
Aku melihat Pak Dewa yang mondar-mandir selama pelajaran. Dia mengajarkan materi yang sudah aku pelajari dan berhasil membuatku tidak fokus di kelasnya. Hari ini dia terlihat sangat bersemangat menjelaskan soal seluk beluk biologi yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan. Tapi tetap saja hal itu tidak berhasil membuatku tertarik.
Ketika kelas akhirnya selesai, aku mencoba bergegas cepat untuk keluar dari kelas dan berusaha menjadi orang pertama yang keluar. Dan entah kenapa, setiap aku ingin bergerak cepat, selalu saja ada penghalang yang membuat gerakanku melambat. Kejadian hari yang membuat gerakanku melambat adalah tali tasku yang tersangkut ke kaki kursi.
Aku membungkukkan tubuhku untuk melepaskannya secepat mungkin, tapi sayangnya gerakanku tidak cukup cepat. Aku merasa sedang dipermainkan oleh keadaan, bahkan di hari ulang tahunku saja pengganggu itu masih saja memiliki kekuatan untuk mendekatiku.
"Aretta!" suaranya memanggilku lantang saat aku menyampirkan ranselku ke bahu, "katanya kamu nggak suka sama saya tapi kenapa kamu memperlambat keluar kelas saya dengan akting murahan yang biasa dilakukan siswi yang lain?" katanya mengejek sambil menunjuk ke ranselku.
Aku mengabaikannya dan langsung melangkah menuju pintu. Aku sangat berharap sikap abaiku membuatnya menyerah dan diapun pergi, karena untuk berharap dia tidak lagi menggangguku adalah satu hal yang mustahil. Aku sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk menderita dan mendapatkan gangguan dimanapun aku berada.
Tapi ternyata tidak semudah itu. Dia ikut mendekat ke pintu dan menahan lenganku ketika aku akan keluar sambil membanting tubuhku agar menempel ke dadanya. Dia juga menahan pintu agar tidak terbuka lebih lebar. Aku menjadi sangat membenci diriku disaat itu karena terjebak kembali dengan situasi yang sama dan dengan orang yang sama. Aku seperti keledai bodoh yang terus-terusan masuk ke lubang yang sama.
Dan sialnya lagi, kenapa harus di saat ketika para manusia itu sudah tidak ada di luaran sana. Pria itu terlalu pintar dan aku tidak bisa menyangkalnya. Dia bisa membaca dan menilai situasi yang membuatnya selalu selamat ketika melakukan tindak pelecehan. Dia juga tidak membiarkan emosi menguasai dirinya ketika dia bertindak.
"Kayaknya kamu harus lari." Dia berkata sambil menyelipkan tangannya yang satu ke leherku. Dia memang mengatakan itu, tapi sudah dapat dipastikan dia tidak akan membiarkanku bebas semudah itu. Usapan tangannya yang lembut itu malah membuatku mual.
Aku tidak boleh sampai terbuai. Jadi ketika fokusnya teralih pada leherku, aku langsung menggunakan kesempatan itu untuk mendorong pintu. Tatapan mata yang penuh nafsu itu masih terngiang jelas di ingatanku. Pria itu mungkin bertingkah seperti itu karena wanitanya pergi, tapi tampaknya wanita simpanan miliknya yang lain tidak semudah Jessica ketika ingin diajak berhubungan.
Aku mengingat kembali soal pesan yang dikirimkan Jessica. Dia memperingatkanku. Ingatan itu berhasil menambah keberanianku sehingga aku bisa melepaskan diri dengan mudah dari gangguan Pak Dewa. Untungnya kali ini tasku tidak menyangkut dan kali ini Pak Dewa membiarkanku pergi.
Aku berlari kencang, tapi saat sampai ke tikungan, aku memberanikan diri untuk menolah. Aku melihat Pak Dewa yang masih berdiri di sana dengan tatapan yang masih tertuju padaku. Pria itu menyeringai dengan kilatan di matanya.
Kilatan mata itu adalah kilatan yang sama yang pernah aku lihat semalam dari jendela kamar tidurku. Aku kembali menatap ke depan, berbelok di tikungan dan tanpa sadar menabrak seseorang hingga membuatku terkapar di lantai. Tawa seseorang memaksaku untuk menatapnya. Itu Aidan. Dia terkekeh geli karena aksi bodohku.
"Ngapain sih lari-larian segela," tegurnya. Aku sebenarnya ingin tersenyum bodoh tapi karena Pak Dewa tadi, aku jadi hanya bisa tersenyum dengan setengah hati.
Namun tampaknya dia bisa membaca gelagat anehku. Aku benar-benar tidak bisa bersandiwara di depan Aidan. Pria itu menatapku lekat dan langsung bertanya, "Kenapa?" ucapnya, sambil mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Aku meraih tangannya sambil menikmati kehangatan yang menguar dari telapak tangannya. Perasaanku berubah menjadi lebih baik. Pria itu memiliki efek luar biasa dalam mengubah moodku. Setiap kali bertemu dengannya, entah kenapa semua perasaan buruk itu langsung menguap hilang tidak bersisa.
