
Gio membawaku menaiki tangga untuk menuju rumah baru kami dan membuka kunci pintu besar di bagian depan. Tempat tinggal kami memang berada di lantai dua karena lantai satu sudah kami diskusikan untuk dibuat tempat usaha yang akan bergabung dengan toko buku milik Oma Dewi. Dia membuka pintu setelah kunci diputar dan memperlihatkan kepadaku isi dalam rumah baru kami yang akan menjadi tempat naungan kami berdua. Semuanya terlihat berbeda.
Jika kemarin hanya dicat polos berwarna putih gading, kini sudah diberi warna pastel yang lembut berwarna mint. Di dalamnya juga sudah diisi sofa dan perabotan lainnya yang menambahkan kesan nyaman. Aku mengenali lampu hias yang aku ambil dari rumah. Kini benda itu sudah terpasang cantik di ruangan ini.
Aku menoleh lagi dan menemukan seorang wanita yang sangat aku kenal keluar dari kamar milik Gio.
"Aretta!" Ana berlari mendekatiku dan langsung meraihku masuk ke dalam pelukannya. Dia memeriksa keadaanku dengan tatapan khawatir. Aku terkekeh dan menahannya agar dia kembali tenang. Tampaknya dia tahu apa yang terjadi padaku dan dia juga terlihat sudah pindah ke tempat ini. Dia akan tidur bersama Gio. Aku tidak peduli soal itu selama hubungan mereka akan berakhir ke jenjang yang lebih serius.
Ana membawa perlengkapan rumah tangganya juga. Dia membawa Ac yang tidak bisa kubeli karena tidak ada secondnya juga membawa perlengkapan dapur seperti microwave, magic com, blender, dan keperluan lain yang luput dari pembelianku. Ternyata Ana lebih berguna dibandingkan kakakku sendiri jika itu menyangkut isi rumah. Beruntungnya kami karena ada Ana.
Gio mendorongku sedikit agar segera melihat kamarku, "Gue tunjukin kamar lo," desaknya. Dia membuka pintu di bagian lain dan menunjukkan isinya. Dalam dua hari terakhir ketika aku berada di rumah Aidan, Gio berhasil mengecat ranjang kusamku yang tua menjadi seperti baru. Kini sudah berubah warna menjadi warna krem dan terlihat lebih cantik. Dia juga memberikan tirai di tempat tidurku. Dia membuatnya seperti tempat tidur princess.
"Gio! Terima kasih." Aku melompat ke pelukannya dan melingkarkan lenganku ke lehernya. Mungkin dia terkejut dengan refleksku dan untungnya dia dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Gio membalas pelukanku.
"Ini surprise buat kamu supaya kamu nggak ingat semua kejadian buruk di rumah lama." Aku mengangguk pelan. Terharu karena Gio memberiku kejutan yang tidak terduga.
Aku juga menoleh ke Ana dan memelukknya sebagai ucapan terima kasih. Karena tidak mungkin Gio menyelesaikan ini sendiri. Pasti Ana yang memilih aksesoris apa saja yang harus di letakkan di sini karena jika itu Gio sendiri, dia pasti akan membelikan seprai bergambar bola.
__ADS_1
"Sekarang lo harus naik ke tempat tidur karena lo harus istirahat," perintah Gio padaku sambil mengangkat selimutnya agar aku masuk ke tempat tidur. Aku tidak mau repot-repot mengganti baju dan langsung dengan senang hati menyelinap masuk ke dalam selimut baru hasil kerja keras mereka berdua. Aku langsung meringkuk untuk tidur siang.
Dua hari berlalu dan hari-hariku hanya diisi dengan banyaknya tidur siang. Kami bisa sedikit tenang karena bisnis yang akan kami jalankan sudah aku dan Aidan rencanakan dengan baik. Gio pun setuju dengan semua rencana yang kami buat. Baik Ana maupun Gio melarangku untuk melakukan pekerjaan rumah. Mereka menyuruhku untuk tetap santai menonton TV di sofa ataupun membaca buku di tempat tidur. Tapi aku sudah sangat puas melakukan kedua hal itu.
Rafa dan Rendi kembali mengunjungiku. Kali ini temanku datang ke rumahku.
"Aretta!" teriak mereka begitu pintu rumah dibuka. Aku terlonjak kaget sampai menjatuhkan remote yang aku pangku.
