
Jika mengikuti kata hati, tentu saja aku tidak ingin menarik diriku. Hanya saja jika tetap seperti ini aku yakin aku tidak akan pernah rela u tuk melepaskannya lagi. Aku sudah lama memperhatikannya sebelum dia memeluk teman-temannya hingga beralih memeluk Davin, dan kemudian beralih pada Gio dan Ana. Dari semua pemandangan itu, hanya ketika memeluk Davin saja membuat perasaanku kembali tidak nyaman. Rasanya sulit.
Davin tersenyum ketika memeluk Aretta, begitupun wanita itu. Aku ingin berlari dan memisahkan kedua orang itu tapi tidak jadi aku lakukan karena hal itu pasti akan membuat Aretta tidak nyaman.
Aku tidak tahu harus menghadiahkan apa ketika Gio memberitahuku tentang hari ulang tahunnya. Aku juga masih tidak tahu sampai dia masuk ke kelasku di jam pelajaran kelima dengam rambut panjang yang tergerai. Aku hanya memikirkan jika aku ingin memberikannya sesuatu yang istimewa dan berkesan, tapi apa? Pikiranku masih buntu sampai aku mendapat pesan kembali dari Gio untuk membuatnya berada di luar lebih lama, dan aku membuatnya tinggal lebih lama di dalam kelas.
Raut wajahnya tampak berseri-seri meskipun dia berusaha untuk menyembunyikannya. Pipi Aretta merona dan itu membuatku ingin mengulurkan tanganku untuk menyentuh pipi miliknya, merasakan panasnya di bawah telapak tanganku. Aku mengingat kembali janji yang aku buat pada diriku sendiri. Aku ingin memiliki Aretta. Aku tahu aku bisa melakukan hal itu, aku juga tidak bisa terus-terusan mengabaikan perasaanku seolah kami hanya ditakdirkan untuk berteman. Aku ingin memiliki hubungan yang lebih dari sekedar ini, jadi aku memutuskan untuk memberanikan diri, menunjukan padanya jika aku tidak mendekati dia hanya sebagai seorang teman.
Tapi kenapa aku malah menginginkan hal lain? Aku ingin menciumnya. Hanya mengecup pipinya untuk merasakan betapa nyatanya dia. Tapi jika aku meminta apakah bisa disebut normal? Kami adalah guru dan murid. Ditambah kami tengah berada di sekolah.
Dan sekarang, sangat sulit rasanya untuk menahan diri agar tidak terbuai dan berujung menyerbu dan membawanya pergi. Rasa tidak rela ketika dia diperkenalkan Gio pada orang lain mulai memenuhi diriku. Dia bersikap kelrwat sopan dan tampak sangat senang bertemu dengan orang-orang baru. Kecemburuan itu mengalir melalui aliran darahku dan membuatnya menjadi seperti racun yang mengerikan. Tanpa diduga raut wajahku berubah masam. Apalagi kini aku melihat semua orang mulai mendekatinya, mengajaknya mengobrol, bahkan ada yang sampai berani menawarkan dia minuman beralkohol.
Aku masih mencoba bersabar di tempatku. Menyandarkan diriku ke dinding sambil menyesap pelan minuman soda yang sengaja aku pilih. Aku kembali melihat salah satu dari mereka mencoba menyentuh lengannya dan membawanya untuk duduk bersama. Aku membiarkan saja hal itu karena bagaimanapun ini hari ulang tahunnya. Aku memutuskan untuk pergi menuju ruangan toko yabg kini sudah menjadi satu dengan tempat tinggalnya.
Aku tahu soal rencanan Gio yang ingin menyelesaikan sisa pekerjaan ini lebih awal dan hal itu membuatnya jadi ikut turun tangan untuk menyelesaikan semuanya. Sekitar sepuluh hari, itu janji yang dia buat meski tidak ada dari kami yang mengiyakan. Awalnya aku ragu karena tidak mungkin dia dapat menyelesaikan pekerjaan itu. Tapi dia kekeh dan bersikeras sampai memberikan great service untuk para pekerja agar mereka mau mendengarkannya.
Dan kini bukti nyata atas kesungguhannya hampir selesai dia kerjakan.
__ADS_1
"Bapak jealous?" Suara itu berhasil menggangguku.