"Nggak kenapa-napa. Cuma sedikit khawatir sama ujian besok." Aku berbohong seraya memalingkan wajahku dan berharap dia tidak melihatnya. Pria itu kelewat peka dan pasti akan langsung ketahuan jika dia memperhatikanku.
"Nggak usah khawatir. Ingat kan aku bakal selalu siap sedia buat bantuin kamu." Dia menyeringai padaku dan otomatis membuatku ikutan tersenyum. Tapi dia kembali mengerutkan wajahnya, "aku bakal bantu semuanya, tapi jangan tanya soal Matematika ke aku, ya."
__ADS_1
"Kamu juga nggak kelihatan pintar Matematika," ejekku.
Dia menggelrngkan kepalanya karena tidak setuju dengan pernyataanku, "Kamu salah. Aku bisa Matematika, tapi nggak cukup pintar. Lupain soal ujian, aku mau tanya soal...." Dia diam lalu meletakan jarinya ke bawah dagu, mengelusnya pelan seolah berpimir keras.
"Ah... Happy brithday!" Dia berseru hampir berteriak. Kilat jahil terpancar di matanya. Untungnya di koridor ini sudah tidak ada orang lain jadinya aku tidak merasa malu.
Dia terkekeh saat melihatku yang merasa tidak nyaman.
"Kenapa ekspresi kamu kayak gitu. Ini kan hari ulang tahunmu, jadi kamu harus happy." Aku langsung menatapnya tajam.
"Kan nggak usah diucapin di sekolah juga. Kalau kamu kayak gitu nantialah pada curiga."
Aidan hanya mengedikan bahu tidak peduli. Pria itu memang tidak pintar membaca suasana.
"Jadi berapa umur kamu sekarang? 16 tahun?" tanyanya.
Tatapanku semakin menajam, "17 ya," protesky sambil menyilangkan tangan di depan dada. Dia tertawa terbahak. Jadi dia mengerjaiku. Tawamya yang berderai membuat wajahnya berubah memerah. Dia juga menunjuk wajahku yang menatapnya dengan ekspresi kesal.
"Kenapa serius banget, sih. Aku cuma bercanda." Aku hanya memutarkan mataku malas mendengar penjelasannya.
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak perlu kado karena semalam aku sudah mendapatkan dua hadiah yang sangat luar biasa.
"Aku nggak bercanda. Kalau kamu mau sesuatu bilang aja."
"Nggak usah. Kamu cuma harus datang aja."
"Susah banget sih tinggal ngomong aja. Kalau gitu kamu nggak boleh nolak kalau aku bawa hadiah nanti." Aku sudah ingin membuka mukut untuk menolak, tapi dia segera berkata, "aku duluan ya soalnya aku masih harus rapat," katanya dan langsung berlari sebelum aku bisa mengucapkan selamat tinggal. Aku masih memperhatikan Aidan saat dia berlari kecil menyusuri lorong untuk menuju ruang rapat.
Aku tidak mau terlalu bersandar pada orang. Pada dasarnya aku dibesarkan oleh sosok ibu yang memaksaku untuk hidup menjadi pribadi yang harus bisa bertahan hidup sendiri. Aku hidup dalam kesendirian tanpa ada orang yang mau mengulurkan tangannya padaku. Aku juga sudah terbiasa diejek, dihina selama bertahun-tahun dan karena semua hal itu aku bisa tumbuh menjadi sosok yang kuat. Aku jadi tidak terbiasa bergantung pada orang lain.
Tapi keadaan perlahan berubah saat aku mengenal Aidan. Ketika aku berhadapan dengannya rasa ingin dilindungi itu hadir. Aku merasa lemah dan membutuhkan dia untuk menjadi penopangku. Bahkan yang lebih memalukan lagi, aku menjadi membutuhkan kata-kata semangat yang sebelumnya tidak pernah aku inginkan.
__ADS_1
Tapi keadaan itu tidak selalu berjalan sesuai yang aku inginkan karena perbedaan status kami. Dia guru dan aku murid. Kesenjangan itu membuatku harus sadar diri untuk tidak terlalu mengandalkan dia karena pasti apa yabg dia lakukan itu hanya sebuah kewajiban yang memang harus dilakukan oleh guru pada muridnya. Aku tidak mau terlalu berharap dan berpikir jika selama ini dia memperlakukanku secara istimewa. Memangnya siapa aku? Aku tidak mau senjadi sosok yang rakus hingga sampai menginginkan sesuatu yang seharusnya bukan untukku.
