
Aidan juga langsung mengambil tempat di sebelahku. Dia membuka bungkusan miliknya sendiri dan langsung melahapnya, "Terus gimana kelanjutan soal Papa kamu?" Dia memulai membuka percakapan dengan membahas Papa yang sebenarnya sangat enggan untukku bahas.
"Gue udah cerita ke Gio dan dia bilang dia juga mau ketemu Papa. Dia juga udah buat rencana supaya kami bisa ketemuan bertiga." Aidan menganggukkan kepalanya, tampaknya dia cukup peka dengan keengganan yang kutunjukkan dan dia langsung mengubah topik pembicaraan.
"Kamu ingat Denis nggak? Temen aku yang punya warung sederhana?" tanyanya, "Dia baru aja pulang dari liburan dan dia ngundang aku ke rumahnya. Dia juga ngundang kamu. Kayaknya dia suka sama kamu." Aku tertawa kencang mendengar cerita tidak masuk akal darinya.
"Nggak mungkin," sanggahku.
"Kenapa nggak mungkin?" Aidan bertanya sambil menampilkan raut wajahnya yang tampak heran.
"Please look at me! Aku cuma mantan gadis gembrot yang berhasil diet. Kalau dia tahu pasti dia bakalan langsung ilfil."
Rendi yang dari tadi hanya sibuk dengan makanannya langsung tertawa kencang, "Gadis gembrot?" kaltanya, "gue harusnya lihat penampilan lo."
"Sayangnya lo udah telat buat tahu" ucapku mencibirnya dan itu membuat Rendi mendengus. Kemudian aku beralih kembali untuk menatap Aidan, "Aku bukannya nggak suka kalau orang yang tertarik sama aku tapi masalahnya aku maunya orang yang benar-benar terima aku apa adanya."
"Tapi gimana caranya kamu bisa tahu kalau kamu nggak coba ngedate dulu sama dia," ucap Aidan.
__ADS_1
"Buat sekarang aku bakalan nolak karena aku harus menguatkan diriku terlebih dahulu buat menghadapi keluargaku sendiri. Jangankan buat kencan ataupun ngedate, buat terlepas dari masalahku sendiri aja aku masih belum ketemu jalan keluarnya." Memang benar untuk sekarang Aku hanya ingin fokus untuk membentuk Areta versi baru terlebih dahulu. Untuk yang lainnya mari kita tinggalkan.
Begitulah istirahat makan siangku berakhir dengan cukup menyenangkan. Ini adalah rutinitas yang paling aku tunggu karena hanya saat makan siang itu aku memiliki seseorang yang mau berbicara denganku panjang lebar.
Sisa-sisa kelas selanjutnya dapat aku lewati dengan baik, tapi entah kenapa kenangan menjijikan bersama Pak Dewa tadi sulit untuk kuenyahkan. Pria sampah macam dia itu benar-benar menghancurkan moodku. Ketika pada akhirnya aku berhasil menyelesaikan sekolah hari itu, aku segera bergegas menuju toko buku. Sepanjang jalan aku melampiaskan kekesalanku pada batu-batu kecil dan menendangi hingga mereka berhamburan. Setidaknya hal itu dapat melampiaskan emosiku.
Perjalanan yang dipenuhi emosi itu akhirnya berhasil membawaku menuju toko buku. Aku menghela nafas pelan sebelum masuk dan mendorong untuk membuka pintu kaca. Bel di atas pintu berbunyi yang membuat, Dewi sontak tersenyum. Dia menyambutku.
"Halo Aretta," suaranya terdengar lemas saat memanggilku. Oma keluar dari belakang counter dan ternyata dia mengenakan sepasang grup untuk membantu menyangga tubuhnya agar dapat berjalan. Grup yang diselipkan di bawah lengannya itu berdenting pelan di lantai.
"Terima kasih Aretta. Padahal Aidan udah larang Oma buat kerja tapi gimana bisa Om absen saat toko buku udah mulai sepi pengunjung. Kayaknya orang-orang lebih milih buat beli buku lewat online sekarang dan itu ngebuat Oma berada di posisi yang sulit," raut khawatir Itu terpancar dari mata sayurnya. Nada suaranya pun terdengar lelah. Aku berharap aku dapat membantunya tapi aku yakin cuman sedikit yang bisa aku lakukan.