Aku menoleh dan melihat Rafa yang tengah bersedekap sambil menatapku, "Jealous kenapa lagi? Lagian saya harus jealous ke siapa?"
Rafa memutar matanya malas dan malah membuatku tampak seperti orang bodoh.
"Jangan kira saya nggak tahu ya, Pak. Harusnya Bapak langsung to the point biar dia juga tahu kalau ada orang yang suka sama dia." Aku menoleh pada muridku itu dengan tatapan heran. Tidak menyangka akan diberikan nasehat percintaan gratis darinya.
"Saya nggak bakal menyangkal apa yang barusan kamu bicarakan." Aku mencoba bersikap normal tapi tidak berhasil. Rafa malah menyeringai sambil menyemangatiku untuk berterus terang pada Aretta soal perasaanku padanya.
Untuk wanita yang betubuh mungil, kekuatan Rafa tidak bisa dianggap remeh. Dia bahkan bisa mendorongku cukup jauh sampai aku hampir tersungkur jika saja aku tidak mencari tumpuan agar tidak jatuh tepat di meja yang sudah tersusun banyak makanan.
"Terima kasih. Kayaknya kalau kamu nggak datang aku bakalan ada di sana sampai nanti," keluhnya begitu aku membawanya naik ke tempat tinggal mereka.
"Are you happy for today?" tanyanya padaku yang langsung aku jawab dengan senyuman.
"Aku bakal selalu happy kalau sama kamu." Aku hampir mengumpat karena kebodohanku yang mengatakan hal menggelikan langsung kepada orang yang bersangkutan.
__ADS_1
Dari semua jawaban yang ada kenapa harus itu yang keluar. Aretta hanya diam, tapi aku menemukan jika telinganya tampak memerah. Aku menghela napas lega karena setidaknya dia tidak merasa terganggu.
Untuk sesaat aku kembali ke kenyataan tentang kenapa aku membawanya kemari. Apa benar aku harus menyatakan perasaanku sekarang?
Dia membawaku ke sofa dan duduk di sebelahku, tapi jarak kami tidak cukup dekat. Awalnya aku hanya mengulurkan tangan dan melingkarkan lenganku di pinggangnya, lalu menariknya ke arahku sehingga kami duduk berdempetan. Tidak ada satupun dari kami yang membuka mulut dan aku juga tidak tahu apa yang tengah dia pikirkan. Saat ini aku malah berharap aku memiliki kelebihan untuk bisa membaca pikiran seseorang, jadi aku bisa tahu apa yang dia pikirkan.
Aretta tersenyum sebelum dia membuka suara aku dengan cepat mengangkat tanganku dan meletakkan jariku di bibirnya. Dia tampak terkejut dan aku bisa merasakan hawa panas dari pipinya di tanganku. Sekarang atau tidak sama sekali.
Aku berhasil membuat kami saling berhadapan dan aku perlahan maju hingga ekspresi panik tampak dari wajahnya. Aku berhenti sejenak, tapi Aretta ternyata lebih berani dan dia kembali memajukan tubuhnya hingga bibir kami saling bersentuhan. Tiba-tiba erangan keluar dari bibirku dan aku langsung memangut bibirnya seraya menahan tengkuk kepalanya. Ciuman kami semakin bergairah dan panas.
Ternyata kenyataannya lebih luar biasa dari yang pernah aku pikirkan. Ketika ciuman kami usai, aku merasa energiku terkuras habis. Hanya berpangutan bibir saja sampai menghabiskan banyak energi atau ini hanya karena aku yang sudah terlalu lama tidak berciuman.
Aretta segera menundukkan kepala setelah sebelumnya dia juga amat bersemangat. Aku terkekeh ringan melihat tingkahnya dan menelusuri lehernya dengan jariku.
Aku kembali mendekat dan mengecup pelan dahinya, tapi Aretta meminta lebih. Dia benar-benar menerjangku hingga kami tersungkur di atas sofa. Ciuman kami pun berubah menjadi ciuman liar.
Jika bukan karena aku mendengar suara langkah kaki dan teriakan penuh amarah, aku yakin aku tidak akan melepaskan panutan kami.
__ADS_1
"Brengsek. Lepasin Adek gue."
Itu Gio