Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Kenangan


__ADS_3

Aku melangkah kembali menuju kelas biologi. Karena koridor yang sepi aku kira tidak ada seorangpun yang berada di dalam kelas dan dengan cepat aku membuka kencang pintunya. Aku tidak menyangka jika di dalam masih ada orang mengingat semua guru memerintahkan kami untuk segera mengosongkan sekolah. Tapi sialnya yang aku temukan di dalam sana adalah Pak Dewa dan dia tengah berduaan dengan salah satu siswi.


"Maaf Pak HP saya ketinggalan," kataku. Pak Dewa berdehem dan mempersilahkanku untuk mengambil barangku.


Dengan cepat aku segera menuju kursi di mana tadi aku duduk dan menemukan benda itu masih ada di sana. Setelahnya aku langsung berpamitan pada Pak Dewa tanpa melihat kembali siapa sosok siswi yang sedang berada di dalam sana. Dari sini aku dapat menyimpulkan jika Pak Dewa menggunakan ketampanannya untuk menggoda para siswi.


Selama perjalanan menuju rumah pikiranku berkecambuk. Aku mengkhawatirkan soal siswi itu. Bagaimana jika Pak Dewa memanfaatkannya dan mengambil kesempatan demi keuntungan pribadi. Memikirkannya saja sudah membuatku prihatin.


Kejadian itu mengusikku hingga sore hari. Aku sulit mengenyahkan kemungkinan-kemungkinan terburuk soal itu dan akhirnya aku memutuskan untuk berolahraga agar pikiranku kembali jernih. Aku memutuskan untuk berlari sambil mendengarkan musik. Dan kini aku berlari lebih lama dan lebih jauh dari biasanya. Aku masih berusaha keras untuk menghilangkan pikiran soal kejadian itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apakah hal itu harus aku laporkan? Tapi pastinya siswa itu tidak akan bisa lepas dari Pak Dewa. Lalu bagaimana jika ternyata mereka berdua saling mencintai? Berarti aku malah mengganggu hubungan mereka.

__ADS_1


Jika kejadian itu terjadi pada Rendi, dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya. Aku sudah memutuskan untuk memulai berteman dengan pria itu dan besok aku akan menceritakan soal ini kepadanya sekalian meminta pendapat darinya. Pikiranku sudah sedikit lebih jernih ketika aku sudah hampir kehabisan nafas. Aku kembali melanjutkan lariku, kali ini melewati perpustakaan, taman kota, dan menuju area perumahan yang masih tampak lenggang.


Aku menemukan sebuah taman dengan ayunan dan jungkat-jungkit. Benda-benda itu tanpa kusam dimakan zaman, tapi masih menarik perhatianku. Aku tidak tahu kapan terakhir kalinya aku main ayunan, mungkin sebelum Papaku pergi. Tanpa berpikir panjang aku segera mendekat ke tempat ayunan itu berada dan menaiki salah satunya. Aku membiarkan tubuhku menikmati ayunan ini, rasanya seperti terbang dan melepaskan beban. Andai saja aku bisa seperti itu bukankah rasanya akan sangat lega.


Angin bertiup menerbangkan rambutku. Efek dari ayunan yang bergerak menimbulkan suara berderit. Aku masih terus berayun hingga matahari hampir tenggelam dan menyisakan cahaya jingga di ujung senja.


Aku melambatkan laju ayunanku dengan cara menahan kakiku di tanah. Ayunan berhenti total dan aku sendiri mulai berjalan keluar dari taman. Langit sudah menggelap dan aku memutuskan untuk berlari lagi untuk kembali ke rumah. Ketika tiba di rumah aku melihat lampu depan dan lampu ruang tamu sudah menyala. Mobil Gio di garasi juga tidak ada. Ini bukan pertanda bagus. Setiap dia pergi Mama pasti akan melampiaskan amarahnya padaku dan dia selalu melakukan itu di belakang Gio.


Aku segera berlari ke wastafel dan menyalakan air untuk mengaliri tanganku. Untuk sesaat aku lupa tujuanku yang untuk tidak menimbulkan suara agar tidak menarik perhatian Mama. Aku tidak menangis, tidak mengeluh, dan tidak menggerutu. Aku hanya diam dan langsung menangani semuanya tanpa bersuara. Sudah lama aku tidak menangis. Sejak Papa pergi semua kebahagiaanku seolah direnggut secara paksa sampai-sampai aku pernah berpikir apakah kepergian Papa adalah karena kesalahanku. Apa yang sudah aku lakukan sebenarnya? Apa karena aku tidak pernah mengerjakan PR? Atau karena aku protes soal menu makan malam hari itu?

__ADS_1


Pertanyaan-pertanyaan itu yang dulu muncul dibenakku. Kejadian itu bukan hanya merubahku, tapi juga merubah seluruh anggota keluargaku. Luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua luka yang sudah aku terima.


Suara ribut dari ruang tamu membuatku tersadar dari lamunanku. Aku bergegas mematikan keran air dan tanpa diperintah tubuhku mulai gemetar. Aku sedikit menyayangkan kenapa Gio masih belum pulang hingga saat ini.


Hal buruk pasti akan menimpaku.


Aku melihat Mama yang berjalan terhuyung dan mulai melangkah masuk ke dapur. Dia menabrak ambang pintu saat akan melangkah masuk. Matanya memerah dan dia langsung menginvasi dapur untuk mencari sang pembuat keributan, ketika matanya menemukanku ada di sana Mama langsung berteriak marah dan membentakku, "Kamu ngapain sih? Kamu nggak lihat kalau Mama lagi masak. Kenapa malah kamu tumpahin." Ludah dari mulutnya sampai menciprat ke wajahku.


"Itu udah mateng Ma, dan sebenarnya malah udah gosong," jawabku sedikit lebih berani. Aku berharap Mama tidak menyadari jika aku seberani itu untuk menjawab Mama.

__ADS_1


"Kamu berani jawab Mama! Mama udah kasih apapun ke kamu tapi balasan kamu malah kayak gini? Kamu mau jadi anak durhaka?" Mama terus berteriak padaku dan aku hanya bisa menundukkan kepala seraya memeriksa tanganku yang melepuh. Pasti akan sangat menyakitkan besok pagi dan pastinya akan sangat menyiksa sepanjang malam nanti. Aku menghela nafas saat mengingat kembali kejadian dimana aku mendapat pukulan begitu parah. Itu terjadi beberapa bulan yang lalu.


Saat itu hari Jumat malam dan aku tengah duduk di ruang makan. Di sebuah meja terpisah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang selalu aku kerjakan secara rutin. Aku membereskan barang-barang pecah belah dan menggantinya setiap minggu atas permintaan Mama. Ketika itu Mama masuk ke dapur dengan membawa sepanci daging rebus yang baru saja dia masak, karena terlalu asyik dengan kesibukanku aku tidak menyadari jika Mama lewat di belakangku dan dia dengan sengaja mendorong panci panas itu mengenai lenganku. Aku memekik keras, bukan karena sakit melainkan karena shock dan satu-satunya reaksi yang diberikan Mama adalah, dia tertawa kecil sebelum melenggang ke meja makan untuk bersiap menyantap daging itu. Semenjak itu aku tidak pernah memakan steak atau daging yang dibakar, karena baunya mengingatkanku pada kulitku yang terbakar.


__ADS_2