anak yang lain berlari. Tiba-tiba Pak Aidan mengambil posisi untuk duduk di sampingku. Aku sedikit mengernyit dan bergerak menjauh. Kami tetap diam dan tidak ada yang memulai untuk berbicara.
Pandangan Pak Aidan masih terus menatap mereka yang tengah bersusah payah menyelesaikan larinya. Suara peluit dibunyikan tanda jika waktu pemanasan sudah berakhir. Aku menatap ke sekumpulan anak-anak yang masih berlari. Mencari Rendi adalah tujuan utamaku.
"Kamu tahu kan kalau berbohong itu nggak baik. Jangan pernah bohong lagi. Apalagi kalau konsekuensi akhirnya berujung fatal," ucap Pak Aidan.
__ADS_1
Konsekuensi? Konsekuensi apa yang dia maksud? Ah, apa mungkin dia akan menceritakan tentang hal ini pada orang lain. Hanya itu yang bisa aku simpulkan. Aku hanya menghela nafas lelah. Berbohong memang tidak akan berakhir baik. Mengapa aku tidak belajar dari kesalahan yang sudah-sudah.
Tepat setelah dia menyelesaikan kalimatnya, Rendi mendekat dan berdiri di depanku. Saat itu juga Pak Aidan bangkit dan pergi begitu saja meninggalkan kami.
Rendi meregangkan otot-ototnya dan menarik nafas sebentar sebelum berbicara denganku, "Hari ini kita makan siang bareng ya! Di taman belakang aja yang nggak berisik dan nggak banyak orang," ujarnya. Dia seperti memberi perintah bukannya mengajak.
Rendi masih terengah-engah sampai akhirnya dia memutuskan untuk duduk di sampingku. Hawa panas memancar dari tubuhnya karena berlari, tapi dia bahkan tidak mengeluarkan keringat sama sekali. Sementara aku sendiri mulai kedinginan karena sedari tadi hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Aku sampai menyelipkan tanganku di bawah lipatan betis agar terasa hangat.
Entah kenapa hawa dingin kali ini terasa sangat menusuk. Cuaca mendung dan angin kencang yang bertiup membuat tubuhku semakin menggigil. Aku gemetar, tapi sebisa mungkin tidak memperlihatkan hal itu pada Rendi, namun sayangnya Rendi sudah terlebih dahulu menyadari tingkahku yang sedikit aneh. Dia menatapku dan ada kilatan jahil dari matanya. Aku langsung memasang tampang waspada karena pasti pria iyu memiliki rencana jahil yang akan membuatku kesal. Dan benar dugaanku. Dia perlahan mendekat ke arahku dan membungkusku masuk ke dalam dekapannya. Jangan memikirkan soal dekapan hangat romantis yang biasanya ada di drama-drama. Dekapan ini memang hangat, sekaligus mencekik. Aku meronta untuk minta dilepaskan. Tapi gagal, usahaku sia-sia. Dia tidak membiarkanku lepas dengan mudah begitu saja.
"Iya sih. Tapi gue kecekik. Nggak nyaman," semburku. Dia terkikik dan melepaskan dekapannya. Kali ini dia merangkulku dengan wajar, "udah tahu dingin kayak gini. Kenapa sekolah nggak diliburin aja sih," keluhku.
Aku sendiri sudah merasa baikan dengan adanya free servis dadakan dari Rendk. Setidaknya aku sudah tidak menggigil kedinginan lagi. Aku hanya menerima pekukan dari Rendi dan tidak berniat untuk balas memeluknya. Rasanya aneh saja saat harus melakukan itu. Apalagi aku masih belum yakin, akankah kami dapat berteman baik kedepannya?
Kelas selesai tiga puluh menit kemudian, setelah Pak Aidan banyak berbicara dan berceramah soal lari yang harusnya dapat membuat tubuh kembali bersemangat. Karena nasehatnya itu kami menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya. Rendi memintaku untuk menunggunya jika aku sudah selesai berganti pakaian. Aku mengangguk dan membiarkan dia menbersihkan diri sebelum kami untuk masuk ke kelas biologi bersama
__ADS_1
Aku menunggu pria itu di dekat tangga hingga seseorang muncul di depankum cewek yang sangat feminim.
Jessi menyibak rambutnya yang sudah ditata sedemikian rupa. Wajahnya juga dirias begitu tebal sampai aku tidak mengenali apakah benar itu dia. Roknya pendek dan aku sedikit kagum karena disaat cuaca dingin seperti ini dia masih memiliki pikiran untuk menunjukkan kaki jenjangnya. Dia berdiri tepat di depanku, menatapku tajam dengan mata menyipit yang melotot.
"Dengar. Gue nggak tahu siapa lo dan gue juga nggak peduli soal itu. Satu hal yang harus lo tahu. Pak Dewa itu punya gue, jadi lebih baik lo mundur dan nggak usah pernah mimpi buat dapatin dia. Gue sama Pak Dewa saling cinta dan gue juga udah lama pacaran sama dia.
"Lo harusnya sadar diri. Penampilan lo yang nggak ada menarik-menariknya itu nggak bakal buat dia sudi berpaling ke lo." Dia berbicara dengan nada tajam. Aku tidak merasa dirugikan di sini karena apa yang dia pikirkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Aku membalas tatapan matanya.
"Ah, jadi Pak Dewa cinta sama lo," ucapku, Jessi sedikit mengernyitkan keningnya tanda tidak paham dengan maksudku. Dia pikir aku mengatakan itu karena aku telah menyerah. Aku merasa kasian dengan wanita ini yang tidak sadar jika dia telah dibodohi oleh seorang Dewa.
"Kalau lo tahu harusnya lo bisa buat keputusan yang lebih bijak kan? Gue bakal terus awasi lo, kalau sampai gue lihat lo masih berhubungan sama Pak Dewa, habis lo sama gue," katanya telak. Aku mengangguk dan mulai berdiri untuk segera beranjak pergi. Memang apa yang bisa aku harapkan dari Jess yang hanya peduli soal penampilan. Bahkan untuk mendapat nilai bagus di kelas saja dia harus mencotek. Otaknya benar-benar tidak dia gunakan sebagai mana mestinya.
Aku segera berjalan meninggalkannya, bukan karena aku takut dengan ancamannya. Itu karena Rendi yang sudah menungguku.
"Baru gue tinggal sepuluh menit dan lo udah punya musuh? Lo emang harus diawasi kayaknya," ucap Rendi saat dia melihat Jessi yang menatapku tidak suka.
__ADS_1