"Oma sakit Aretta," katanya blak-blakan, "Oma udah sakit lumayan lama dan Oma nggak tahu sampai kapan Oma bisa bertahan," berita yang dia berikan bagai pukulan telak paling mematikan untukku. Hanya memikirkan jika aku akan kehilangan dia saja sudah berhasil membuatku menangis. Dia adalah sosok nenek yang tidak pernah aku miliki.
"Jangan nangis. Kamu tahu, Oma malah bersyukur Kalau oma bisa pergi lebih cepat. Oma jadi bisa beristirahat dengan suami Oma. Tapi sebelum itu, Oma mau kamu kabulin satu permintaan Oma." Aku langsung mengangguk dengan cepat. Aku akan berusaha membantunya sekuat kemampuanku.
"Oma punya mimpi untuk buat toko ini menjadi lebih besar. Oma mau buat cafe yang juga menyewakan buku. Menurut Oma ini adalah bisnis yang bisa segera kita mulai karena penjualan kita yang lagi menurun. Jadi yang Oma mau kamu bantu buat merealisasikan keinginan Oma. Oma udah punya simpanan dan harus kamu yang menghandle semuanya. Nanti usaha ini akan umat tinggalin beratas namakan kamu." Air mataku mengalir. Aku sudah mengalami pahitnya ketidakadilan dalam kehidupanku dan mendapat amanah dari Oma membuatku bersyukur. Dia teramat murah hati dan aku merasa sangat tersentuh.
__ADS_1
"Aretta bakal lakuin keinginan Oma," kataku penuh tekad. Dia menarikku masuk ke dalam pelukannya dan dia mengucapkan banyak terima kasih yang seharusnya akulah yang mengucapkan itu.
"Oma bakal ngomong ke Aidan dan Oma juga mau kamu selalu ada di sisi Aidan." Aku ingin memprotes tapi itu bertepatan dengan Aidan yang masuk di toko. Dia tampak terkejut mengetahui jika toko tidak terkunci.
"Oma! Aidan kan udah suruh Oma buat istirahat di rumah." Dia terdengar marah tapi langsung dipotong oleh Oma sambil memberikan isyarat agar Aidan membantunya.
"Bantu Oma karena kita perlu bicara. Kasir biar dijaga sama Aretta."
Mereka berdua menghilangkan ruangan khusus staf dan tinggalah aku sendiri di sini. Aku melakukan apa saja yang bisa kulakukan. Seperti menyortir buku, menyusun, dan melayani pelanggan yang masuk. Melihat tokoh yang tidak lagi ramai membuatku terdiam. Aku memeriksa catatan penjualan dan apa yang dikatakan Oma Dewi itu benar. Penjualan benar-benar menurun secara drastis.
Ternyata pembicaraan mereka sangat memakan waktu karena semuanya selesai bertepatan dengan jam penutupan toko. Aidan dan Oma Dewi muncul tapi raut wajah keduanya penuh kesenjangan. Aidan memasang wajah datar dengan tatapan yang menyimpan rasa tidak percaya sedangkan Oma memasang wajah penuh kelegaan. Diam bantu Oma untuk masuk ke dalam taksi dan setelahnya memerintahkanku untuk menutup toko.
Dia memberiku isyarat untuk terus mengikutinya dan sepanjang jalan hanya ada keheningan yang menemani kami. Aidan membawaku pulang ke rumahnya. Dia mempersilahkanku masuk dan duduk. Kini dia terlihat sangat berantakan.
Beberapa menit yang terlewat hanya diisi oleh keheningan. Pria itu terlarut dengan pikirannya hingga aku tidak memiliki kesempatan untuk menenangkannya. Aidan kemudian beranjak dari tempatnya dia mengambil soda dan satu botol minuman beralkohol. Dia menyerahkan kaleng soda padaku.
"Kayaknya udah waktunya aku buat cerita kisah tentang kedua orang tuaku," katanya tiba-tiba.
__ADS_1