
Entah kenapa aku merasa tidak senang saat dia mengatakan jika dia hanya menganggapku sebagai muridnya. Harusnya aku tidak berpikiran picik seperti itu, karena bagaimana pun juga, dia tetap guruku. Aku mengalihkan pandanganku agar Pak Aidan tidak melihat semburat kekecewaan dari mataku. Pandanganku hanya tertuju pada benang di sofa yang mulai putus.
Tiba-tiba Pak Aidan berdehem dan membuatku menatapnya. Dia menunjuk ke arah piring di depanku yang menyajikan beberapa bungkus bekas jajanan pasar.
"Senang bisa lihat kamu sarapan. Jangan lupa sarapan itu yang paling utama," katanya.
Aku memiringkan kepalaku merasa heran. Itu bukan milikku karena aku tidak pernah memesan tambahan apapun untuk menu pagiku. Sepertinya ini milik orang yang duduk sebelumku. Harusnya aku mengatakannya jika itu bukaan milikku, tapi entah kenapa aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Setelah dipikir-pikir tidak ada ruginya mengaku jika itu milikku karena Pak Aidan pasti akan menanyakan soal bagaimana aku makan hari ini. Ingat dia itu konselor dan dia bertugas untuk memastikan agar aku tidak lagi tumbang seperti sebelumnya.
"Ah iya pak," jawabku pelan untuk menutupi wajah bingungku. Pak Aidan tersenyum. Kali ini tampak tulus dan lega karena tahu jika aku sudah mengisi perutku.
Aku terdiam sejenak dan berpikir untuk menanyakan sesuatu. Belum sempat pikiranku memutuskan, bibirku malah sudah mengambil alih terlebih dahulu, "Bapak habis dari mana?" tanyaku pada akhirnya.
"Aidan, Arettaa," peringatnya.
Aku mengangguk dan mengulang pertanyaanku dengan sebutan yang dia perintahkan. Rasanya aneh saat menyebut namanya tanpa embel-embel Bapak. Seperti jarak yang sengaja dibuat tiba-tiba hilang dalam sekejap. Itu hanya ungkapan saja.
"Nggak dari mana-mana kok. Dari tadi aku di sini," ucapnya sambil menaikkan salah satu alisnya. Dia tampak tidak mengerti dengan arah pembicaraanku.
__ADS_1
"Tadi aku emang lihat kamu di sini. Tapi kayaknya kamu udah pergi pas aku pesan minuman. Dan sekarang kamu udah ada di sini lagi, jadi sebenarnya kamu habis dari mana?" kataku sambil menjelaskan maksud dari pertanyaanku.
Dia mengangguk paham saat aku selesai menjelaskan, tapi tidak serta merta menjawab. Ekspresi wajahnya seperti menandakan jika dia masih berpikir apakah dia harus mengatakan hal ini juga atau tidak.
"Omaku punya toko buku di sekitar sini. Dia butuh bantuan buat ngangkat kardus, tadi aku dari sana buat bantu. Karena udah tua, dia jadi susah buat apa-apa sendiri. Aku udah saranin Oma buat cari pegawai baru biar bisa bantu dia," jelasnya. Sepertinya kalimat yang dia ucapkan saat dia ingin dekat denganku itu tidak main-main. Buktinya tanpa berpikir panjang dia langsung menceritakan apa yang tadi dia lakukan dengan jelas tanpa aku paksa.
"Dekat sini cuma ada Glory Books, jangan bilang toko itu. Aku pegawai baru di sana soalnya dan bakal mulai kerja hari ini." Aku tidak bertanya, hanya memastikan. Kebetulan macam apa ini. Aku sedikit terkejut karena ternyata aku bekerja di toko buku milik neneknya guruku.
"Oh jadi kamu gadis muda yang disebut sama Oma. Katanya kamu semangat banget dan positif Vives, jadi Oma langsung terima tanpa wawancara."
Aku terkekeh mendengar cerita dari Pak Aidan. Aku tidak menyangka jika kehadiranku semelekat itu di benak neneknya dia.
"Kamu cantik kalau lagi senyum. Sering-sering ya senyumnya biar nggak dikira judes." Pak Aidan mengatakan itu pelan. Aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Batas ini seharusnya tidak boleh dilanggar lebih jauh lagi.