Aku memegang dadaku, "Ya ampun! Bikin kaget tahu. Ngapain sih teriak-teriak," sungutku tapi tetap berdiri untuk menyambut hangat kedua temanku ini. Mereka menatapku dengan raut wajah bersalahnya. Aku habya memutar mataku dan mempersilahkan keduanya untuk duduk di sofa yang tersedia.
Iya, karena aku memesan sofa set dengan bed sofa di bagian ujung. Meski second tapi kualitasnya masih bagus.
"Lo bakal sekolah kan Senin besok?" Rendi bertanya penuh harap. Aku mengangguk cepat. Lagipula aku juga sudah bosan setengah mati di rumah. Hanya diam dan tidak boleh melakukan apa-apa.
"Maunya gitu. Doain aja, soalnya kakak gue rada rewel."
Memang benar, kan? Aku tidak melebih-lebihkan soal itu karena kenyataanya dia sanhat protektif. Tapi sejujurnya aku sangat bersyukur. Aku sangat senang karena kini ada banyak orang yang mendukungku. Bukan cuma Gio, sekarang aku juga memiliki Aidan, Rendi dan Rafa, bahkan Ana juga.
__ADS_1
Satu tahun yang lalu aku tidak pernah berpikir kalau aku akan memiliki teman bahkan satuapun. Keadaan sudah berubah dan tampaknya keadilan masih berpihak padaku karena aku diberi banyak limpahan kasih sayang dari orang-orang sekitarku.
***
Hari Senin datang dan waktunya untuk kembali ke sekolah. Aku langsung beranjak dari tempat tidurku yang sudah menjadi penjara untukku selama dua hari ini.
Setelah mandi dan bersiap untuk menikmati sarapan, aku memastikan kembali penampilanku. Menutupi luka memar itu sudah menjadi keahlianku karena hal ini sudah aku terima sejak lama. Jadi bukan hal yang sulit jika melakukan ini untuk terakhir kalinya.
Setelah memastikan semuanya siap, aku segera menuju dapur untuk menyantap sarapanku. Pagi ini aku memilih untuk mengisi perutku dengan sereal dan susu. Pilihan terbaik karena aku sedang tidak ingin memasak pagi ini.
"Semangat banget yang mau sekolah." Aku meninju lengannya dan kembali berkutat dengan sarapanku, berpura-pura tersinggung.
Aku menyelesaikan sarapanku dan kembali ke kamar untuk mengambil hoodie oversize milikku. Aku sengaja mengenakan pakaian yang longgar agar tidak mendapatkan perhatian dari Pak Dewa. Sampai saat ini aku masih jijik jika harus berurusan dengan pria itu. Padahal aku sudah berusaha menjauh dan tidak menggunakan pakaian yang mengundang, tapi pria itu masih saja berkeliaran untuk menggangguku.
Aku meraih tasku dan mengucapkan selamat tinggal pada orang di rumah. Aku akan berjalan menuju sekolah karena kini jarak sekolah dan rumah tidak jauh. Hari ini adalah wujud sempurna dari Aretta versi baru. Aku tidak mau memikirkan hal lain yang bisa menghancurkan moodku.
Aku berjalan melewati pintu depan sekolah. Rasanya mata semua orang langsung tertuju padaku. Kelihatannya mereka memang melakukan hal itu setiap ada murid yang masuk melewati pintu itu. Aku bersyukur hanya tatapan yang diberikan, beberapa anak bahkan mendapat cibiran karena gaya penampilan yang baru atau karena potongan rambut baru. Benar-benar manusia kurang kerjaan mereka.
__ADS_1
Aku tahu kenapa mereka tidak menggangguku, karena disini aku masih berstatus siswi baru meski sudah hampir beberapa bulan berada disini. Menurut mereka aku bukan sosok yang harus diganggu untuk mengetahui dimana posisiku karena tanpa mereka peringatkan pun aku sudah tahu dimana dan bagaimana aku harus bersikap saat ini.
Aku merasa nyaman dengan situasi sekarang tanpa harus menerima tatapan menjengkelkan dari orang lain. Baru kali ini aku merasa bersyukur pernah menjadi korban bullying. Namun setidaknya aku harus tetap bertahan di sekolah ini sampai tiga bulan kedepan.