Aku menghela napas berat karena berhasil sadar kembali. Aku menatap sekeliling untuk memastikan jika Pak Dewa sudah tidak ada di sana. Syukurnya sosok itu sudah tidak terlihat lagi dan aku langsung menghela napas lega. Aku kembali berjalan menyusuri koridor dan memutuskan untuk pergi menuju taman belajang tempat dimana aku biasanya merenung dan menghabiskan jam istirahatku. Aku menemukan Rafa dan Rendi di sana. Kedua orang itu tengah duduk di bangku, berdampingan. Aku menyusul dan duduk di bangku seberang. Setelah menyapa singkat keduanya, aku segera mengeluarkan makan siangku dan memutuskan fokus hanya untuk makan.
'Fokus' sebenarnya bukan kata yang tepat. Aku mengerang keras, lalu mengalihkan perhatianku pada mereka berdua.
"Please, nggak usah suap-suapan di depan gue bisa nggak?" Aku memprotes secara dramatis kepada kedua orang itu, "gue masih bisa sabar ya kalau kalian pelukan tapi nggak dengan yang satu itu."
Rendi menyeringai nakal lalu mengecup pipi Rafa yang semakin membuatku kesal.
"Dengan lo protes kayak gini, gue jadi semakin yakin buat cariin lo cowok. Kalau lo punya cowok kita bisa double date dan lo nggak perlu jealous lagi." Dia berseru senang dan semakin menarik Rafa mendekat agar dapat dipeluknya.
Rafa mulai protes tapi hanya untuk meminta kesempatan agar dia dapat berbicara denganku.
"Apa yang Rendi omongin itu benar, Aretta. Gue bakal bantu buat cariin cowok yang cocok buat lo dan gue udah tahu siapa orangnya." Rafa menyeringai padaku sambil menyipitkan mata menggoda, "lo harus tahu itu karena dia benar-benar suka sama lo."
Aku mengerang keras, tidak setuju dengannya. Memangnya aku minta dicarikan pacar? Aku kan hanya meminta pada mereka untuk tahu diri saja agar tidak terlalu mengumbar kemesraan di depanku.
"Gue nggak butuh dan gue lagi nggak nyari cowok. Gue baik-baik aja dengan gue yang sendiri. Lagian, yang gue mau itu lo nggak ngumbar kemesraan depan gue, bukan maksudnya gue minta dicariin cowok,"kalimatku selesai bertepatan dengan bel yang berdering. Hari ini ada kelas tambahan dan aku harus mengikutinya karena banyak kelas yang masih aku belum mengerti karena harus kabur dari Pak Dewa.
"Thanks God," gumamku secara dramatis dan hal itu membuat kedua sejoli itu tertawa geli. Aku bergegas keluar dari halaman dan membuang sampah bekas makan siangku. Aku masih menatap keduanya kesal karena mereka tidak menghormatiku yang seorang jomblo sejati.
Sesungguhnya aku senang dengan interaksi keduanya, hanya saja, jangan terlalu sering menunjukkan hal itu di depanku. Kalau begini aku merasa menyesal karena membiarkan mereka berpacaran.
Kami bertiga berjalan bersama. Kelas kali ini juga akan dihadiri Rafa, tapi saat sampai di depan ruangan keduanya kembali bermesraan dan sling berpelukan. Karena terlanjur jengah, aku meninggalkan mereka dan masuk sendiri ke dalam kelas.
Kelas berjalan baik tapi masih dengan gangguan. Kali ini aku harus mendengarkan juga keluh-kesah dari Rafa yang terpisah jauh dengan Rendi. Begitu kelas usai, aku langsung bergegas pergi meninggalkan dia karena ingin menjaga telingaku agar tidak panas karena rengekkan tidak bermanfaat darinya. Aku melipir ke loker untuk mengambil buku-buku dan juga pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan nanti malam. It's my brithday, tapi pekerjaan rumah tidak diliburkan juga.
Selesai dengan apa yang harus aku cari, aku segera menutup pintu loker. Saat aku menunduk aku menemukan kertas yang tampaknya sudah di robek. Aku menundukan tubuh untuk memungut dan membaca. Aku hanya mengira jika itu bacaan dari sebuah catatan yang robek tapi saat aku akan membuangnya, kau melihat tulisan lain yang diukir menggunakan spidol merah.
Aku menatapnya dengan seksama dan tulisan itu masih dalam kondisi dapat terbaca. Aku gemetar di tempatku. Kalimat yang tertulis bukanlah sebuah ancaman, hanya saja makna di baliknya sangat menakutkan.
__ADS_1
Aku meremat kertas tersebut dan membuangnya tanpa perasaan ke tong sampah. Aku juga mencoba untuk melupakan apa yang tertulis, tapi kata-kata itu secara tidak langsung mengalir di kepalaku seperti lirik lagu yang aku ingat.
Kamu akan menjadi milikku, Aretta.