"20 menit lagi kelas bakal dimulai. Aku saranin supaya kamu berangkat sekarang," katanya, dan itu berhasil menyadarkanku.
Dia langsung berdiri dan dia menyodorkan tangannya padaku, seperti biasa tubuhku bereaksi lebih dulu. Aku menerima uluran tangannya dan meletakkan tanganku di atas telapak tangannya. Rasanya hangat dan genggamannya pas. Dia memang pria dewasa, buktinya tangannya tidak basah seperti tangan remaja saat pertama kali berpegangan. Dia menarikku dan membantuku untuk berdiri tegap.
Aku dan dia sudah akan bergegas keluar sampa serang pelayan wanita datang mendekat ke meja kami. Aku sedikit mengernyit saat menatapnya. Aku pernah melihat wanita ini sebelumnya, di sekolah dan sepertinya dia bekerja di sini saat pagi. Dia melirik Pak Aidan dan pria itu juga langsung beralih menatapku saat dia membalas tatapannya.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya karena saya melewatkan untuk membersihkan piring ini," katanya, sambil menunduk sopan berkali-kali.
Mataku terbelalak. Aku mengumpati wanita itu dalam hati. Jika dia bertingkah seperti itu pastinya Pak Aidan akan tahu jika piring ini bukan milikku. Aku berharap pria itu tidak mendengar apapun karena suara wanita ini yang kecil. Aku berbalik untuk memastikan dan langsung meringis saat Pak Aidan menatapku sambil menghela nafas kasar. Dugaanku dia pasti sudah mendengar apa yang pelayan itu katakan.
Entah kenapa pandangan Pak Aidan terasa mengganggu. Dia menatapku dengan raut kecewa kemudian langsung pergi.
Tapi kenapa?
Pelayan yang tadi masih berdiri di depan kami. Dia mengangkat kepalanya karena suasana yang tidak nyaman. Bukan hanya untuk dia, untukku pun berlaku.
"Apa saya salah bicara?" tanyanya sambil mencengkram jemarinya. Wanita bername tag Hana itu memandangku dengan raut penuh permintaan maaf.
"Nggak kok. Dia cuma harus pergi ke sekolah," kataku. Aku membantunya untuk tidak merasa bersalah karena kesalahan sesungguhnya berasal dariku. Aku merutuki kebodohanku. Lagipula siapa yang akan menyangka jika pria itu akan mengetahui jika aku berbohong secepat ini.
"Sekali lagi saya minta maaf," ucapnya sebelum bergegas membawa piring kotor itu kembali ke belakang.
Aku ikuy pergi meninggalkan kafe. Sekarang dia tahu jika aku berbohong, apakah dia juga akan membalas dendam karena aku sudah berani berbohong? Semua orang yang pernah aku bohongi selalu membalaskan dendam mereka.
Aku ingat dulu aku pernah berbohong pada salah satu teman kecilku. Dia memiliki pensil bagus, karena aku iri aku mengambilnya dan menuliskan namaku menggunakan pensil itu di atas kertas. Hanya beberapa menit, setelahnya sang pemilik pensil datang dan dia bertanya soal pensil itu. Aku mengatakan jika ini milikku, dia tidak percaya karena dia tidak menemukan pensil miliknya di kotak pensilnya. Sepulang sekolah aku dihadang. Dia dan temannya menyeretku masuk ke kamar mandi. Kloset di sekolahku memiliki sistem kloset duduk. Dia memasukan wajahku masuk ke dalamnya. Semua temannya yang ada di situ tertawa dan mengejekku Aluna gendut yang jorok dan suka berbohong. Untung saja mereka tidak melabeliku sebagai pencuri.
__ADS_1
Itu salah satu contohnya, masih ada yang lain. Dan karena setiap aku berbohong selalu mendapatkan akhir yang tidak menyenangkan, semenjak itu aku berhenti untuk berbohong. Karena jika aku ketahuan, aku akan mendapat murka apalagi jika aku berani berbohong pada Mama. Sebuah pukulan dan tamparan sudah pasti akan menghiasi tubuhku.